Home / Romansa / Kekasih Tuan Muda / Bab 4. Melihat Sisi Lain

Share

Bab 4. Melihat Sisi Lain

Author: reinsabiila
last update Last Updated: 2024-11-11 14:42:26

Bab 4. Melihat Sisi Lain

Kennan meringis mengingat perkataannya beberapa hari lalu. Dia sendiri tidak yakin ucapan itu keluar dari bibirnya. Tapi, sudah telanjur basah, jadi menurut Kennan sekalian saja dibasahi sampai kuyup.

Dia sedang duduk di ruang santai rumahnya, sendirian. Ayahnya sudah kembali ke Jepang menemani ibunya yang memang lebih suka tinggal di tanah lahirnya. Jefry sendiri mendapat tugas kerja ke kantor cabang di Singapura. Dan berakhir lah dia tanpa kawan seorang pun.

Memangnya siapa lagi yang Kennan harapkan. Wilona sudah resmi bertunangan, jadi mana mungkin perempuan itu mau berlama-lama menghabiskan waktu dengannya seperti dulu.

Tempo hari, dia datang tepat beberapa menit sebelum acara pertunangan Wilona selesai. Sengaja. Karena sebelumnya, Kennan justru tidak ingin menginjakkan kaki di acara itu. Terlalu menyakitkan melihat perempuan yang dicintai, bahagia bersama laki-laki lain.

Beranjak dari duduknya, Kennan memutuskan untuk mencari angin di luar. Hari sudah sore dan terasa hangat karena matahari yang bersinar cerah. Dia memakai celana jeans selutut dan polo shirt putih. Ditambah kacamata hitam yang dia sambar dari atas meja.

Berkeliling sore bukan salah satu hobi Kennan, hanya saja demi menghabiskan waktu di hari libur, dia pun memilih opsi itu. Tak ada salahnya.

Tidak cukup jauh dari rumahnya, Kennan menghentikan laju mobilnya tiba-tiba. Di seberang jalan, di sebuah halte, berdiri seorang perempuan yang baru beberapa kali tak sengaja bertemu, namun familier diingatannya. Perempuan yang ia tawari untuk mengandung anaknya.

Kennan memutuskan untuk menghampiri Yuna, mungkin dia bisa konfirmasi perkataannya kemarin.

Membuka kaca mobil sebelah penumpang, Kennan menekan klakson mobilnya pelan, mencoba menarik perhatian Yuna. “Kamu mau pulang?” tanya Kennan, ramah. Hal yang jarang sekali dia lakukan pada orang asing.

Sedikit membungkukkan badan, Yuna melirik sang pengendara mobil yang menghalangi pandangannya. Dia sedikit berjengit kaget, namun tak lama kembali menguasai diri. “Belum,” sahutnya jujur, sembari menggelengkan kepala.

Kennan mengernyit. “Naik, aku antar,” putusnya.

Membeliak, Yuna kembali menggelengkan kepala. “Tidak perlu, saya—”

“Ayo cepat, nanti macet kelamaan berhenti,” desak Kennan memotong penolakan Yuna.

Yuna bergeming, hingga klakson mobil di belakang saling bersahutan, membuat dia segera membuka pintu mobil dan masuk.

Kennan tersenyum miring, merasa menang kali ini. Karena gadis di sebelahnya beberapa kali menolak pemberian darinya. Aneh, ‘kan. Di saat banyak gadis tergila-gila padanya yang dingin namun baik hati. Yuna justru lebih sering menghindari kontak langsung dengannya. Gadis itu seperti ketakutan melihat dirinya.

“Di mana rumahmu?” tanya Kennan, melirik Yuna sekilas sebelum kembali melihat jalanan.

Memilin ujung bajunya. Yuna menjawab kikuk, “Saya bekerja.”

“Bekerja di akhir pekan seperti ini?” kernyit Kennan. Dia kembali melirik Yuna yang sedari tadi terus saja menundukkan kepala.

Ayolah, harusnya gadis itu terkagum akan interior mobilnya yang masih baru. Harusnya bangga juga karena Yuna orang pertama yang dia izinkan masuk ke mobil sport hitam-nya  ini.

Tapi, mana tahu Yuna akan hal itu. Yuna hanya gadis kampung yang kebetulan tinggal di kota bertahun-tahun.

“Tidak ada hari libur untuk saya,” sahut Yuna kalem. Menatap tepat ke manik hitam Kennan. Tak lama kemudian dia segera menundukkan kepala.

“Kenapa tidak ambil kesempatan dariku?”

“Kesempatan?” Yuna membeo. Matanya mengerjap polos. Tampak mengingat-ingat.

Kennan menggertakkan gigi. Rupanya Yuna melupakan perkataannya tempo hari. Sialan sekali perempuan itu.

“Tentang ibu bagi anak-anakku,” terang Kennan. Sedetik kemudian dia mengutuk ucapannya sendiri. Kalau sampai Jefry atau siapa pun mendengar yang ia bicarakan, mereka pasti akan tertawa terbahak tak ada habisnya.

Yuna menganga, matanya membulat polos. “Saya kira hanya bercanda.”

Kennan mengetuk stir mobilnya dengan jari. Ingin tertawa, tapi, masa iya menertawakan diri sendiri. Enggak etis.

“21 tahun, ya?” gumam Kennan. Keningnya berkerut, apa perempuan 21 tahun di zaman sekarang begitu polos seperti Yuna. Atau hanya Yuna saja, tidak dengan yang lain.

“Aku tidak pernah bercanda,” tandas Kennan akhirnya.

Yuna menelan ludah, merunduk takut ketika Kennan menajamkan ucapan. Dia memang tak jarang mendapat omelan dari atasannya. Tapi, auranya tidak semenyeramkan Kennan.

“Adikmu masih SMP bukan?”

“Dari mana Anda tahu?”

Kennan mengedikkan bahunya. “Teman kerjamu,” kilah Kennan. “Aku bisa menjamin sekolah adikmu sampai Universitas, bahkan kehidupannya akan aku cukupi.”

Yuna mencerna baik-baik kalimat yang Kennan ucapkan. “Tapi ….”

“Cukup jadi perempuan yang mengandung anakku. Apa pun yang kamu inginkan akan terpenuhi. Aku tidak menuntut apa pun kecuali seorang anak. Kamu akan sangat diuntungkan dalam hal ini.” Kennan mengembuskan napas. Sedikit banyak dia sudah mengambil perannya. Entah gadis di sampingnya akan setuju atau lari tunggang langgang darinya.

Tapi harusnya, tidak ada gadis yang menolaknya. Apalagi seseorang seperti Yuna. Beberapa hari ini, Kennan meminta seorang detektif andal untuk mengorek informasi tentang Yuna sampai ke akar-akarnya. Dia harus memastikan perempuan yang mengandung anaknya nanti adalah perempuan baik-baik yang bersih dari penyakit.

“Kenapa Anda memilih saya? Kita bahkan tidak saling mengenal. Dan juga, pasti ada banyak perempuan yang mengagumi Anda,” Yuna melirih, wajahnya memerah gugup. Seketika ketakutan menyergap tubuhnya, membuatnya menggigil tanpa alasan.

“Entahlah, hanya feeling,” aku Kennan jujur. Sampai di tahap kengawuran seperti ini saja, Kennan tidak tahu asal pikirannya dari mana. Dia yang tadinya acuh tak acuh akan permintaan ayahnya, justru tergiur karena Jefry memberi jawaban lain.

Yuna menggigit bibirnya. Dia awam untuk masalah seperti ini. Bukankah selama ini dia hanya hidup untuk bekerja, demi kebahagiaan adiknya. Menguasai kegugupannya, Yuna segera membuka suara. “Saya turun di sini saja.”

Kennan mengembuskan napas. Seperti yang dia perkirakan, Yuna akan menolak. Tapi bukan Kennan jika menyerah dengan satu-dua penolakan. Menepikan mobilnya, Kennan mengambil tempat di depan deretan ruko. Dia melepaskan genggamannya dari kemudi lalu mengambil sebuah map di jok belakang.

“Ini perihal yang aku inginkan. Kamu bisa memikirkannya lebih dulu. Dan jika ingin, kamu pun bisa menambahkan,” ucap Kennan, menyerahkan map itu pada Yuna. Rincian tentang perjanjian antara dia dan Yuna, andaikata, gadis itu mau menyetujui tanpa syarat lain.

Yuna menahan map itu dengan tangan. “Tidak perlu, saya cukup dengan apa yang saya dapatkan sekarang.”

Tersenyum, Kennan membuka map itu dan mengambil berkas di dalamnya. “Maksimal dua tahun, minimalnya satu tahun, setelah itu kamu bebas. Aku akan menjamin kehidupanmu dan adikmu, seperti yang kubilang diawal tadi.”

Yuna bergeming, dia menatap wajah Kennan yang tampak serius. Nada suara laki-laki itu lebih lembut dibanding tadi ataupun yang kemarin-kemarinnya.

“Saya tidak bisa,” Yuna mencicit, sebelah tangannya siap membuka pintu mobil.

“Aku harap kamu akan menerimanya, Yuna,” ucap Kennan, mengiringi Yuna yang keluar mobilnya. Sesaat, ada bersit kagum di benak Kennan akan keteguhan Yuna.

***

“Apa yang salah dariku?” gumam Yuna bertanya-tanya. Dia berjalan pelan menyusuri gang sempit ke arah rumah kosnya. Suasana cukup ramai, karena ini malam minggu. Banyak muda-mudi yang berkunjung ke tempat pasangannya atau sekadar berboncengan keliling kota.

Beberapa hari belakangan, dia memang cukup terkejut dengan pernyataan laki-laki asing kepadanya.

“Kennan,” Yuna menggumam nama laki-laki asing yang tampan luar biasa. Di satu saat tampak baik dan bijaksana, namun di satu saat lain mampu membuat Yuna merunduk ketakutan. Bukan Yuna tidak terpesona, lebih dari apa pun, dia tidak ingin berpaling menatap wajah tampan itu.

Namun, dia masih sadar bagaimana dirinya. Keadaannya. Pelayan seperti dirinya, mana pantas. Mana layak untuk sekadar ber-angan terlalu jauh. Dan seperti bom yang meledak di pusat kehidupannya. Kennan memberinya penawaran yang mampu membuat Yuna menahan napas tidak percaya.

Harga dirinya sedang dipertaruhkan. Juga kehidupan adiknya yang menjadi alasan dia bertahan selama ini.

Apa yang harus Yuna pilih? Harga dirinya atau masa depan adiknya?

Jauh di dalam hatinya, Yuna ingin memberi kehidupan layak pada Sita, tidak seperti hidupnya selama ini yang pontang-panting mencari sekeping rupiah. Karena biarlah dirinya saja yang merasakan asam garamnya kehidupan tanpa orang tua, tanpa sosok kuat yang membantunya bertahan.

Dan pada kesempatan ini, dia tidak boleh egois, bukan?

Yuna menetapkan hatinya. Dia harus memilih yang terbaik, meski nantinya mungkin dia yang akan tersakiti.

Hidup memang bukan melulu tentang uang. Tapi yang saat ini paling mendesaknya adalah hal itu. Dia membutuhkan secepatnya, demi sang adik yang berjuang dengan sekolahnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kekasih Tuan Muda   Bab 45. Menjadi Milikmu

    Bab 45. Menjadi MilikmuKennan merasa dunianya berhenti ketika senyuman Yuna terukir manis, begitu hangat. Dia ingin berlari memeluk Yuna, menghirup wangi perempuan itu, menciuminya hingga dirinya puas. Meluapkan kerinduan yang menjadi-jadi di dalam dadanya. Namun, Kennan harus menahan diri. Yuna mungkin saja masih tidak ingin disentuh olehnya.“Saya menunggu Anda,” ucap Yuna mengukir senyum, sembari menurunkan kaki ke lantai dan hendak beranjak dari duduknya dengan susah payah.Perutnya sudah besar, dan sedikit banyak membatasi ruang geraknya. Untuk sampai ke kantor Kennan saja, dia harus membohongi Nana, yang melarang Yuna keluar tanpa pengawasan.Kennan lebih dulu tanggap, ia berlari ke arah Yuna, kemudian berlutut di hadapan perempuan itu. Membuat napas Yuna tercekat di tenggorokan dengan tatapan nanar. Lelaki itu menumpukan keningnya di lutut Yuna yang terlipat. Memejamkan mata, membiarkan sesaat waktu berpi

  • Kekasih Tuan Muda   Bab 44. Pertemuan Membahagiakan

    Bab 44. Pertemuan MembahagiakanKennan tidak pulang semalam, dan hingga matahari sudah meninggi seperti ini, Yuna tak kunjung menerima kabar. Doni dan Nana tampak biasa, seolah ketidak pulangan Kennan adalah hal wajar. Tapi tidak bagi Yuna, dia khawatir. Dia sudah berniat menghubungi Kennan, sekadar menanyakan sakit lelaki itu. Sudah sembuh atau belum?Namun, hal itu ia urungkan ketika menemukan ponsel Kennan tergeletak di atas nakas kamar Kennan.Yuna menghela napas, merenung mencari jalan keluar. Ketika segalanya sudah jelas di depan mata, ia justru tidak menemukan kesempatan bertemu Kennan.Bukankah kesempatan bisa diciptakan sendiri?Kelebat pikiran itu membuat Yuna mengambil keputusan. Dia akan ke kantor Kennan. Dengan semangat menggebu, Yuna membuat bekal makan untuk Kennan. Yuna merasa, dia harus mengambil tindakan lebih dulu. Ketika menanti tak kunjun

  • Kekasih Tuan Muda   Bab 43. Tentang Dia

    Bab 43. Tentang DiaJefry membereskan ruangan Kennan sendirian, menolak bantuan Rita yang sempat ingin membantu. Ia memunguti berkas-berkas kerjanya, mengembalikan benda-benda yang berserakan di lantai kembali ke tempat semula.Barang pecah belah yang tak lagi berbentuk, sudah ia kumpulkan dan memenuhi tempat sampah.Kennan sendiri, sedang merebahkan tubuh di atas sofa panjang. Sebelah lengannya terangkat menutupi mata. Entah tidur atau tidak, Jefry tidak tahu.Keduanya bungkam, setelah sama-sama menenangkan diri dari guncangan berita pagi ini.Tadi, melihat Kennan serapuh itu, Jefry sontak memeluknya, mengusap punggungnya dan mengatakan segalanya akan baik-baik saja. Yuna tidak akan pergi hanya karena berita itu. Meski sejujurnya Jefry pun tidak yakin Yuna akan bertahan.“Kamu harus bicara, Ken. Jangan biarkan Yuna tenggelam dalam kesalahpahaman.” Jefry angkat bicara. Dia

  • Kekasih Tuan Muda   Bab 42. Bingkai Luka

    Bab 42. Bingkai LukaYuna mengerjap, melenguh pelan sembari mengeratkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Cahaya matahari samar-samar menelusup tirai kamar yang dibiarkan terbuka sebagian.Dia ingat, sedang berada di mana, namun ada yang ganjil. Tidak ada lengan kokoh yang memeluk tubuhnya, seperti semalam. Seingatnya, ia tengah tidur dalam pelukan Kennan. Terlelap nyaman dalam rengkuhan hangat lelaki itu.Yuna membalikkan tubuh, menghadap sisi ranjang satunya. Dan benar saja, tidak ada sosok Kennan di sana. Ia ditinggal sendirian.Sedikit banyak, Yuna merasa kecewa. Setelah kejadian semalam, ia berencana berbicara baik-baik dengan Kennan dari hati ke hati pagi harinya. Menerima dengan lapang, apa pun kenyataan menyakitkan di baliknya.Yuna mendesah, menegakkan tubuh secara perlahan, kemudian bersandar di kepala ranjang. Dia melirik jam weker di atas nakas, yang sudah menunjukkan pukul

  • Kekasih Tuan Muda   Bab 41. Mimpi dan Penyesalan

    Bab 41. Mimpi dan PenyesalanKennan berlutut di depan pintu paviliun, sudah sejak beberapa menit yang lalu. Matanya terpejam, menikmati sepinya malam yang menyelubungi. Menikmati setiap memori kepedihan yang datang silih berganti.Mulai dari saat ini, bisakah ia bersama dengan Yuna?Itu adalah pertanyaan ke sekian kali yang terlontar cuma-cuma dari benaknya.Yuna mungkin tidak ingin bersamanya lagi. Tidak ingin melihatnya lagi. Tidak ingin berada dalam satu tempat, satu atap dengannya. Kennan tak akan lagi menemukan senyum malu-malu Yuna, merasakan hangat rengkuhan rapuh perempuan itu.“Maafkan aku,”Bisikkan lirih itu, yang segera menghilang dibawa desau angin. Adalah satu kalimat pendek yang Kennan suarakan sejak dia tiba di depan kamar Yuna. Dia tidak berani mengetuk, apalagi nyelonong masuk tanpa permisi seperti yang biasa ia lakukan.Menghantamkan kepalan tangan

  • Kekasih Tuan Muda   Bab 40. Kenangan Menggigit

    Bab 40. Kenangan Menggigit“Sejak awal, seharusnya memang tak perlu ada kita.”Sepotong kalimat itu terus berdengung memekakkan di gendang telinga Kennan. Mengiringi langkah lelahnya masuk ke rumah.Kennan keluar dari kamar Yuna dengan bongkahan rasa penasaran luar biasa. Juga hujaman nyeri di dadanya yang teramat menyakitkan. Dia berulang kali mengingat, adakah yang terlewat dari catatan riwayat hidup Yuna yang belum sempat terbaca.Kennan tidak menyesali pertemuan antara ia dan Yuna. Justru karena Yuna, Kennan memiliki segalanya.Tadi, selepas Yuna mengucapkan kalimat singkat itu, perempuan itu langsung berlari ke kamar mandi. Dan Kennan tidak mampu mengeluarkan sedikit pun suara dari bibirnya. Terpaku sempurna dengan pikiran kosong.Mengabaikan denyut-denyut nyeri di dadanya, Kennan berjalan ke arah meja kerja yang kini tampak rapi.Harus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status