Share

Bab 3

Penulis: Sandy
Aku menutup panggilan itu, lalu mematikan komputer dengan tenang. "Nggak apa-apa. Aku Cuma mengobrol sama dosen soal urusan perceraian."

Ekspresi Sakha langsung berubah. Hampir seketika dia menerjang ke hadapanku. "Perceraian apa? Kamu mau cerai denganku?"

Aku mundur dua langkah dan menjawab dengan asal, "Bukan. Ada kasus. Dosen cuma ingin minta pendapatku."

Barulah pria itu menghela napas lega, lalu menyodorkan kantong kertas di tangannya kepadaku. "Ini buat kamu."

Gambar pada kantong itu adalah toko kue favoritku.

Sebelum menikah, setiap kali Sakha membuatku marah, dia akan pergi ke toko itu untuk membelikan kue. Toko tersebut sangat ramai. Setiap kali membeli, harus mengantre setidaknya dua jam.

Demi membujukku, tak peduli hujan atau cuaca buruk, selama aku bilang ingin makan, dia akan pergi ke sana sendiri untuk mengantre. Kadang aku merasa kasihan dan menyuruhnya memakai jasa kurir.

Namun, Sakha selalu berkata, "Prycil, nggak apa-apa. Demi kamu, aku ikhlas."

Mengingat itu, hatiku menjadi hangat. Aku tak kuasa tersenyum tipis, lalu menerima kantong kertas itu dan membukanya. "Aku nggak nyangka kamu masih ingat ... apa ini?"

Aku menatapnya dengan kaget. Perasaan tak enak tiba-tiba muncul di dadaku.

Di dalam kantong itu bukan kue seperti yang kukira, melainkan dua potong pakaian yang berbau alkohol. Satu adalah jas Sakha, satu lagi gaun pesta yang dikenakan Julia malam ini.

Menghadapi tatapanku yang mempertanyakan, untuk pertama kalinya Sakha tampak sedikit canggung. "Baju Julia 'kan kotor. Kupikir kamu sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah. Cuci satu atau dua pakaian sama saja, jadi sekalian saja kubawa pulang."

Setelah berkata demikian, dia seperti teringat sesuatu, lalu nadanya berubah menjadi wajar dan percaya diri. "Paling-paling aku pakai satu kupon rujuk lagi. Toh masih banyak yang tersisa, sekalian juga supaya kamu nggak terlalu sensitif."

Semua kata-kata seakan tersumbat di tenggorokanku oleh kalimat itu.

Aku ingin mengatakan padanya. Sakha, sudah tidak ada lagi. Sembilan puluh sembilan kupon rujuk itu, kini hanya tersisa satu yang terakhir.

Namun, kata-kata itu berhenti di ujung bibir. Aku hanya menatapnya dalam-dalam, lalu memasukkan pakaian-pakaian itu ke dalam mesin cuci.

Dulu, demi memastikan pakaiannya selalu rapi, aku tidak pernah memakai mesin cuci. Setiap helai selalu kucuci dengan tangan dan kugosok sedikit demi sedikit.

Sekarang kupikir-pikir, aku benar-benar bodoh. Ketaatan yang kupikir sebagai pengorbanan, di matanya justru hanya menjadikanku pembantu gratis. Aku menertawakan diriku sendiri dengan getir, lalu menutup pintu dan kembali ke kamar.

Melihatku kembali begitu cepat, Sakha tertegun sejenak. "Cepat sekali? Sudah bersih? Itu gaun kesukaan Julia. Aku sudah janji sama dia kalau kamu akan mencucinya sampai bersih."

Aku menggumamkan "hm", lalu mulai bersiap-siap. Sementara pikiranku melayang, memikirkan jasa laundry mana yang bisa menjemput pakaian ke rumah.

Saat sedang memikirkan itu, terdengar nada dering ponsel yang sangat kukenal dari luar. Sakha melirik ekspresiku dengan hati-hati, lalu membawa ponselnya ke balkon. Aku mengikutinya diam-diam dan mendengar suara manja Julia.

"Pak Sakha, kue yang kamu belikan enak sekali! Aku belum pernah makan kue seenak ini. Hanya saja antreannya lama sekali, aku jadi agak kasihan padamu."

Sakha melirik ke arah kamar tidur, lalu menjawab dengan nada penuh kasih, "Nggak apa-apa. Selama kamu ingin makan, akan kubelikan kapan pun. Aku ikhlas melayanimu."

Julia tertawa cekikikan, suaranya manis dan manja, "Kalau begitu, bagaimana dengan gaunku? Suruh Bu Prycil mencucinya, apa nggak terlalu merepotkan? Aku nggak ingin membuatmu serba salah."

Sakha terkekeh ringan, "Merepotkan apanya? Dia sudah terbiasa mengerjakannya. Justru kamu, tanganmu indah sekali. Kalau sampai mengerjakan pekerjaan kasar, aku akan merasa kasihan."

Aku tertegun sejenak, tanpa sadar menunduk menatap kedua tanganku sendiri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kehidupan Pernikahan Tak Seindah Lamaran   Bab 10

    Saat lelah, aku sesekali pergi ke desa nelayan di Liguria untuk tinggal selama seminggu.Setahun berlalu, aku berhasil menjadi pengacara rekan di firma hukum, karierku terus menanjak dengan stabil. Segalanya berkembang ke arah yang baik, kecuali sesekali ketika melihat wajah Sakha yang murung di bawah gedung. Itu saja sudah cukup membuat suasana hatiku terasa sial.Selama satu tahun berpisah, dia menerima 99 surat perjanjian perceraian, tetapi tetap menolak menandatanganinya. Sepertinya dia ingin mengerahkan kembali kegigihan yang dulu dia gunakan untuk mengejarku dan berharap aku iba, lalu bersedia kembali bersamanya.Awalnya, hatiku memang sempat tersentuh sedikit.Namun setelah melihat kabar yang dikirim rekan kerja, aku memadamkan sendiri rasa iba yang seharusnya tidak pernah ada itu.Di dalam negeri, Sakha mendatangi orang tuaku dan mengungkapkan semuanya. Dia menangis sambil menyatakan penyesalannya. Hanya saja dia lupa satu hal, sifat anak sering kali mewarisi orang tuanya.Aku

  • Kehidupan Pernikahan Tak Seindah Lamaran   Bab 9

    "Dua tahun ini, aku terlalu memperhatikan Julia karena aku melihat bayangan dirimu sembilan tahun lalu pada dirinya, dan keliru mengira bahwa aku menyukainya. Tapi setelah kamu pergi, aku baru menyadari, apa yang kusebut suka itu hanyalah ilusi. Orang yang benar-benar kucintai sejak awal sampai sekarang tetap kamu."Aku menatapnya dengan sinis, berusaha keras menahan rasa mual yang bergolak di perutku.Pengakuan penuh perasaan yang dia anggap mendalam itu masih berlanjut, "Selama bertahun-tahun ini, semua yang kamu lakukan selalu kulihat. Mungkin karena kemampuanmu di pekerjaan membuatku tertekan dan tersentuh, aku merasa kamu berubah.""Rasional dan kuat, seperti mesin yang dingin dan tak berperasaan.""Jadi ketika Julia muncul, tanpa sadar aku ingin mendekat. Seolah-olah aku kembali melihat dirimu saat pertama kali kita bertemu darinya ....""Prycil, aku nggak ingin bercerai, apalagi kehilanganmu. Mengingat aku rela mengatasi fobiaku terhadap pesawat dan pergi ke luar negeri untukmu,

  • Kehidupan Pernikahan Tak Seindah Lamaran   Bab 8

    Bahkan untuk urusan bisnis lintas negara sekalipun, dia selalu memercayakannya kepadaku untuk membawakan kontrak yang sudah dia tandatangani lebih dulu dan menyelesaikannya."Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba mau ke luar negeri?" Orang di seberang telepon terus mendesak meminta alasan.Sakha terdiam sejenak, lalu mengembuskan napas panjang. "Prycil pergi ....""Hah?" Nada di seberang terdengar terkejut. Namun di luar dugaan, dia tidak melanjutkan pertanyaan itu."Aku mau tanya sesuatu. Selama tiga tahun ini, apakah kalian semua merasa aku sudah melewati batas dengan Julia? Apakah kalian merasa aku telah menyakiti Prycil?"Pertanyaannya membuat sahabat di seberang sana terdiam. Dan terkadang, diam adalah jawaban terbaik."Aku mengerti."Pria itu membuka mulut dengan wajah getir, "Ini salahku. Sejak Julia muncul, tanpa sadar aku tertarik padanya.""Aku merasa dia kadang mirip Prycil waktu muda dulu, cerah dan penuh semangat. Tapi aku seharusnya nggak mencampuradukkan mer

  • Kehidupan Pernikahan Tak Seindah Lamaran   Bab 7

    Meskipun dia terus-menerus menghibur dirinya sendiri di dalam hati, melihat meja kerjaku yang tetap kosong tetap membuatnya gelisah. Bahkan saat menangani pekerjaan, dia menjadi tidak fokus.Saat Sakha kembali melihat meja kerjaku yang kosong, rasa tidak nyaman di hatinya semakin berat. Akhirnya, dia tidak bisa lagi menahannya dan memanggil direktur HR."Pak Sakha, apakah ada pekerjaan yang ingin Anda sampaikan?""Prycil hari ini izin?" Pria itu menatap dokumen di depannya, bertanya seolah tanpa terlalu memikirkannya.Direktur HR tertegun sejenak, lalu menatapnya dengan wajah penuh kebingungan. "Bu Prycil sudah mengundurkan diri.""Apa?!"Tangan Sakha yang sedang menandatangani dokumen tiba-tiba berhenti, ujung pena merobek kertas putih yang halus. "Kapan ini terjadi? Siapa yang menyetujuinya? Kenapa aku nggak tahu?"Direktur HR bertanya dengan ragu, "Diajukan tadi malam dan Anda yang menyetujui pagi ini."Kalimat itu membuat Sakha seketika tersentak, lalu dia terdiam di tempat. Kemudi

  • Kehidupan Pernikahan Tak Seindah Lamaran   Bab 6

    Lalu, dia kembali tertegun di tempat. Deretan rak pajang di dinding penuh sesak oleh hadiah-hadiah yang pernah dia berikan kepadaku. Namun jika diperhatikan dengan saksama, akan terlihat bahwa ada tiga set perhiasan yang persis sama diletakkan di bagian tengah lemari.Salah satu set di antaranya memiliki tanggal faktur yang dibeli kemarin. Tanpa sadar, pikirannya teringat pada syal merek Collypis yang kemarin dia berikan kepada sekretaris itu.Saat melihat sosok Julia yang tampak rapuh, dia langsung menyuruh orang terbang ke Italia untuk memesan secara khusus. Malam itu juga, barang tersebut sudah dikirim ke hadapannya.Baik dari segi nilai maupun ketulusan, semuanya jauh melampaui satu lemari perhiasan yang ada di depannya ini.Pada saat itu, dia terjerumus ke dalam perenungan yang mendalam. Sejak kapan cinta yang dulu begitu istimewa dan hanya tertuju padaku berubah menjadi perasaan yang murahan dan sekadar formalitas?Malam itu, dia duduk di ruang tamu dan menghabiskan seluruh minum

  • Kehidupan Pernikahan Tak Seindah Lamaran   Bab 5

    Aku mengabaikan getaran ponsel itu dan langsung mematikannya. Mulai saat ini, pernikahanku selama lima tahun dengan Sakha benar-benar berakhir.Di hotel, Sakha mulai membalas dengan panik setelah membaca pesanku.[ Cerai? Jangan bercanda. Kupon rujuknya sebanyak itu, mana mungkin habis secepat ini? ][ Kamu nggak suka hadiah yang kubelikan? Kalau begitu aku pilihkan yang lain? ][ Prycil, angkat teleponnya. Kita bicara baik-baik. ][ Kenapa ponselmu mati? Kamu benar-benar marah? ]Pria itu sama sekali tidak mau percaya bahwa aku akan mengabaikannya. Dia meneleponku berulang kali, tanpa mau menyerah. Sampai akhirnya, setelah mendengar nada sibuk untuk ke-39 kalinya, barulah kepanikan benar-benar menyergapnya."Nggak mungkin ... nggak mungkin. Sebelum keluar tadi semuanya masih baik-baik saja ...."Di benaknya terbayang kembali ekspresiku saat menyebut kupon rujuk yang begitu tenang. Saking tenangnya, sampai seperti sudah benar-benar menyerah. Begitu memikirkan hal itu, Sakha segera mera

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status