LOGINKembali di keheningan bengkel Eko, Raka meletakkan kaset itu di atas tape recorder tua yang berhasil Eko temukan. Kirana duduk di sebelahnya, matanya terpaku pada tombol ‘Play’. Mereka berdua menahan napas, siap menghadapi suara yang sudah bertahun-tahun hanya menjadi hantu di ingatan Raka.
Raka menekan tombol. Pita itu mulai berputar dengan bunyi mekanis yang serak. Awalnya hanya ada desisan dan suara napas berat, lalu terdengar batuk parah yang menusuk. Batuk khas Ki Anom, yang Raka ingat selalu menemaninya di balik kelir.
Kemudian, suara itu datang. Suara Ki Anom Suroso, penuh wibawa namun terdengar sangat lemah. Ia mulai melantunkan suluk, tembang yang Raka kenali sebagai salah satu suluk kritis yang ia temukan di manuskrip: tembang tentang keadilan ilahi yang harus turun dengan cara keras.
Suluk itu mengalun, menggambarkan kehancuran moral para Kurawa, kebingungan para Pandawa, dan takdir yang tak terhindarkan. Suara Ki Anom semakin kuat, seolah
Jenazah Komjen Leksmono—sosok ayah Kirana yang diidolakan sekaligus ditakuti karena ketidaksempurnaannya, ksatria yang jatuh dan mewariskan trauma, pilar logika yang menjadi sandaran Kirana dalam persembunyiannya—telah dieksekusi Wira di jantung kantor polisi, di jantung keyakinan Kirana. Dia gugur dalam posisi Wayang Durna. Drona, guru agung yang mati karena pengkhianatan informasi, dan kematiannya menjadi tanda bahwa ia telah membelokkan Kurusetra ke dalam tembok kita, Komandan. Posisi tubuhnya seperti Wayang Durna yang jatuh dari kereta, terhuyung oleh berita bohong. Kain putih menutupi sebagian wajahnya. Arsip kepolisian—seluruh catatan Wira yang kita kumpulkan—hancur. Mereka sudah hilang.”Kirana tidak bergerak. Ponsel satelitnya tergeletak di lantai marmer rumah sakit, memancarkan nada sambung yang memekakkan telinga. Pemandangan Kirana yang jatuh keheningan total lebih mengerikan bagi Raka daripada darah yang ia batukkan sebelumnya. Komjen Leksmono adalah tiang penyangga yang K
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengurangi jarak di antara mereka. Raka bisa mencium samar aroma seragamnya yang sudah lelah. Ini adalah pengakuan, sebuah sumpah, dan sebuah peringatan.“Dia gagal membunuhku sebagai Bima yang keras kepala. Dia gagal membuatmu memilih antara aku dan masa depan Lakon,” ujar Kirana, suaranya dipenuhi tekad dingin, meskipun air mata sudah mengering. “Tapi dia sekarang tahu. Dia tahu siapa kelemahanmu, Arjuna.”Kirana menjauhkan tangannya dari Raka, meskipun matanya menolak putus kontak.“Aku sudah berjuang keras sepanjang hidupku untuk tidak memiliki hubungan pribadi yang akan digunakan orang lain sebagai senjata. Aku menjadi Kompol yang logis, dingin, tanpa kelemahan,” katanya, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang tertahan. “Tetapi Wira melihat menembus dinding pertahananku. Dia melihat anak kecil yang haus validasi di balik seragam ini. Dan yang lebih parah, dia melihat bagaimana kau memandangku.”Raka hendak memprotes, tetapi Kirana memotong
Raka Permadi merasakan kata itu menghantamnya bukan sebagai suara, melainkan sebagai getaran. Itu adalah gema yang muncul dari setiap sendi tubuhnya, menanggapi racun perlahan dari wayang ayahnya. Kegelapan menutup pandangannya, meninggalkan hanya sisa bayangan Wayang Ki Anom yang meleleh di tanah dingin Imogiri, sebuah lambang tragis dari cinta yang beracun.Ia tidak sadar berapa lama ia tergeletak. Hanya sensasi kejatuhan, rasa panas yang membakar pembuluh darah, dan rasa dingin dari batu-batu nisan yang mencium pipinya. Samar-samar, Raka mendengar teriakan. Bukan lagi suara anak-anak yang direkam, bukan pula ejekan Wira. Ini adalah teriakan nyata.“Raka! RAKA! Bangun, sialan!”Suara Kirana Prameswari. Kuat, mendesak, dan kini penuh histeria yang belum pernah Raka dengar sebelumnya. Kirana sudah bebas.Raka membuka matanya yang berat. Penglihatannya kabur. Kirana ada di depannya, tangannya gemetar hebat. Ia berhasil melepaskan diri dari ikatan di ruang perenungan, mungkin menggunaka
Coretan itu adalah Wayang Bima, terikat rantai, diposisikan seperti terkurung di sebuah sel. Di sebelahnya, tulisan tangan Kapten Wira: “Bima terkunci, menunggu Arjuna memutus rantai logika.”Raka melanjutkan perjalanan di lorong sempit itu. Coretan di dinding berganti. Kini ia melihat sebuah gambar Kirana, dihiasi detail seragam polisi, duduk di depan wayang-wayang Kurawa yang gugur. Itu adalah pemandangan yang sama persis dengan yang Raka bayangkan selama ini: Kirana dihadapkan pada hasil logis dari kejahatan yang sempurna.Kau sudah hampir di sini, Raka. Jangan sia-siakan kesempatanmu untuk menjadi pahlawan.Raka mendengar suara samar di ujung lorong—rintihan tertahan. Itu Kirana.Ia mempercepat langkahnya, tetapi lorong itu tiba-tiba terbuka ke sebuah ruang perenungan yang kecil, terbuka ke langit malam, dikelilingi tembok batu tinggi. Di tengah ruangan itu, ada batu nisan tunggal, bukan nisan raja, melainkan nisan tanpa nama, diselimuti dupa yang masih mengepulkan asap tebal.Dan
Raka Permadi berdiri di kegelapan Imogiri, seolah dipaku oleh bisikan Bayangan Utama. Di tangan kirinya Wayang Arjuna—dirinya. Di tangan kanannya Wayang Ki Anom Suroso—ayahnya, sang dalang yang bunuh diri. Dan di kakinya, Wayang Bima yang robek, Wayang Kirana yang siap ditumbalkan.Ia menatap ponsel di tangannya. Pesan Kirana: "Raka, ada sesuatu yang kutemukan di mobilku. Di..." Terputus. Ini bukan sinyal hilang, ini adalah Kirana yang terputus secara brutal. Entah teleponnya dihancurkan atau dia diserang.Pilihan itu terasa sangat nyata, panas, dan dingin sekaligus. Wira tidak hanya memaksanya memilih antara menyelamatkan kekasih dan memenangkan lakon; Wira memaksanya memilih antara menjadi manusia atau menjadi dalang.Jadilah Parikesit sejati. Raja yang naik takhta dari tumpukan jenazah orang yang paling kau sayangi.Raka memejamkan mata, memproses ledakan suara yang ia dengar sebelumnya. Itu ledakan kecil, mungkin hanya peledak suara untuk menakuti, atau alarm. Tetapi Wira adalah m
Dan di denah itu, terdapat titik merah di sebuah sudut kecil, disertai tulisan: “DWIPA’S VOICE: FINAL SULUK.”Raka segera bergerak menuju sudut yang ditunjuk denah. Ia mendapati ada lubang kecil tersembunyi di dinding kayu, yang ditutup tirai usang.Dia menyibak tirai itu, dan melihat di baliknya, sebuah kotak perekam digital kecil yang berkedip pelan. Kotak itu dihubungkan ke pengeras suara kecil, dan di sampingnya, ada mikrofon dengan tanda logo DWIPA. Wira sudah pergi, tetapi meninggalkan jejak suaranya—suara DWIPA—untuk didengar oleh siapa pun yang berani masuk ke panggung sunyi itu.Raka menyentuh tombol Play pada perekam digital itu. Dia tahu, dia sedang melangkah ke jebakan audio yang dipersiapkan dengan cermat.Suara itu muncul, tenang dan berwibawa, persis suara Kapten Wira.“Selamat datang di Panggung Sunyi, Raka Permadi. Aku tahu kau akan datang. Dan kini kau melihat apa yang harus kulihat selama bertahun-tahun: semua korban itu hanyalah boneka yang harus gugur. Kau juga bo







