Home / Romansa / Kekasih Tuan Muda / Bab 1. Temu Tanpa Cerita

Share

Kekasih Tuan Muda
Kekasih Tuan Muda
Author: reinsabiila

Bab 1. Temu Tanpa Cerita

Author: reinsabiila
last update Last Updated: 2024-11-11 14:38:15

Bab 1. Temu Tanpa Cerita

Kennan menyandarkan punggung pada kursi kerjanya. Hari baru beranjak siang, namun dia sudah tak lagi punya gairah untuk bekerja. Semangatnya menghilang terbawa angin, terbang bersama debu jalanan melanglang metropolitan. Ayahnya baru saja mendatanginya. Memberi banyak permintaan yang tidak mungkin Kennan berikan dengan mudah.

Salah satunya … memberi cucu.

Kennan berdecih. Cucu dari Hongkong, dia saja tidak mau menikah.

Untuk apa menikah? Kalau hati saja, Kennan tak lagi yakin memiliki. Mungkin sudah mati, mungkin juga terbawa angin seperti semangatnya. Entahlah, dia terlalu malas untuk menjelaskan.

Kalau bisa, dia ingin merelakan. Kalau mampu, dia ingin meninggalkan.

Absurd. Sama seperti dirinya, tidak jauh berbeda. Sebelas dua belas antara waras dan tidak waras.

Dia terkadang tertawa dalam kepedihan. Menangis dalam kebahagiaan.

Tangisnya tidak mengeluarkan air mata, hanya beberapa perabot yang harus rela di jadikan sasaran atau dinding beton yang cukup mampu membuat jari-jari tangannya terluka.

“Kennan.”

Panggilan seseorang membuat Kennan memejamkan mata. Berpura-pura tidur, karena masih enggan bertemu orang itu. Suara pintu terbuka diikuti langkah kaki terdengar berirama mengusik rungu Kennan. Namun dia masih mendiamkannya, membiarkan orang itu semakin dekat ke arahnya.

“Tidur? Ish ish … bos malas sepertimu, mau jadi apa perusahaan ini,” cibir Wilona. Perempuan itu meletakkan tas tangannya di atas meja kerja Kennan. Lalu mengitari meja dan berhenti tepat di sebelah kursi yang sedang Kennan duduki.

Menumpukan berat badannya pada meja di belakangnya, Wilona bersedekap dengan terus menatap sahabatnya tanpa jemu. “Rencana pernikahanku dipercepat,” ucap Wilona, karena yakin Kennan tidak benar-benar tertidur.

Mendengar ucapan Wilona, Kennan menegang di tempatnya. Semakin merapatkan kelopak matanya. Menahan mati-matian untuk tidak segera membukanya demi menutupi satu luka yang baru ia dapatkan.

Dia masih bisa terluka. Hatinya yang dia gadang-gadang telah mati. Nyatanya tak pernah redup dari sosok Wilona. Seiring waktu justru semakin melekat, bagaimanapun Kennan berusaha menghilangkannya. Belasan tahun memendam cinta, menjadi satu alasan bagi Kennan untuk tidak mudah beranjak.

“Ken, kamu tidak senang. Padahal kamu adalah orang pertama yang kuberitahu kabar bahagia ini.”

Orang pertama yang ingin Wilona beritahu.

“Ya Tuhan, Kennan melirih di dalam hati. Tidakkah perempuan itu sedikit saja menyadari. Kennan tidak pernah menganggap Wilona nomor dua. Perempuan itu selalu jadi yang pertama.  Sama-sama pertama, namun dalam arti berbeda. Tentu saja. Memangnya apa yang Kennan harapkan. Wilona memilih laki-laki lain yang otomatis menjadi nomor satu di hati perempuan itu.

“Kamu menyebalkan, Ken. Aku benci.”

Demi seraut wajah merajuk Wilona, dan ucapan paling tidak ingin Kennan dengar, dia akhirnya mengalah. Perlahan dia membuka mata dengan sebelumnya menarik dan mengembuskan napasnya panjang.

“Kapan?” tanya Kennan. Ditatapnya Wilona yang kini tampak mengukir senyuman senang.

“Besok malam pertunangannya. Dua bulan lagi pernikahannya,” jawab Wilona antusias. Tanpa merasa sungkan atau bersalah.

Wilona memang tidak tahu, dan Kennan memahami itu. Wilona tidak benar-benar ingin menyakiti hatinya, meski yang selama ini perempuan itu lakukan adalah menancapkan belati di dadanya.

Memaksakan senyumnya, Kennan kembali berucap, “Oh ya, cepat sekali.”

Masih dengan antusiasme tinggi, Wilona turun dari duduknya di pinggiran meja. Di rengkuhnya bahu Kennan erat. “Iya, aku yang memintanya agar dipercepat.”

Kennan menahan napas. Disentuhnya lengan Wilona yang melingkari lehernya. Dia harus bahagia, meski remuk keadaan hatinya.

“Itu sangat bagus, Wil. Jadi, kamu bisa menambatkan hatimu dan tidak lagi menggangguku.”

Wilona berdecak. Melepaskan pelukannya dan berdiri berkacak pinggang. “Jadi, aku mengganggumu begitu?”

Kennan tertawa sumbang. “Tentu saja, aku ada banyak pekerjaaan hari ini,” ucapnya, sembari menarik tumpukkan dokumen di atas meja dan ia tunjukkan pada Wilona.

Wilona menepuk sebelah bahu Kennan. “Iya, Mr. Sok sibuk. Tahulah. Urusi saja pekerjaanmu, hingga kamu tua dan lupa dengan hidupmu.”

“Kamu yang mengatakan padaku tadi. Kalau aku tidur terus, mau jadi apa perusahaanku.”

“Tapi tidak dengan mengabaikanku,” decih Wilona.

Kennan menaikkan sebelah alisnya. “Aku tidak mengabaikanmu. Tidak pernah.” tekannya jujur. Berasal dari dalam hatinya.

“Kamu pembohong ulung. Sudahlah,” ucap Wilona meraih tasnya.

“Kamu mau pulang?”

Mengabaikan pertanyaan Kennan, Wilona beranjak pergi. Sedikit kesal karena Kennan mengatakan jika dirinya mengganggu. Wilona tahu, Kennan memang sibuk. Tapi selama ini sesibuk apa pun Kennan. Laki-laki itu tidak pernah mengatakan dirinya pengganggu.

“Pastikan kamu datang ke pestaku besok malam,” pesan Wilona. Sebelum benar-benar membuka pintu, ditolehkannya wajah untuk melihat Kennan. “Berdandan yang tampan,” lanjutnya.

Kennan mengembuskan napas, panjang dan berat. Mengurangi sesak yang menghimpit dadanya sejak tadi.

Yang bisa dia lakukan hanyalah seperti itu. Berpura-pura. Menyembunyikan rapat-rapat apa yang ada di dalam dadanya.

Tidak pernah sekalipun ia buka perasaannya. Karena baginya cukup mencintai, tanpa balasan. Meski dia harus menanggung duka.

***

“Yuna, antar pesanan ke meja nomor sembilan.”

Mengangguk mantap, Yuna mengambil pesanan yang diperintahkan. Di meja itu ada dua laki-laki berambut cepak dengan pakaian necis khas kantoran. Senyum Yuna terukir hangat ketika menyela obrolan tamunya. Izin untuk meletakkan pesanan di meja.

“Selamat menikmati.” Senyum Yuna terukir manis. Lewat sudut matanya, dia melirik salah satu laki-laki yang sedang sibuk dengan tab-nya.

Menahan napas, Yuna segera undur diri. Jantungnya berdegup cepat hanya karena laki-laki yang ditatapnya mengalihkan perhatian dari tab dan berbalik memandangnya.

“Ya Tuhan,” Yuna mendesah, merasa tindakannya barusan adalah sebuah kesalahan fatal. Dia baru saja terpesona akan ketampanan seseorang. Terperangkap hanya karena sebuah tatapan mata. Untuk kali pertama, detak jantungnya tak terkendali. Dia yang berusia 21 tahun dan menghabiskan sebagian hidupnya hanya untuk bekerja, tidaklah cukup mumpuni untuk membaca apa yang terjadi.

“Kenapa?”

Tersentak, Yuna mengurut dadanya. Ditolehkannya wajah menatap Nia, salah satu seniornya di restoran. “Kaget, Kak,” desah Yuna. Berusaha sedikit menenangkan degupan jantungnya yang masih memburu.

Nia meringis, “Masa sih?”

Yuna mengangguk malu.

“Sori deh, abisnya mukamu merah banget.”

“Huh,” Yuna mengerjap, ditepuk-tepuknya dua belah pipinya pelan. Memang sih, dia merasa jika wajahnya memanas. Sampai-sampai dia takut jika dirinya demam.

“Kak Nia—” ucapan Yuna terpotong karena seruan seseorang di meja nomor sembilan.

Nia mencolek bahu Yuna sembari mengedikkan dagunya. Meminta Yuna untuk segera kembali ke meja itu.

Baru saja Yuna ingin menolak, Nia sudah lebih dulu pergi. Ada tamu lain yang juga memanggil. Yuna menghela napas berkali-kali. Dia merasa gugup tiba-tiba.

“Apakah ada yang Anda inginkan?” tanya Yuna ramah. Dia menundukkan kepala, menatap rumbai penutup meja. Seolah apa yang di sana lebih indah dari pemandangan laki-laki tampan di hadapannya.

“Aku ingin kamu.”

Melotot, Yuna segera menengadah. Dipandanginya dua laki-laki di depannya secara bergantian dengan raut bertanya.

“Basi.”

“Hei, Ken. Diam saja kamu. Batu,” cibir Jefry.

Yuna bergeming, sebutan nama yang tak sengaja didengarnya perlahan membuat dadanya berdesir. Ken, itulah nama laki-laki tampan yang memiliki raut wajah datar itu.

“Ah, bisa tambah sausnya,” ucap Jefry.

Yuna mengangguk, tak lupa ia tambahi sebuah senyuman. “Mohon ditunggu,” ucapnya, kemudian berlalu pergi. Dia harus profesional. Sekalipun dia begitu ingin sedikit lama untuk memandang.

Sepeninggal Yuna, meja Kennan tampak gaduh dengan tawa Jefry yang membahana. Tidak ada yang sedang melucu, namun laki-laki itu justru tertawa begitu bahagia.

Kennan memutar bola matanya malas. Tidak ingin berkomentar dengan tingkah aneh sahabatnya.

“Kamu lihat mukanya, persis kayak lihat hantu,” seloroh Jefry di tengah tawanya.

“Sudah biasa.” Kennan menyahut tidak peduli. Dia kembali membuka tab-nya, melihat e-mail yang menumpuk, kebanyakan bahasan kerja. Tidak yang lain.

“Kali ini, harus dilihat. Perempuan itu lucu banget. Mukanya antara terpesona sama ketakutan.”

Dan tepat ketika Jefry menyelesaikan ucapannya. Yuna datang dengan pesanan yang Jefry inginkan.

Demi memastikan apa yang Jefry katakan, Kennan mendongak, menatap Yuna yang sedang mengukir senyum hangat. Kennan mengernyit, apa yang Jefry katakan tidak dia temukan. Perempuan di hadapannya justru tampak semringah. Bukan karena terpesona apalagi mencari perhatian.

“Gimana? Iya, kan?” Jefry bertanya memastikan. Setelah Yuna pergi dari mejanya.

Kennan berdecak. “Kalo enggak bisa baca raut muka. Jangan ceriwis lah.”

“Duh, payah,” cibir Jefry sembari menggelengkan kepala.

Mengedikkan bahu, Kennan tidak membalas cibiran Jefry. Dia mengambil sendok dan melahap makan siang menjelang sorenya. Meski tidak begitu berselera, dia tetap berusaha menjejalkan makanan itu ke dalam mulutnya.

Karena mungkin, besok dia akan lebih tidak berselera.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kekasih Tuan Muda   Bab 45. Menjadi Milikmu

    Bab 45. Menjadi MilikmuKennan merasa dunianya berhenti ketika senyuman Yuna terukir manis, begitu hangat. Dia ingin berlari memeluk Yuna, menghirup wangi perempuan itu, menciuminya hingga dirinya puas. Meluapkan kerinduan yang menjadi-jadi di dalam dadanya. Namun, Kennan harus menahan diri. Yuna mungkin saja masih tidak ingin disentuh olehnya.“Saya menunggu Anda,” ucap Yuna mengukir senyum, sembari menurunkan kaki ke lantai dan hendak beranjak dari duduknya dengan susah payah.Perutnya sudah besar, dan sedikit banyak membatasi ruang geraknya. Untuk sampai ke kantor Kennan saja, dia harus membohongi Nana, yang melarang Yuna keluar tanpa pengawasan.Kennan lebih dulu tanggap, ia berlari ke arah Yuna, kemudian berlutut di hadapan perempuan itu. Membuat napas Yuna tercekat di tenggorokan dengan tatapan nanar. Lelaki itu menumpukan keningnya di lutut Yuna yang terlipat. Memejamkan mata, membiarkan sesaat waktu berpi

  • Kekasih Tuan Muda   Bab 44. Pertemuan Membahagiakan

    Bab 44. Pertemuan MembahagiakanKennan tidak pulang semalam, dan hingga matahari sudah meninggi seperti ini, Yuna tak kunjung menerima kabar. Doni dan Nana tampak biasa, seolah ketidak pulangan Kennan adalah hal wajar. Tapi tidak bagi Yuna, dia khawatir. Dia sudah berniat menghubungi Kennan, sekadar menanyakan sakit lelaki itu. Sudah sembuh atau belum?Namun, hal itu ia urungkan ketika menemukan ponsel Kennan tergeletak di atas nakas kamar Kennan.Yuna menghela napas, merenung mencari jalan keluar. Ketika segalanya sudah jelas di depan mata, ia justru tidak menemukan kesempatan bertemu Kennan.Bukankah kesempatan bisa diciptakan sendiri?Kelebat pikiran itu membuat Yuna mengambil keputusan. Dia akan ke kantor Kennan. Dengan semangat menggebu, Yuna membuat bekal makan untuk Kennan. Yuna merasa, dia harus mengambil tindakan lebih dulu. Ketika menanti tak kunjun

  • Kekasih Tuan Muda   Bab 43. Tentang Dia

    Bab 43. Tentang DiaJefry membereskan ruangan Kennan sendirian, menolak bantuan Rita yang sempat ingin membantu. Ia memunguti berkas-berkas kerjanya, mengembalikan benda-benda yang berserakan di lantai kembali ke tempat semula.Barang pecah belah yang tak lagi berbentuk, sudah ia kumpulkan dan memenuhi tempat sampah.Kennan sendiri, sedang merebahkan tubuh di atas sofa panjang. Sebelah lengannya terangkat menutupi mata. Entah tidur atau tidak, Jefry tidak tahu.Keduanya bungkam, setelah sama-sama menenangkan diri dari guncangan berita pagi ini.Tadi, melihat Kennan serapuh itu, Jefry sontak memeluknya, mengusap punggungnya dan mengatakan segalanya akan baik-baik saja. Yuna tidak akan pergi hanya karena berita itu. Meski sejujurnya Jefry pun tidak yakin Yuna akan bertahan.“Kamu harus bicara, Ken. Jangan biarkan Yuna tenggelam dalam kesalahpahaman.” Jefry angkat bicara. Dia

  • Kekasih Tuan Muda   Bab 42. Bingkai Luka

    Bab 42. Bingkai LukaYuna mengerjap, melenguh pelan sembari mengeratkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Cahaya matahari samar-samar menelusup tirai kamar yang dibiarkan terbuka sebagian.Dia ingat, sedang berada di mana, namun ada yang ganjil. Tidak ada lengan kokoh yang memeluk tubuhnya, seperti semalam. Seingatnya, ia tengah tidur dalam pelukan Kennan. Terlelap nyaman dalam rengkuhan hangat lelaki itu.Yuna membalikkan tubuh, menghadap sisi ranjang satunya. Dan benar saja, tidak ada sosok Kennan di sana. Ia ditinggal sendirian.Sedikit banyak, Yuna merasa kecewa. Setelah kejadian semalam, ia berencana berbicara baik-baik dengan Kennan dari hati ke hati pagi harinya. Menerima dengan lapang, apa pun kenyataan menyakitkan di baliknya.Yuna mendesah, menegakkan tubuh secara perlahan, kemudian bersandar di kepala ranjang. Dia melirik jam weker di atas nakas, yang sudah menunjukkan pukul

  • Kekasih Tuan Muda   Bab 41. Mimpi dan Penyesalan

    Bab 41. Mimpi dan PenyesalanKennan berlutut di depan pintu paviliun, sudah sejak beberapa menit yang lalu. Matanya terpejam, menikmati sepinya malam yang menyelubungi. Menikmati setiap memori kepedihan yang datang silih berganti.Mulai dari saat ini, bisakah ia bersama dengan Yuna?Itu adalah pertanyaan ke sekian kali yang terlontar cuma-cuma dari benaknya.Yuna mungkin tidak ingin bersamanya lagi. Tidak ingin melihatnya lagi. Tidak ingin berada dalam satu tempat, satu atap dengannya. Kennan tak akan lagi menemukan senyum malu-malu Yuna, merasakan hangat rengkuhan rapuh perempuan itu.“Maafkan aku,”Bisikkan lirih itu, yang segera menghilang dibawa desau angin. Adalah satu kalimat pendek yang Kennan suarakan sejak dia tiba di depan kamar Yuna. Dia tidak berani mengetuk, apalagi nyelonong masuk tanpa permisi seperti yang biasa ia lakukan.Menghantamkan kepalan tangan

  • Kekasih Tuan Muda   Bab 40. Kenangan Menggigit

    Bab 40. Kenangan Menggigit“Sejak awal, seharusnya memang tak perlu ada kita.”Sepotong kalimat itu terus berdengung memekakkan di gendang telinga Kennan. Mengiringi langkah lelahnya masuk ke rumah.Kennan keluar dari kamar Yuna dengan bongkahan rasa penasaran luar biasa. Juga hujaman nyeri di dadanya yang teramat menyakitkan. Dia berulang kali mengingat, adakah yang terlewat dari catatan riwayat hidup Yuna yang belum sempat terbaca.Kennan tidak menyesali pertemuan antara ia dan Yuna. Justru karena Yuna, Kennan memiliki segalanya.Tadi, selepas Yuna mengucapkan kalimat singkat itu, perempuan itu langsung berlari ke kamar mandi. Dan Kennan tidak mampu mengeluarkan sedikit pun suara dari bibirnya. Terpaku sempurna dengan pikiran kosong.Mengabaikan denyut-denyut nyeri di dadanya, Kennan berjalan ke arah meja kerja yang kini tampak rapi.Harus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status