แชร์

38| Sangkar Rental Balas Dendam

ผู้เขียน: Lefkilavanta
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-20 18:00:33

Malam melarut dalam sapuan angin dingin yang menusuk tulang. 

Derap langkah Luna mengalun kaku saat ia meninggalkan kafe paruh waktunya. 

Di dalam saku jaketnya, jemarinya terkepal rapat, meremas liontin perak pemberian pria pincang tadi. Beberapa kali ia berniat membuang benda itu ke selokan, tetapi kehendaknya selalu mendadak lumpuh.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Kembalinya Janda Wiratama   38| Sangkar Rental Balas Dendam

    Malam melarut dalam sapuan angin dingin yang menusuk tulang.Derap langkah Luna mengalun kaku saat ia meninggalkan kafe paruh waktunya.Di dalam saku jaketnya, jemarinya terkepal rapat, meremas liontin perak pemberian pria pincang tadi. Beberapa kali ia berniat membuang benda itu ke selokan, tetapi kehendaknya selalu mendadak lumpuh.Kalimat terakhir pria pincang itu terus terngiang, bergema tajam di pelipisnya.“Yang mati malam itu bukan cuma ibumu.”Pikiran Luna berkecamuk hebat.Anak laki-laki dari rumah bordil, kerakusan ayahnya, keterlibatan Yalinda, liontin, dan rahasia kelam yang mengikat mereka.

  • Kembalinya Janda Wiratama   37| Anak Bordil Yang Hilang.

    “Armad, saksi bohong itu, ayahmu.”Cengkeraman di pergelangan tangan Luna terasa sedingin es, meresap langsung menembus pori-pori kulitnya hingga merambati tulang.Ruangan kafe yang sunyi seketika menjelma menjadi ruang eksekusi yang sesak.“Siapa kamu?” tanya Luna pelan. Matanya tak berpindah dari kacamata hitam yang memantulkan ekspresi ketakutan di wajahnya.Satu pikiran liar langsung menembur benak Luna. Pria pincang ini adalah orang yang mengirim pesan-pesan anonim itu.Luna membelalak, menghentakkan lengannya dengan sisa tenaga yang ia miliki. “Siapa Anda? Katakan!”Pria itu tidak

  • Kembalinya Janda Wiratama   36| Retakan Yang Tidak Bisa Diperbaiki

    Bisikan beracun Selena di ambang pintu apartemen Darian masih mengiang hebat, beradu dengan ucapan Darian tentang Yalinda yang terus mengobrak-abrik isi kepalanya.Rasa tertekan, cemas, dan paranoia murni berpilin menjadi satu ledakan yang menghimpit dadanya hingga sesak.Namun, baru keluar dari unit apartemen Darian. Perawakan jangkung tegap berdiri mematung di dekat tombol lift.Lion Bagaskara.Langkah Luna terhenti mendadak.Mereka berdua sama-sama membeku dalam hening yang mencekam.Lion menatap Luna, lalu perlahan mengalihkan pandangan tajamnya ke arah pintu unit apartemen Darian yang baru saja tertutup rapat di belakang tubuh gadis itu.

  • Kembalinya Janda Wiratama   35| Sangkar Emas Para Pembunuh

    Darian ada di sini.Di depan apartemen Lion … dan dia … membawa pisau.Darah di dalam nadi Luna serasa berhenti mengalir.Tubuhnya menegak kaku di atas karpet tebal koridor lantai dua belas. Tatapannya terkunci rapat pada pisau berbilah pisau dapur di tangan kiri Darian, juga pada tetesan cairan merah yang baru saja jatuh menghantam lantai.“Luna?”Darian justru mengangkat kedua alisnya pelan. Raut wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi kini terhias keheranan yang kentara.“Kenapa kamu ke sini?Darian memutar tubuhnya.“Kena

  • Kembalinya Janda Wiratama   34| Bayangan Di Balik Pagar

    Dua baris kalimat di layar kaca itu masih membakar matanya. Ponsel di genggaman Luna terasa seketika menjadi dingin, sedingin es yang membekukan aliran darahnya.Sekarang aku adalah lawanmu, Luna.Ah tidak, Yalinda.Luna langsung mematikan layar.Ponselnya diletakkan begitu saja di atas meja kayu dengan gerakan spontan, seolah benda persegi itu adalah bara api yang sanggup melukai kulitnya.Napasnya memburu, naik-turun tak beraturan di dalam dada yang mendadak terasa terhimpit rapat.Nenek yang duduk di kursi sudut memicingkan mata, menyadari perubahan drastis pada wajah cucunya.

  • Kembalinya Janda Wiratama   33| Musuh Dalam Bayangan

    Pagi itu datang tanpa fajar yang hangat.Langit membiru, membiarkan udara dingin menempel lengket di permukaan kulit. Suara nyaring ayakan beras dan ketukan seng tua dari tetangga sebelah tak sanggup mengikis rasa beku yang menyelimuti rumah kayu Nenek.Luna duduk di tepi ranjangnya, menatap lurus ke arah pintu. Sepanjang sisa malam, matanya tak pernah terpejam.Di ruang tengah, Nenek sudah menunggu.Perempuan tua itu duduk di atas kursi kayu berkaki kencang dengan kotak kayu terbuka di depannya.Lampu minyak semalam sudah mati, digantikan remang cahaya pagi yang masuk dari sela-sela dinding bambu.Tanpa mengujarkan kata selamat pagi, Nenek meraih surat bersampul

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status