Share

Bab 5

Author: Fortunata
last update publish date: 2026-01-19 02:44:57

Bahkan petugas administrasi akademi pun tahu bahwa Aveline mengikuti Ashford masuk ke jurusan ilmu pedang.

“Ya, saya yakin,” jawab Aveline mantap.

“Saya ingin pindah ke jurusan ilmu sihir. Sepertinya ilmu pedang memang tidak cocok untuk saya.”

Aveline lalu menyerahkan selembar formulir.

“Saya juga sudah mengisi berkasnya.”

Petugas administrasi menatap kertas itu lama, seolah memastikan bahwa yang ia baca tidak salah.

“Kira-kira… kapan saya bisa mulai pindah ke jurusan sihir?” tanya Aveline.

“Proses perpindahan jurusan paling lama satu minggu,” jawabnya akhirnya.

“Nanti kami akan menghubungi anda mengenai tanggal pastinya. Di tanggal itu, anda sudah bisa masuk ke kelas sihir.”

“Baik. Terima kasih,” ucap Aveline sopan sebelum berbalik pergi.

Begitu pintu ruang administrasi tertutup, petugas itu menjatuhkan kertas yang dipegangnya.

“Barusan…” gumamnya pelan, masih tertegun,

“aku mendengar ucapan terima kasih, bukan?”

***

Belum sempat Aveline melangkah jauh, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan kasar.

Ashford.

Ia menyeret Aveline menuju taman akademi dengan kasar.

“Lepas! Lepaskan aku!” Aveline memberontak, berusaha menarik tangannya.

“Duduk!” bentak Ash.

Tenaga Aveline jelas kalah. Ia terpaksa duduk di bangku taman, nafasnya pun tersengal.

“Apa maumu?!” ucapnya kesal.

Ashford mengangkat satu alis.

“Aku?”

“Seharusnya aku yang bertanya—apa sebenarnya yang kau inginkan?”

“Permainan apa yang sedang kau mainkan dengan membatalkan pertunangan?”

“Apa rencanamu terhadap Lilia? Kau ingin menyakitinya lagi?”

Aveline meliriknya malas.

“Tidak ada.”

“Jangan main-main denganku, Aveline!” teriak Ashford.

Tangannya mencengkeram dagu Aveline, terlalu erat hingga nyaris mencekik perempuan itu.

“Lepaskan ini jika kau ingin berbicara baik-baik,” ucap Aveline dingin.

Biasanya, dalam kondisi seperti ini, Aveline akan senang—karena perhatian Ash sepenuhnya tertuju hanya padanya.

Namun kini, tatapannya kosong.

Mata Ash berkedut, menyadari perubahan sikap itu.

Aveline tetap diam, menunggu.

Beberapa detik kemudian, Ash melepaskan cengkeramannya.

“Aku tidak akan mengganggu Lilia,” ucap Aveline.

“Jangan bercanda.”

Aveline sudah menduga hal ini. Tidak mungkin Ashford percaya padanya dengan mudah.

“Aku tidak bercanda,” jawab Aveline tegas.

“Aku sangat serius.”

“Aku benar-benar akan membatalkan pertunangan kita. Segeralah balas surat ayahku!”

“Aku juga sungguh-sungguh meminta maaf atas perlakuanku padamu dan pada Lilia.”

“Sekarang, kalian bebas.”

Seketika Aveline merasa lelah karena terlalu banyak bicara. Meski begitu, tatapannya lurus, dingin, tanpa keraguan.

Ia benar-benar serius.

“K—kau serius?” tanya Ashford, suaranya melemah.

“Memangnya apa lagi yang harus kukatakan supaya kau percaya?” balas Aveline.

“Bukankah apa pun yang keluar dari mulutku tidak akan bisa membuatmu percaya?”

Ashford terdiam.

Ia memang tidak pernah mempercayai Aveline.

“Intinya,” lanjut Aveline,

“segera setujui pembatalan pertunangan kita. Aku tidak ingin menjadi tunanganmu lebih lama lagi. Aku lelah… Pertimbangkanlah dengan matang. Kau tidak akan rugi membatalkan pertunangan denganku.”

Aveline sedikit membungkuk sopan, lalu berbalik dan pergi—meninggalkan Ashford yang masih mematung di bangku taman.

“Ahhh… Untuk bisnis antar-keluarga, kau tidak akan bertemu denganku. Kau hanya akan berurusan dengan kakakku. Permisi… Duke muda…”

***

Hari ini adalah hari pertama Aveline masuk ke jurusan sihir.

Sambutan yang ia terima jauh dari kata hangat.

Begitu ia masuk kelas, semua mata tertuju padanya. Murid-murid secara refleks bergerak mendekat ke arah Saintess Lilia. Mereka membangun tembok di sekeliling wanita itu.

Bahkan saat Aveline hanya mengangkat tangan sedikit, suasana langsung menegang.

Setiap langkahnya diikuti tatapan waspada.

Murid pria dan wanita di sekitar Lilia membentuk barisan protektif—rapat, sigap, nyaris seperti formasi power rangers.

“Meski udah tahu alur novel ini, tapi gimana caranya gue bisa deketin diaaaaa….” teriak Aveline dalam hati.

“Coba lihat iniiiiii….” teriak Aveline lagi, “Di kantin saat jam makan siang saja, meja Lilia penuh dengan penjaga dan mereka semua sinis sekali ke aku!”

“Ngobrol langsung? Mustahil banget! Lilia gak dibiarin sendirian!”

Setelah berpikir cukup lama, Aveline baru tersadar—messanger sudah lama tidak menampakkan diri.

Sebenarnya, bagaimana cara memanggil messanger?

Messanger?” panggil Aveline dalam hati.

“Halo, messanger?”

[Apa ada yang bisa kubantu?]

“Kau ke mana saja akhir-akhir ini?” gerutunya.

“Mengapa lama tidak muncul?”

[Aku juga punya urusan pribadi.]

Aveline terdiam.

Hah?

Urusan pribadi?

Sejak kapan sistem komputer punya kehidupan pribadi?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 18 : Perjalanan Pertama (4)

    Xing-xing menoleh ke arah pak tua yang sejak tadi hanya diam di balik meja. Karena Xing-xing yang ditawari pekerjaan, ia tidak ingin ikut campur lebih jauh.Aveline mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum santai.“Tenang saja,” ucapnya ringan.“Pak tua juga bisa membantu.”Ia menyilangkan tangan di depan dada, terlihat begitu percaya diri.“Akan ada saatnya aku meminta rekomendasi novel romansa. Untuk hal seperti itu… sebaiknya kau yang memilih bukunya untukku.”Aveline menoleh sekilas ke arah pak tua.“Aku tidak terlalu menyukai seleranya,” lanjut Aveline setengah berbisik.Hening sesaat.Kemudian—Xing-xing dan Aveline tertawa bersamaan.Suasana toko yang tadinya kaku perlahan mencair.“Baiklah,” kata Xing-xing akhirnya, masih menyisakan senyum.“Aku setuju.”Namun matanya kembali menyipit, penuh rasa ingin tahu.“Tapi… bagaimana caramu menghidupkan tokoh dalam Bayangan Mata Duke?”Aveline mengangkat satu jari ke bibirnya.“Rahasia.”Kemudian, ia tersenyum tipis. Membayangkan usah

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 17 : Perjalanan Pertama (3)

    Seni teater di kerajaan ini sebenarnya belum berkembang.Setidaknya… belum untuk dua tahun ke depan.Akan tetapi, Aveline tahu masa depan.Dalam kehidupan sebelumnya, Xing-xing—gadis kecil yang kini menjaga toko buku sederhana ini—akan menikah dengan seorang pedagang kaya. Bersama suaminya, ia menjadi sponsor utama pertunjukan teater adaptasi dari novel Bayangan Mata Duke.Pertunjukan itu meledak.Bukan hanya sukses—tetapi fenomenal.Xing-xing menjadi salah satu orang pertama yang Aveline cari untuk dijadikan koneksi di kehidupan lalu.Dan satu hal yang selalu berhasil memancing percakapan mereka adalah novel Bayangan Mata Duke.Xing-xing sangat mencintai novel itu."Apa maksudmu?" tanya Xing-xing tiba-tiba, matanya menyipit tajam."Apa kau benar-benar tahu apa yang baru saja kau bicarakan?"Ia menutup bukunya perlahan."Novel Bayangan Mata Duke adala

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 16 : Perjalanan Pertama (2)

    Beberapa jam kemudian, Miller masih berusaha memproses semua ini.Sekarang ia benar-benar berada di dalam kereta kuda sihir yang melaju melewati perbatasan kerajaan. Pemandangan di luar jendela berubah perlahan—hutan, ladang, lalu desa-desa kecil yang belum pernah ia lihat sebelumnya.Aveline menahan tawa saat melihat ekspresi Miller.Pria itu terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia di luar rumahnya.Miller akhirnya menyadari tatapan itu. Ia segera memperbaiki posisi duduknya, meluruskan punggung dan merapikan pakaiannya seperti yang diajarkan dalam kelas tata krama."Jangan tertawa," gerutunya kesal.Aveline menutup mulutnya, pura-pura menyesal."Maaf… maaf."Namun mata birunya masih dipenuhi tawa."Tapi ekspresi wajahmu benar-benar lucu."Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Miller dengan menggodanya."Matamu bahkan berbinar-binar."Kali ini Avel

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 15 : Perjalanan Pertama

    Aveline berbalik untuk pergi, langkahnya cepat dan tegas.Di dalam kepalanya ia benar-benar reka adegan berkali-kali dimana ia menjulurkan jari tengah tepat di depan wajah Ashford dan Lucy.Namun, kepergiannya tentu saja tidak mulus seperti yang diharapkan. Kerumunan murid menghalangi jalan Aveline.Bisik-bisik terdengar di mana-mana. Banyak yang terlihat bahagia menikmati opera sabun ini.Aveline berhenti di depan para power rangers Lilia yang menghadang dengan tidak tahu malu. Bahunya menegang."Saya serius dengan pernyataan saya, Duke Muda," ucapnya dingin. Aveline pun kembali menoleh pada Ashford.Namun, Ashford bahkan tidak terlihat peduli.Tatapannya datar. Seolah ancaman Aveline hanyalah omong kosong yang tidak perlu ditanggapi.Para pengikut Ash dan Lilia langsung bergerak.Beberapa orang menarik lengan Aveline dengan kasar."Berani sekali kau berbicara seperti itu!""Berlututlah!"Tubuh Aveline didorong ke depan.Kesabarannya akhirnya habis.Dalam satu gerakan cepat, api meny

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 14 : Drama Murahan

    “Apa yang Anda bicarakan? Nona Aveline hanya meminta saya menjadi guru privatnya.”Ash menatap Miller tajam, jelas tidak puas dengan jawaban itu. Alisnya sedikit berkerut, seolah masih ingin menggali lebih jauh.Namun sebelum ia sempat bertanya lagi, suara gaduh terdengar dari luar ruang klub.Ash langsung menoleh.Dari balik kerumunan siswa, terlihat siluet Lilia berdiri di tengah. Tanpa berpikir panjang, Ash segera berlari menghampiri.“Ada apa ini?”Suaranya yang menggelegar langsung membuat kerumunan mendadak sunyi.Di tengah kerumunan itu, Lilia berdiri berhadapan dengan Aveline.Lucy memegang lengan Lilia, seolah menahannya agar tidak jatuh. Wajah sang saintess terlihat pucat, matanya membesar ketakutan.Ash segera mendekat dan merengkuh Lilia ke dalam pelukannya.“Ada apa, Lili? Mengapa kau terlihat sangat ketakutan? Apa yang terjadi?”Dari sisi lain, Aveline memperhatikan mereka dengan saksama.Sial.Ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Ia benar-benar lupa bahwa hari ini ad

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 13 : Aku Secantik Ini

    Jujur saja Aveline agak mirip dengan Sarah.Sarah bisa terbilang seorang pekerja kantoran yang kompeten. Tiap tahun ia selalu mendapat kenaikan jabatan.Sebagai alumni dari kampus yang bahkan tidak terkenal, Sarah benar-benar mengharumkan almamaternya.Sarah sempat berpikir setidaknya dia bisa sedikit berbangga diri akan pencapaiannya bukan? Konsisten belajar dan bekerja hingga dini hari bukanlah hal yang mudah.Sebagai hasilnya, Sarah menjadi karyawan kesayangan. Semakin pandai Sarah, semakin besar tanggung jawab yang ditimpakan padanya.Pekerjaan menumpuk tanpa henti.Aveline pun mirip dengannya. Karakter antagonis satu ini konsisten melakukan hal-hal yang bisa membuatnya dekat dengan Ashford.Dekat dengan Ashford sama dengan memiliki skill yang menguntungkan kerajaan karena Ashford sendiri merupakan seorang pangeran.Karyawan yang cakap memang sering diperas paling keras.Perbedaannya Sarah dan Aveline hanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status