Perlahan kelopak matanya terbuka. Citra mengerjap, menatap langit-langit kamar yang asing.Ia belum sepenuhnya ingat apa yang telah terjadi, namun dadanya terasa sangat sesak, seolah ada beban berat yang menghimpitnya.Kedatangan Lily dengan mata sembab dan memerah membuat Citra bingung. "Ada apa, Ly?" tanya Citra lirih.Seketika, potongan ingatannya mulai terkumpul. Bayangan tangan ayahnya yang membeku dan tak lagi bergerak saat ia mengguncang tubuh renta itu menghantam kesadarannya.Citra langsung tersentak. Ia turun dari ranjang dengan tergesa, berniat lari keluar ruangan, namun Lily dengan sigap menahan dan memeluknya erat."Ayah!" jerit Citra."Sabar, Citra... sabar..." Lily mencoba menenangkan sahabatnya itu."Aku mau menemani Ayah, Ly. Aku mau Ayah..." Isak Citra pecah, suaranya terdengar parau dan menyayat hati."Om Fadil sudah pergi, Citra. Beliau sudah tidak sakit lagi. Ikhlaskan..." Lily ikut tersedu. Ia mengelus punggung Citra saat keduanya perlahan luruh dan bersimpuh di
Read more