Mag-log inUntuk beberapa waktu keheningan menyelimuti kabin mobil itu.
Mobil sudah bergerak sejak tadi, tetapi Davendra tetap diam. Tidak membalas ucapan Ileana sama sekali.
Karena Ileana merasa sesak, akhirnya Ileana kembali bertanya tapi nada suaranya kini lebih lembut. “Pak Davendra, jika tidak ada yang ingin dikatakan, tolong turunkan saya di halte bis terdekat.”
Davendra tetap diam. Satu tangannya ia angkat untuk mengusap alisnya lalu memejamkan mata. Seolah kejadian hari ini telah memberinya beban yang berat.
Ileana akhirnya mengalihkan tatapannya, melihat Davendra karena pria itu tetap tidak memberikan respon sama sekali.
Saat melihat Davendra dari samping, fitur wajahnya yang tampan, terbayang mata indah pria itu saat menatapnya lembut di atas ranjang, hidung bangirnya yang bersentuhan dengan wajahnya ketika ia mencium Ileana dengan bergairah, dalam perasaan yang tidak menentu ini, membuat hati Ileana sakit.
Ia menyesal membiarkan perasaannya pada Davendra berkembang. Seandainya ia tahu bahwa akhirnya akan seperti ini, saat itu Ileana akan menolak segalanya.
Akan tetapi, nasi telah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa Ileana lakukan lagi, selain membuang jauh perasaannya dan melanjutkan hidup, dan bekerja lebih keras lagi demi biaya pengobatan ibunya.
Ileana melihat jalanan yang mereka lalui. Lalu ketika sadar bahwa jalan yang mereka lewati mengarah ke kediaman Davendra, Ileana terkejut. Dengan cepat kembali menatap Davendra. “Pak.” Suaranya agak panik.
Jantungnya berdegup kencang.
Jika Davendra membawa Ileana ke kediamannya, itu berarti …
Untuk saat ini Ileana tidak siap untuk melakukan itu. Tidak, ketika tahu bahwa Davendra telah bertunangan dengan Tamara.
Namun, sudah terlambat saat mobil mewah hitam itu melewati gerbang hitam nan megah dan bergerak masuk menuju kediaman Davendra.
Ketika mobil berhenti di depan pintu, Davendra langsung membuka pintu mobil dan turun tanpa mengatakan apa pun.
Ileana hanya terpaku menatap kepergian Davendra.
Dari kursi kemudi, Adrian sedikit memutar tubuhnya untuk berbicara dengan Ileana. “Tuan Davendra menunggu Nona di dalam.”
Adrian agak kaku dibanding Dimas, tapi sama seperti Dimas, Adrian juga mengetahui hubungan antara Davendra dan Ileana.
Ileana tersenyum kecil, matanya sendu, membuat Adrian terenyuh, tapi Adrian tidak mungkin bisa melakukan apa pun.
“Terima kasih, Kak,” kata Ileana sebelum turun dari mobil. “Aku masuk dulu.”
Saat memasuki kediaman Davendra, Ileana bertemu dengan kepala pelayan, Arumi, yang tersenyum hangat pada Ileana.
Wanita paruh baya itu kemudian berkata, “Tuan sudah menunggu Nona di kamarnya.”
Hati Ileana perih. Itu adalah kalimat yang selalu diucapkan Arumi ketika Ileana datang ke kediaman itu untuk bercinta dengan Davendra.
Selama ini, Ileana sudah terbiasa, namun karena sekarang situasinya berubah rasanya aneh mendengar kalimat itu. Ileana hanya bisa membalas ucapan Arumi dengan senyuman lalu mengangguk kecil sebagai ucapan terimakasihnya sebelum berlalu meninggalkan Arumi.
Ketika Ileana memasuki kamar Davendra, Ileana langsung berjalan ke kamar mandi karena Davendra tidak terlihat di mana pun.
Setiap kali sebelum bercinta Davendra dan Ileana akan membersihkan diri lebih dulu. Jadi ketika suara gemericik air terdengar dari dalam, tubuh Ileana menegang.
Degup jantungnya begerak cepat ketika sadar bahwa Davendra benar-benar akan melakukannya.
Ileana tersentak ketika pintu kamar mandi terbuka lalu muncul Davendra dari dalam.
Davendra hanya mengenakan handuk putih polos yang hanya melingkari bagian bawahnya. Bahunya yang lebar, dadanya yang bidang, dan otot perutnya yang terbagi rata enam kotak terlihat jelas di hadapan Ileana.
Ileana sudah melihat tubuh polos Davendra, tapi entah mengapa malam ini, rasanya seperti melihat tubuh Davendra untuk pertama kali.
“Mandi,” kata Davendra pelan, berjalan melewati Ileana, seakan tidak memahami yang dirasakan Ileana saat ini. “Aku butuh tidur.”
Ileana tidak menjawab. Ia berbalik menatap punggung Davendra yang sedang berjalan menuju tengah ruangan. Seharusnya Ileana bisa menolak, seharusnya Ileana bisa dengan tegas mengingatkan Davendra bahwa kontrak mereka telah berakhir atas keputusan sepihak Davendra sendiri.
Seharusnya Ileana bisa…
Namun, tidak bisa.
Ileana tetap melakukan perintah Davendra, membersihkan diri, lalu dengan hanya mengenakan bathrobe Ileana menghampiri Davendra.
Sepuluh jari Ileana mencakar punggung lebar Davendra saat gelombang menghantam Ileana. Tubuhnya terangkat untuk memeluk Davendra dan Davendra membalas, membawa Ileana ke dalam pangkuannya.Tubuh mereka bergerak, mengangkat dan menghentak penuh dorongan. Desahan dan erangan menggema di kamar itu, saling tumpang tindih ketika akhirnya mereka mencapai puncak. Setelah keduanya berhenti bergerak, Davendra tetap menahan posisinya, memeluk Ileana dan menaruh kepalanya di pundak wanita itu. Ileana pun tetap melingkarkan kedua tangannya di leher Davendra.Setelah napas Ileana teratur, Ileana juga bisa merasakan deru napas Davendra yang berangsur normal, tapi Davendra tetap tidak bergerak.Khawatir jika Davendra langsung tertidur di pelukannya, Ileana berniat untuk membangunkan Davendra, tapi urung ketika mendengar Davendra berbisik, “Biarkan seperti ini.”Lalu, Ileana bisa merasakan pelukan Davendra mengerat di punggungnya.Sekarang, perasaan Ileana menjadi tidak karuan.Sejak awal mereka berc
Untuk beberapa waktu keheningan menyelimuti kabin mobil itu.Mobil sudah bergerak sejak tadi, tetapi Davendra tetap diam. Tidak membalas ucapan Ileana sama sekali.Karena Ileana merasa sesak, akhirnya Ileana kembali bertanya tapi nada suaranya kini lebih lembut. “Pak Davendra, jika tidak ada yang ingin dikatakan, tolong turunkan saya di halte bis terdekat.”Davendra tetap diam. Satu tangannya ia angkat untuk mengusap alisnya lalu memejamkan mata. Seolah kejadian hari ini telah memberinya beban yang berat.Ileana akhirnya mengalihkan tatapannya, melihat Davendra karena pria itu tetap tidak memberikan respon sama sekali.Saat melihat Davendra dari samping, fitur wajahnya yang tampan, terbayang mata indah pria itu saat menatapnya lembut di atas ranjang, hidung bangirnya yang bersentuhan dengan wajahnya ketika ia mencium Ileana dengan bergairah, dalam perasaan yang tidak menentu ini, membuat hati Ileana sakit.Ia menyesal membiarkan perasaannya pada Davendra berkembang. Seandainya ia tahu
Miranda adalah orang pertama yang menangkap maksud ucapan Davendra. Senyum tipisnya mengembang, meskipun tadi ia sempat dilanda panik. Namun, melihat tatapan Davendra yang tajam pada Ileana, Miranda yakin Davendra tidak menyukai anak itu. “Maafkan kami, Tuan Davendra,” ujar Miranda lembut. “Anak ini memang tidak kami perhitungkan. Kami akan segera menyelesaikannya.” Miranda menoleh pada Ileana, tatapannya berubah tajam. “Kamu sudah dengar sendiri. Pergilah. Jangan merusak suasana makan malam ini.” Pramudya ikut membenarkan. Tidak ada keraguan sama sekali dari nada suaranya. “Keluar,” katanya singkat, seolah Ileana bukan darah dagingnya sendiri. Ileana menatap mereka bergantian, lalu dengan sadar kembali menatap Davendra. Tetapi, pria itu tidak melihat ke arahnya. Wajah Davendra tetap dingin, rahangnya mengeras, seolah keberadaan Ileana sama sekali tidak penting. Itu sudah cukup. Ileana menarik napas panjang, lalu mengangguk kecil. Sekali lagi menatap mereka dengan sedikit keben
Ileana sempat tidak memercayai apa yang ia lihat, tetapi ketika pria itu juga menatapnya, udara di sekelilingnya seolah membeku.Namun, tidak ada ekspresi yang terlihat di wajah tampannya. Tatapannya juga tajam pada Ileana. Apa pria itu tadi sempat melihat yang dilakukan Ileana pada Miranda?“Tuan Davendra!” suara Pramudya memecah kesunyian di antara Davendra dan Ileana. “Saya minta maaf atas kegaduhan yang terjadi.” Pramudya menghampiri Davendra lalu menuntun Davendra menuju meja makan yang telah disiapkan. Ada keseganan dalam suara Pramudya. “Saya harap tidak membuat suasana hati Anda jadi berantakan.”Davendra tidak menjawab. Ia melangkah tegak melewati Ileana tanpa menoleh sedikit pun, sikapnya dingin dan asing, seolah keberadaan Ileana sama sekali tidak berarti di hadapan orang-orang di sana.Ileana tertegun, tidak menduga dengan sikap Davendra saat ini.Ada apa dengan pria itu?Ileana hanya bisa menatap punggung tegap yang berbalut jas biru gelap mahal itu menjauh, kemudian dudu
[Malam ini akan ada makan malam keluarga. Ada hal yang harus kamu tahu. Datanglah jika kamu tidak ingin tertinggal informasi.]Pesan itu berasal dari Miranda, ibu tiri Ileana.Tangan kanan yang memegang ponsel tanpa sadar menguat dan dadanya panas. Dengan perasaan tidak rela, Ileana mengalihkan pandangan pada ibunya yang masih tertidur nyaman.Seandainya Miranda tidak pernah hadir di hidup ayahnya—Tidak.Seandainya ibunya tidak mencintai ayahnya sedalam itu, ini semua tidak akan pernah terjadi.Delapan tahun lalu, Miranda, sekretaris ayahnya tiba-tiba muncul di depan pintu rumah mereka bersama putrinya yang usianya dua tahun lebih muda dibanding Ileana.Miranda dengan angkuh dan penuh percaya diri berkata bahwa ia juga istri sah Pramudya.Anindita tidak percaya, tetapi kenyataan menghatam lebih kuat daripada itu.Ternyata Pramudya memang telah berselingkuh dan menikah dengan sekretarisnya sendiri selama lebih dari sepuluh tahun.Entah bagaimana bisa ibunya tidak menyadari bahwa ayahn
Setelah punggung tegap Davendra menghilang di balik pintu, Ileana terpaku sejenak menatap ranjang besar yang kini kosong. Aroma maskulin pria itu masih menguar kuat di udara, tetapi Ileana tahu, tempatnya bukan lagi di sini. Dia segera membersihkan diri, membasuh sisa-sisa keintiman mereka, dan bersiap angkat kaki.Hari ini adalah hari Jumat. Biasanya, saat mereka bercinta di hari Jumat, Ileana akan menginap di kediaman Davendra, berada di dalam pelukan pria itu dan baru kembali ke rumah kontrakannya yang sempit di Minggu sore.Namun, karena tadi Davendra mengatakan Ileana tidak perlu datang lagi, maka Ileana harus pergi dari sini.Kediaman mewah Davendra berada dalam sebuah kawasan privat seluas lima hektar. Bangunan utamanya berdiri kokoh di tengah lahan luas yang dikelilingi taman privat.Dari kediaman Davendra hingga gerbang utama penjagaan hanya bisa ditempuh dengan mobil, buggy car atau sepeda listrik yang digunakan para pelayan di sana. Jika berjalan kaki akan menempuh waktu li







