Share

86| Anti Hero

Author: Lefkilavanta
last update publish date: 2026-10-21 20:03:29

Siswa itu meringis. "A-aku cuma denger dia masukin surat cuti tadi... katanya ada urusan keluarga..."

“Karena kejadian di kafe itu? Kamu lihat videonyakan?”

Lion memutar tubuhnya cepat, dan iris matanya langsung bertubrukan dengan Luna yang berdiri memegang lembaran kertas dokumen di ujung koridor.

"Luna!"

Luna mematung, menolak untuk berbalik. Lion memotong jarak dengan langkah-langkah lebar yang sarat amarah dan rasa cemas yang meluap.

"Kamu benar-benar mengajukan cuti sekolah?" desak Lion, b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya Janda Wiratama   98| Celah Lingkaran

    Keesokan harinya, Luna tiba di kantor jauh lebih awal dari biasanya.Ia mengenakan kemeja putih berpotongan bersih, rok hitam selutut, serta sepatu hak rendah yang sama sekali tidak berisik saat menapaki lantai. Rambut pendeknya tertata rapi, membingkai wajahnya dengan aura profesional yang jauh melampaui usia aslinya sebagai seorang siswi SMA yang menjalani masa magang.Selepas menyapa beberapa staf administrasi di lobi utama, ia langsung melangkah menuju ruang sekretaris.“Pagi, Luna,” sapa seorang staf administrasi senior sambil menyodorkan beberapa map tebal ke atas mejanya. “Ini berkas-berkas yang harus disiapkan untuk rapat internal siang nanti. Pak Darian secara khusus meminta agar semuanya diperiksa ulang.”Luna menerima tumpukan dokumen t

  • Kembalinya Janda Wiratama   97| Teman Lama

    Ia mengeluarkan sebuah foto lain dari map. Foto itu memperlihatkan Luna sedang berjalan bersama Darian di sebuah pusat perbelanjaan. Foto lain menunjukkan mereka berdua di pasar malam. Selena menatap foto tersebut cukup lama.“Darian tidak pernah memperlakukan orang lain seperti itu.”Perempuan di hadapannya tidak memberikan tanggapan.“Cari tahu siapa saja orang yang pernah dekat dengan Luna. Teman sekolah, keluarga, bahkan orang-orang yang bekerja bersamanya.”“Baik, Nyonya.”“Dan satu lagi.” Selena menutup map. “Cari tahu apakah dia pernah berhubungan dengan keluarga Yalinda.”Perempuan itu mengangguk. Selena menyandarkan tubuhnya. Ia belum memiliki bukti, tetapi nalurinya mengatakan bahwa Luna bukan sekadar gadis yang kebetulan masuk ke kehidupan mereka. Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Selena tidak akan membiarkan gadis itu mengancam posisinya.Menjelang siang, Luna kembali ke mansion karena jadwal kerjanya di perusahaan baru dimulai sore hari. Ia sengaja meminta izin kepada kep

  • Kembalinya Janda Wiratama   96| Duplikat

    “Kamu belum menjawab pertanyaanku.”Darian masih berdiri di belakang Luna. Tatapannya tertuju pada lorong yang menuju ruang kerja lama milik ayah Yalinda.Luna memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. “Aku hanya ingin mencari udara segar. Kamarku terasa pengap.”“Di dalam mansion sebesar ini, kamu harus berjalan sampai ke lorong tersebut untuk mencari udara?”Luna tersenyum tipis. “Ternyata Pak Darian sangat memperhatikan ke mana aku berjalan.”“Sulit untuk tidak memperhatikan seseorang yang selalu muncul di tempat yang tidak seharusnya.”Sindiran itu tidak membuat Luna gentar. Ia justru berbalik menghadap Darian.

  • Kembalinya Janda Wiratama   95| Mata Pisau: Bangkai Tikus

    Malam merayap pekat.Luna baru saja selesai membersihkan diri ketika ketukan tajam mengoyak pintu kamarnya. Ia menduga salah satu pelayan, tetapi begitu dibuka, Selena berdiri dengan mata bernyala.“Kita perlu bicara,” desis Selena tanpa menunggu izin, langsung menerobos masuk ke dalam kamar.Netra Selena menyapu sudut ruangan tersebut. Kamar di sayap atas mansion, menghadap langsung ke taman belakang, dan letaknya begitu dekat dengan ruang kerja lama ayah Yalinda—titik strategis yang memang sejak awal diincarnya.“Kamu semakin betah di rumah ini, rupanya,” sindir Selena tajam.Luna menyampirkan handuk kecil di pundaknya. “Bukankah itu bagus? Setidaknya aku tidak merepotkan siapa pun.

  • Kembalinya Janda Wiratama   94| Remember Me!

    Sejak malam di mana bara api menghanguskan sejarah hidupnya, eksistensi Luna di dalam dinding megah mansion Wiratama merayap bagai racun yang tak kasat mata.Ia tidak meledak-ledak. Tidak pula menuntut perhatian. Ia merayap lewat celah-celah terkecil yang selama ini diabaikan oleh Selena—sudut-sudut rumah yang kehilangan jiwa.Pagi itu, Luna menuruni anak tangga dengan balutan pakaian sederhana berwarna netral.Rambut pendeknya dibiarkan tergerai natural, membingkai garis rahangnya yang tegas. Di tangan kanannya, sebuah buku catatan kulit kecil tergenggam.Langkahnya terhenti di ruang keluarga yang lapang. Seorang pelayan paruh baya tengah berdiri di samping vas kristal besar, mengganti tumpukan bunga segar yang menghiasi sudut ruangan.

  • Kembalinya Janda Wiratama   93| Seporsi Kekalahan

    Luna tidak langsung menjawab.Tatapannya terpaku pada layar ponsel Darian. Rekaman CCTV itu memperlihatkan dirinya berdiri di ruang tengah rumah, menyalakan api, lalu berjalan keluar tanpa sedikit pun menunjukkan kepanikan.Tidak ada yang bisa disangkal.Ia memang pelakunya.“Kamu ingin menjelaskan sesuatu?” tanya Darian.Luna mengangkat wajah. Pria itu berdiri beberapa langkah di hadapannya, masih mengenakan kemeja kerja dengan lengan tergulung sampai siku. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak bisa dibohongi.Darian sedang menguji dirinya.“Kalau aku bilang itu bukan aku, kamu akan percaya?”“Tidak.”“Kalau begitu, untuk apa bertanya?”Darian meletakkan ponselnya di atas meja. “Aku hanya ingin tahu alasanmu.”Luna menarik napas perlahan. “Aku sudah bilang, Pak Darian. Aku tidak punya rumah lagi. Sekarang aku tinggal di sini.”“Itu bukan alasan untuk membakar rumah sendiri.”“Rumah itu sudah tidak punya siapa-siapa.” Luna menatapnya lurus. “Tidak ada yang akan kehilangan apa pu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status