LOGINDi koridor luar, sepuluh orang pengawal Keluarga Wijaya berbaris rapi. Mereka bergegas menuruni tangga darurat, melewati lobi rumah sakit dengan langkah cepat dan teratur.
Di pintu masuk, mereka berpapasan dengan rombongan lain. Empat orang membawa tandu, di atasnya tubuh pemuda penuh luka. Dipimpin oleh pria setengah baya bertopi cowboy yang berjalan dengan tenang, tidak terburu-buru, seperti memiliki semua waktu di dunia. Para pengawal Keluarga Wijaya tidak menoleh. Mereka punya misi. Orang lain tidak penting. Dua kelompok itu berpapasan, begitu dekat, tapi tidak pernah bertemu. Takdir memainkan ironi kejamnya, mereka mencari orang yang tepat berada dua meter dari mereka, tapi tidak ada yang tahu. Mata abu-abu Guru Jade melirik sekilas, mengikuti kepergian para pengawal itu. Ia bergumam dalam hati. 'Sepertinya mereka para pengawal dari sebuah keluarga kaya dan terhormat. Mungkinkah ada orang penting yang sedang dirawat di rumah sakit ini?' ***** Tiga minggu berlalu seperti kabut pagi terkena panas matahari. Jay duduk di atas ranjang pada sebuah rumah kuno, ia menatap kain perban tangan yang baru saja dibuka. Luka-luka di tubuhnya menutup dengan cepat, bahkan terlalu cepat untuk ukuran penyembuhan normal. Patah di tulang rusuknya sudah menyatu. Memar di wajahnya juga memudar sepenuhnya. Setiap hari, Guru Jade memberikan ramuan aneh, rasanya pahit seperti empedu tapi sungguh manjur luar biasa. Jay bahkan dengan tanpa ragu memohon agar Guru Jade bersedia mengangkatnya menjadi murid yang mewarisi semua ilmunya. "Meskipun mati ribuan kali, tapi aku tetap akan bangkit dari kematian hanya untuk membalas dendam terhadap kalian para perampas harta milik keluargaku!" gumam Jay, matanya berkilat dingin. ***** Lima tahun kemudian. Jay duduk di meja pojok ruangan Hero Cafe bersama dengan seorang pemuda berkacamata minus dengan ditemani secangkir espresso dingin di hadapannya. Ia mengenakan topeng kulit sintetis supaya tidak ada yang mengenali wajah asli Jaya Wijaya yang dulu. Ken yang merupakan seorang genius teknologi bertanya, "Boss, jadi ini tempatnya?" Jay mengangguk. "Cepat kamu lakukan tugasmu." "Siap, Boss." Ken mengangguk sambil berpura-pura bermain ponsel, padahal ia sedang melakukan hal yang tidak diketahui oleh orang lain selain Jay. Ken sedang berusaha mendeteksi sistem keamanan dan lain sebagainya, matanya sesekali memeriksa, mencoba mencari tahu letak kamera pemantau cafe tersebut. "Aku berencana menumpas para benalu ini dimulai dari cabangnya," kata Jay, pelan. "Aku ingin menguras semua yang mereka cintai. Uang, kekuasaan, keluarga. Satu per satu mereka akan kubuat binasa!" "Tapi tidak usah terlalu terburu-buru. Aku ingin orang itu merasakan sakitnya kehilangan hal-hal yang paling berharga baginya," ucap Jay. "Misi kita dimulai dari sini," lanjut Jay, suaranya dipelankan. "Kita akan menyatroni tempat ini nanti malam." Jay meneguk espresso-nya yang sudah dingin, rasa pahit mengalir di lidah. Ia tersenyum penuh misteri. "Menarik!" gumam Ken, senyumnya muncul saat apa yang dibutuhkan sudah didapatkan. Ia berencana menyusup diam-diam agar dapat mengendalikan sistem keamanan di tempat tersebut, sekaligus membuka jalan bagi Geng JAY'X untuk melancarkan aksi mereka. Rencana A, dimulai! ***** Tepat pukul sebelas malam, deru mesin kendaraan roda dua terdengar menghentak, disusul dengan datangnya sekelompok pengendara motor yang berhenti serentak di depan Hero Cafe. Kuda-kuda mesin besar mendesis pelan saat dimatikan, dan helm-helm dibuka, memperlihatkan wajah-wajah muda penuh gairah. Jaket kulit, sneakers, dan ekspresi antusias menjadi penanda bahwa malam baru saja dimulai. "Boss, beneran ini tempatnya?" tanya salah seorang dari para pengendara. "Gak salah kan, Boss?" "Ya. Emang ini tempatnya. Cuss dah, buruan masuk!" jawab seorang pria berbadan tinggi dan tegap dengan postur proporsional. Lelaki itu terlebih dahulu merapikan masker hitam yang menutup wajahnya untuk kemudian turun dari atas kuda besinya. Satu demi satu para pengendara motor itu turun dari kendaraannya masing-masing. Salah seorang dari mereka memandang ke arah bangunan cafe yang menurutnya tidak terlalu istimewa. "Boss, tempat kayak gini, apa bener ada banyak duitnya?" "Kita liat aja. Harusnya sih banyak." Orang yang dipanggil Boss menjawab dengan santai namun mantap. "Oh ya, elu-elu pada kudu inget sama tugas masing-masing. Paham?" "Paham dong, Boss." Pria muda dengan wajah ala kebarat-baratan menyahut dengan sangat antusias. Pemuda lain juga bersemangat. "Oke, Boss!" "Siap, Boss!" sahut yang lainnya. Sembari berjalan pergi, orang yang disebut boss berseru, "Cus, cabut semuanya!" "Let's go!" seru beberapa orang dengan mata berkilat licik. "Tumben jam segini masih rame aja nih tempat," gumam salah satu dari mereka sambil melangkah masuk, disambut aroma kopi robusta dan suara gitar akustik dari panggung kecil di sudut ruangan. "Mumpung lagi rame, makanya kita buat suasana makin rame," bisik sang kawan yang berjalan di belakang si boss. "Ini baru menyenangkan!" Sementara itu di dalam cafe, suasana hangat dan ramai. Anak-anak muda tertawa di meja pojok, beberapa sibuk mengabadikan momen dengan ponsel, sementara barista tetap cekatan meracik minuman di balik counter. Percakapan bercampur tawa riang, bercampur musik dan uap kopi yang melayang di udara, menciptakan atmosfer yang menggoda untuk tinggal lebih lama. Malam Minggu di Hero Cafe bukan hanya soal kopi, melainkan tentang pertemuan, tentang rasa yang dicicip perlahan sambil menatap lampu kota dari balik jendela kaca. Ini tentang menemukan sejenak kebahagiaan kecil di tengah gemerlap yang tak pernah benar-benar padam. Namun, suasana hangat itu tidak berlangsung lama setelah secara tiba-tiba terdengar suara pintu dibanting dari luar. BRAK!Sementara itu di tempat lain.Di dalam gudang tua di wilayah utara kota, markas sementara kelompok JAY’X tampak hidup. Komputer menyala dengan banyak jendela data terbuka. Kenzo sibuk mengetik cepat sambil mengunyah mie instan, sementara Nina, satu-satunya wanita di kelompok itu, sibuk membersihkan senjata yang disimpan dalam koper panjang.Pemuda bertubuh besar bernama Gara, tampak sibuk mengangkat peti berisi perlengkapan logistik ke rak besi di pojok ruangan.Jay duduk di sofa tua, menatap dinding penuh coretan strategi. Di tengah, foto seorang anak lelaki tergantung dan menjadi pusat perhatiannya. Orang dalam foto itu adalah Danny Wijaya, kakaknya.Jay meraih bungkus rokok, mengambil sebatang, lalu menyelipkan benda itu di kedua belah bibirnya yang seksi. Nina, asisten pribadi Jay, bergegas datang dengan pemantik api di tangan.Jay membiarkan sang asisten menyulut rokok di bibirnya. Pria itu menaruh kedua kakinya di atas meja dengan sikap santai."Bagaimana, Ken, sudah kamu dapatk
Diana menarik napas dalam-dalam.Setelah amarahnya sedikit mereda, ia berkata, "Ceritakan semuanya apa yang terjadi dan sekalian rekaman CCTV, kirim sekarang juga!""Baik, Nyonya. Anda tunggulah sebentar. Saya akan segera melakukan pengecekan." Ali kemudian memutuskan sambungan telponnya.Tak lama kemudian, satu berkas video dikirim ke email pribadinya. Diana langsung memutarnya.Namun, begitu video terbuka .…Mata Diana melebar, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.Terdengar suara lagu ulang tahun. Kamera menunjukkan ruangan dengan balon warna-warni, kue besar, dan seorang badut berjoget di tengah. Para tamu tertawa, menari, bersulang.Semua orang terlihat gembira dengan pesta ala bocah taman kanak-kanak yang terlihat dalam video.Emosi Diana meledak, merasa dipermainkan oleh Ali. File yang diinginkan bukan ini.Diana meraih ponsel di atas meja, kembali menghubungi Ali dengan amarah meluap."Ali, video apa yang kamu kirim baru saja?" bentak Diana dengan wajah merah padam."
Ali memerintahkan beberapa pegawai kafe untuk segera mengambil semua uang pendapatan yang diminta oleh Jay. 'Tak mengapa. Toh akhirnya nanti akan diambil kembali oleh nyonya,' pikirnya.Jay berkata ke pada kawan-kawannya. "Kalian tunggu dan berjaga di luar. Ingat! Jangan biarkan siapa pun menerobos masuk dan mengganggu rencanaku.""Lalu bagaimana dengan orang-orang ini, Bos?" tanya Nayaka sambil menunjuk ke arah para pegawai kafe yang telah dibekuk.Jay menunjuk ke sebuah ruangan. "Masukkan mereka semua ke ruangan itu dan kunci dari luar.""Siap, Bos!" sahut para anak buah Jay.Dengan sigap, keenam anak buah Jay segera meringkus semua pegawai kafe dan menahan mereka dalam satu ruangan.Tak lama kemudian, bertumpuk-tumpuk uang kertas sudah berjejer rapi di hadapan Jay yang sekarang mendominasi keadaan. Jika dihitung, jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah!Mata Jay berkilat, memandangi lembaran-lembaran rupiah yang teratur rapi dengan seringai di bibirnya."Lihatlah ini!" Jay menyentu
Ali datang dengan wajah beringas. "Kalian semua, jangan membuat keonaran di sini! Jika tidak, kami akan bertindak sesuai hukum yang berlaku!"Teriakan orang yang bernama Ali ini tidak digubris oleh orang-orang yang sepertinya datang hanya untuk membuat kerusuhan."Hukum?" Zane, si pembuat kerusuhan, membanting mangkuk besar sebelum berjalan maju menghampiri Ali. "Hukum apa? Dia pikir kami takut dengan ancaman itu. Dasar budak kecil!"Mendengar gumaman Zane, emosi Ali kian memuncak. Ia langsung memanggil satuan pengaman melalui ponselnya. "Cepat ke mari! Ada sekelompok tikus sedang membuat kekacauan di sini!""Baik, Pak!" sahut suara dari seberang telepon.Sambil menyimpan ponsel, Ali berucap penuh emosi. "Humph! Tunggu sebentar lagi, kalian semua akan kami tangkap!"Kerusuhan terus berlangsung hingga sekelompok orang berseragam satuan pengaman datang. Mereka langsung terlibat baku hantam dengan Geng JAY'X yang hanya berjumlah tujuh orang.Tujuh melawan selusin orang mungkin bukan lawa
Semua orang terkejut saat terdengar suara dobrakan keras dari arah pintu.Di pintu masuk yang baru saja dirusak, tujuh orang pemuda berpakaian serba hitam melangkah masuk dengan langkah mantap, bak para prajurit yang siap bertempur.Semua orang yang ada di ruangan tersebut menjadi terkejut dengan kehadiran kelompok yang memiliki tanda pengenal khusus berupa logo grup yang sengaja ditempelkan pada pakaian masing-masing, dan simbol itu benar-benar milik kelompok bandit metropolitan yang menamakan dirinya sebagai Geng JAY'X.Biang chaos datang!Kelompok ini terkenal suka berbuat onar di tempat umum dan tergolong cukup meresahkan masyarakat. Namun, siapa yang sanggup menghentikan mereka?Jangankan hanya satuan keamanan kecil, aparat penegak hukum saja sering mereka jadikan permainan.Geng JAY'X memiliki penampilan menakutkan. Mereka mengenakan jaket kulit hitam berbahan sintetis, kacamata hitam, celana hitam yang robek-robek di sana-sini disertai beberapa tambalan stiker-stiker aneh dan r
Di koridor luar, sepuluh orang pengawal Keluarga Wijaya berbaris rapi. Mereka bergegas menuruni tangga darurat, melewati lobi rumah sakit dengan langkah cepat dan teratur. Di pintu masuk, mereka berpapasan dengan rombongan lain. Empat orang membawa tandu, di atasnya tubuh pemuda penuh luka. Dipimpin oleh pria setengah baya bertopi cowboy yang berjalan dengan tenang, tidak terburu-buru, seperti memiliki semua waktu di dunia. Para pengawal Keluarga Wijaya tidak menoleh. Mereka punya misi. Orang lain tidak penting. Dua kelompok itu berpapasan, begitu dekat, tapi tidak pernah bertemu. Takdir memainkan ironi kejamnya, mereka mencari orang yang tepat berada dua meter dari mereka, tapi tidak ada yang tahu. Mata abu-abu Guru Jade melirik sekilas, mengikuti kepergian para pengawal itu. Ia bergumam dalam hati. 'Sepertinya mereka para pengawal dari sebuah keluarga kaya dan terhormat. Mungkinkah ada orang penting yang sedang dirawat di rumah sakit ini?' ***** Tiga minggu berlalu sep







