LOGINIleana sempat tidak memercayai apa yang ia lihat, tetapi ketika pria itu juga menatapnya, udara di sekelilingnya seolah membeku.
Namun, tidak ada ekspresi yang terlihat di wajah tampannya. Tatapannya juga tajam pada Ileana. Apa pria itu tadi sempat melihat yang dilakukan Ileana pada Miranda?
“Tuan Davendra!” suara Pramudya memecah kesunyian di antara Davendra dan Ileana. “Saya minta maaf atas kegaduhan yang terjadi.” Pramudya menghampiri Davendra lalu menuntun Davendra menuju meja makan yang telah disiapkan. Ada keseganan dalam suara Pramudya. “Saya harap tidak membuat suasana hati Anda jadi berantakan.”
Davendra tidak menjawab. Ia melangkah tegak melewati Ileana tanpa menoleh sedikit pun, sikapnya dingin dan asing, seolah keberadaan Ileana sama sekali tidak berarti di hadapan orang-orang di sana.
Ileana tertegun, tidak menduga dengan sikap Davendra saat ini.
Ada apa dengan pria itu?
Ileana hanya bisa menatap punggung tegap yang berbalut jas biru gelap mahal itu menjauh, kemudian duduk di salah satu kursi di ruang makan.
Pramudya meninggalkan Davendra lalu menghampiri Ileana. “Duduk. Jangan mempermalukanku lagi di depan tunangan Tamara,” bisik Pramudya sambil mencengkeram lengan Ileana dan menggiringnya menuju kursi di ruang makan.
Mendengar ucapan ayahnya, tubuh Ileana langsung menegang. Ileana langsung kembali menatap Davendra tidak percaya.
Jadi, tunangan adik tirinya adalah Davendra?
Sekarang Ileana sangat mengerti mengapa Davendra ingin mengakhiri kesepakatan mereka secepat mungkin.
Hati Ileana terasa seperti diiris.
Sambil menahan rasa sakit di hatinya, Ileana mengikuti langkah Pramudya kemudian menarik kursi dan duduk. Di seberangnya kini duduk Tamara yang besikap anggun di samping Davendra.
Namun setelah Ileana duduk di tempatnya, sesuatu berubah. Tatapan yang semula dingin dan tak acuh itu perlahan mengarah ke satu titik.
Tetap tidak ada ekspresi yang terlihat di wajahnya, tetapi tatapannya hanya tertuju pada Ileana, entah apa yang dipikirkan pria itu.
Mungkin karena ini di luar jam kerja dan ada pengaruh dari orang-orang di rumah ini, Ileana juga berani menatap langsung Davendra.
Sadar bahwa tamunya mungkin merasa tidak nyaman akan keberadaan Ileana, Pramudya berkata, “Saya minta maaf, Tuan Davendra, jika keberadaan putri sulung saya membuat Anda tidak nyaman.”
“Putri sulung?”
Seolah ada beban berat yang tiba-tiba menimpa ruangan itu, membekukan udara di sekitarnya saat suara dingin Davendra terdengar.
Miranda buru-buru mencoba mengambil alih, menjawab pertanyaan Davendra dengan wajah penuh permintaan maaf. “Anak ini putri pertama dari istri pertama suamiku. Dia tidak tinggal di sini. Maafkan kami sejak tadi dia membuat keributan.”
Miranda menolehkan pandangannya sekilas pada Ileana dengan raut muka malu, lalu kembali pada Davendra. “Dia terbiasa berada di lingkungan rendah jadi tidak bisa menyusaikan diri.”
Saat pertemuan dua keluarga antara keluarga Djayaatmaja dan Pramadana, Ileana tidak diperkenalkan, karena memang anak itu tidak penting. Miranda mengajak anak ini datang juga hanya untuk mempermalukannya, tetapi sepertinya kehadiran Ileana justru membuat Davendra tidak senang.
Tamara di samping Davendra juga berkata dengan bijak tetapi mencemooh. “Kak, kenapa setiap Kakak pulang selalu membuat heboh? Tolong hargai makan malam ini.” Setelah itu Tamara memasang raut penuh perhatian, menatap Davendra, kemudian kembali pada Ileana. “Seseorang seperti Kakak mungkin tidak akan mengerti berharganya waktu yang kami miliki. Jadi, tolong bersikaplah dengan sopan ya, kak.”
Nada suaranya sangat manis tetapi semua ucapannya itu hanya untuk menjelekkan Ileana di depan Davendra.
Ileana hanya tersenyum tipis, lalu menatap dalam mata Davendra yang hitam segelap obsidian. Mereka tidak tahu Ileana adalah sekretaris Davendra, mereka memang tidak mau repot-repot mengetahui kehidupannya.
Namun, sepertinya Davendra juga tidak ingin memberitahu keluarga tunangannya kalau ia dan Davendra saling kenal.
Jika Davendra berpura-pura tidak mengenalnya, maka Ileana akan melakukan hal yang sama.
Melihat Ileana dan Davendra saling tatap dalam waktu yang lama, Miranda khawatir Davendra justru akan tertarik pada Ileana.
Jika dibandingkan dengan Tamara, Ileana memang lebih cantik. Wajahnya kecil dengan lipatan kelopak mata yang lembut. Hidungnya mancung alami, bibirnya penuh dengan lengkung yang manis. Rambut hitam bergelombangnya jatuh terurai hingga punggung, berkilau setiap kali terkena cahaya.
Miranda menggeleng samar. Miranda yakin itu tidak mungkin terjadi, karena keluarga Pramadana yang datang sendiri pada mereka dan meminta Tamara untuk menjadi menantu keluarga Pramadana.
Dengkusan kecil terdengar di antara mereka, hingga keempat orang di sana memandang pada arah yang sama, melihat Davendra yang tertawa kecil.
Tidak ada yang lucu saat itu, sehingga tawa Davendra justru membuat semua orang di sana merinding.
Udara di ruang makan terasa semakin berat setelah tawa kecil Davendra mereda.
Pria itu menyandarkan punggung ke kursi, lalu menatap Pramudya dengan ekspresi dingin yang membuat siapa pun enggan bertanya.
“Kalian berani mengundang seseorang tanpa seizinku,” ucapnya datar, suaranya tenang tapi menusuk, lalu tatapannya tajam pada Ileana. “dan mengharapkanku menerimanya di hadapanku?”
Semua orang di sana terdiam.
Ileana mengerjapkan matanya berulang kali, terus menatap Davendra meminta penjelasan atas ucapan yang pria itu katakan tadi.
Tetapi tidak ada apa pun. Ekspresi wajahnya dingin, seolah mereka adalah dua orang asing.
Sepuluh jari Ileana mencakar punggung lebar Davendra saat gelombang menghantam Ileana. Tubuhnya terangkat untuk memeluk Davendra dan Davendra membalas, membawa Ileana ke dalam pangkuannya.Tubuh mereka bergerak, mengangkat dan menghentak penuh dorongan. Desahan dan erangan menggema di kamar itu, saling tumpang tindih ketika akhirnya mereka mencapai puncak. Setelah keduanya berhenti bergerak, Davendra tetap menahan posisinya, memeluk Ileana dan menaruh kepalanya di pundak wanita itu. Ileana pun tetap melingkarkan kedua tangannya di leher Davendra.Setelah napas Ileana teratur, Ileana juga bisa merasakan deru napas Davendra yang berangsur normal, tapi Davendra tetap tidak bergerak.Khawatir jika Davendra langsung tertidur di pelukannya, Ileana berniat untuk membangunkan Davendra, tapi urung ketika mendengar Davendra berbisik, “Biarkan seperti ini.”Lalu, Ileana bisa merasakan pelukan Davendra mengerat di punggungnya.Sekarang, perasaan Ileana menjadi tidak karuan.Sejak awal mereka berc
Untuk beberapa waktu keheningan menyelimuti kabin mobil itu.Mobil sudah bergerak sejak tadi, tetapi Davendra tetap diam. Tidak membalas ucapan Ileana sama sekali.Karena Ileana merasa sesak, akhirnya Ileana kembali bertanya tapi nada suaranya kini lebih lembut. “Pak Davendra, jika tidak ada yang ingin dikatakan, tolong turunkan saya di halte bis terdekat.”Davendra tetap diam. Satu tangannya ia angkat untuk mengusap alisnya lalu memejamkan mata. Seolah kejadian hari ini telah memberinya beban yang berat.Ileana akhirnya mengalihkan tatapannya, melihat Davendra karena pria itu tetap tidak memberikan respon sama sekali.Saat melihat Davendra dari samping, fitur wajahnya yang tampan, terbayang mata indah pria itu saat menatapnya lembut di atas ranjang, hidung bangirnya yang bersentuhan dengan wajahnya ketika ia mencium Ileana dengan bergairah, dalam perasaan yang tidak menentu ini, membuat hati Ileana sakit.Ia menyesal membiarkan perasaannya pada Davendra berkembang. Seandainya ia tahu
Miranda adalah orang pertama yang menangkap maksud ucapan Davendra. Senyum tipisnya mengembang, meskipun tadi ia sempat dilanda panik. Namun, melihat tatapan Davendra yang tajam pada Ileana, Miranda yakin Davendra tidak menyukai anak itu. “Maafkan kami, Tuan Davendra,” ujar Miranda lembut. “Anak ini memang tidak kami perhitungkan. Kami akan segera menyelesaikannya.” Miranda menoleh pada Ileana, tatapannya berubah tajam. “Kamu sudah dengar sendiri. Pergilah. Jangan merusak suasana makan malam ini.” Pramudya ikut membenarkan. Tidak ada keraguan sama sekali dari nada suaranya. “Keluar,” katanya singkat, seolah Ileana bukan darah dagingnya sendiri. Ileana menatap mereka bergantian, lalu dengan sadar kembali menatap Davendra. Tetapi, pria itu tidak melihat ke arahnya. Wajah Davendra tetap dingin, rahangnya mengeras, seolah keberadaan Ileana sama sekali tidak penting. Itu sudah cukup. Ileana menarik napas panjang, lalu mengangguk kecil. Sekali lagi menatap mereka dengan sedikit keben
Ileana sempat tidak memercayai apa yang ia lihat, tetapi ketika pria itu juga menatapnya, udara di sekelilingnya seolah membeku.Namun, tidak ada ekspresi yang terlihat di wajah tampannya. Tatapannya juga tajam pada Ileana. Apa pria itu tadi sempat melihat yang dilakukan Ileana pada Miranda?“Tuan Davendra!” suara Pramudya memecah kesunyian di antara Davendra dan Ileana. “Saya minta maaf atas kegaduhan yang terjadi.” Pramudya menghampiri Davendra lalu menuntun Davendra menuju meja makan yang telah disiapkan. Ada keseganan dalam suara Pramudya. “Saya harap tidak membuat suasana hati Anda jadi berantakan.”Davendra tidak menjawab. Ia melangkah tegak melewati Ileana tanpa menoleh sedikit pun, sikapnya dingin dan asing, seolah keberadaan Ileana sama sekali tidak berarti di hadapan orang-orang di sana.Ileana tertegun, tidak menduga dengan sikap Davendra saat ini.Ada apa dengan pria itu?Ileana hanya bisa menatap punggung tegap yang berbalut jas biru gelap mahal itu menjauh, kemudian dudu
[Malam ini akan ada makan malam keluarga. Ada hal yang harus kamu tahu. Datanglah jika kamu tidak ingin tertinggal informasi.]Pesan itu berasal dari Miranda, ibu tiri Ileana.Tangan kanan yang memegang ponsel tanpa sadar menguat dan dadanya panas. Dengan perasaan tidak rela, Ileana mengalihkan pandangan pada ibunya yang masih tertidur nyaman.Seandainya Miranda tidak pernah hadir di hidup ayahnya—Tidak.Seandainya ibunya tidak mencintai ayahnya sedalam itu, ini semua tidak akan pernah terjadi.Delapan tahun lalu, Miranda, sekretaris ayahnya tiba-tiba muncul di depan pintu rumah mereka bersama putrinya yang usianya dua tahun lebih muda dibanding Ileana.Miranda dengan angkuh dan penuh percaya diri berkata bahwa ia juga istri sah Pramudya.Anindita tidak percaya, tetapi kenyataan menghatam lebih kuat daripada itu.Ternyata Pramudya memang telah berselingkuh dan menikah dengan sekretarisnya sendiri selama lebih dari sepuluh tahun.Entah bagaimana bisa ibunya tidak menyadari bahwa ayahn
Setelah punggung tegap Davendra menghilang di balik pintu, Ileana terpaku sejenak menatap ranjang besar yang kini kosong. Aroma maskulin pria itu masih menguar kuat di udara, tetapi Ileana tahu, tempatnya bukan lagi di sini. Dia segera membersihkan diri, membasuh sisa-sisa keintiman mereka, dan bersiap angkat kaki.Hari ini adalah hari Jumat. Biasanya, saat mereka bercinta di hari Jumat, Ileana akan menginap di kediaman Davendra, berada di dalam pelukan pria itu dan baru kembali ke rumah kontrakannya yang sempit di Minggu sore.Namun, karena tadi Davendra mengatakan Ileana tidak perlu datang lagi, maka Ileana harus pergi dari sini.Kediaman mewah Davendra berada dalam sebuah kawasan privat seluas lima hektar. Bangunan utamanya berdiri kokoh di tengah lahan luas yang dikelilingi taman privat.Dari kediaman Davendra hingga gerbang utama penjagaan hanya bisa ditempuh dengan mobil, buggy car atau sepeda listrik yang digunakan para pelayan di sana. Jika berjalan kaki akan menempuh waktu li







