Share

Chapter. 04

Author: Villain25
last update Last Updated: 2025-12-28 10:54:35

Di koridor luar, sepuluh orang pengawal Keluarga Wijaya berbaris rapi. Mereka bergegas menuruni tangga darurat, melewati lobi rumah sakit dengan langkah cepat dan teratur.

Di pintu masuk, mereka berpapasan dengan rombongan lain.

Empat orang membawa tandu, di atasnya tubuh pemuda penuh luka. Dipimpin oleh pria setengah baya bertopi cowboy yang berjalan dengan tenang, tidak terburu-buru, seperti memiliki semua waktu di dunia.

Para pengawal Keluarga Wijaya tidak menoleh. Mereka punya misi. Orang lain tidak penting.

Dua kelompok itu berpapasan, begitu dekat, tapi tidak pernah bertemu. Takdir memainkan ironi kejamnya, mereka mencari orang yang tepat berada dua meter dari mereka, tapi tidak ada yang tahu.

Mata abu-abu Guru Jade melirik sekilas, mengikuti kepergian para pengawal itu. Ia bergumam dalam hati. 'Sepertinya mereka para pengawal dari sebuah keluarga kaya dan terhormat. Mungkinkah ada orang penting yang sedang dirawat di rumah sakit ini?'

*****

Tiga minggu berlalu seperti kabut pagi terkena panas matahari.

Jay duduk di atas ranjang pada sebuah rumah kuno, ia menatap kain perban tangan yang baru saja dibuka. Luka-luka di tubuhnya menutup dengan cepat, bahkan terlalu cepat untuk ukuran penyembuhan normal. Patah di tulang rusuknya sudah menyatu. Memar di wajahnya juga memudar sepenuhnya.

Setiap hari, Guru Jade memberikan ramuan aneh, rasanya pahit seperti empedu tapi sungguh manjur luar biasa.

Jay bahkan dengan tanpa ragu memohon agar Guru Jade bersedia mengangkatnya menjadi murid yang mewarisi semua ilmunya.

"Meskipun mati ribuan kali, tapi aku tetap akan bangkit dari kematian hanya untuk membalas dendam terhadap kalian para perampas harta milik keluargaku!" gumam Jay, matanya berkilat dingin.

*****

Lima tahun kemudian.

Jay duduk di meja pojok ruangan Hero Cafe bersama dengan seorang pemuda berkacamata minus dengan ditemani secangkir espresso dingin di hadapannya. Ia mengenakan topeng kulit sintetis supaya tidak ada yang mengenali wajah asli Jaya Wijaya yang dulu.

Ken yang merupakan seorang genius teknologi bertanya, "Boss, jadi ini tempatnya?"

Jay mengangguk. "Cepat kamu lakukan tugasmu."

"Siap, Boss." Ken mengangguk sambil berpura-pura bermain ponsel, padahal ia sedang melakukan hal yang tidak diketahui oleh orang lain selain Jay.

Ken sedang berusaha mendeteksi sistem keamanan dan lain sebagainya, matanya sesekali memeriksa, mencoba mencari tahu letak kamera pemantau cafe tersebut.

"Aku berencana menumpas para benalu ini dimulai dari cabangnya," kata Jay, pelan. "Aku ingin menguras semua yang mereka cintai. Uang, kekuasaan, keluarga. Satu per satu mereka akan kubuat binasa!"

"Tapi tidak usah terlalu terburu-buru. Aku ingin orang itu merasakan sakitnya kehilangan hal-hal yang paling berharga baginya," ucap Jay.

"Misi kita dimulai dari sini," lanjut Jay, suaranya dipelankan. "Kita akan menyatroni tempat ini nanti malam."

Jay meneguk espresso-nya yang sudah dingin, rasa pahit mengalir di lidah. Ia tersenyum penuh misteri.

"Menarik!" gumam Ken, senyumnya muncul saat apa yang dibutuhkan sudah didapatkan. Ia berencana menyusup diam-diam agar dapat mengendalikan sistem keamanan di tempat tersebut, sekaligus membuka jalan bagi Geng JAY'X untuk melancarkan aksi mereka.

Rencana A, dimulai!

*****

Tepat pukul sebelas malam, deru mesin kendaraan roda dua terdengar menghentak, disusul dengan datangnya sekelompok pengendara motor yang berhenti serentak di depan Hero Cafe.

Kuda-kuda mesin besar mendesis pelan saat dimatikan, dan helm-helm dibuka, memperlihatkan wajah-wajah muda penuh gairah. Jaket kulit, sneakers, dan ekspresi antusias menjadi penanda bahwa malam baru saja dimulai.

"Boss, beneran ini tempatnya?" tanya salah seorang dari para pengendara. "Gak salah kan, Boss?"

"Ya. Emang ini tempatnya. Cuss dah, buruan masuk!" jawab seorang pria berbadan tinggi dan tegap dengan postur proporsional. Lelaki itu terlebih dahulu merapikan masker hitam yang menutup wajahnya untuk kemudian turun dari atas kuda besinya.

Satu demi satu para pengendara motor itu turun dari kendaraannya masing-masing.

Salah seorang dari mereka memandang ke arah bangunan cafe yang menurutnya tidak terlalu istimewa. "Boss, tempat kayak gini, apa bener ada banyak duitnya?"

"Kita liat aja. Harusnya sih banyak." Orang yang dipanggil Boss menjawab dengan santai namun mantap. "Oh ya, elu-elu pada kudu inget sama tugas masing-masing. Paham?"

"Paham dong, Boss." Pria muda dengan wajah ala kebarat-baratan menyahut dengan sangat antusias.

Pemuda lain juga bersemangat. "Oke, Boss!"

"Siap, Boss!" sahut yang lainnya.

Sembari berjalan pergi, orang yang disebut boss berseru, "Cus, cabut semuanya!"

"Let's go!" seru beberapa orang dengan mata berkilat licik.

"Tumben jam segini masih rame aja nih tempat," gumam salah satu dari mereka sambil melangkah masuk, disambut aroma kopi robusta dan suara gitar akustik dari panggung kecil di sudut ruangan.

"Mumpung lagi rame, makanya kita buat suasana makin rame," bisik sang kawan yang berjalan di belakang si boss.

"Ini baru menyenangkan!"

Sementara itu di dalam cafe, suasana hangat dan ramai. Anak-anak muda tertawa di meja pojok, beberapa sibuk mengabadikan momen dengan ponsel, sementara barista tetap cekatan meracik minuman di balik counter. Percakapan bercampur tawa riang, bercampur musik dan uap kopi yang melayang di udara, menciptakan atmosfer yang menggoda untuk tinggal lebih lama.

Malam Minggu di Hero Cafe bukan hanya soal kopi, melainkan tentang pertemuan, tentang rasa yang dicicip perlahan sambil menatap lampu kota dari balik jendela kaca. Ini tentang menemukan sejenak kebahagiaan kecil di tengah gemerlap yang tak pernah benar-benar padam.

Namun, suasana hangat itu tidak berlangsung lama setelah secara tiba-tiba terdengar suara pintu dibanting dari luar.

BRAK!

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Black Velvet
mulai rame nihhh hhh
goodnovel comment avatar
Black Velvet
pengawal bodoh yang dicari" sudah didspan mata woiii
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 33

    Seorang penjaga mencoba menghalau para perusuh dengan wajah yang sudah babak belur. "Sudah, hentikan! Kalian harus segera pergi dari sini!""Siapa yang berani mengusir kami?" balas salah satu perusuh sambil melemparkan botol bir ke arah penjaga. Botol itu melayang dan menghantam kepala penjaga dengan bunyi yang pecahan mengerikan. "Kami adalah raja di wilayah ini!"Keributan semakin menjadi-jadi. Meja dan kursi berserakan, makanan serta minuman berceceran di lantai. Beberapa pelayan wanita menangis ketakutan di pojok ruangan. Salah seorang pelayan secara diam-diam menyelinap pergi guna menelepon polisi dengan tangan gemetar.Pada saat yang sama, Romario Wijaya dan ibunya sampai ke lokasi dengan harapan tinggi, berharap para pelaku adalah kelompok yang menyerang Hero Cafe beberapa waktu lalu. Dengan begitu, mereka bisa menangkap musuh bebuyutan malam ini juga.Namun, mereka harus kecewa karena ternyata perusuh ini hanya sekelompok anak nakal yang tidak mau membayar setelah makan."Sepe

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 32

    Sebelum pergi, Romario Wijaya menelepon satuan bodyguard lain untuk segera bergerak mengikutinya ke Hero Restaurant. Suaranya keras dan tegas, menunjukkan otoritas yang tidak bisa dibantah.Dalam hati ia bertekad untuk menangkap musuh bebuyutannya, Jaya Wijaya dan kelompoknya yang telah mengganggu semua rencananya. Nama itu bergema di benaknya seperti mantra kutukan yang tidak bisa dilupakan.Diana mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat, matanya menatap lurus ke depan namun dalam bayangannya hanya ada dua wajah yang sangat ia benci. 'Danny Wijaya, Jaya Wijaya, sebentar lagi tidak akan ada lagi nama kalian di atas bumi ini!' Saat berada di dalam mobil mewahnya, Romario Wijaya berkata kepada ibunya dengan nada khawatir, "Sebenarnya aku merasa was-was, Ma. Takut kalau-kalau orang ini benar-benar Jaya si berengsek itu. Kalau orang itu sampai kembali ke dalam Keluarga Wijaya, maka posisi pewaris tunggalku akan terancam."Diana Legiani menyeringai, meski ada kekhawatiran yang tersembunyi

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 31

    Dua tamparan lagi mengenai wajah Rani yang sudah membengkak. Gadis itu menangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetar ketakutan. Pipinya sekarang terasa panas membara, seolah ada api yang menari-nari di permukaan kulitnya."Kalian juga!" Diana menunjuk ke arah karyawan lain yang berdiri gemetar di sudut ruangan. Suasana mencekam menjalar ke seluruh ruangan seperti kabut tebal yang menelan cahaya. "Aku tahu kalian semua tahu sesuatu. Siapa yang mau bicara?"Dua bodyguard lainnya langsung menghampiri para karyawan. Tamparan demi tamparan mulai berterbangan, disertai jeritan kesakitan dan permohonan ampun yang memilukan. Suara tangisan dan isakan memenuhi ruangan, menciptakan simfoni penderitaan yang menyayat hati."Ampun, Nyonya! Kami benar-benar tidak tahu apa-apa!" teriak salah satu karyawan sambil memegang pipinya yang bengkak. Mata orang itu berkaca-kaca, tidak hanya dikarenakan sakit secara fisik, tapi juga karena tekanan mental. "Bohong!" Diana berteriak marah. "Kalian semua bohong!""T

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 30

    "Ma, entah mengapa aku merasa ini ada yang tidak beres dengan masalah ini, Ma." Romario Wijaya menatap wajah Diana.Romario Wijaya merasa geram dalam hati dan berniat melakukan penyelidikan untuk kasus ini. "Ma, aku sendiri yang akan mendatangi tempat itu dan meminta pertanggung jawaban pihak butik!"Tapi ini bukan masalah gaun, melainkan harga diri yang terasa terinjak-injak dan Romario Wijaya merasa seperti ada kejanggalan dalam masalah gaun hitam ini.Malam itu juga, mereka berangkat ke Kiara Boutique yang masih dalam tahap pemberesan akibat baru saja dihancurkan oleh Jay.Diana Legiani duduk di kursi belakang mobilnya yang mewah, wajahnya keras seperti batu. Di samping kirinya, Romario Wijaya menatap keluar jendela dengan ekspresi yang sama geramnya. Di depan mereka, dua mobil hitam lainnya berisi sepuluh orang bodyguard pilihan Diana yang berbadan kekar dan berwajah garang mengikuti dari belakang."Mama akan memastikan mereka membayar atas kelalaian ini," gumam Diana sambil merem

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 29

    Sementara itu, di sudut butik yang mulai tenang kembali, seorang wanita cantik berdiri di balik etalase kaca, menatap kosong ke arah jalan. Rani Simbolon, kepala pengelola Kiara Boutique, menggenggam secangkir teh melati yang kini mulai dingin. Aroma bunga samar-samar masih tercium, namun pikirannya tak di sana."Mengapa dia begitu ngotot membeli gaun milik Nyonya Diana?" gumam Rani, merasa tak habis pikir hingga alisnya berkerut. "Mungkinkah dia memiliki urusan yang tak biasa dengan nyonya besar itu?"Mata Rani Simbolon menyipit, mengingat kembali bagaimana Jay tiba-tiba begitu tertarik dan langsung menawar gaun itu dengan harga yang terlalu tinggi untuk sebuah pakaian.Pikiran Rani melayang ke pesta ulang tahun Heru Wijaya yang akan digelar akhir pekan ini. Ia juga mendapat undangan sebagai tamu yang diundang secara khusus oleh nyonya besar Keluarga Wijaya tersebut."Untuk urusan gaun itu," bisik Rani pada dirinya sendiri, membayangkan gaun hitam ekslusif yang kini tak lagi di buti

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 28

    Kenzo terlihat bingung, sedangkan Zane tertawa puas atas hasil kejahilannya."Sudah, jangan terus berdebat kalian!" Jay mulai merasa kesal. "Kita cabut sekarang!"'Awas lu, Zane!' Kenzo melirik tajam ke arah Zane, bersiap untuk melakukan peritungan.'Rasain lu!' Zane merasa menang kali ini.Tanpa membantah lebih jauh, Zane memberi isyarat pada anggota rombongan lainnya untuk kembali ke motor. Suara mesin kendaraan kembali meraung di udara, tapi kali ini untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.Di dalam mobil, Nina duduk di kursi penumpang, berdampingan dengan Jay. Sambil membetulkan posisi duduknya, ia melirik kantong belanja berwarna hitam elegan yang kebetulan berada di bagian teratas."Boss," panggil Nina sambil menatap Jay dari sudut mata. "Sebenarnya gaun hitam itu, Boss beli untuk siapa?" Jay menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok dengan sikap santai. "Tidak untuk siapa-siapa.""Aku hanya ingin bersenang-senang dan mempermainkan seseorang dan sama sekali tidak tertarik pada gau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status