Home / Pendekar / Kembalinya Sang Legenda Perang / Ada Ambisi Di Balik Penjembutan Sang Jendral

Share

Ada Ambisi Di Balik Penjembutan Sang Jendral

Author: F Azzam
last update publish date: 2025-01-17 21:49:12

"Persilahkan dia masuk," perintah Ibu Clara kepada seorang penjaga.

"Baik Nyonya," Jawab sang penjaga. Lalu ia keluar dari ruangan.

Tak berselang lama, pintu terbuka dengan lembut. Seorang pria berpakaian seragam militer memasuki ruangan.

Dia memiliki postur tegap dan tatapan tajam. Di bahunya tersandang emblem negeri Arkhadea, yang menggambarkan seekor elang dengan sayap melambai. Di sampingnya, dua penjaga berjas hitam dengan senjata yang terselip di pinggangnya, berdiri tegak.

"Maaf men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Guncangan di Pesisir Utara

    Fajar yang seharusnya membawa ketenangan justru datang dengan aura kematian yang mencekam. Di cakrawala laut utara, kabut tebal perlahan tersibak oleh moncong-moncong kapal perang berwarna hitam legam tanpa nomor lambung. Itu adalah armada tempur organisasi Nebra. Mereka tidak datang untuk bernegosiasi; mereka datang untuk mengambil kembali aset mereka yang paling berharga: Protokol Alpha 9 yang ada di dalam tubuh Aryan. Aryan berdiri di atas tanggul pemecah ombak, menatap ribuan kilatan cahaya dari meriam laser kapal-kapal tersebut. Di belakangnya, Mayor Yudha sedang berteriak melalui radio, berusaha mengoordinasikan unit artileri pantai yang masih tersisa. "Jendral, mereka mulai mendarat! Unit amfibi mereka bukan manusia!" teriak Yudha. Dari balik ombak, muncul ratusan prajurit mekanik yang dikenal sebagai Nebra Reapers. Berbeda dengan Subjek Beta yang lincah, Reapers adalah tank berjalan yang dirancang untuk satu tujuan: penghancuran total. "Tahan posisi! Jangan menembak sampai

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Suara Kebenaran

    Gedung Televisi Pusat menjulang seperti menara pengawas di tengah ibu kota yang sunyi akibat jam malam. Di puncaknya, lampu sorot raksasa menyapu jalanan, mencari setiap gerak-gerik yang mencurigakan. Di dalam gedung itu, Silas telah menyiapkan panggung eksekusi. Tante Mira dirantai di kursi besi di tengah studio utama, dikelilingi oleh kamera yang siap menyiarkan "pengadilan pengkhianat" ke seluruh negeri dalam hitungan menit. Di luar gedung, Aryan berdiri di puncak gedung apartemen yang berseberangan. Angin kencang memainkan ujung jubah taktisnya. Di sampingnya, Mayor Yudha sedang menyiapkan senapan runduk dengan amunisi pengacau sinyal. "Jendral, sensor menunjukkan ada minimal lima puluh personel unit Penjagal di dalam. Plus, Subjek Beta yang kau lawan kemarin ada di lantai empat puluh," lapor Yudha melalui alat komunikasi. Aryan tidak merespons dengan kata-kata. Ia hanya memeriksa detak jantungnya yang kini berada di frekuensi rendah yang stabil. Alpha 9 di tubuhnya sudah tersi

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Hantu dalam Jaringan

    Malam di ibu kota tidak lagi terasa aman bagi mereka yang mengenakan lencana Dewan Pertahanan Nasional. Di bawah lampu-lampu neon yang berkedip, sebuah ketakutan baru mulai menyebar di kalangan militer. Mereka menyebutnya sebagai "Hantu Arkhana". Sebuah entitas yang menyerang tanpa suara, melumpuhkan sistem tanpa jejak, dan menghilang sebelum alarm sempat berbunyi. Di sebuah gudang tua yang menjadi markas sementara, Aryan duduk diam di tengah kegelapan. Satu-satunya cahaya berasal dari kabel-kabel optik yang tersambung dari pergelangan tangannya ke sebuah komputer pusat curian. Ia sedang melakukan penetrasi ke jaringan saraf logistik sektor tujuh. Matanya yang putih terang bergerak cepat, memproses ribuan baris data enkripsi per detik. "Tingkat keberhasilan infiltrasi: sembilan puluh delapan persen," gumam Aryan tanpa ekspresi. Mayor Yudha masuk membawa dua pucuk senapan serbu yang telah dimodifikasi. Ia menatap Aryan dengan ngeri sekaligus takjub. "Depo sektor tujuh itu dijaga ole

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Debu di Puncak Utara

    Suara ledakan bom termobarik yang dijatuhkan oleh angkatan udara Silas menggetarkan seluruh rangkaian pegunungan Utara. Puncak gunung yang semula kokoh seolah terkelupas, mengirimkan jutaan ton salju dan bebatuan jatuh menimbun lembah di bawahnya. Dari kejauhan, pemandangan itu tampak seperti kiamat kecil yang dibungkus dalam kabut api dan asap hitam. Di dalam ruang kendali jet tempur pemimpin, seorang pilot melapor dengan nada datar, "Target dihancurkan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang tersisa di area bunker." Silas, yang menyaksikan semuanya melalui transmisi satelit di kantor rahasianya, menyandarkan punggung ke kursi kulitnya. Senyum kemenangan menghiasi wajah tuanya. Baginya, Aryan Arkhana bukan lagi ancaman. Dengan hancurnya bunker itu, semua bukti pengkhianatannya di masa lalu terkubur bersama jasad sang Jendral. Silas segera menekan tombol interkom, memanggil staf medianya. "Umumkan kepada seluruh negeri," perintah Silas dengan nada yang dibuat sedih. "Jendral Aryan tel

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Bangkitnya Pasukan Bayang-Bayang

    Kegelapan di dalam bunker Arkhana terasa begitu padat, seolah-olah waktu telah berhenti berdetak di sana selama tiga puluh tahun. Namun, saat kaki Aryan melangkah melewati ambang pintu, deretan lampu neon biru di langit-langit menyala satu per satu, menciptakan lorong cahaya yang membentang jauh ke perut bumi. Suara gerbang raksasa di belakang mereka menutup dengan dentuman yang menggetarkan fondasi gunung. Mereka kini terperangkap di dalam benteng kuno yang menyimpan rahasia paling berbahaya dari klan Arkhana. "Aryan, lihat itu," bisik Clara sambil menunjuk ke arah aula besar di ujung lorong. Di sana, berderet rapi ratusan unit baju zirah mekanis yang dikenal sebagai Arkhana Sentinels. Baju zirah ini tidak digerakkan oleh mesin biasa, melainkan oleh sistem neuro-link yang hanya bisa dikendalikan oleh seseorang dengan protokol Alpha 9 aktif. Ini bukan sekadar gudang senjata; ini adalah pasukan pribadi yang siap meratakan kota dalam hitungan jam. Rahasia Tante Mira Saat Mayor Yudh

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Badai Merah di Puncak Utara

    Gema tawa Silas dari radio taktis milik Viktor Arkhana seolah memicu ledakan di dalam dada Aryan. Langit yang semula gelap kini terang benderang oleh ribuan lampu indikator merah dari drone tempur yang melayang rendah, mengepung area gerbang besi klan Arkhana. Salju yang turun deras mendadak menguap sebelum menyentuh tanah, kalah oleh panas energi biometrik yang terpancar dari tubuh Aryan yang kini berada pada level kritis. "Viktor, kau menjual darahmu sendiri demi janji seorang ular?" geram Aryan. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan dentuman rendah yang membuat bebatuan di sekitarnya bergetar. Viktor Arkhana jatuh terduduk, wajahnya yang penuh bekas luka bakar kini pucat pasi. "Dia bilang... dia bilang ini satu-satunya cara agar klan kita diakui kembali, Aryan! Aku lelah hidup sebagai tikus di dalam gua!" "Kau bukan tikus, Viktor. Kau adalah pengkhianat," desis Tante Mira. Ia sudah berada di posisi siaga, dua belati di tangannya berkilat memantulkan cahaya merah dari lang

  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Mengungkap Kebenaran

    Suasana malam semakin kelam saat Clara dan Aryan melangkah cepat menuju arah utara, menelusuri jalan setapak di antara tumpukan sampah dan deretan bangunan kosong. Mereka merasa terjebak di antara bayangan dari kegelapan dan ketidakpastian, saat suara sirine ekor pengawal masih terdengar samar-sama

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Jejak Rahasia

    Keberadaan Clara di hadapan Aryan bukan hanya mengejutkan, tetapi juga memberikan harapan dalam situasi genting. Sementara suara kekacauan mengisi udara dan cahaya lampu berkelap-kelip dari gang-gang sempit Elysium, Clara menarik Aryan menjauh dari kerumunan yang panik. Mereka berlari melalui kori

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Kekuatan Yang Terbangun

    Kendaraan melaju kencang, mengangkut Aryan, Clara, dan Alden jauh dari Elysium yang kelam. Udara malam terasa segar, seolah menghapus jejak kegelapan yang baru mereka tinggalkan. Namun, dalam benak Aryan, suasana tenang itu kontras dengan kegelisahan yang menggelora. Ia merasakan gemuruh kekuatan d

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Kembalinya Sang Legenda Perang   Misi Dan Pertemuan Yang Tak Terduga

    Malam itu, Aryan tidak bisa tidur. Ia terjaga, matanya terpaku pada langit malam yang cerah dengan bintang bertebaran. Pikiran tentang misi yang akan datang membanjiri kepalanya. Dengan setiap detakan jam, ia merasakan tekanan yang semakin kuat—tidak hanya untuk melaksanakan tugas yang diberikan, t

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status