Share

Chapter. 05

Author: Villain25
last update Huling Na-update: 2025-12-28 10:55:29

Semua orang terkejut saat terdengar suara dobrakan keras dari arah pintu.

Di pintu masuk yang baru saja dirusak, tujuh orang pemuda berpakaian serba hitam melangkah masuk dengan langkah mantap, bak para prajurit yang siap bertempur.

Semua orang yang ada di ruangan tersebut menjadi terkejut dengan kehadiran kelompok yang memiliki tanda pengenal khusus berupa logo grup yang sengaja ditempelkan pada pakaian masing-masing, dan simbol itu benar-benar milik kelompok bandit metropolitan yang menamakan dirinya sebagai Geng JAY'X.

Biang chaos datang!

Kelompok ini terkenal suka berbuat onar di tempat umum dan tergolong cukup meresahkan masyarakat. Namun, siapa yang sanggup menghentikan mereka?

Jangankan hanya satuan keamanan kecil, aparat penegak hukum saja sering mereka jadikan permainan.

Geng JAY'X memiliki penampilan menakutkan. Mereka mengenakan jaket kulit hitam berbahan sintetis, kacamata hitam, celana hitam yang robek-robek di sana-sini disertai beberapa tambalan stiker-stiker aneh dan rambut panjang acak-acakan, sangat tak sedap dipandang mata.

Sambil menerobos masuk, salah seorang di antara mereka bersiul dan menepuk-nepuk pelayan perempuan yang semua hendak menyambut tamu.

Dia adalah Kenzo, salah seorang anggota Geng JAY'X.

Dengan tingkah tengil, Kenzo berkata, "Hei, Cantik. Buruan sajiin wine atau atau minuman apa aja yang paling bagus di sini!" Suaranya tegas dan keras.

'Wine?' Wanita pelayan tertegun.

"Si--siap, Tuan!" Pelayan wanita mengangguk dengan wajah pucat sambil melihat sekilas ke arah para tamu tak diundang yang langsung menuju ke arah meja paling sudut.

"Jangan lupa sediain juga cewek-cewek cantik and seksi buat ngelayanin kita semua. Okay?" lanjut Kenzo sambil mencolek nakal pipi gadis pelayan tersebut.

Gadis pelayan berusaha menghindari colekan nakal Kenzo, lalu tertegun, tak tahu harus berkata apa.

"Tunggu apa lagi?" Kenzo mendorong bahu pelayan wanita itu dengan kasar sehingga tubuh pelayan itu terhuyung. "Buruan!"

Beberapa orang yang mendengar menggelengkan kepala. Jelas-jelas kelompok ini sengaja mencari perkara dengan meminta hal tidak disediakan di sana.

Toko ini hanyalah sebuah kafetaria tempat minum berbagai macam jenis kopi, bukan night club atau tempat pelacuran.

Tubuh gadis pelayan kafe gemetar. "Tapi, Tuan-tuan, kami tidak menyediakan hal-hal seperti itu. Tidak ada ada minuman keras atau wanita untuk menghibur pelanggan."

Mata Kenzo melotot. "Gue kagak mau tau. Tugas lu tinggal penuhin saja pesanan gue. Kalo kagak ...."

Kenzo menyentuh pipi gadis pelayan dengan sentuhan dingin. "Maka kita-kita gak akan segan-segan ancurin cafe ini sampe rata ama tanah cuman gara-gara satu kesalahan babu kecil kayak."

Meski nada bicara Kenzo lirih, tapi itu adalah ancaman.

Pemuda berambut ikal itu menyeringai sinis dan berlalu begitu saja dengan meninggalkan jejak ketakutan di hati gadis pelayan.

"Baik. Kami akan berusaha memenuhinya. Tuan-tuan silakan menunggu sebentar." Gadis itu membungkuk hormat dan bergegas melarikan diri secepatnya.

Kenzo menarik seringai tipis di sudut bibirnya, kemudian melangkah pergi mengikuti kawan-kawannya yang lain.

"Minggir!" bentak Zane, seorang pria berwajah tegas dengan badan kekarnya yang tampak sangat kuat.

Orang-orang penghuni meja langsung melarikan diri secepatnya, takut berhadapan dan bermasalah dengan Geng JAY'X.

Suasana cafe yang awalnya ramai seketika berubah menjadi hening. Para pelayan terlihat ketakutan. Beberapa orang pelanggan melirik tak suka ke arah rombongan yang terkenal sebagai bandit kota, sang pengacau.

Namun meski demikian, para pelayan tetap melayani para tamu dengan senyum kaku. Mereka tak ingin membuat masalah kecil dengan kelompok ini.

Di balik bar, seorang pria paruh baya bernama Ali tampak menyipitkan mata. Ia sudah bekerja cukup lama di kafe ini sebagai kepala pengurus dan lelaki itu belum mengenal tamu-tamu aneh tersebut. Dia memilih membiarkan mereka, ingin mengetahui apa yang akan mereka lakukan di sini

PRANG!

Semua orang terkejut, lantas menoleh ke arah sumber suara pecahan.

Rupanya, salah seorang dari komplotan bandit dengan sengaja menjatuhkan gelas-gelas di atas meja hingga serpihan kaca berhamburan di lantai kafe.

Orang ini bernama Nayaka, yang terkenal memiliki temperamen paling buruk, kejam dan liar.

"Hei, Babu Cilik! Cepet beresin meja ini! Kita-kita kagak mau ada bekas minum orang lain di sini!" teriak Nayaka, orang yang memiliki darah Jepang, dengan nada tinggi. Suaranya serak dan kasar, tapi seolah dibuat-buat garang. "Cepetan! Atau gue ancurin tempat ini sekarang?"

Tubuh para pengunjung kafe seperti membeku, tapi juga ingin lari secepat mungkin dari tempat itu. Mereka bahkan sampai menahan napas, tidak berani bergerak.

Seorang pelayan pria tampak gugup dan bersiap untuk mengambil gelas baru, sedangkan pelayan lain bergegas mengambil peralatan kebersihan.

Namun sebelum para pelayan kafe bertindak, seorang pemuda bertopi mencabut tongkat lipat dari balik jaketnya dan menghantam meja kaca di tengah ruangan dengan pukulan keras.

Suara pecahan memecah ketegangan. Semua orang terlonjak kaget. Ponsel milik kepala pengurus yang tengah bersiap mengubungi pihak keamanan pun terjatuh.

Gelak tawa pecah!

"Hahahaha!"

"Hahahaha!"

"Hahahaha!"

"Temen-temen, kita mulai aja pestanya!" teriak Zane sambil mengacungkan tinju ke atas, lalu menendang kursi di depannya hingga terbalik.

Kacau!

Dalam sekejap, suasana berubah menjadi medan perang. Para pelanggan berteriak dan berhamburan. Kursi dilempar, botol pecah, lampu gantung roboh.

Tiga dari tujuh pemuda berandalan itu mulai menghancurkan isi kafe, memukul dinding, menendang speaker. Salah satu bahkan memanjat meja DJ dan membalikkan peralatan musik.

Ali berlari dari balik bar, wajahnya merah padam bak persik matang. "Hei, berhenti kalian!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 33

    Seorang penjaga mencoba menghalau para perusuh dengan wajah yang sudah babak belur. "Sudah, hentikan! Kalian harus segera pergi dari sini!""Siapa yang berani mengusir kami?" balas salah satu perusuh sambil melemparkan botol bir ke arah penjaga. Botol itu melayang dan menghantam kepala penjaga dengan bunyi yang pecahan mengerikan. "Kami adalah raja di wilayah ini!"Keributan semakin menjadi-jadi. Meja dan kursi berserakan, makanan serta minuman berceceran di lantai. Beberapa pelayan wanita menangis ketakutan di pojok ruangan. Salah seorang pelayan secara diam-diam menyelinap pergi guna menelepon polisi dengan tangan gemetar.Pada saat yang sama, Romario Wijaya dan ibunya sampai ke lokasi dengan harapan tinggi, berharap para pelaku adalah kelompok yang menyerang Hero Cafe beberapa waktu lalu. Dengan begitu, mereka bisa menangkap musuh bebuyutan malam ini juga.Namun, mereka harus kecewa karena ternyata perusuh ini hanya sekelompok anak nakal yang tidak mau membayar setelah makan."Sepe

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 32

    Sebelum pergi, Romario Wijaya menelepon satuan bodyguard lain untuk segera bergerak mengikutinya ke Hero Restaurant. Suaranya keras dan tegas, menunjukkan otoritas yang tidak bisa dibantah.Dalam hati ia bertekad untuk menangkap musuh bebuyutannya, Jaya Wijaya dan kelompoknya yang telah mengganggu semua rencananya. Nama itu bergema di benaknya seperti mantra kutukan yang tidak bisa dilupakan.Diana mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat, matanya menatap lurus ke depan namun dalam bayangannya hanya ada dua wajah yang sangat ia benci. 'Danny Wijaya, Jaya Wijaya, sebentar lagi tidak akan ada lagi nama kalian di atas bumi ini!' Saat berada di dalam mobil mewahnya, Romario Wijaya berkata kepada ibunya dengan nada khawatir, "Sebenarnya aku merasa was-was, Ma. Takut kalau-kalau orang ini benar-benar Jaya si berengsek itu. Kalau orang itu sampai kembali ke dalam Keluarga Wijaya, maka posisi pewaris tunggalku akan terancam."Diana Legiani menyeringai, meski ada kekhawatiran yang tersembunyi

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 31

    Dua tamparan lagi mengenai wajah Rani yang sudah membengkak. Gadis itu menangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetar ketakutan. Pipinya sekarang terasa panas membara, seolah ada api yang menari-nari di permukaan kulitnya."Kalian juga!" Diana menunjuk ke arah karyawan lain yang berdiri gemetar di sudut ruangan. Suasana mencekam menjalar ke seluruh ruangan seperti kabut tebal yang menelan cahaya. "Aku tahu kalian semua tahu sesuatu. Siapa yang mau bicara?"Dua bodyguard lainnya langsung menghampiri para karyawan. Tamparan demi tamparan mulai berterbangan, disertai jeritan kesakitan dan permohonan ampun yang memilukan. Suara tangisan dan isakan memenuhi ruangan, menciptakan simfoni penderitaan yang menyayat hati."Ampun, Nyonya! Kami benar-benar tidak tahu apa-apa!" teriak salah satu karyawan sambil memegang pipinya yang bengkak. Mata orang itu berkaca-kaca, tidak hanya dikarenakan sakit secara fisik, tapi juga karena tekanan mental. "Bohong!" Diana berteriak marah. "Kalian semua bohong!""T

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 30

    "Ma, entah mengapa aku merasa ini ada yang tidak beres dengan masalah ini, Ma." Romario Wijaya menatap wajah Diana.Romario Wijaya merasa geram dalam hati dan berniat melakukan penyelidikan untuk kasus ini. "Ma, aku sendiri yang akan mendatangi tempat itu dan meminta pertanggung jawaban pihak butik!"Tapi ini bukan masalah gaun, melainkan harga diri yang terasa terinjak-injak dan Romario Wijaya merasa seperti ada kejanggalan dalam masalah gaun hitam ini.Malam itu juga, mereka berangkat ke Kiara Boutique yang masih dalam tahap pemberesan akibat baru saja dihancurkan oleh Jay.Diana Legiani duduk di kursi belakang mobilnya yang mewah, wajahnya keras seperti batu. Di samping kirinya, Romario Wijaya menatap keluar jendela dengan ekspresi yang sama geramnya. Di depan mereka, dua mobil hitam lainnya berisi sepuluh orang bodyguard pilihan Diana yang berbadan kekar dan berwajah garang mengikuti dari belakang."Mama akan memastikan mereka membayar atas kelalaian ini," gumam Diana sambil merem

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 29

    Sementara itu, di sudut butik yang mulai tenang kembali, seorang wanita cantik berdiri di balik etalase kaca, menatap kosong ke arah jalan. Rani Simbolon, kepala pengelola Kiara Boutique, menggenggam secangkir teh melati yang kini mulai dingin. Aroma bunga samar-samar masih tercium, namun pikirannya tak di sana."Mengapa dia begitu ngotot membeli gaun milik Nyonya Diana?" gumam Rani, merasa tak habis pikir hingga alisnya berkerut. "Mungkinkah dia memiliki urusan yang tak biasa dengan nyonya besar itu?"Mata Rani Simbolon menyipit, mengingat kembali bagaimana Jay tiba-tiba begitu tertarik dan langsung menawar gaun itu dengan harga yang terlalu tinggi untuk sebuah pakaian.Pikiran Rani melayang ke pesta ulang tahun Heru Wijaya yang akan digelar akhir pekan ini. Ia juga mendapat undangan sebagai tamu yang diundang secara khusus oleh nyonya besar Keluarga Wijaya tersebut."Untuk urusan gaun itu," bisik Rani pada dirinya sendiri, membayangkan gaun hitam ekslusif yang kini tak lagi di buti

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 28

    Kenzo terlihat bingung, sedangkan Zane tertawa puas atas hasil kejahilannya."Sudah, jangan terus berdebat kalian!" Jay mulai merasa kesal. "Kita cabut sekarang!"'Awas lu, Zane!' Kenzo melirik tajam ke arah Zane, bersiap untuk melakukan peritungan.'Rasain lu!' Zane merasa menang kali ini.Tanpa membantah lebih jauh, Zane memberi isyarat pada anggota rombongan lainnya untuk kembali ke motor. Suara mesin kendaraan kembali meraung di udara, tapi kali ini untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.Di dalam mobil, Nina duduk di kursi penumpang, berdampingan dengan Jay. Sambil membetulkan posisi duduknya, ia melirik kantong belanja berwarna hitam elegan yang kebetulan berada di bagian teratas."Boss," panggil Nina sambil menatap Jay dari sudut mata. "Sebenarnya gaun hitam itu, Boss beli untuk siapa?" Jay menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok dengan sikap santai. "Tidak untuk siapa-siapa.""Aku hanya ingin bersenang-senang dan mempermainkan seseorang dan sama sekali tidak tertarik pada gau

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status