Share

Bab 06

Author: BabaJoe
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-25 08:31:03

Energi tiga persen.

Angka itu masih berputar di kepala Gu Changyuan ketika kapal abadi melaju meninggalkan Kota Nanhua. Dia duduk di kursinya, menatap panel status yang redup di hadapannya.

Dia mencoba memanggil fungsi navigasi sekali lagi.

Tidak ada respons.

"Setidaknya tunjukkan peta wilayah," perintahnya.

Panel itu bergetar pelan, lalu menampilkan garis-garis samar yang tidak lengkap. Sebagian besar wilayah kosong. Hanya beberapa titik yang masih terbaca.

[Data peta tidak lengkap.]

[Energi tidak cukup untuk memuat wilayah penuh.]

Gu Changyuan menutup panel itu.

Sistemnya tidak bisa diandalkan untuk hal-hal besar sekarang. Tapi setidaknya, dia masih punya ingatannya sendiri. Seribu seratus tahun bukan waktu yang singkat, tapi dia tidak pernah melupakan tiga puluh nama. Tidak satu pun.

Dia mengangkat tangannya. Sebuah gulungan kecil muncul di telapaknya. Kertasnya sudah tua, ujungnya sedikit terkikis, tapi tulisannya masih jelas.

Dia membukanya perlahan.

Di dalamnya, daftar nama. Tiga puluh nama. Ditulis dengan tangannya sendiri, seribu tahun lalu.

Dia menatap baris demi baris dalam diam.

Tidak ada gunanya membacanya sekarang. Nama-nama itu tidak akan memberitahu di mana mereka berada. Kalau dia ingin menemukan mereka, dia butuh jejak. Dan jejak ada di kota-kota besar.

Kota Hanhai adalah langkah pertama.

Dia melipat gulungan itu kembali, menyimpannya dengan hati-hati. Lalu memanggil panel sekali lagi — bukan untuk meminta data, hanya untuk memastikan.

[Tersisa: 3%.]

[Penurunan berlanjut.]

Angka itu masih sama, tapi detaknya terasa semakin dekat.

"Aku tahu," gumamnya pelan. "Tunggu aku."

Dia menutup panel.

Urusannya dengan sistem bisa menunggu. Untuk sekarang, yang lebih penting adalah menemukan sekte pertamanya — dan dari sana, dia bisa melacak murid-muridnya.

Kapal abadi terus melaju. Di luar jendela giok, langit perlahan berubah warna. Kota Hanhai sudah dekat.

...

Kota Hanhai jauh lebih megah dibandingkan Kota Nanhua.

Tembok kotanya menjulang puluhan zhang, dibangun dari batu biru tua yang keras. Rune pertahanan menyelimuti seluruh permukaannya, memancarkan tekanan berat yang terasa bahkan dari kejauhan.

Lebih dari selusin penjaga berbaju zirah perak berjaga di gerbang. Kultivasi mereka sebagian besar berada di puncak Alam Jiwa Baru Lahir hingga tahap awal Alam Formasi Jiwa.

Namun semua penjaga itu langsung terpaku ketika kapal abadi hitam raksasa muncul di atas gerbang.

Kapal itu menutupi sebagian besar langit, cahayanya meredup di bawah bayangannya.

Para penjaga saling berpandangan.

Haruskah mereka menghentikannya? Tugas mereka memeriksa setiap yang masuk. Tapi kapal sebesar ini jelas bukan milik faksi biasa. Menghentikannya sama saja dengan mencari mati.

Saat mereka masih ragu, kapal itu justru berhenti ratusan meter di atas gerbang — tidak menerobos masuk tanpa izin.

Gu Changyuan berdiri di dekat jendela giok, mengamati keadaan di bawah. Tatapannya berhenti pada seorang pria paruh baya bertubuh tinggi, zirahnya sedikit berbeda dari yang lain.

Kapten.

Gu Changyuan mengangkat tangan. Sedikit kekuatan ruang menyebar — halus, tak terasa.

Dalam sekejap, kapten penjaga menghilang dari tempatnya.

Ketika penglihatannya kembali jelas, dia sudah berdiri di ruangan luas di dalam kapal abadi. Gu Changyuan duduk tenang di hadapannya.

Kapten itu spontan mencengkeram gagang pedang. Tapi sebelum bergerak, dia menyadari seluruh tubuhnya terkunci — tidak bisa bergerak sedikit pun. Wajahnya pucat. Dia bahkan tidak merasakan kapan dirinya dipindahkan.

"Siapa faksi terkuat di Kota Hanhai?" tanya Gu Changyuan tenang.

Di luar jendela, pemandangan kota perlahan berputar. Dalam sekejap, seluruh tata letak terlihat jelas — istana, pasar, pagoda, kediaman keluarga besar.

Kapten menelan ludah. Kemampuan seperti ini jauh di luar jangkauannya.

"Senior... faksi terkuat di sini adalah Keluarga Meng." Dia menunjuk kawasan luas di utara. "Di sana. Mereka menguasai sebagian besar perdagangan di kota ini."

Di kejauhan, sebuah pagoda berwarna cyan menjulang seratus zhang di tengah kompleks paviliun yang saling terhubung. Cahaya spiritual yang pekat melingkupinya.

"Keluarga Meng..." Gu Changyuan mengangguk. "Terima kasih. Kamu boleh kembali."

Sebelum kapten sempat bertanya, pandangannya berputar lagi. Seketika, dia sudah berdiri kembali di menara gerbang. Rekan-rekannya menatapnya bingung.

Sesuatu jatuh ke telapak tangannya.

Sebuah potongan giok putih yang memancarkan energi murni.

"Sumsum Spiritual Gengjin?" bisiknya tak percaya. Benda bernilai tinggi ini diberikan begitu saja. Bukan suap — tapi ucapan terima kasih atas jawaban yang jujur.

Dia menunduk dalam, menatap langit yang kini sudah bersih kembali.

Sementara itu, di atas kapal abadi.

"Ke Keluarga Meng," perintah Gu Changyuan.

Rune pada lambung kapal menyala lembut. Kapal berbelok perlahan, melaju menuju kawasan utara kota.

Gu Changyuan berdiri di dekat jendela, memandang pagoda cyan yang makin dekat. Cahaya spiritualnya terlalu pekat untuk kota di perbatasan.

Dia menutup matanya sejenak, lalu melepaskan indra ilahinya — kemampuan yang selalu dia andalkan saat memasuki tempat asing.

Satu kultivator Alam Integrasi Tubuh tahap awal. Beberapa Alam Pemurnian Kekosongan. Belasan Alam Formasi Jiwa. Kekuatan yang wajar untuk keluarga besar di kota ini.

Namun ada yang tidak wajar.

Di aula utama, empat orang dengan aura asing. Mereka berdiri tegak, jarang bergerak. Disiplin mereka terlalu rapi — seperti pengawal elit, bukan tamu biasa.

Dan di tengah mereka, duduk seorang gadis muda. Kultivasinya rendah — baru puncak Alam Inti Emas. Tapi auranya berbeda. Berkelas, halus, dan memancarkan martabat yang tidak dipelajari dalam semalam.

Gu Changyuan membuka matanya.

"Tamu," gumamnya pelan.

Seseorang yang penting. Seseorang yang tidak seharusnya berada di kota kecil seperti ini.

Dia menatap pagoda itu sekali lagi.

Keluarga Meng tampak seperti keluarga kaya biasa. Tapi di balik tembok tinggi itu, ada sesuatu yang disembunyikan.

Kapal abadi mulai menurun, bayangannya perlahan menutupi kompleks di bawah.

"Kita lihat saja," katanya pelan. "Siapa yang begitu penting hingga dijaga oleh empat ahli tingkat tinggi."

 

 ---

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kembalinya Sang Leluhur Setelah 1.100 Tahun   Bab 08

    "Ini... apakah ini Alam Mahayana Puncak? Tidak... ini bahkan lebih tinggi!"Hati Su Ming bergejolak hebat. Sebagai kultivator tingkat menengah di Alam Integrasi Tubuh, bahkan ketika menghadapi leluhur Mahayana dari klannya, dia masih mampu berdiri tegak meski merasakan tekanan. Namun kali ini berbeda. Dia benar-benar merasa tidak berdaya untuk melawan.Aura yang menekannya seolah mengandung kehendak hukum tingkat tinggi. Sesuatu yang jauh di luar pemahamannya, sesuatu yang membangkitkan dorongan primal untuk bersujud dari lubuk jiwanya yang paling dalam.Dia tahu dirinya sama sekali bukan tandingan orang ini.Bahkan seluruh keluarga Su... mungkin tidak akan mampu menghasilkan sosok yang bisa menandinginya.Tepat saat Meng Canglan hampir menangis dan Su Ming hampir terpaksa keluar dari persembunyiannya untuk berlutut, aura yang terasa seperti akan menghancurkan dunia itu surut secepat datangnya.Datangnya cepat. Hilangny

  • Kembalinya Sang Leluhur Setelah 1.100 Tahun   Bab 07

    Saat ini, di kediaman besar keluarga Meng, suasana di aula utama tampak tenang.Di kursi kehormatan duduk kepala keluarga Meng, Meng Canglan. Pria itu tampak berusia sekitar lima puluh tahun, dengan wajah persegi, janggut pendek, dan jubah brokat biru tua. Auranya tenang, menunjukkan bahwa ia telah mencapai tahap awal Alam Integrasi Tubuh. Namun, di balik senyum terukurnya, terselip sedikit kewaspadaan.Di kursi tamu utama duduk seorang gadis berusia sekitar enam belas tahun. Ia mengenakan gaun kuning pucat dengan sulaman awan dan bangau di bagian bawahnya. Wajahnya cantik, tetapi sikapnya membawa keangkuhan khas seseorang yang lahir dari klan besar.Namanya Su Wanqing, Nona Keempat keluarga Su.Meskipun kultivasinya baru berada di puncak Alam Inti Emas, seluruh anggota keluarga Meng yang hadir memperlakukannya dengan penuh hormat. Bahkan Meng Canglan sendiri menunjukkan sedikit sikap merendah.Alasannya sederhana. Keluarga Su merupakan salah satu kekuatan besar di bagian timur Benua

  • Kembalinya Sang Leluhur Setelah 1.100 Tahun   Bab 06

    Energi tiga persen.Angka itu masih berputar di kepala Gu Changyuan ketika kapal abadi melaju meninggalkan Kota Nanhua. Dia duduk di kursinya, menatap panel status yang redup di hadapannya.Dia mencoba memanggil fungsi navigasi sekali lagi.Tidak ada respons."Setidaknya tunjukkan peta wilayah," perintahnya.Panel itu bergetar pelan, lalu menampilkan garis-garis samar yang tidak lengkap. Sebagian besar wilayah kosong. Hanya beberapa titik yang masih terbaca.[Data peta tidak lengkap.][Energi tidak cukup untuk memuat wilayah penuh.]Gu Changyuan menutup panel itu.Sistemnya tidak bisa diandalkan untuk hal-hal besar sekarang. Tapi setidaknya, dia masih punya ingatannya sendiri. Seribu seratus tahun bukan waktu yang singkat, tapi dia tidak pernah melupakan tiga puluh nama. Tidak satu pun.Dia mengangkat tangannya. Sebuah gulungan kecil muncul di telapaknya. Kertasnya sudah tua, ujungnya sedikit terkikis, tapi tulisannya masih jelas.Dia membukanya perlahan.Di dalamnya, daftar nama. Tig

  • Kembalinya Sang Leluhur Setelah 1.100 Tahun   Bab 05

    Di Kota Nanhua, seorang kultivator yang telah mencapai puncak Alam Jiwa Baru Lahir sudah cukup kuat untuk menguasai sebagian besar wilayah. Keluarga Yun sendiri mampu mempertahankan kedudukannya karena memiliki beberapa ahli pada tingkat tersebut. Namun, keadaan akan berubah begitu seseorang meninggalkan wilayah Kota Nanhua. Di daerah yang lebih tinggi, kultivator Alam Formasi Jiwa bukan lagi keberadaan langka. Gu Changyuan mendengarkan penjelasan itu tanpa merasa kecewa. Dia memang tidak berharap keluarga yang berada di Kota Nanhua mengetahui jalan menuju Tanah Suci Tianren yang sangat jauh. Melihat ekspresi Gu Changyuan yang tetap tenang, Yun Tian merasa sedikit lega. Namun, sebelum dia sempat menjawab, Yun Shan, sang leluhur, perlahan mengangkat tangan. Setelah berpikir sejenak, dia mengeluarkan sebuah token giok dengan cahaya biru samar. "Senior, meskipun keluarga Yun belum pernah pergi ke Tanah Suci Tianren, leluhur kami dahulu pernah berhubungan dengan beberapa peda

  • Kembalinya Sang Leluhur Setelah 1.100 Tahun   Bab 04

    Di sepanjang perjalanan menuju kediaman Keluarga Yun, pikiran Gu Changyuan masih tertuju pada kertas tua di papan pengumuman itu.Siapa yang menulisnya. Sejak kapan. Dan kenapa.Larut dalam lamunan, tanpa sadar mereka sudah sampai.Kediaman Keluarga Yun berada di distrik timur Kota Nanhua. Kompleks seluas lebih dari seratus hektare itu dipenuhi paviliun dan bangunan tertata rapi. Di kota ini, keluarga Yun termasuk keluarga terpandang.Namun hari itu, suasana jauh dari tenang.Di Aula Awan Biru, para tokoh penting keluarga Yun telah berkumpul. Yun Shan, leluhur keluarga, duduk di kursi utama dengan wajah pucat. Auranya jauh lebih lemah dibandingkan kultivator biasa di puncak Alam Jiwa Baru Lahir.Selama delapan puluh tahun, Yun Shan tidak mampu menembus kemacetan itu. Usianya pun hampir mencapai batas.Lima tetua keluarga duduk di kedua sisi aula. Tidak ada yang berbicara banyak. Semua sedang menunggu kabar dari Yun Qinglan."Jika perjalanan lancar, seharusnya Qinglan sudah hampir samp

  • Kembalinya Sang Leluhur Setelah 1.100 Tahun   Bab 03

    "Ehm." Gu Changyuan berdeham ketika melihat Yun Qinglan terdiam cukup lama.Gadis itu tersentak. Ia baru tersadar dari kebingungannya setelah menoleh ke sekeliling dan menyadari seluruh musuh mereka telah lenyap tanpa sisa.Sambil menekan luka di perut bagian bawah, Yun Qinglan membungkukkan badan hingga sembilan puluh derajat. "Senior, terima kasih atas bantuanmu. Keluarga Yun tidak akan pernah melupakan budi besar ini."Gu Changyuan hanya meliriknya sekilas. "Tidak perlu berterima kasih. Aku tidak bertindak tanpa alasan."Tubuh Yun Qinglan seketika menegang.Kekuatan pria di hadapannya ini benar-benar tidak masuk akal. Elder Ghost Eye dan belasan ahli lainnya musnah hanya karena satu patah kata. Jika Senior ini menginginkan sesuatu yang melampaui kemampuan Keluarga Yun, mereka tidak akan punya pilihan.Yun Qinglan menarik napas dalam, berusaha menenangkan jantungnya yang berpacu cepat. "Boleh... bolehkah Junior tahu apa yang Senior inginkan dari kami?"Melihat raut cemas di wajah g

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status