Share

Bab 7

Author: Whitty
Dulu setiap kali Benny bilang perutnya sakit, tak peduli apa yang sedang Laras lakukan, dia pasti langsung mengesampingkan pekerjaannya dan pergi memasakkan sup penghangat perut untuk Benny.

Pernah suatu kali saat Laras bekerja, dia tanpa sengaja terjatuh hingga lengannya cedera dan digips. Namun, ketika perut Benny sakit, dia tetap turun ke dapur untuk memasakkan sup penghangat perut untuknya.

Sekarang perut Benny kembali sakit, tetapi dia justru membalikkan badan, hanya meninggalkan punggung yang dingin untuk Benny.

Dari lubuk hatinya yang terdalam muncul rasa sesak. Benny tiba-tiba merasa sedikit runtuh. "Laras, kenapa sikapmu terhadapku akhir-akhir ini jadi sedingin ini? Dulu kamu nggak seperti ini."

Laras tetap membelakangi Benny. "Dulu? Bukannya dulu kamu selalu merasa aku mengganggumu? Sekarang aku nggak ganggu, kamu masih nggak puas?"

Satu kalimat itu langsung membuat Benny terdiam tanpa kata-kata.

Dulu, Laras selalu melekat pada Benny. Ke mana pun Benny pergi, dia selalu ingin tahu. Apa pun yang Benny lakukan, dia selalu peduli. Benny pun merasa Laras mengganggu, merasa dia selalu cemburu tanpa alasan, bahkan memarahinya lebih dari sekali.

"Sebagai Nyonya Besar Keluarga Nugroho, bisa nggak kamu lebih berbesar hati? Bahkan kamu cemburu pada adikku sendiri? Nggak merasa malu?"

Sekarang Laras akhirnya seperti yang dia inginkan, tidak lagi melekat padanya, juga tidak lagi mencampuri hidupnya. Lantas, kenapa hatinya justru terasa seperti terkoyak?

"Laras, aku tahu kamu masih marah soal Jack." Benny menghela napas. "Percayalah, aku pasti akan menebusnya. Masa depan kita masih panjang, aku punya banyak waktu untuk membuatmu berubah pikiran."

Setelah berkata begitu, Benny membungkuk, lalu mencium kening Laras dengan lembut. Kemudian, dia berbalik dan pergi. Namun, yang tidak dia ketahui adalah begitu dia pergi, Laras menerima dua pesan.

Pesan pertama dari pengadilan negeri.

[ Bu Laras, surat cerai Anda dengan Pak Benny telah selesai diproses. Silakan datang ke pengadilan negeri dalam tiga hari kerja untuk mengambilnya. ]

Pesan kedua dari Biro Penerbangan.

[ Profesor Laras, Proyek Tangga Menuju Bulan akan resmi dimulai besok. Silakan kirimkan lokasi Anda, besok kami akan mengatur seseorang untuk menjemput Anda. ]

Laras menatap kedua pesan itu cukup lama, lalu tersenyum lega. Akhirnya, hari kepergiannya tiba.

Namun, sebelum pergi, masih ada satu hal yang harus dia lakukan. Laras turun dari tempat tidur, bertumpu pada tongkat, selangkah demi selangkah menuju ruang rawat Yanti dengan susah payah.

Sekarang sudah tengah malam dan ternyata Benny tidak berjaga di ruang rawat Yanti. Bagus juga, kalau dia ada justru akan mengganggu.

"Laras, kamu ke sini mau apa?" Yanti mengubah sikapnya yang biasanya terlihat lemah. Dia melirik Laras dengan penuh hina, lalu mengejek, "Mau cari kakakku? Kamu benar-benar kasihan ya. Sudah terluka separah ini pun kakakku nggak peduli, sementara aku hanya luka ringan, kakakku berjaga semalaman sampai nggak rela pergi sedetik pun."

"Kalau bukan karena perutku sakit dan aku minta makan masakannya, sekarang dia masih akan menjagaku. Kamu sudah nikah dengan kakakku bertahun-tahun, pernah nggak dia masak sesuatu untukmu?"

Laras tidak menjawab. Dia sudah tidak peduli lagi soal hal-hal seperti cemburu dan perebutan seperti ini. Yang dia pedulikan sekarang hanya satu.

"Yanti, aku ingin tahu kebenarannya. Hari itu saat kamu bawa Jack ke pantai untuk berselancar, Jack sebenarnya jatuh dari papan selancar secara nggak sengaja atau kamu yang mendorongnya?"

Mendengar itu, Yanti tiba-tiba tertawa keras. "Laras, kamu benar-benar ingin tahu kebenarannya? Aku peringatkan dulu, kamu mungkin nggak sanggup menerimanya."

"Aku sanggup." Laras menggertakkan gigi.

Senyuman Yanti menjadi semakin lebar. "Hahaha, kamu yakin? Kalau begitu, aku kasih tahu kamu, hari itu sebenarnya kakakku juga ada di sana."

"Ombak datang menghantam, aku dan Jack sama-sama jatuh ke laut. Kakakku tanpa ragu langsung berlari ke arahku, sementara anakmu yang malang justru terseret ombak ...."

Laras merasa setiap pembuluh darah di tubuhnya seakan-akan meledak pada saat itu juga. Rumah sakit yang suram ini seketika berubah menjadi tempat penyembelihan miliknya sendiri.

Di hari kecelakaan anaknya, Benny ternyata juga ada di sana!

"Hahaha, kamu tahu apa yang paling lucu?" Yanti masih tertawa lepas. "Yang paling lucu adalah kakakku tahu aku bisa berenang, tapi dia tetap memilih berlari ke arahku lebih dulu. Di hati kakakku, kamu dan anakmu sama sekali nggak sepenting aku."

Air mata mengaburkan pandangan. Laras bersumpah, ini pasti terakhir kalinya dia menangis karena Benny.

Dia mengusap air matanya, lalu bertumpu pada tongkat, berjalan terpincang-pincang meninggalkan rumah sakit. Langkahnya sangat lambat, tetapi setiap langkahnya penuh tekad.

'Benny, kita nggak punya hari esok lagi, apalagi masa depan yang panjang. Yang kita miliki hanya dendam kesumat!'

Laras naik taksi menuju pengadilan negeri. Dia menunggu di depan kantor itu semalaman, lalu saat fajar tiba, akhirnya dia mendapatkan akta cerainya dengan Benny.

Dia menyimpan akta miliknya, lalu meminta petugas untuk mengirimkan bagian milik Benny ke rumah Keluarga Nugroho.

Setelah semuanya selesai, di depan pengadilan negeri, dia menunggu kendaraan jip militer yang dikirim oleh Biro Penerbangan untuk menjemputnya.

Tanpa ragu sedikit pun, dia naik ke mobil, lalu mengeluarkan ponselnya dan mengunggah rekaman percakapannya dengan Yanti semalam ke internet.

Benar, semalam saat Laras datang untuk berhadapan dengan Yanti, dia diam-diam menyalakan perekam di ponselnya.

Kematian Jack dianggap kecelakaan, jadi hukum tidak bisa menghukum Yanti dan Benny. Kalau begitu, biarlah internet dan moral yang menghukum mereka!

Ini adalah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan untuk anaknya sebelum pergi. Setelah melakukan semua itu, Laras membuang ponselnya. Jip itu membawanya melaju menuju lautan bintang. Dia merasa dirinya akhirnya bebas ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kematian Putranya, Akhir Pernikahannya   Bab 21

    Sebelumnya saat Laras meninggalkan rumah sakit dengan mobil jip militer, dia mengunggah percakapannya dengan Yanti di rumah sakit ke internet.Awalnya, rekaman itu tidak mendapat banyak perhatian. Bagaimanapun, akun media sosial Laras tidak memiliki banyak pengikut dan dia juga tidak mengeluarkan uang untuk mempromosikannya.Namun, Linda mengikuti akun media sosial Laras. Perlu diketahui, Linda sangat membenci Yanti. Dia bahkan ingin mencekik Yanti sampai mati dengan tangannya sendiri.Setelah menemukan kelemahan Yanti, dia tentu tidak akan melewatkannya begitu saja. Maka dari itu, Linda menghabiskan sejumlah besar uang untuk menyebarkan rekaman itu ke seluruh internet.Rekaman itu langsung meledak. Dalam semalam, jumlah penayangan melonjak hingga puluhan juta.Jika saat itu Benny mengetahuinya, dia masih bisa menenangkan opini publik dengan mengeluarkan uang. Namun, kebetulan saat itu dia sibuk mencari Laras dan sama sekali tidak memperhatikan berita di internet.Akibatnya, rekaman it

  • Kematian Putranya, Akhir Pernikahannya   Bab 20

    Semua yang perlu dikatakan sudah dikatakan. Laras juga malas terus berdebat dengan Benny, jadi dia langsung mengusirnya."Benny, selama lima tahun pernikahan, aku merasa sudah menjalankan semua kewajiban sebagai istri. Aku nggak berutang apa pun padamu. Jadi, sekarang silakan pergi. Seumur hidup ini, aku nggak ingin melihatmu lagi."Benny tahu dirinya sekarang sudah tidak memiliki kualifikasi untuk meminta maaf pada Laras lagi.Namun, dia tidak ingin menyerah begitu saja. Sepanjang hidupnya, dia hanya pernah mencintai dua orang. Satu adalah si bodoh yang hanya ada dalam imajinasinya dan satu lagi adalah Laras.Si bodoh dalam imajinasinya itu tidak pernah benar-benar ada, tetapi Laras benar-benar ada. Bagaimana mungkin dia rela melepaskannya?"Laras, aku tahu melakukan ini mungkin akan membuatmu membenciku, tapi aku sudah terpojok. Jadi kalau kamu ingin membenciku, bencilah." Benny berkata sambil menggertakkan gigi. "Selama aku bisa mempertahankanmu di sisiku, aku rela kamu membenciku."

  • Kematian Putranya, Akhir Pernikahannya   Bab 19

    Pada saat itu, Benny merasa jantungnya seperti terkoyak, sakitnya seolah-olah diremas hidup-hidup.Apa yang dikatakan Laras memang benar. Di lubuk hatinya yang paling dalam, dia sebenarnya tidak terlalu memandang tinggi Yanti.Dia adalah kebanggaan semua orang, dengan kecerdasan tinggi dan kemampuan luar biasa. Sejak usia 3 tahun, dia sudah mulai belajar tujuh bahasa. Usia 10 tahun, sudah mulai belajar menangani bisnis kecil milik Keluarga Nugroho.Titik awalnya memang jauh lebih tinggi daripada orang biasa. Buku apa pun yang dia baca, dia bisa langsung mengingatnya. Apa pun yang dia pelajari, dia bisa menguasainya dengan mudah.Sebaliknya, Yanti seperti orang yang sangat bodoh, tidak bisa mempelajari apa pun.Saat masih kecil, Benny sebenarnya sangat meremehkan adik ini. Waktu itu Yanti masih bermarga Nugroho. Dia benar-benar bodoh. Bahkan sampai usia 3 tahun, dia baru bisa menghitung dari satu sampai sepuluh, puisi klasik pun tidak bisa dihafal, bahasa asing juga tidak bisa dia ucapk

  • Kematian Putranya, Akhir Pernikahannya   Bab 18

    Begitu video itu diputar, orang-orang seketika gempar."Benny ternyata benar-benar selingkuh? Tadi melihatnya begitu tulus, aku kira semua yang dia katakan itu benar.""Aku juga. Aku selalu mengira Profesor Laras yang salah paham. Nggak disangka, pengakuan penuh perasaan tadi semuanya cuma akting. Dia benar-benar pria bajingan yang selingkuh!""Aku jadi bingung. Bukankah Yanti itu adik Benny? Gimana dia bisa berhubungan dengan adiknya sendiri? Terlalu menjijikkan!""Makanya, jangan pernah percaya seorang pria akan memperlakukan wanita yang nggak punya hubungan darah sebagai adik kandung. Yang disebut adik itu cuma kedok untuk menutupi perselingkuhan!"Orang-orang yang tadi bersorak meminta Laras memaafkan Benny, kini langsung berbalik dan mulai mengkritik Benny.Sementara itu, saat melihat video tersebut, ekspresi Benny langsung berubah drastis."Dari mana kamu dapat video ini?" Benny bertanya dengan marah, "Laras, kamu menyuruh orang menguntit dan merekamku diam-diam?"Mendengar itu,

  • Kematian Putranya, Akhir Pernikahannya   Bab 17

    Kotak beludru merah berbentuk hati itu terjatuh dan kerumunan yang tadi bersorak seketika menjadi sunyi.Sementara Benny yang berlutut dengan satu kaki di lantai, langsung tertegun. Apa yang baru saja dikatakan Laras? Dia benar-benar mengatakan bahwa dia lebih memilih mati daripada menikah dengannya lagi?"Laras, bersikap kekanak-kanakan juga harus ada batasnya." Wajah Benny langsung menjadi suram. "Memang dulu aku salah, tapi aku sudah minta maaf, bahkan menginvestasikan ratusan triliun ke proyek kalian hanya untuk bisa bertemu denganmu!""Setelah bertemu denganmu, aku minta maaf, membujukmu, bahkan berlutut dengan satu kaki untuk melamarmu lagi .... Semua yang bisa kulakukan sudah kulakukan, aku sudah merendahkan diriku sampai titik terendah, kamu masih ingin aku gimana lagi?"Benny adalah anak kebanggaan semua orang. Sejak kecil sampai besar, dia selalu diperlakukan seperti raja. Semua orang di sekitarnya selalu mengelilinginya, tidak ada yang berani melawannya. Selama hidupnya, dia

  • Kematian Putranya, Akhir Pernikahannya   Bab 16

    Kata-kata Laras bagaikan pisau tajam, menusuk dalam-dalam ke jantung Benny. Dia merasa sakit hingga hampir tidak bisa bernapas. Dia ingin membantah, tetapi semua yang dikatakan Laras adalah fakta.Sejak masa pacaran hingga menikah, selalu Laras yang diam-diam mencintainya dan melindunginya. Bagaimana dengan dia? Dia tidak melindungi anaknya, juga tidak melindungi Laras.Selama ini, orang yang dia lindungi mati-matian hanyalah Yanti, si wanita penuh kebohongan itu!"Laras, aku tahu dulu aku melakukan banyak kesalahan." Benny berkata penuh rasa bersalah, "Tapi aku bersumpah padamu, hubunganku dengan Yanti benar-benar hanya seperti saudara. Aku nggak pernah menyentuhnya, juga nggak pernah melakukan hal yang melewati batas dengannya.""Aku hanya tertipu oleh Yanti. Dari kecil sampai besar, aku selalu melindunginya. Aku adalah kakaknya, melindunginya sudah menjadi kebiasaanku. Bahkan setelah dia bukan lagi adikku, dalam waktu singkat aku juga nggak bisa mengubah kebiasaan itu. Karena itu ak

  • Kematian Putranya, Akhir Pernikahannya   Bab 6

    Kata-kata Linda seperti tamparan keras yang menghantam wajah Benny berkali-kali. Dia pun murka. "Diam! Hubunganku dengan Laras nggak perlu penilaianmu."Setelah mengatakan itu, Benny mengangkat Yanti yang tergeletak di lantai dengan kepala penuh darah karena dipukul Linda dan pergi tanpa menoleh lag

  • Kematian Putranya, Akhir Pernikahannya   Bab 5

    Padahal hari ini adalah hari yang paling menyakitkan dalam hidup Laras. Putranya sudah meninggal, tidak ada yang merasa lebih terluka daripada dia yang sebagai ibu. Dengan satu kaki yang pincang, dia memaksakan dirinya datang dan mengantar putranya untuk yang terakhir kalinya. Namun, orang-orang Kel

  • Kematian Putranya, Akhir Pernikahannya   Bab 4

    Laras membuka matanya, lalu menatap Benny dengan datar. "Resep itu ada racunnya atau nggak, kamu akan langsung tahu setelah dokter memeriksanya. Atau kamu sebenarnya nggak peduli dengan kebenarannya, kamu hanya mau melampiaskan amarahmu padaku? Kalau begitu, kamu nggak perlu berputar-putar. Langsung

  • Kematian Putranya, Akhir Pernikahannya   Bab 3

    Karena menerima telepon sambil berbaring, Laras diam-diam menutup telepon saat mendengar ada suara dari arah pintu. Setelah itu, dia memejamkan mata dan berpura-pura sudah tertidur.Benny melangkah masuk ke ruangan itu dengan aura penuh amarah. Namun, saat mendekat, dia baru menyadari Laras sedang m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status