Beranda / Fantasi / Kehidupan Ketiga Sang Villainess / Bab 79 - Diagnosa sang bijak

Share

Bab 79 - Diagnosa sang bijak

Penulis: BabyCaca
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-24 09:36:58

Ruang perpustakaan yang remang-remang itu kini dipenuhi oleh cahaya biru neon yang berkedip cepat dari panel sistem Aurelia, bercampur dengan aura hitam pekat yang meledak dari tubuh Xaverius. Udara bergetar hebat. Buku-buku tua di rak berguncang dan jatuh, seolah-olah realitas di ruangan itu sedang diguncang oleh dua kekuatan yang bertolak belakang: keinginan sistem untuk menghapus, dan keinginan Xaverius untuk mempertahankan.

"Aurelia! Tetap di sini!" raung Xaverius. Suaranya bukan lagi suar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 83 - Darah sang penawar

    Cahaya perak yang memancar dari lantai kaca balkon itu tidak hanya menyilaukan mata, tapi juga mengirimkan getaran hangat yang merambat hingga ke tulang sumsum. Xaverius, yang tadinya panik melihat telapak tangan Aurelia yang berdarah, kini terpaku. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana darah merah istrinya yang merembes ke dalam pori-pori kaca itu mengubah struktur sihir di dalamnya. Warna merah pekat dari Bulan Darah di atas sana seolah "ditolak" mentah-mentah oleh area yang terkena darah Aurelia. "Xaverius... lihat ke bawah," bisik Aurelia, suaranya bergetar. Ia mencondongkan tubuhnya ke pagar balkon, mengabaikan rasa perih di tangannya. Xaverius mengikuti arah pandang Aurelia. Jauh di dasar menara, di taman istana yang gelap dan penuh dengan mawar bayangan yang membeku, sebuah keajaiban sedang terjadi. Tetesan darah Aurelia yang tidak terserap oleh kaca balkon jatuh bebas menembus udara malam. Tetesan itu berkilau seperti bintang jatuh berwarna rubi, meluncur ratu

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 82 - Dansa di bawah bulan meran

    Cahaya merah darah yang memancar dari bulan purnama di atas sana mengubah balkon kaca transparan itu menjadi panggung yang bermandikan warna kirmizi. Di bawah kaki mereka, seluruh Kerajaan Nocturnia yang telah membeku menjadi kristal kini bergetar halus, memantulkan sinar merah itu hingga menciptakan ilusi lautan api beku. Aurelia mundur selangkah, tangannya gemetar. Notifikasi sistem di matanya berkedip liar dengan peringatan bahaya, namun Xaverius melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia tidak memasang kuda-kuda tempur. Ia tidak memanggil pasukan bayangan. Sebaliknya, sang Kaisar Kehancuran menyarungkan pedang hitamnya kembali ke udara kosong dengan gerakan santai, seolah-olah fenomena kiamat di atas kepala mereka hanyalah dekorasi pesta yang sedikit berlebihan. Xaverius berbalik menghadap Aurelia, mengabaikan langit yang bergemuruh. Ia membungkuk sedikit, mengulurkan tangan kanannya dengan telapak terbuka ke atas—sebuah gestur undangan dansa bangsawan kuno yang sangat formal. "

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 81 - Balkon di atas langit

    Pintu kamar utama Kastil Obsidian terbanting menutup dengan suara dentuman berat yang menggema di lorong sunyi. Bukan dikunci dengan kunci biasa, melainkan disegal dengan sihir bayangan tingkat tinggi yang berdenyut ungu gelap di permukaannya. Di dalam kamar, Aurelia masih duduk mematung di tepi tempat tidur raksasa itu, tempat di mana Xaverius baru saja "melemparnya"—meski mendarat di kasur empuk, tetap saja rasanya seperti ditaruh paksa seperti karung beras. "Diam di sini. Renungkan kebodohanmu," itu kalimat terakhir Xaverius sebelum ia menghilang di balik pintu dengan wajah yang masih menahan amarah gunung berapi. Aurelia memeluk lututnya. Ia melirik ke arah jendela kamar. Di luar sana, dinding kubah kaca yang mengurung Nocturnia semakin tebal, membiaskan cahaya matahari sore menjadi warna oranye yang menyakitkan mata. Rasa bersalah kembali merayap di dadanya. Ia gagal menyelamatkan dunia, dan sekarang ia membuat suaminya murka hingga ke tulang. "Apa yang akan dia lakukan?" bis

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 80 - Pelarian yang gagal

    Waktu yang tersisa di panel sistem Aurelia terus berdetak mundur, seolah mengejek setiap tarikan napasnya. [Waktu Tersisa sebelum Oksigen Mengkristal: 71 Jam 14 Menit.] Kubah kaca raksasa yang mengurung Nocturnia kini membiaskan cahaya matahari pagi menjadi spektrum warna yang menyakitkan mata. Di luar sana, dinding tak kasat mata itu terus menebal, memisahkan mereka dari dunia luar, mengubah kerajaan ini menjadi terrarium raksasa yang menunggu kematian. Di ruang strategi, suara benturan keras terdengar. Xaverius sedang mengamuk, mencoba menghancurkan dinding kubah itu dengan Void Slash-nya, namun laporan Silas mengatakan bahwa serangan itu tidak berpengaruh. Aurelia tahu, suaminya tidak akan berhenti sampai tenaganya habis. "Silas benar..." gumam Aurelia, berdiri di balik pilar koridor, mengintip kesibukan di aula. "Dunia ini meniru energiku tapi gagal. Energinya macet. Jika aku tidak melakukan sesuatu, kita semua akan menjadi patung hiasan." Pikiran nekat itu tumbuh di kepalany

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 79 - Diagnosa sang bijak

    Ruang perpustakaan yang remang-remang itu kini dipenuhi oleh cahaya biru neon yang berkedip cepat dari panel sistem Aurelia, bercampur dengan aura hitam pekat yang meledak dari tubuh Xaverius. Udara bergetar hebat. Buku-buku tua di rak berguncang dan jatuh, seolah-olah realitas di ruangan itu sedang diguncang oleh dua kekuatan yang bertolak belakang: keinginan sistem untuk menghapus, dan keinginan Xaverius untuk mempertahankan. "Aurelia! Tetap di sini!" raung Xaverius. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan perintah mutlak dari seorang penguasa kegelapan. Ia mencengkeram bahu Aurelia yang mulai transparan. Jari-jari Xaverius menembus kulit dan daging yang memudar itu, namun ia tidak menyerah. Xaverius mengalirkan energi Obsidian murninya secara gila-gilaan, mencoba mengisi kekosongan eksistensi Aurelia dengan jiwanya sendiri. "Kau tidak boleh hilang... Kau tidak boleh pergi ke tempat yang tidak bisa kujangkau!" Aurelia, yang kesadarannya sudah berada di ambang kehampaan, mer

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 78 - Labirin rasa bersalah

    Suara langkah kaki Xaverius yang mendekat ke kamar tidur di Bab sebelumnya menjadi pemicu kepanikan Aurelia. Ia tidak bisa membiarkan suaminya masuk. Jika kamar itu sudah terinfeksi oleh wabah kristal—yang ditandai dengan kuncup kaca di meja belajarnya—maka Xaverius juga bisa tertular jika ia tetap di sana. Dengan nekat, Aurelia mengunci pintu kamar dari dalam menggunakan sihir pengunci level tinggi yang ia pelajari dari buku harian Silas, lalu ia melarikan diri melalui jalan rahasia di balik lemari pakaian—sebuah lorong sempit yang terhubung langsung ke Perpustakaan Kuno (The Archive of Shadows) di sayap barat istana. Kini, di tengah keheningan perpustakaan raksasa yang berdebu itu, Aurelia merasa semakin kecil. Ribuan rak buku yang menjulang setinggi langit-langit seolah menatapnya dengan tuduhan. Tempat ini biasanya menjadi surga baginya, tempat di mana ia merasa menjadi "penulis" yang memegang kendali. Namun sekarang, tempat ini terasa seperti ruang sidang yang dingin. Aurelia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status