LOGINGelas di genggaman Luna nyaris hantam lantai kayu sebelum jemarinya mencengkeram erat pelipis porselen itu dengan ketakutan murni.
Air di dalamnya berkecak, menetes membasahi punggung tangannya yang pucat.
“Darian dan Yalinda ... membunuh Ibu?” bisik Luna. Suaranya serak, pecah di tengah keremangan dapur.
Ne
“Jangan pernah menyentuh Luna atau pernikahan kita batal.”Luna bahkan tidak tahu bahwa di sudut lain kota ini, kalimat dingin Darian kepada Selena baru saja menyulut api kecemburuan wanita yang telah membunuh tubuh Yalinda.Luna tidak tahu, bahwa mungkin saja … tubuhnya juga akan mati. Mentari pagi menembus kaca jendela kelas yang berdebu, membiaskan sinar hangat yang kontras dengan kekacauan di kepala Luna Asteria. Luna duduk mematung di bangkunya, mencoba memfokuskan pandangan pada papan tulis di depan. Namun, pikirannya bagai benang kusut yang makin sulit diurai.Satu per satu teka-teki itu berputar tanpa henti. Pesan ancaman yang memanggilnya bodoh, kemunculan mendadak Lion di halte bus, rahasia pria pincang tentang masa lalu Armand, dan tiga liontin berukir identik.Keheningan kelas mendadak terpecah ketika wali Kelas melangkah masuk, menepuk tangan dua kali untuk menarik perhatian seluruh murid.“Anak-anak, harap tenang sebentar,” ujar guru paruh baya itu dengan senyum lebar
Kamar Luna terasa jauh lebih sempit dan dingin malam itu.Bau lembap dinding menguar menembus udara, tetapi Luna tak memperdulikannya.Ia terduduk kaku di tepi tempat tidur, melemparkan tas belanjaan mahal dari butik Darian ke lantai tanpa minat.“Apa yang aku pikirkan sebenarnya?”Jemarinya yang gemetar merogoh saku, mengeluarkan tiga benda yang sejak tadi meremukkan pikirannya.Ia menjejerkan ketiganya di atas meja kayu yang terkelupas. Liontin perak yang dia dapatkan.Mata Luna bergerak cepat meneliti ukiran pada ketiga liontin tersebut.Desainnya hampir identik. Garis-garis peraknya membent
Malam melarut dalam sapuan angin dingin yang menusuk tulang.Derap langkah Luna mengalun kaku saat ia meninggalkan kafe paruh waktunya.Di dalam saku jaketnya, jemarinya terkepal rapat, meremas liontin perak pemberian pria pincang tadi. Beberapa kali ia berniat membuang benda itu ke selokan, tetapi kehendaknya selalu mendadak lumpuh.Kalimat terakhir pria pincang itu terus terngiang, bergema tajam di pelipisnya.“Yang mati malam itu bukan cuma ibumu.”Pikiran Luna berkecamuk hebat.Anak laki-laki dari rumah bordil, kerakusan ayahnya, keterlibatan Yalinda, liontin, dan rahasia kelam yang mengikat mereka.
“Armad, saksi bohong itu, ayahmu.”Cengkeraman di pergelangan tangan Luna terasa sedingin es, meresap langsung menembus pori-pori kulitnya hingga merambati tulang.Ruangan kafe yang sunyi seketika menjelma menjadi ruang eksekusi yang sesak.“Siapa kamu?” tanya Luna pelan. Matanya tak berpindah dari kacamata hitam yang memantulkan ekspresi ketakutan di wajahnya.Satu pikiran liar langsung menembur benak Luna. Pria pincang ini adalah orang yang mengirim pesan-pesan anonim itu.Luna membelalak, menghentakkan lengannya dengan sisa tenaga yang ia miliki. “Siapa Anda? Katakan!”Pria itu tidak
Bisikan beracun Selena di ambang pintu apartemen Darian masih mengiang hebat, beradu dengan ucapan Darian tentang Yalinda yang terus mengobrak-abrik isi kepalanya.Rasa tertekan, cemas, dan paranoia murni berpilin menjadi satu ledakan yang menghimpit dadanya hingga sesak.Namun, baru keluar dari unit apartemen Darian. Perawakan jangkung tegap berdiri mematung di dekat tombol lift.Lion Bagaskara.Langkah Luna terhenti mendadak.Mereka berdua sama-sama membeku dalam hening yang mencekam.Lion menatap Luna, lalu perlahan mengalihkan pandangan tajamnya ke arah pintu unit apartemen Darian yang baru saja tertutup rapat di belakang tubuh gadis itu.
Darian ada di sini.Di depan apartemen Lion … dan dia … membawa pisau.Darah di dalam nadi Luna serasa berhenti mengalir.Tubuhnya menegak kaku di atas karpet tebal koridor lantai dua belas. Tatapannya terkunci rapat pada pisau berbilah pisau dapur di tangan kiri Darian, juga pada tetesan cairan merah yang baru saja jatuh menghantam lantai.“Luna?”Darian justru mengangkat kedua alisnya pelan. Raut wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi kini terhias keheranan yang kentara.“Kenapa kamu ke sini?Darian memutar tubuhnya.“Kena







