LOGINBahkan petugas administrasi akademi pun tahu bahwa Aveline mengikuti Ashford masuk ke jurusan ilmu pedang.
“Ya, saya yakin,” jawab Aveline mantap.
“Saya ingin pindah ke jurusan ilmu sihir. Sepertinya ilmu pedang memang tidak cocok untuk saya.” Aveline lalu menyerahkan selembar formulir. “Saya juga sudah mengisi berkasnya.”Petugas administrasi menatap kertas itu lama, seolah memastikan bahwa yang ia baca tidak salah.
“Kira-kira… kapan saya bisa mulai pindah ke jurusan sihir?” tanya Aveline.
“Proses perpindahan jurusan paling lama satu minggu,” jawabnya akhirnya.
“Nanti kami akan menghubungi anda mengenai tanggal pastinya. Di tanggal itu, anda sudah bisa masuk ke kelas sihir.”“Baik. Terima kasih,” ucap Aveline sopan sebelum berbalik pergi.
Begitu pintu ruang administrasi tertutup, petugas itu menjatuhkan kertas yang dipegangnya.
“Barusan…” gumamnya pelan, masih tertegun,
“aku mendengar ucapan terima kasih, bukan?”***
Belum sempat Aveline melangkah jauh, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan kasar.
Ashford.
Ia menyeret Aveline menuju taman akademi dengan kasar.
“Lepas! Lepaskan aku!” Aveline memberontak, berusaha menarik tangannya.
“Duduk!” bentak Ash.
Tenaga Aveline jelas kalah. Ia terpaksa duduk di bangku taman, nafasnya pun tersengal.
“Apa maumu?!” ucapnya kesal.
Ashford mengangkat satu alis.
“Aku?” “Seharusnya aku yang bertanya—apa sebenarnya yang kau inginkan?” “Permainan apa yang sedang kau mainkan dengan membatalkan pertunangan?” “Apa rencanamu terhadap Lilia? Kau ingin menyakitinya lagi?”Aveline meliriknya malas.
“Tidak ada.”“Jangan main-main denganku, Aveline!” teriak Ashford.
Tangannya mencengkeram dagu Aveline, terlalu erat hingga nyaris mencekik perempuan itu.
“Lepaskan ini jika kau ingin berbicara baik-baik,” ucap Aveline dingin.
Biasanya, dalam kondisi seperti ini, Aveline akan senang—karena perhatian Ash sepenuhnya tertuju hanya padanya.
Namun kini, tatapannya kosong.
Mata Ash berkedut, menyadari perubahan sikap itu.
Aveline tetap diam, menunggu.
Beberapa detik kemudian, Ash melepaskan cengkeramannya.
“Aku tidak akan mengganggu Lilia,” ucap Aveline.
“Jangan bercanda.”
Aveline sudah menduga hal ini. Tidak mungkin Ashford percaya padanya dengan mudah.
“Aku tidak bercanda,” jawab Aveline tegas.
“Aku sangat serius.” “Aku benar-benar akan membatalkan pertunangan kita. Segeralah balas surat ayahku!” “Aku juga sungguh-sungguh meminta maaf atas perlakuanku padamu dan pada Lilia.” “Sekarang, kalian bebas.”Seketika Aveline merasa lelah karena terlalu banyak bicara. Meski begitu, tatapannya lurus, dingin, tanpa keraguan.
Ia benar-benar serius.
“K—kau serius?” tanya Ashford, suaranya melemah.
“Memangnya apa lagi yang harus kukatakan supaya kau percaya?” balas Aveline.
“Bukankah apa pun yang keluar dari mulutku tidak akan bisa membuatmu percaya?”Ashford terdiam.
Ia memang tidak pernah mempercayai Aveline.
“Intinya,” lanjut Aveline,
“segera setujui pembatalan pertunangan kita. Aku tidak ingin menjadi tunanganmu lebih lama lagi. Aku lelah… Pertimbangkanlah dengan matang. Kau tidak akan rugi membatalkan pertunangan denganku.”Aveline sedikit membungkuk sopan, lalu berbalik dan pergi—meninggalkan Ashford yang masih mematung di bangku taman.
“Ahhh… Untuk bisnis antar-keluarga, kau tidak akan bertemu denganku. Kau hanya akan berurusan dengan kakakku. Permisi… Duke muda…”
***
Hari ini adalah hari pertama Aveline masuk ke jurusan sihir.
Sambutan yang ia terima jauh dari kata hangat.
Begitu ia masuk kelas, semua mata tertuju padanya. Murid-murid secara refleks bergerak mendekat ke arah Saintess Lilia. Mereka membangun tembok di sekeliling wanita itu.
Bahkan saat Aveline hanya mengangkat tangan sedikit, suasana langsung menegang.
Setiap langkahnya diikuti tatapan waspada.
Murid pria dan wanita di sekitar Lilia membentuk barisan protektif—rapat, sigap, nyaris seperti formasi power rangers.
“Meski udah tahu alur novel ini, tapi gimana caranya gue bisa deketin diaaaaa….” teriak Aveline dalam hati.
“Coba lihat iniiiiii….” teriak Aveline lagi, “Di kantin saat jam makan siang saja, meja Lilia penuh dengan penjaga dan mereka semua sinis sekali ke aku!”
“Ngobrol langsung? Mustahil banget! Lilia gak dibiarin sendirian!”Setelah berpikir cukup lama, Aveline baru tersadar—messanger sudah lama tidak menampakkan diri.
Sebenarnya, bagaimana cara memanggil messanger?
“Messanger?” panggil Aveline dalam hati.
“Halo, messanger?”[Apa ada yang bisa kubantu?]
“Kau ke mana saja akhir-akhir ini?” gerutunya.
“Mengapa lama tidak muncul?”[Aku juga punya urusan pribadi.]
Aveline terdiam.
Hah?
Urusan pribadi?Sejak kapan sistem komputer punya kehidupan pribadi?
“Aku hanya melihat potensi bisnis yang bagus di bidang ini. Kau tentu tahu, keluargaku memiliki banyak bisnis,” jawab Aveline santai, seolah yang ia bicarakan hanyalah investasi biasa.Miller terdiam. Tatapannya turun ke meja, lalu ia mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa.Keheningan menggantung cukup lama, sampai akhirnya Miller menarik nafas dalam.“Berikan aku waktu untuk berpikir…” ucapnya pelan.Miller pun beranjak pergi, meninggalkan Aveline yang kembali menyantap makan siangnya. Hanya saja, Aveline tidak bisa makan siang dengan tenang.Tatapan sinis orang-orang dan bisik-bisik yang menyertainya. Jelas sekali Aveline adalah pusat gosip hari ini.BRAK!Meja tempat Aveline makan terguncang keras.Edward berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam, telapak tangannya masih menekan permukaan meja.“Hal busuk apa lagi yang kau rencanakan?!” bentaknya. “Apa kali ini kau akan melibatkan rakyat tak berdosa ke dalam permainanmu?! Edser hanyalah murid beasiswa! Dia bisa kehilangan beas
Aveline pun mulai menjalankan rencananya.Saat waktu makan siang tiba, Aveline membawa nampannya dan dengan santai duduk di kursi kosong di sebelah Miller.Miller Edser yang tengah hanyut dalam pusaran buku tebalnya langsung mengerutkan kening. Wajahnya jelas menunjukkan tanda tidak suka.Ia menutup buku dengan gerakan cepat, lalu mengangkat nampannya dan berniat pergi.“Aku berniat merekrut orang sepintar dirimu,” ucap Aveline tanpa basa-basi.“Kau butuh uang, bukan?”Gerakan Miller terhenti.Apa yang barusan dikatakan wanita yang tidak pernah berbicara denganku ini? – batin Aveline.Nampannya kembali diletakkan di atas meja, dan ia duduk perlahan, menatap Aveline dengan penuh kewaspadaan.“Dari mana kau tahu aku membutuhkan uang?” tanyanya curiga.Tentu saja dari novel. Dan dari empat kehidupan sebelumnya.Cerita tentang penyakit ibumu yang bertambah parah di tahun ini bahkan tidak pernah berubah selama empat kehidupan.“Tentu saja,” jawab Aveline tenang.“Rakyat biasa yang bersekol
Namun, Aveline memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.Ia malas berurusan dengan server error yang menjadi jawab di setiap pertanyaan penting.Aveline berjalan melewati Lilia dan para power rangers. Dengan hati yang dongkol, ia mulai menyantap makan siangnya. Hambar.Sepertinya rasa makanan ini mengikuti suasana hatinya yang mendung.Tak lama kemudian, Ashford dan Edward datang dan bergabung di meja Saintess Lilia.Edward melirik Aveline dengan senyum sinisnya, sementara Ashford hanya memandangnya datar.“Tambah lagi dua bodyguard,” gerutu Aveline dalam hati.“Lengkap sudah.”Melihat Lilia dan Ashford tertawa bersama, Aveline justru tidak merasakan apa pun.Dulu, Sarah adalah penggemar berat dua tokoh utama ini. Namun, menjalani empat kehidupan yang berakhir tragis perlahan mengikis rasa kagum itu—hingga tak tersisa apa pun selain kelelahan.Ia benar-benar ingin menjalani kehidupan tenang sebagai nona kaya.Menjadi pengajar di desa juga menyenangkan – pikir Aveline.Jika dipikirkan k
Bahkan petugas administrasi akademi pun tahu bahwa Aveline mengikuti Ashford masuk ke jurusan ilmu pedang.“Ya, saya yakin,” jawab Aveline mantap.“Saya ingin pindah ke jurusan ilmu sihir. Sepertinya ilmu pedang memang tidak cocok untuk saya.”Aveline lalu menyerahkan selembar formulir.“Saya juga sudah mengisi berkasnya.”Petugas administrasi menatap kertas itu lama, seolah memastikan bahwa yang ia baca tidak salah.“Kira-kira… kapan saya bisa mulai pindah ke jurusan sihir?” tanya Aveline.“Proses perpindahan jurusan paling lama satu minggu,” jawabnya akhirnya.“Nanti kami akan menghubungi anda mengenai tanggal pastinya. Di tanggal itu, anda sudah bisa masuk ke kelas sihir.”“Baik. Terima kasih,” ucap Aveline sopan sebelum berbalik pergi.Begitu pintu ruang administrasi tertutup, petugas itu menjatuhkan kertas yang dipegangnya.“Barusan…” gumamnya pelan, masih tertegun,“aku mendengar ucapan terima kasih, bukan?”***Belum sempat Aveline melangkah jauh, sebuah tangan mencengkeram per
Tahun ajaran baru telah dimulai, Aveline kembali menginjakkan kaki di akademi.Suasana hatinya mendadak buruk karena harus berpapasan dengan Ashford.“Mengapa aku harus melihat wajahnya di pagi hari yang cerah ini?” teriak Aveline dalam hati.Ashford berjalan keluar dari gerbang utama.Sial sekali rasanya karena ia tidak melihat Ashford dari kereta kuda tadi. Jika saja ia melihat Ashford, ia bisa memerintahkan kusir untuk berhenti sedikit jauh dari akademi untuk menghindar.Aveline yang diliputi rasa malas hanya menundukkan kepala sekilas sebagai bentuk penghormatan, lalu langsung melangkah masuk tanpa sepatah kata pun.Ashford mematung.Apa yang terjadi dengannya? pikir Ashford.Bukankah setiap kali melihatnya, Aveline selalu berlari menghampiri dengan mata berbinar?Bukankah gadis itu selalu mencari cara—bahkan mencuri kesempatan—untuk bertemu dengannya meski hanya sebentar?Aveline adalah tipe wanita yang tak segan menyelinap ke asrama pria hanya demi melihat wajah Ashford.Karena
[Kau harus membunuh Saintess Lilia dengan tanganmu sendiri. Hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa bertahan hidup.]“Apa?” Aveline menegakkan punggungnya.“Apa kau gila? Mengapa aku harus membunuh Saintess yang baik itu?”“Di novel Lilia yang kubaca—dan di empat kehidupanku sebelumnya—Saintess Lilia selalu menjadi sosok yang benar-benar baik. Tidak ada manusia biasa yang bisa sebaik dan semurni dia!”“Aku punya pilihan untuk tidak mengikuti cerita aslinya dan tidak menjadi tokoh jahat, bukan?”[Tidak bisa. Sekali lagi kuingatkan, kau harus membunuhnya dengan tanganmu sendiri.][Jika tidak, kau akan terus mati dan hidup kembali seperti sekarang. Tak masalah jika kau tidak ingin menjadi tiran untuk membunuhnya. Kau bisa mengubah jalan cerita novel, asal Saintess Lilia tetap mati ditanganmu.]“Apa alasan di balik semua ini?” suara Aveline bergetar.“Jelaskan mengapa aku yang harus melakukannya!”[Server error!]“Mengapa aku yang terpilih untuk membunuh wanita sebaik itu?”“Aku bukan p







