Home / Urban / Kembalinya Nona Muda yang Terbuang / Bab 3 - Luka yang Mengering

Share

Bab 3 - Luka yang Mengering

Author: Erchapram
last update publish date: 2026-04-17 12:40:17

​Keheningan di kamar rawat itu terasa mencekam setelah kepergian Gavin dan Ratna. Auroran masih berdiri mematung di dekat pintu, menatap kembarannya dengan sorot mata yang campur aduk. Ia terbiasa melihat Aurora yang selalu menunduk dan meminta maaf meski tidak salah. Namun, wanita di depannya sekarang seolah memiliki tameng baja yang tak terlihat.

​"Kenapa diam saja?" Nayaka memecah kesunyian, suaranya tenang namun tajam. "Tadi kamu bilang aku penghancur segalanya, kan? Kenapa tidak lanjut memaki agar hatimu puas?"

Auroran mengepalkan tangan, langkahnya maju mendekati ranjang. "Kamu berubah, Ra. Apa karena jatuh dari tangga itu otakmu jadi bergeser? Kamu tahu sendiri Papa paling benci keributan. Dengan kamu menuduh Selena di depan Gavin, kamu cuma bikin posisi kamu makin sulit di rumah."

Nayaka tertawa pelan, tawa yang tidak sampai ke mata. "Posisi? Sejak kapan aku punya posisi di rumah itu, Ran? Aku cuma bayangan yang dianggap pembawa sial. Dan kamu... sebagai kembaranku, kamu justru orang pertama yang membiarkan mereka menginjak-injakku."

​"Aku cuma mau kamu tahu diri!" balas Auroran dengan nada tinggi. "Kalau kamu penurut seperti Selena, Papa tidak akan sedingin itu padamu. Kamu selalu bikin masalah, bahkan sejak kita lahir."

Nayaka menatap Auroran datar. Ia teringat memori pemilik tubuh ini; bagaimana Auroran selalu mendapat kasih sayang berlebih sementara Aurora disisihkan karena dianggap penyebab kematian kakek mereka.

"Penurut seperti Selena?" Nayaka bangkit dari ranjang, mengabaikan rasa perih di perutnya. Ia berdiri dengan kaki telanjang di lantai rumah sakit yang dingin, menatap Auroran dengan tinggi yang hampir setara. "Maksudmu, aku harus pura-pura polos tapi diam-diam merayu suami orang? Begitu cara jadi kesayangan di keluarga Wijaya?"

"Jaga bicaramu, Aurora!" Auroran hendak mengangkat tangan, namun gerakannya terhenti saat melihat kilatan mematikan di mata Nayaka. Ia merasa jika ia berani menyentuh kembarannya, hal buruk akan terjadi padanya.

"Pukul saja," tantang Nayaka dingin. "Tapi pastikan pukulanmu cukup kuat untuk membunuhku. Karena kalau aku masih hidup, tangan yang kamu pakai untuk memukulku itu akan aku patahkan sendiri."

Auroran mundur selangkah, nafasnya memburu. "Kamu... kamu bukan Aurora. Aurora tidak mungkin bicara sekasar ini."

"Aurora yang lama sudah tidak ada, Ran. Yang ada di hadapanmu sekarang adalah Aurora yang tidak akan diam lagi saat diinjak-injak, apalagi melihat suaminya lebih milih memeluk wanita lain padahal istrinya sedang sekarat," jawab Nayaka sambil kembali duduk di ranjang, mematikan ponselnya dengan tenang. "Sekarang, keluar dari sini. Aku butuh istirahat sebelum mulai membereskan kalian satu per satu."

Auroran tidak membalas lagi. Ia keluar dari kamar dengan perasaan gelisah yang tak menentu. Sementara itu, Nayaka segera memencet tombol panggilan suster. Seorang perawat masuk beberapa saat kemudian.

​"Suster, tolong panggilkan bagian administrasi. Saya ingin tahu sisa biaya rumah sakit saya," ujar Nayaka.

​"Tapi Mbak, Tuan Gavin bilang semua urusan administrasi akan diurus nanti oleh keluarga," jawab suster itu sopan.

​"Jangan dengarkan dia. Saya mau bayar sendiri sekarang," tegas Nayaka. Ia tahu Gavin sengaja menunda pembayaran agar bisa mengontrolnya atau memaksa Aurora memohon uang padanya. Nayaka meraba laci meja, mengambil tas kecil milik Aurora. Di dalamnya hanya ada sedikit uang tunai dan kartu ATM yang saldonya ia tahu sangat menyedihkan.

​Namun, Nayaka bukan agen elit tanpa persiapan. Di kehidupan sebelumnya, ia memiliki akun rahasia yang terhubung dengan enkripsi satelit internasional. Meskipun sekarang ia berada di tubuh yang berbeda, protokol keamanannya menggunakan pola sidik jari suara dan data biometrik yang unik… hal yang sedang ia coba akses melalui peretasan kecil di ponsel Aurora.

​"Beruntung Aurora punya tipe suara yang frekuensinya mirip denganku," gumam Nayaka setelah suster itu keluar.

Beberapa menit otak-atik, ia berhasil masuk ke sebuah situs gelap dan mentransfer sejumlah dana ke rekening Aurora yang hampir kosong. Setidaknya untuk saat ini, ia punya cukup uang untuk tidak perlu mengemis pada keluarga Wijaya atau Gavin.

Malam semakin larut. Nayaka mencoba memejamkan mata, namun perutnya terasa sangat kaku. Ia mengusap perutnya, berbisik pelan pada janin yang masih bertahan di sana. "Bertahanlah, Nak. Ibu tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi."

​Tiba-tiba, pintu kamar rawatnya kembali terbuka sedikit. Nayaka yang memiliki insting tajam segera berpura-pura tidur, namun tangannya diam-diam meraih botol kaca berisi sisa air minum di meja samping.

Seseorang masuk dengan langkah yang sangat pelan, nyaris tanpa suara. Orang itu mendekati ranjang, tangannya terangkat perlahan menuju selang infus Nayaka. Di balik temaram lampu tidur, terlihat siluet seorang wanita yang mengenakan masker dan topi.

​Nayaka merasakan cairan di botol infusnya mulai diotak-atik. Tanpa menunggu lama, ia membuka mata dan langsung mencengkeram pergelangan tangan wanita itu dengan tenaga yang luar biasa kuat.

​"Mau memasukkan apa ke infusku, Selena?" tanya Nayaka dengan suara rendah yang mencekam.

Wanita itu tersentak, mencoba melepaskan tangannya namun cengkeraman Nayaka seperti tanggem besi. Ia menarik masker wanita itu, dan benar saja, wajah Selena yang pucat pasi terlihat di sana. Di tangannya, Selena memegang sebuah suntikan kecil berisi cairan bening.

​"Kak... Kakak, aku... aku cuma mau membantu suster," gagap Selena, tubuhnya gemetar hebat.

​Nayaka menarik Selena lebih dekat, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. "Membantu suster atau memastikan aku tidak bangun lagi besok pagi? Kamu hamil, kan? Kenapa tanganmu begitu kotor?"

Selena mencoba berteriak, tapi Nayaka lebih cepat menyumpal mulutnya dengan bantal. "Dengarkan baik-baik. Kalau kamu berani mendekat lagi, suntikan ini yang akan mendarat di lehermu sendiri. Sekarang, keluar!"

​Nayaka melepaskan Selena, membuat wanita itu jatuh tersungkur sebelum lari terbirit-birit keluar kamar. Nayaka menatap suntikan yang terjatuh di lantai dengan tatapan dingin. Ia segera mencabut selang infusnya sendiri, merasa rumah sakit ini sudah tidak aman lagi.

​Ia harus pergi. Namun, saat ia melangkah menuju jendela untuk memantau situasi di bawah, ia melihat sebuah mobil hitam mewah yang sama dengan yang ia lihat di gerbang rumah sakit tadi sore. Pria bermata elang itu, sedang berdiri di samping mobil sambil menghisap rokok, menatap tepat ke arah jendela kamar rawat Nayaka seolah-olah dia memang sedang menunggunya.

Nayaka tertegun. Mengapa pria itu masih di sini? Dan yang lebih mengejutkan, dia mengangkat ponselnya ke telinga tepat saat ponsel di saku baju rumah sakit Nayaka bergetar.

​"Kamu ingin keluar dari sana hidup-hidup, atau menunggu Selena kembali dengan bantuan yang lebih banyak?" suara berat itu terdengar dari seberang telepon.

​Nayaka mengerutkan kening. "Bagaimana kamu tahu nomor ini?"

"Aku tahu segalanya tentang Wijaya," jawabnya dingin. "Turunlah sekarang. Aku punya penawaran yang tidak bisa kamu tolak."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 200 - Epilog: Di Bawah Langit yang Terbuka

    Pukul 06.00 pagi. Matahari Surabaya yang cerah menyinari gerbang kayu besar Menteng, membuat kayu tua itu terlihat lebih hangat dan hidup. Nayaka berdiri di sana, menyentuh permukaan kayu yang kini tidak lagi menyimpan kunci tersembunyi. Tidak ada lagi sensor yang mendeteksi setiap orang yang mendekat. Tidak ada lagi sistem Vanguard yang bekerja di bawah lantai rumah ini. Semuanya sudah mati, semuanya sudah kembali jadi rumah biasa. Di sampingnya, Lucien Ashford tidak lagi pakai jam tangan taktis atau baju khusus untuk bergerak cepat. Ia pakai kemeja katun biasa, menatap jalanan Menteng yang tenang. Mereka baru pulang dari Bandung dua hari lalu, dan kepulangan ini terasa berbeda. Ini bukan kembali ke markas, tapi pulang ke tempat di mana mereka bisa jadi diri sendiri tanpa memikirkan ancaman. "Auroran sudah sampai di penginapan terakhirnya di pesisir Selatan," kata Lucien pelan, memecah keheningan pagi. "Dia kirim foto terakhi

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 199 - Titik Nadir di Balik Kabut Gunung

    Pukul 05.00 pagi. Udara pegunungan Bandung terasa dingin dan segar, jauh dari asap kendaraan dan bau laut yang dulu selalu membawa rahasia pelabuhan. Di teras villa keluarga Rio, Nayaka mematikan dupa kecil. Ia tidak lagi memandangi cakrawala untuk mencari ancaman. Ia hanya melihat kabut yang perlahan turun, menutupi batang-batang kopi di kejauhan. Hidup yang dulu penuh hitungan risiko dan probabilitas, kini hanya berjalan mengikuti napas yang tenang. Lucien Ashford keluar dari pintu kayu dengan langkah ringan. Ia tidak lagi pakai kemeja dengan saku tersembunyi untuk senjata atau ponsel enkripsi. Ia pakai jaket wol tebal, dan di tangannya ada dua cangkir kopi Arabika hasil panen Rio minggu lalu. "Rio bilang panen kali ini yang terbaik dalam sepuluh tahun," kata Lucien pelan sambil menyerahkan kopi ke Nayaka. "Dia tidak takut lagi pada tengkulak yang dulu sering curang. Sepertinya stabilitas yang kita tinggalkan di pelabuhan mu

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 198 - Residu Terakhir yang Tersapu Angin

    Pukul 06.00 pagi. Surabaya terasa lebih jernih dari biasanya. Di kediaman Menteng, pagi tidak lagi dimulai dengan suara radio atau perintah taktis yang harus dienkripsi. Nayaka berdiri di teras paviliun, memakai sweter rajut longgar yang hangat di tengah embun yang masih menempel di daun mawar. Ia menyesap teh melati pelan-pelan, membiarkan aromanya menenangkan saraf yang dulu selalu siaga. Di sampingnya, Lucien Ashford melipat koran biasa. Bukan laporan intelijen, tapi berita soal pembangunan ruang terbuka hijau di kota. Ia terlihat berbeda. Garis tegang di pelipisnya sudah hilang, diganti ekspresi yang lebih terbuka dan tenang. Rumah ini bukan lagi benteng yang terisolasi. Setelah setahun melewati masa sulit, rumah ini akhirnya jadi tempat mereka bisa berlabuh. "Auroran sudah sampai di puncak bukit area perkebunan," kata Lucien sambil menatap gerbang kayu Menteng yang terbuka lebar. "Dia kirim pesan singkat. Katanya tidak ad

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 197 - Sisa Jejak di Balik Pintu Kayu

    Pukul 05.00 pagi. Langit timur di atas Menteng mulai oranye, memberi cahaya lembut pada mawar putih yang baru ditanam di bekas pos jaga lama. Nayaka berdiri di teras paviliun, menghirup udara pagi yang segar. Tidak ada lagi bau logam dari perangkat elektronik panas, tidak ada lagi rasa waspada. Ia tidak lagi mengecek ponsel enkripsinya, karena benda itu sudah lama tidak ada. Ia juga tidak lagi memikirkan faksi Kebayoran Baru. Bagi mereka, faksi itu sudah jadi masa lalu yang memudar. Lucien Ashford keluar dari paviliun dengan langkah tenang, membawa dua cangkir kopi yang masih mengepul. Ia pakai kemeja katun ringan, terlihat seperti orang biasa yang sedang libur panjang, bukan orang yang pernah mengendalikan arus komoditas maritim terpenting di Indonesia. Ia meletakkan kopi di meja marmer, lalu berdiri di samping Nayaka, membiarkan keheningan pagi menyatukan mereka. "Auroran telepon dari stasiun," bisik Lucien. "Dia bilang akan

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 196 - Cahaya di Balik Pintu yang Tak Lagi Terkunci

    Pukul 06.00 pagi, langit Surabaya cerah tanpa awan, membentang biru pucat di atas atap Menteng. Nayaka keluar ke beranda samping, merasakan embun tipis di daun mawar taman. Ia tidak lagi meraba saku kardigan untuk memastikan ponsel enkripsi ada di sana. Hidupnya sudah berubah. Tidak ada lagi alarm darurat tengah malam, tidak ada lagi deret angka terenkripsi yang harus dipecahkan cepat untuk memprediksi langkah faksi lawan. Lucien Ashford menyusul dari belakang, membawa nampan berisi kopi panas dan roti panggang. Ia tidak lagi berjalan waspada seperti orang yang memikul rahasia negara. Langkahnya ringan, seolah menikmati kebebasan yang setahun terakhir hanya jadi angan. "Auroran sudah bangun," bisik Lucien sambil meletakkan nampan di meja marmer. "Dia di perpustakaan, lagi mengemas kamera analognya. Katanya cahaya pagi ini paling bagus buat menangkap detail dedaunan di kebun kopi nanti."

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 195 - Cakrawala di Balik Jendela yang Terbuka

    ​Pukul lima pagi. Sisa kabut tipis masih menempel di pucuk-pucuk mahoni, membiarkan cahaya pertama hari ini membiaskan warna keemasan yang lembut di permukaan kolam air mancur Menteng. Nayaka berdiri di sana, membiarkan jemarinya menyentuh permukaan air yang tenang. Tidak ada lagi ritual pengecekan sistem keamanan sebelum matahari terbit, tidak ada lagi frekuensi radio yang harus dipindai untuk mendengarkan percakapan mencurigakan dari faksi lawan. ​Hening itu begitu murni, sehingga ia bisa mendengar suara langkah Lucien di kejauhan, pelan namun pasti, menapak di atas ubin teras. Ia tidak menoleh, karena ia tahu suaminya tidak sedang membawa beban berat di bahunya. Lucien berjalan dengan tubuh yang rileks, mengenakan sweter wol yang ia sukai saat pagi sedang dingin-dinginnya. Ia berdiri tepat di samping Nayaka, meletakkan secangkir kopi panas di atas meja marmer kecil yang mereka tempatkan di sana. ​"Auroran menelepon tadi malam," ujar Lucien setelah be

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 23 - Sisa Nyala Api

    ​Udara di dalam ruangan bawah tanah itu mendadak berubah menjadi neraka. Bunyi mendesis dari selang oksigen yang terbakar disusul oleh dentuman yang menggetarkan pondasi gudang. Lidah api berwarna biru merambat cepat, menjilat dinding plastik inkubator yang kini menjadi satu-satunya penghalang an

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 17 - Permainan Terakhir

    Angka merah di pergelangan tangan Kakek Wijaya terus berkedip, menghitung mundur nyawa siapa pun yang berdiri di atap hotel malam itu. 7... 6... 5... Udara terasa tipis, tercekik oleh bau belerang dan ketegangan yang nyaris meledak. Nayaka tidak bergerak satu inci pun. Matanya

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 15 - Panggung Sang Ratu

    Lampu kristal yang menggantung di langit-langit aula hotel berbintang itu memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Harum bunga lili mahal memenuhi ruangan, beradu dengan aroma parfum kelas atas dari para tamu yang hadir. Ini adalah acara gathering tahunan Wijaya Group… panggung yang seharusn

  • Kembalinya Nona Muda yang Terbuang   Bab 10 - Hancurnya Sebuah Harapan

    ​Lorong rumah sakit terasa mencekam saat lampu ruang operasi berwarna merah akhirnya padam. Lucien Ashford berdiri bersandar di dinding dengan tangan mengepal di saku celananya. Wajahnya yang biasanya kaku kini tampak lebih tegang dari biasanya. Saat pintu terbuka, dokter keluar dengan raut wajah y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status