Share

94| Remember Me!

Author: Lefkilavanta
last update publish date: 2026-11-01 08:00:29

Sejak malam di mana bara api menghanguskan sejarah hidupnya, eksistensi Luna di dalam dinding megah mansion Wiratama merayap bagai racun yang tak kasat mata. 

Ia tidak meledak-ledak. Tidak pula menuntut perhatian. Ia merayap lewat celah-celah terkecil yang selama ini diabaikan oleh Selena—sudut-sudut rumah yang kehilangan jiwa.

Pagi itu, Luna menuruni anak tan

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya Janda Wiratama   94| Remember Me!

    Sejak malam di mana bara api menghanguskan sejarah hidupnya, eksistensi Luna di dalam dinding megah mansion Wiratama merayap bagai racun yang tak kasat mata.Ia tidak meledak-ledak. Tidak pula menuntut perhatian. Ia merayap lewat celah-celah terkecil yang selama ini diabaikan oleh Selena—sudut-sudut rumah yang kehilangan jiwa.Pagi itu, Luna menuruni anak tangga dengan balutan pakaian sederhana berwarna netral.Rambut pendeknya dibiarkan tergerai natural, membingkai garis rahangnya yang tegas. Di tangan kanannya, sebuah buku catatan kulit kecil tergenggam.Langkahnya terhenti di ruang keluarga yang lapang. Seorang pelayan paruh baya tengah berdiri di samping vas kristal besar, mengganti tumpukan bunga segar yang menghiasi sudut ruangan.

  • Kembalinya Janda Wiratama   93| Seporsi Kekalahan

    Luna tidak langsung menjawab.Tatapannya terpaku pada layar ponsel Darian. Rekaman CCTV itu memperlihatkan dirinya berdiri di ruang tengah rumah, menyalakan api, lalu berjalan keluar tanpa sedikit pun menunjukkan kepanikan.Tidak ada yang bisa disangkal.Ia memang pelakunya.“Kamu ingin menjelaskan sesuatu?” tanya Darian.Luna mengangkat wajah. Pria itu berdiri beberapa langkah di hadapannya, masih mengenakan kemeja kerja dengan lengan tergulung sampai siku. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak bisa dibohongi.Darian sedang menguji dirinya.“Kalau aku bilang itu bukan aku, kamu akan percaya?”“Tidak.”“Kalau begitu, untuk apa bertanya?”Darian meletakkan ponselnya di atas meja. “Aku hanya ingin tahu alasanmu.”Luna menarik napas perlahan. “Aku sudah bilang, Pak Darian. Aku tidak punya rumah lagi. Sekarang aku tinggal di sini.”“Itu bukan alasan untuk membakar rumah sendiri.”“Rumah itu sudah tidak punya siapa-siapa.” Luna menatapnya lurus. “Tidak ada yang akan kehilangan apa pu

  • Kembalinya Janda Wiratama   92| Simpang Jalan

    Lion menegakkan tubuhnya seketika. Darian berdiri beberapa meter dari mereka dalam balutan kemeja gelap. Tatapan matanya bergulir dari Lion ke Luna, lalu mengunci pada jemari Lion yang berada di dekat pintu."Aku tidak ingat pernah memberi izin bagi tamu luar untuk berkunjung di jam seperti ini," ucap Darian dingin.Lion menatap Darian dengan kebencian yang telanjang. "Aku juga tidak ingat harus meminta izin padamu hanya untuk memastikan seseorang belum tewas di rumah ini."Darian menyipitkan matanya bahaya. "Jaga bicaramu, Anak Muda.""Atau apa? Kamu mau mengusirku?" Lion tertawa sinis. "Baguslah. Setidaknya aku tidak perlu menghirup udara di tempat yang mungkin menjadi lokasi pembunuhan berikutnya."Wajah Darian mengeras kaku.Luna menyela cepat, "Lion, pergi dari sini sekarang!"Lion menoleh pada Luna dengan tatapan terluka. "Jadi kamu memilih bertahan di sampingnya?""Aku tidak memilih siapa pun!""Lalu kenapa kamu membiarkan pria ini mengurungmu?!""Aku tidak dikurung!""Kalau be

  • Kembalinya Janda Wiratama   91| Rantai Predator

    Darian menundukkan kepalanya sedikit, mengunci pandangan mereka. “Aku akan mencari tahu apa yang membuat gadis sepertimu rela menghancurkan hidupnya sendiri hanya untuk menjangkauku.”Luna tersenyum getir. “Kalau begitu, silakan cari tahu sampai tuntas, Pak Darian.”Ia menggeser tubuhnya, hendak meraih gagang pintu. Namun suara Darian menghentikan pergerakannya.“Jangan pernah menyalakan api yang tidak sanggup kamu padamkan sendiri, Luna.”Luna menoleh. Darian berdiri di bawah pendar lampu kamar, bayangan wajahnya jatuh kusam di dinding beton.“Api tidak pernah memilih siapa yang pantas dibakar. Begitu pula orang-orang yang sedang kamu coba permainkan di rumah ini.”

  • Kembalinya Janda Wiratama   90| Medan Perang Yang Gelap

    “Kenapa kamu terlihat begitu tenang dan berdiri menyaksikan rumahmu terbakar di CCTV... tepat setelah kamu menyulutkan api dari dalam?”Kalimat itu meluncur bagai bilah belati dingin. Di balik pintu, keheningan membeku, hanya diselingi napas berat Darian dan bunyi gesekan gagang pintu yang kembali diputar kaku.Luna memandang korek api gas di tangannya. Benda kecil berjelaga itu mendadak terasa bagai barang bukti pembunuhan yang tertangkap basah.“Buka pintunya, Luna.”Suara Darian tidak melengking. Justru ketenangan ekstrem itulah yang membuat bulu kuduk Luna meremang. Ia pernah mendengar oktaf suara itu sebelumnya—suara seorang pria yang sedang menahan amarah murni, bukan karena ragu untuk menghancurkan, melainkan sedang menimbang bagian mana yang harus dilumatkan terlebih dahulu.Luna buru-buru menyusupkan korek api itu ke dasar tas, menyapu telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin ke kain rok seragam, lalu melangkah menuju pintu.Ia menarik gagangnya.Darian berdiri menju

  • Kembalinya Janda Wiratama   89| Bidak Catur

    Darian akhirnya membawa Luna ke mansion mewahnya, bukan karena ia menelan bulat-bulat kebetulan tragis ini. Insting penguasanya membaca ketenangan ekstrem yang ditunjukkan gadis itu saat menyaksikan rumahnya hangus menjadi abu.Begitu melangkah melewati lobi mansion yang megah, Darian memerintahkan staf rumah tangga untuk menyiapkan kamar tamu di lantai bawah. Namun, Luna menyela pelan."Bolehkah aku menggunakan kamar di sayap atas yang menghadap ke taman belakang?"Darian menghentikan langkahnya di anak tangga, menoleh penuh selidik. "Kenapa harus kamar itu?""Aku menyukai pemandangannya," sahut Luna santai.Darian menatapnya kaku. Kamar yang ditunjuk Luna berbatasan langsung dengan lantai sayap tua mansion—bagian terlarang yang menyimpan ruang kerja milik mendiang ayah Yalinda, area yang sebelumnya telah Darian larang untuk dimasuki siapa pun."Kamu tidak pernah berkunjung ke mansion ini sebelumnya," bisik Darian curiga. “Dari mana kamu tahu?”"Memangnya aku harus pernah berkunjung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status