LOGINAlex menggenggam erat jemari Citra saat mendengarkan penjelasan dokter di ruang konsultasi.Ketika kalimat bahasa Inggris yang dinanti-nanti itu terucap—menyatakan bahwa tes darah menunjukkan Citra positif hamil enam minggu—suasana di ruangan itu mendadak hening.“A-apa?” tanya Citra yang baru tercetus setelah beberapa detik pasca mendegar keternagan dari dokter itu.“Aku hamil?” tanya Citra lagi.Dan dokter itu tersenyum lebar dan memberi selamat untuk pasangan itu.Sedangkan, Alex malah membeku. Tatapannya terpaku pada layar monitor kecil yang memperlihatkan titik mungil di dalam rahim istrinya.Dada aktor tampan itu berdesir hebat, dipenuhi gelombang rasa haru dan kebahagiaan yang teramat sangat hingga matanya berkaca-kaca.“Sayang, kau hamil?”Tanpa peduli pada dokter dan perawat di sekitar mereka, Alex langsung menunduk dan menciumi seluruh wajah Citra dengan gairah kebahagiaan yang membuncah."Terima kasih, Sayang... Terima kasih," bisik Alex parau, menempelkan dahi mereka dengan
Kehangatan liburan di China yang begitu indah mendadak dibayangi oleh rasa tidak nyaman yang dirasakan Citra sejak pagi.Tubuhnya terasa lemas, mual yang mengocok perut terus datang berkali-kali, dan kepalanya diliputi rasa pusing yang berputar.Saat Alex bertanya dengan raut cemas, Citra memilih berkilah bahwa ia hanya terkena masuk angin biasa akibat perubahan cuaca dingin yang ekstrem.Citra tak ingin merusak kebahagiaan suaminya yang sedang begitu menikmati liburan ini.“Serius hanya masuk angin?” tanya Alex memastikan.Citra mengangguk. “Aku tidak pernah keluar negri di musim dingin, jadi sepertinya tubuhku hanya sedang menyesuaikan diri.“Mau pijit, Sayang?” Alex menawarkan.Hanya saja Citra sedikit slengekan. “Pijit yang seperti di youtube itu?”“Hah?” Alex langsung melirik istrinya itu. “Pijit apa yang kamu maksudkan?”Citra jadi terkekeh.“Kamu lihat pijit-pijit itu?” Alex mendekatkan wajahnya pada Citra yang masih terkekeh itu.“Oh, aku lupa itu di Jepang ya, bukan di China.
Alex tersenyum miring, matanya menatap lurus ke arah jalur tembok yang menanjak terjal di depan mereka."Ini tentang kisah Meng Jiangnu. Di zaman Dinasti Qin, suaminya ditangkap secara paksa oleh prajurit kerajaan hanya beberapa hari setelah pernikahan mereka. Dia dibawa ke utara yang dingin ini untuk dipekerjakan sebagai buruh paksa membangun tembok raksasa."Alex menjeda kalimatnya sejenak, mengusap lengan Citra dengan lembut dan perlahan."Musim berganti musim, dan tidak pernah ada kabar dari suaminya. Meng Jiangnu yang teramat rindu dan mencintai suaminya memutuskan untuk berjalan kaki ribuan mil sendirian dari kampung halamannya, menembus cuaca ekstrem, hanya untuk mengantarkan baju hangat yang ia jahit sendiri untuk sang suami.""Lalu? Apakah mereka bertemu?" tanya Citra, larut dalam intonasi suara Alex yang begitu piawai bercerita."Tidak," sahut Alex pelan, ada nada melankolis dalam suaranya. "Begitu sampai di sini, Meng Jiangnu mendapati kenyataan pahit bahwa suaminya sudah m
Setelah badai gairah di atas sofa mereda, menyisakan napas yang masih terengah, Citra menyandarkan kepalanya di dada bidang Alex.Televisi di depan mereka masih menyala, menampilkan transisi teks film yang baru saja usai.Suasana hati Alex sedang berada di titik terbaiknya, berkali-kali ia mengecup puncak kepala Citra dengan puas.Dan Citra tahu, ini adalah waktu yang paling tepat untuk bicara."Sayangku…" panggil Citra dengan mesra.Alex menatap Citra dengan senyuman tipis yang hangat. “Ada apa, Sayang?”"Uhm. Tadi siang, Om Wirya datang ke ruang kerjaku." Citra mulai membahasnya perlahan.Gerakan tangan Alex di bahu Citra seketika terhenti. Hening. Baru kemudian Alex menarik napas dalam, mencoba menyembunyikan sebalnya.Ia baru saja disenangkan dengan luar biasa oleh istrinya, sehingga ia tidak tega jika harus langsung meledak marah.Namun, ia tidak bisa menyembunyikan rasa herannya. Mengapa masalah ini harus berputar-putar lagi? Bukankah Citra sudah sepakat untuk melanjutkan gugat
Begitu Wirya pamit meninggalkan ruangannya, Citra kembali menarik napas dalam-dalam, mencoba fokus pada tumpukan berkas di hadapannya.Tak berselang lama, ponsel di atas meja kerjanya bergetar. Nama Alex berkedip di layar.“Halo, Sayang,” sapa Citra lembut.“Halo, Sayang. Kamu sudah bisa dijemput belum? Aku sudah selesai di kantor dan sekarang sudah di apartemen,” ujar Alex dari seberang telepon.Citra melirik tumpukan map di mejanya lalu mendesah pelan. “Aku masih ada sedikit kerjaan, nih. Setelah libur hampir seminggu kemarin, ada banyak hal yang harus aku pelajari lagi, terutama laporan keuangan bulanan.”“Ya sudah, kalau pekerjaanmu sudah selesai, kabari aku ya. Nanti langsung aku jemput,” sahut Alex penuh perhatian.Citra tidak menolak tawaran suaminya. “Baik, Sayang. Aku selesaikan pekerjaanku dulu. Oh ya, satu lagi, Sayang!”Alex mendengarkan, “Apa, Sayang?” “Kamu tidak usah masak apa-apa untuk makan malam nanti, ya. Aku tadi sudah memesan makanan dari temanku. Sebentar lagi
“Wah, lihat siapa ini. Nyonya Wong yang terhormat,” sindir Maggy dengan nada sarkasme ketika berpapasan dengan Citra di depan kantor perusahaan cabang itu.“Hai, Maggy!” Citra masih dengan baik menyapanya. “Hebat ya kamu sekarang. Benar-benar tidak tahu diri. Selama ini Kak Miko itu hanya kasihan padamu yang terus-menerus mengejarnya bagai pengemis. Lalu begitu dia berbaik hati menikahimu, sekarang kamu malah berlagak amnesia dan bertingkah seolah lupa dengan semua kebaikan kakakku dulu!”Mendengar Maggy memutarbalikkan fakta itu, dada Citra bergemuruh sebal. Ia tidak lagi ingin menjadi Citra yang lemah dan diam saja saat ditindas.“Lucu sekali kamu masih berani mengungkit hal ini, Maggy,” balas Citra dengan nada tenang namun menusuk. “Apa kamu dan keluargamu sudah amnesia? Apa kamu lupa bagaimana kalian semua memperlakukanku tidak lebih dari seorang pembantu gratisan di rumahmu dulu?”Wajah Maggy seketika berubah merah padam karena keluarganya dikuliti. Ia maju selangkah lalu menu
Hari sudah mulai pagi. Hampir sepanjang perjalanan mereka tak mengobrol. Alex fokus menyetir, sementara Citra sudah tampak begitu lelah.Ia terkantuk dan tidur bersandar di jok. Alex tak mengusiknya.Sesampainya di Bogor, udara dingin menyambut mereka. Hamparan kebun teh yang masih berkabut terbent
Perlahan kelopak matanya terbuka. Citra mengerjap, menatap langit-langit kamar yang asing.Ia belum sepenuhnya ingat apa yang telah terjadi, namun dadanya terasa sangat sesak, seolah ada beban berat yang menghimpitnya.Kedatangan Lily dengan mata sembab dan memerah membuat Citra bingung. "Ada apa, L
Tiga hari pascaoperasi, kondisi ayahnya sudah siuman dan kini tinggal masa pemulihan.Citra tampak senang sekali. Sepanjang hari ia tak pernah jauh dari ranjang sang ayah. Menemaninya dan sesekali menanyakan keadaannya. Apa yang dirasakannya, apa yang dibutuhkannya.Citra terus berharap kondisi aya
“Menikah?”Citra mengulang kata itu dengan nada sangsi, seolah berharap telinganya baru saja melakukan kesalahan fatal.Apa pria di hadapannya ini sudah gila? Menawarkan pernikahan kepada wanita yang baru saja hancur lebur karena sebuah pernikahan palsu?“Ya, menikah. Aku harus menikah, setidaknya m







