MasukAku dan teman masa kecil suamiku hamil di waktu yang sama. Demi menjaga nama baik Sheila... Mereka bilang anak dalam kandungannya adalah darah daging suamiku. Sedangkan anakku... Dituduh sebagai anak haram akibat aku bersenang-senang di luar. Saat aku hancur dan menuntutnya, dia hanya berkata pelan, "Sheila dari kecil hidup di bawah aturan keluarga yang ketat." "Dia nggak kuat kalau jadi bahan gosip." Hari itu, aku menatap pria yang sudah kucintai selama tujuh tahun. Aku memutuskan untuk tidak mencintainya lagi.
Lihat lebih banyak"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNG"Kamu nggak usah khawatir. Pengacaraku sangat ahli menangani gugatan cerai.""Percayalah, sebentar lagi kamu nggak perlu lagi capek-capek klarifikasi."Aku menghela napas, berniat bilang terima kasih.Tapi, entah kenapa, rasanya ada yang janggal.Apa maksudnya sebentar lagi aku tidak perlu klarifikasi?Saat menatapnya dengan heran, aku melihat telinga Galih sudah memerah.Sikapnya terlalu jelas.Tanpa dia mengucapkan apa pun, aku sudah tahu maksudnya."Aku akan nunggu kamu. Sampai hari kamu resmi bercerai.""Selama itu, kamu boleh memastikan sebanyak yang kamu mau.""Aku janji perasaanku ke kamu nggak akan berubah."Saat itu, aku baru benar-benar tahu apa rasanya dicintai.Setelah Galih menyatakan perasaannya, perhatian dan kasihnya tidak pernah dia sembunyikan lagi.Semuanya ditunjukkannya terang-terangan, tanpa ragu sedikit pun.Selama proses cerai dengan Simon, dia beberapa kali datang mencariku.Namun, Galih selalu muncul duluan dan mengusirnya seperti mengusir hama.Bahkan agar ak
Sederet mawar itu, bahkan di ruang terbuka sekalipun, selalu membuatku batuk, mual, dan bersin tanpa henti.Sambil menutup hidung dan mulutku dengan kesal, barulah dia terlihat sadar.Dengan sikap serba salah, dia mengangkat buket itu dan bergegas menaruhnya di luar kafe."Soal cerai, sepertinya Ibu sudah bilang ke kamu.""Kamu datang sendiri ke sini, jadi aku nggak perlu lagi melalui jalur hukum."Itu juga alasan utama aku bersedia duduk dan berbicara dengannya.Sudah enam bulan sejak aku pergi.Aku tidak ingin memperpanjang apa pun. Aku hanya ingin mengakhiri semuanya dengan cepat.Mendengar ucapanku, sorot matanya yang sempat terang langsung meredup.Bagiku, selain urusan cerai, tidak ada lagi yang perlu dibahas di antara kami."Aku nggak mau cerai.""Aku datang karena mau kamu pulang sama aku."Pulang bersamanya?Betapa jauh dari kenyataan.Apa aku tampak serendah itu?Datang kalau dipanggil, pergi kalau diusir, semua sesuka hatinya.Aku baru saja berhasil keluar dari tempat yang t
Bagaimanapun juga, itu rumah yang kutinggali bersamanya selama tiga tahun.Meski semua barangku sudah lama tidak ada, tempat itu masih menyimpan begitu banyak kenangan indah yang pernah kami bagi."Bu, beberapa hari lagi aku bakal bujuk Simon biar vila ini dipindah ke atas namaku.""Dia rela ninggalin istri sama anaknya, cuma buat ngurus aku dan anak orang lain.""Lelaki sebodoh itu mana mungkin aku biarin lolos. Aku harus ambil sebanyak mungkin darinya."Bahkan sebelum Simon masuk rumah, dia sudah mendengar Sheila dan kedua orang tuanya bercakap-cakap.Ternyata mereka sejak awal tahu semuanya.Anak dalam kandungan Sheila bukan anaknya.Semua ini cuma kebohongan yang mereka rancang bersama untuk menipu dia.Semua semata demi uangnya."Jangan lupa, urusin juga rumah buat adikmu.""Atau, jadikan vila ini rumah pernikahan adikmu sekalian."Sejak kecil Simon selalu melindungi Sheila karena tahu keluarga itu lebih memihak anak laki-laki.Aturan mereka yang ketat bukan berarti peduli, hanya
Atau mungkin aku bisa tinggal di mana saja, mengikuti alur hidup dan menikmati hari-hari yang bebas.Begitu saja, beberapa bulan pun berlalu.Malam itu aku sedang makan dan bernyanyi bersama sekelompok teman baru.Setelah meninggalkan rumah dan memulai hidup di kota asing, aku benar-benar memulai segalanya dari awal.Masa-masa awal memang sedikit membuatku canggung.Dari orang yang cenderung takut bersosialisasi, aku butuh sebulan untuk bisa benar-benar menyesuaikan diri.Dalam sebulan itu, aku bahkan mendapatkan banyak teman.Dulu aku selalu mencurahkan seluruh hidupku hanya untuk Simon.Selama tujuh tahun, aku tidak punya teman dan jarang bersosialisasi.Seluruh pikiranku hanya tertuju pada satu orang.Sampai aku benar-benar kehilangan diri sendiri... "Venny, kamu dandan beda banget hari ini. Jangan-jangan karena…"Teman kerjaku, Jerisha, menatapku dengan senyum jail.Lalu dia melirik ke arah pria yang duduk di sebelahku.Beberapa bulan lalu, aku mulai bekerja di sebuah perusahaan k






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan