Masuk96 Tepat jam 1 siang, acara resepsi dilangsungkan di tempat yang berbeda dari acara akad. Ballroom luas di lantai 2 gedung Hotel Bramanty itu mampu menampung hingga 3000 orang dalam sekali waktu. Seperti halnya pesta para ajudan lapisan lainnya, panggung berukuran sedang juga dibangun di sisi kanan pelaminan bernuansa hijau, yang dipenuhi banyak dedaunan. Sesuai dengan dekorasi yang diinginkan Elma, yakni semi garden party. Kendatipun saat itu sudah memasuki musim kemarau, tetapi curah hujan masih lumayan tinggi di seputar Bandung. Selain itu, waktu pesta yang dilakukan siang hingga sore hati, menjadikan area luar cukup panas. Elma sudah mempertimbangkan situasi dan kondisi cuaca saat pesta dilangsungkan. Elma akhirnya memutuskan untuk mengadakan perhelatan akbar itu di dalam ruangan, supaya suasananya nyaman bagi semua orang. Fikri yang kembali berduet dengan Rinjani sebagai MC, mempersilakan pasangan pengantin baru memasuki area. Pintu utama ballroom terbuka, dan keenam bocah p
95"Saya terima nikah dan kawinnya Elma Ararindra Binti Yayan Muchayan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" tegas Zhao Yìchen dalam satu tarikan napas dan terdengar mantap. Pak penghulu menanyakan keabsahan akad itu pada kedua saksi, yakni Finley dan Wahyu, Kakak sepupu Yayan. Kemudian kepala KUA membacakan doa yang diamini khalayak.Zhao Yìchen menunduk dan menadahkan kedua tangannya. Pria bersetelan jas pengantin biru muda itu mengucap hamdalah dalam hati, karena telah menuntaskan satu tugas berat, yang membuat beban di pundaknya berkurang. Seusai pembacaan doa, pasangan pengantin baru menandatangani buku nikah, dengan arahan Pak penghulu. Kemudian keduanya berdiri dan maju selangkah, sambil menunggu tim dokumentasi bersiap-siap mengabadikan momen selanjutnya. Zhao Yìchen meraih cincin bertakhtakan berlian putih dari kotak perhiasan yang dipegangi Fazluna. Zhao Yìchen memasangkan cincin ke jemari manis kanan istrinya. Elma mengambil cincin polos dari kotak itu, lalu menyematk
94Elma memandangi pantulan dirinya di depan cermin besar. Meskipun dia MUA yang sudah lama malang- melintang di dunia tata rias, tetap saja Elma takjub dengan hasil dandanan Roni, ketua tim MUA EO M&E, yang selalu jadi andalan para bos jika hendak menikah.Roni menempuh pendidikan tentang riasan itu di Jerman. Selain para bos, banyak artis tanah air dan keluarga pejabat yang menggunakan jasanya. Ptibadinya yang ramah dan hangat, menjadikan pelanggan Roni terus bertambah, dan klien lama pun tetap setia menggunakan jasanya.Elma menoleh ke kiri ketika mendengar gelakak keempat sahabatnya, yang tengah dicandai Roni. Pria berkacamata itu terus mengoceh dengan cepat, menggunakan bahasa Sunda campur Inggris, sembari sekali-sekali menggoyangkan badannya, seolah-olah tengah menirukan gerakan ben-ces.Pintu terbuka dan Nilam memasuki ruangan bersama Leni. Nilam mengamati putrinya, sedangkan Leni membantu Elma mengenakan selop biru muda, yang senada dengan setelan kebaya pengantinnya. "Rombon
93Hari bahagia yang kian dekat, menjadikan Zhao Yìchen deg-degan. Setiap hari dia berlatih mengucapkan ijab kabul dengan pasangan yang berganti-ganti. Dimulai dari Wirya, Zulfi, Dante, Harry, Yoga, Andri, bahkan Finley turun tangan langsung untuk membantu keponakan angkatnya tersebut. Sehari sebelum berangkat ke Bandung, acara pengajian dilakukan di kediaman Dante. Ratusan orang turut menghadiri acara tersebut, di mana sebagian besarnya adalah tim PBK. Acara pengajian usai tepat sebelum azan asar. Zhao Yìchen yang berada di pelaminan kecil, menyalami semua tamu sembari membagikan goodiebag. Untuk yang sudah sepuh, Zhao Yìchen mendatangi mereka satu per satu, guna beramah tamah. Seusai para tamu umum pergi, hampir semua pria bergegas berangkat ke masjid yang berada di blok terdepan. Mereka menunaikan salat Asar berjemaah, lalu kembali ke rumah Dante guna melaksanakan siraman. Zhao Yìchen yang telah menukar celana panjangnya dengan sarung hitam motif garis-garis, menduduki bangku k
92Zhao Yìchen mendengarkan cerita Ren Mark dan keluarganya, sembari mengingat momen itu di dalam benak. Sebab harus menuntaskan sekolahnya, Zhao Yìchen tidak bisa sering berkunjung ke Darwin.Kendatipun Zhao Yìchen mendapatkan mandat baru dari Wirya, untuk bertugas bolak-balik ke Australia, tetapi itu hanya sebatas di seputar Sydney, ataupun beberapa kota besar di mana ada proyek baru. Sedangkan di Darwin belum ada proyek lainnya. Zhao Yìchen mengarahkan pandangan ketika dipanggil Ren Mark yang menanyakan tentang kepastian waktu pernikahannya dengan Elma. "Sebulan lagi, Paman," jawab Zhao Yìchen. "Undangan acara resepsi di Jakarta, nanti kukirimkan, karena sekarang belum jadi," lanjutnya. "Tidak perlu. Kami akan datang, walaupun tanpa undangan fisik," jawab Ren Mark.Zhao Yìchen mengangguk mengiakan. "Mengenai akomodasi, semuanya ditanggung Dante bersaudara. Papa Erick sedang menyelesaikan pembelian pesawat Adhitama. Kalian nanti dijemput pakai pesawat itu." "Syukurlah. Tadinya a
91Dilbert meringkus lawannya dengan memelintir tangan kanan orang tersebut. Dilbert mengikat tawanannya dengan tali yang sudah dipersiapkan di saku celana. "Ternyata kamu memang perempuan," cakap Dilbert seusai membuka penutup wajah orang itu. Sedetik kemudian Dilbert menggeser badannya ke kanan untuk menghindari jarum kecil yang ditiupkan perempuan itu dengan kuat. "Sial!" pekik Dilbert seusai merasakan tangan kirinya mulai kebas.Tanpa memedulikan jika lawannya adalah perempuan, Dilbert menendangi perempuan itu, yang seketika terlempar ke jalan. Tidak berhenti sampai di situ, Dilbert menarik lengan kiri lawannya, dan mendorong perempuan itu ke halaman rumah Bryan.Dilbert menyambungkan tali di tangan perempuan itu dengan tali di pohon. Kemudian dia memindai sekeliling, lalu menembaki kepala seekor ular kobra yang tadi dilemparkan musuh. Dilbert mengambil bangkai ular itu, lalu melumuri wajah lawannya dengan cairan dari ular, hingga tawanannya menjerit-jerit. "Kamu yang melempa
27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den
18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed
13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila
12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg







