Share

Bab 2

Author: Sandy
"Dasar bodoh. Lain kali jangan lari secepat itu. Kalau sampai terluka gimana?"

Julia menggenggam tangannya, matanya penuh senyum manis. "Aku tahu, Pak Sakha. Kamu baik sekali padaku."

Iya. Sangat baik padamu.

Alkohol yang kuteguk barusan baru terasa menyengat tenggorokanku hingga membuat mataku perih.

Tidak apa-apa. Aku berkata pada diriku sendiri, 'Bagaimanapun juga, tinggal dua lembar lagi.'

....

Setelah jamuan berakhir, aku refleks membuka pintu kursi penumpang depan. Namun baru saja tanganku menyentuh gagang pintu, terdengar bunyi mobil itu terkunci.

Sakha menurunkan kaca jendela dan menatapku dingin. "Kamu naik taksi saja. Mobilku baru dicuci. Badanmu bau alkohol, menyengat sekali."

Dia seolah lupa dari mana bau alkohol di tubuhku berasal. Raut jijik di matanya bahkan tampak begitu terang.

Kalau biasanya, mungkin aku sudah meneguk air dengan panik dan menangis sambil membela diri. Aku akan mengatakan bahwa aku hanya minum sedikit dan baunya tidak seberapa. Atau mungkin aku akan merasa emosional di pinggir jalan, menanyainya kenapa tadi dia memaksaku untuk minta maaf menggantikan Julia.

Namun, kali ini aku hanya tersenyum dan mengangguk. "Baik. Hati-hati di jalan."

Tangan Sakha yang menggenggam setir tampak mengendur. Dia refleks menoleh ke arahku. "Prycil, kamu ...."

Belum sempat dia melanjutkan, Julia sudah tersenyum sambil mendorongku ke samping. "Pak Sakha, aku sudah siap. Ayo kita berangkat."

Dia mengenakan jas Sakha di pundaknya. Noda minuman di gaunnya menguarkan bau alkohol yang menusuk hidung, pasti akibat menabrak menara sampanye tadi.

Namun, Sakha sama sekali tidak merasa terganggu. Dia bahkan membukakan pintu mobil untuk gadis itu dengan tangannya sendiri, lalu merapatkan jas di tubuhnya dengan hati-hati. "Di luar dingin. Jangan sampai masuk angin."

Setelah melakukan semua itu, barulah dia teringat untuk menoleh padaku. Tatapannya memperlihatkan rasa bersalah. "Jangan salah paham. Aku cuma lihat Julia ini masih gadis muda, jadi aku lebih menjaganya."

Aku mengangguk. "Aku mengerti."

Takut dia tidak percaya, aku menambahkan, "Kamu juga sudah pakai kupon rujuk, 'kan? Aku nggak akan marah."

Sakha terdiam sejenak, seolah masih ingin mengatakan sesuatu. Namun, Julia tiba-tiba bersin dan seketika itu juga perhatian Sakha kembali tertuju padanya.

"Pulanglah lebih awal."

Dengan meninggalkan kalimat itu, mereka berdua langsung pergi dengan mobil.

Aku menatap punggung mobil yang kian menjauh, lalu tanpa sadar menggigil kedinginan.

Sesampainya di rumah, aku mengeluarkan celengan berisi buku tabungan dan kupon rujuk dari dalam lemari. Kertas yang dulu bisa langsung kuraih, kini harus kuraba cukup lama sebelum akhirnya berhasil kutarik keluar satu lembar.

Aku merobek kupon rujuk ke-97, lalu menyalakan komputer dan mulai menyusun perjanjian perceraian dengan Sakha.

Demi menjaga keadilan, aku menelepon dosen pembimbingku, "Pak, kalau saya ingin bercerai dengan Sakha, bagaimana sebaiknya pembagian harta dilakukan?"

Dosen itu jelas terkejut dengan niatku. "Bercerai? Kenapa?"

"Di seluruh kampus, siapa yang nggak tahu dulu Sakha sampai melamarmu 99 kali demi mengejarmu? Sampai sekarang itu masih jadi kisah legendaris. Kenapa bisa sampai ingin bercerai?"

Iya. Bagaimana bisa semuanya sampai pada titik ini?

Mungkin sejak aroma parfum di tubuhnya yang semakin hari semakin kuat. Sejak dia makin sering tidak pulang ke rumah. Sejak kupon-kupon rujuk di dalam celengan habis satu per satu karena Julia.

Aku sudah tahu, kami tidak mungkin kembali seperti dulu.

Melihat aku terdiam, dosen itu tidak lagi membujuk. Dia hanya bertanya, "Perjanjian cerai akan kubantu buatkan. Kapan kamu butuh?"

Aku menoleh ke arah celengan, suaraku terdengar datar, "Saat Sakha menghabiskan dua kesempatan terakhirnya."

Begitu kata-kata itu terucap, pintu rumah tiba-tiba didorong terbuka.

"Kesempatan apa?"

Sakha masuk sambil membawa kantong kertas, nadanya dipenuhi kebingungan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kehidupan Pernikahan Tak Seindah Lamaran   Bab 10

    Saat lelah, aku sesekali pergi ke desa nelayan di Liguria untuk tinggal selama seminggu.Setahun berlalu, aku berhasil menjadi pengacara rekan di firma hukum, karierku terus menanjak dengan stabil. Segalanya berkembang ke arah yang baik, kecuali sesekali ketika melihat wajah Sakha yang murung di bawah gedung. Itu saja sudah cukup membuat suasana hatiku terasa sial.Selama satu tahun berpisah, dia menerima 99 surat perjanjian perceraian, tetapi tetap menolak menandatanganinya. Sepertinya dia ingin mengerahkan kembali kegigihan yang dulu dia gunakan untuk mengejarku dan berharap aku iba, lalu bersedia kembali bersamanya.Awalnya, hatiku memang sempat tersentuh sedikit.Namun setelah melihat kabar yang dikirim rekan kerja, aku memadamkan sendiri rasa iba yang seharusnya tidak pernah ada itu.Di dalam negeri, Sakha mendatangi orang tuaku dan mengungkapkan semuanya. Dia menangis sambil menyatakan penyesalannya. Hanya saja dia lupa satu hal, sifat anak sering kali mewarisi orang tuanya.Aku

  • Kehidupan Pernikahan Tak Seindah Lamaran   Bab 9

    "Dua tahun ini, aku terlalu memperhatikan Julia karena aku melihat bayangan dirimu sembilan tahun lalu pada dirinya, dan keliru mengira bahwa aku menyukainya. Tapi setelah kamu pergi, aku baru menyadari, apa yang kusebut suka itu hanyalah ilusi. Orang yang benar-benar kucintai sejak awal sampai sekarang tetap kamu."Aku menatapnya dengan sinis, berusaha keras menahan rasa mual yang bergolak di perutku.Pengakuan penuh perasaan yang dia anggap mendalam itu masih berlanjut, "Selama bertahun-tahun ini, semua yang kamu lakukan selalu kulihat. Mungkin karena kemampuanmu di pekerjaan membuatku tertekan dan tersentuh, aku merasa kamu berubah.""Rasional dan kuat, seperti mesin yang dingin dan tak berperasaan.""Jadi ketika Julia muncul, tanpa sadar aku ingin mendekat. Seolah-olah aku kembali melihat dirimu saat pertama kali kita bertemu darinya ....""Prycil, aku nggak ingin bercerai, apalagi kehilanganmu. Mengingat aku rela mengatasi fobiaku terhadap pesawat dan pergi ke luar negeri untukmu,

  • Kehidupan Pernikahan Tak Seindah Lamaran   Bab 8

    Bahkan untuk urusan bisnis lintas negara sekalipun, dia selalu memercayakannya kepadaku untuk membawakan kontrak yang sudah dia tandatangani lebih dulu dan menyelesaikannya."Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba mau ke luar negeri?" Orang di seberang telepon terus mendesak meminta alasan.Sakha terdiam sejenak, lalu mengembuskan napas panjang. "Prycil pergi ....""Hah?" Nada di seberang terdengar terkejut. Namun di luar dugaan, dia tidak melanjutkan pertanyaan itu."Aku mau tanya sesuatu. Selama tiga tahun ini, apakah kalian semua merasa aku sudah melewati batas dengan Julia? Apakah kalian merasa aku telah menyakiti Prycil?"Pertanyaannya membuat sahabat di seberang sana terdiam. Dan terkadang, diam adalah jawaban terbaik."Aku mengerti."Pria itu membuka mulut dengan wajah getir, "Ini salahku. Sejak Julia muncul, tanpa sadar aku tertarik padanya.""Aku merasa dia kadang mirip Prycil waktu muda dulu, cerah dan penuh semangat. Tapi aku seharusnya nggak mencampuradukkan mer

  • Kehidupan Pernikahan Tak Seindah Lamaran   Bab 7

    Meskipun dia terus-menerus menghibur dirinya sendiri di dalam hati, melihat meja kerjaku yang tetap kosong tetap membuatnya gelisah. Bahkan saat menangani pekerjaan, dia menjadi tidak fokus.Saat Sakha kembali melihat meja kerjaku yang kosong, rasa tidak nyaman di hatinya semakin berat. Akhirnya, dia tidak bisa lagi menahannya dan memanggil direktur HR."Pak Sakha, apakah ada pekerjaan yang ingin Anda sampaikan?""Prycil hari ini izin?" Pria itu menatap dokumen di depannya, bertanya seolah tanpa terlalu memikirkannya.Direktur HR tertegun sejenak, lalu menatapnya dengan wajah penuh kebingungan. "Bu Prycil sudah mengundurkan diri.""Apa?!"Tangan Sakha yang sedang menandatangani dokumen tiba-tiba berhenti, ujung pena merobek kertas putih yang halus. "Kapan ini terjadi? Siapa yang menyetujuinya? Kenapa aku nggak tahu?"Direktur HR bertanya dengan ragu, "Diajukan tadi malam dan Anda yang menyetujui pagi ini."Kalimat itu membuat Sakha seketika tersentak, lalu dia terdiam di tempat. Kemudi

  • Kehidupan Pernikahan Tak Seindah Lamaran   Bab 6

    Lalu, dia kembali tertegun di tempat. Deretan rak pajang di dinding penuh sesak oleh hadiah-hadiah yang pernah dia berikan kepadaku. Namun jika diperhatikan dengan saksama, akan terlihat bahwa ada tiga set perhiasan yang persis sama diletakkan di bagian tengah lemari.Salah satu set di antaranya memiliki tanggal faktur yang dibeli kemarin. Tanpa sadar, pikirannya teringat pada syal merek Collypis yang kemarin dia berikan kepada sekretaris itu.Saat melihat sosok Julia yang tampak rapuh, dia langsung menyuruh orang terbang ke Italia untuk memesan secara khusus. Malam itu juga, barang tersebut sudah dikirim ke hadapannya.Baik dari segi nilai maupun ketulusan, semuanya jauh melampaui satu lemari perhiasan yang ada di depannya ini.Pada saat itu, dia terjerumus ke dalam perenungan yang mendalam. Sejak kapan cinta yang dulu begitu istimewa dan hanya tertuju padaku berubah menjadi perasaan yang murahan dan sekadar formalitas?Malam itu, dia duduk di ruang tamu dan menghabiskan seluruh minum

  • Kehidupan Pernikahan Tak Seindah Lamaran   Bab 5

    Aku mengabaikan getaran ponsel itu dan langsung mematikannya. Mulai saat ini, pernikahanku selama lima tahun dengan Sakha benar-benar berakhir.Di hotel, Sakha mulai membalas dengan panik setelah membaca pesanku.[ Cerai? Jangan bercanda. Kupon rujuknya sebanyak itu, mana mungkin habis secepat ini? ][ Kamu nggak suka hadiah yang kubelikan? Kalau begitu aku pilihkan yang lain? ][ Prycil, angkat teleponnya. Kita bicara baik-baik. ][ Kenapa ponselmu mati? Kamu benar-benar marah? ]Pria itu sama sekali tidak mau percaya bahwa aku akan mengabaikannya. Dia meneleponku berulang kali, tanpa mau menyerah. Sampai akhirnya, setelah mendengar nada sibuk untuk ke-39 kalinya, barulah kepanikan benar-benar menyergapnya."Nggak mungkin ... nggak mungkin. Sebelum keluar tadi semuanya masih baik-baik saja ...."Di benaknya terbayang kembali ekspresiku saat menyebut kupon rujuk yang begitu tenang. Saking tenangnya, sampai seperti sudah benar-benar menyerah. Begitu memikirkan hal itu, Sakha segera mera

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status