LOGIN
Langit pagi itu tampak cerah, nyaris tak terlihat setitik awan pun yang menutupi kebiruan langit di sebuah kawasan pantai. Para nelayan tengah asyik-asyiknya menangkap ikan di tengah lautan, tiba-tiba saja terdengar suara bergemuruh disertai munculnya gumpalan angin puting beliung yang diiringi kilatan petir.
Para nelayan yang tadi tengah asyik melaut menangkap ikan terlihat panik, begitu pula dengan para penduduk yang berada di sekitaran pantai itu mereka berhamburan ke luar rumah. Pusaran angin itu seperti menyedot air laut yang dilewatinya, Anehnya meskipun pusaran angin itu sempat melewati permukaan lautan, namun tak ada sedikitpun berdampak membuat lautan itu meluap seperti munculnya gelombang tinggi.
Permukaan laut tetap tenang, hanya di bagian yang dilewati pusaran angin puting beliung itu saja yang menimbulkan riak dan gelombang-gelombang kecil. Di dalam pusaran angin puting beliung itu bukannya air laut yang tersedot dari bawah naik ke atas, melainkan sosok pemuda berpakaian putih yang tubuhnya berputar-putar seiring gerakan memutar angin puting beliung itu.
Melihat dahsyatnya putaran angin puting beliung yang luar biasa besar itu, agaknya pemuda yang digulung tidak akan selamat. Saat pusaran angin merapat ke bibir pantai barulah terlihat jelas dampak angin puting beliung dahsyat itu seperti mengeruk pasir-pasir di tepian pantai lalu menebarkannya di udara, para warga yang berada di pemukiman tidak jauh dari kawasan pantai itu terkejut saat mendengar deruan angin kencang dan atap rumah mereka di terpa hujan pasir.
Mereka segera berhamburan ke luar menyebar ke sagala arah menyelamatkan diri, tak beberapa lama keanehan lainpun tampak karena secara tiba-tiba saja gumpalan angin puting beliung yang menghitam itu lenyap hanya meninggalkan jejak sapuan pasir di tepian pantai tidak sampai mengenai rumah warga di sana.
Di titik pusaran angin puting beliung itu menghilang secara misteri, tampak se sosok pemuda berpakaian putih berambut gondrong memakai ikat kepala berwarna putih, di punggungnya tersandang sebilah pedang yang di ujung gagangnya terlihat ada ukiran menyerupai kepala seekor burung rajawali.
Posisi tubuh pemuda itu tertelungkup, beberapa detik dia nampak menggerakan kepalanya, ia berusaha membuka kedua matanya akan tetapi pandangannya tidak jelas dan seperti berputar-putar, Hingga tubuhnya yang tadi berhasil merangkak kembali jatuh tersungkur tertelungkup di pasir tepian pantai itu.
Jika manusia biasa yang tak memiliki kemampuan apa-apa, sudah dapat ditebak tidak akan selamat digulung segitu dahsyatnya pusaran angin puting beliung itu. Akan tetapi pemuda berpakaian putih itu hanya pingsan, siapa sebenarnya dia? Dan kenapa pula tubuhnya sampai berada di dalam pusaran angin puting beliung itu?
Sosok tubuh pemuda berpakaian putih yang tertelungkup di titik menghilangnya pusaran angin puting beliung itu di temukan oleh seorang pria berumur sekitar 45 tahunan, setelah memeriksa denyut nadi pemuda itu yang ternyata masih hidup, pria nelayan itu pun membopong tubuh pemuda berpakaian putih ke rumahnya yang tak jauh dari titik lenyapnya pusaran angin puting beliung yang dashyat itu.
Setibanya di depan rumah tepatnya di sebuah pendopo tubuh pemuda berpakaian putih itu dibaringkan, kemudian pria nelayan yang di bantu istri dan seorang keponakannya membantu agar pemuda itu siuman dari pingsannya. Pria nelayan menepis-nepis pasir yang melumuri pakaian bagian dada hingga kaki pemuda itu, sementara keponakannya melap wajah pemuda berpakaian putih itu yang mengeluarkan keringat.
“Uhuk..! Uhuk..!”
Terdengar suara batuk yang ke luar dari mulut pemuda berpakaian putih itu, perlahan kedua matanya pun terbuka, Pemuda berambut gondrong berpakaian putih itu perlahan pula berusaha bangkit duduk, kedua matanya ia arahkan lurus ke depan. Meskipun masih tampak samar-samar, namun pandangannya tidak seperti di awal tubuhnya terdampar di tepi pantai tadi.
Begitu penglihatannya sudah cukup jelas, dia baru menyadari jika ada satu orang pria dan dua orang wanita yang berada di samping kanan dan kirinya juga duduk di situ.
Pemuda berpakaian putih itu terkejut dan panik dengan keberadaannya di pendopo rumah itu melihat tiga orang yang tak ia kenali itu.
Beberapa kali pemuda berambut gondrong itu menepik-nepik kepalanya sendiri karena masih terasa sedikit pusing, ia bingung kenapa tiba-tiba saja tubuhnya berada di pendopo rumah itu terakhir ia menyadari berada dalam pusaran angin puting beliung dan terdampar di tempat yang saat itu tak dapat ia lihat dengan jelas.
Namun setelah saling mengenal dan bertanya, akhirnya mereka sama-sama mengerti apa yang baru saja terjadi. Pemuda berpakaian putih itu tidak lain adalah Arya Mandu Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas, sementara tiga orang lainnya yang berada di pendopo yang menolong Arya siuman itu yang pria bernama Wayan Bima sedang dua orang wanita bernama Lasmi dan Sekar.
Arya sangat senang ketika menyadari bahwa dirinya saat ini tidak lagi berada di Negeri Di Atas Awan, melainkan di Negeri Nusantara tepatnya di Desa Kuta di Pulau Dewata setelah dibawa dan digulung pusaran angin puting beliung itu. Melihat kondisi Arya yang masih terlihat pucat dan lemas, Wayan Bima dan keluarganya meminta sang pendekar untuk beristirahat di rumah itu karena sebentar lagi malam akan datang.
Arya menyetujuinya dan dia pun bersedia diajak bertemu dengan kepala Desa Kuta guna melaporkan keberadaannya di desa itu, dan memang begitulah ketentuan di sana setiap ada tamu yang datang menginap harus melapor dulu.
Pada saat bertemu dengan kepala Desa Kuta yang bernama Wijaksa itulah diketahui kalau kehidupan masyarakat desa di sana dan desa-desa lainnya di seluruh kawasan Pulau Dewata itu tertekan dan tertindas, oleh pihak istana Kerajaan yang berkuasa di pulau itu.
Wijaksa menceritakan kalau keluarga Wayan Bima adalah mantan penghuni istana Kerajaan yang tengah berkuasa itu, Kerajaan itu bernama Kerajaan Dharma yang saat ini di pimpin oleh Saka Galuh putra mahkota mendiang raja sebelumnya yang bernama Prabu Swarna Dipa.
Saat kepemimpinan Saka Galuh itulah rakyatnya dibuat menderita, dengan ketentuan upeti yang sangat besar yang harus dibayar setiap bulannya oleh para warga desa, jika tidak dibayar tepat waktu maka pihak istana Kerajaan tidak segan-segan untuk memberi hukuman berat dan menyiksa para warga itu.
“Hemmm, saya memberi nama ajian itu Topan Gunung Pasaman. Ajian itu baru saya pelajari dan sudah dua kali saya keluarkan, pertama memberi pelajaran pada lelaki bejad itu dan yang kedua kalinya tadi,” jawab Datuk Umbara diiringi senyumnya.“Ha..ha..ha..! Baguslah jika kalian telah lengkap berkumpul di sini, jadi saya tak perlu lagi mencari untuk melenyapkan kalian dari muka bumi ini..!” tiba-tiba Setan Tanduk Neraka berbicara lantang.“Hemmm, semasa hidup dan rohmu yang sekarang menumpang ternyata sama-sama jahat Sura Brambang. Kau memang takan pernah berhenti membuat kejahatan sebelum raga dan rohmu benar-benar lenyap,” ujar Datuk Umbara yang membuat Arya dan yang lainnya terkejut, rupanya salah seorang Guru Sang Pendekar selain Nyi Konde Perak yaitu Datuk Umbara tahu mahkluk mengerikan itu adalah jelmaan dari roh Sura Brambang.“Tidak salah lagi jika kau memang dikenal dengan tokoh golongan putih yang sangat sakti, buktinya kau satu-satunya orang yang tahu diri saya sebenarnya. Sekar
“Panglima Suta Soma..!” seru Arya, sosok yang dipanggil memimpin ribuah pemanah itupun tersenyum.“Apa kabar Sobat Arya?” tanya pria yang dipanggil Panglima itu sembari menghampiri.“Baik, loh kenapa Panglima bersama prajurit tiba-tiba bisa hadir di sini?”“Hemmm, jangan terkejut Sobat. Saya mendapatkan kabar jika Sobat Arya akan ke Lembah Neraka ini menumpang Pangeran Durjana dan pengikutnya, yang mulia Prabu Jayabaya memerintahkan saya untuk membantu. Beliau juga berkirim salam padamu,” tutur Suta Soma.“Oh begitu, terima kasih sebelumnya saya ucapkan atas bantuan Panglima dan pasukan Kerajaan Kediri. Padepokan Neraka harus dimusnahkan karena telah membuat keresahan dan penindasan pada Kerajaan-kerajaan kecil di kawasan timur ini yang berimbas pada kesengsaraan rakyat-rakyatnya,” ucap Arya.“Benar Sobat, kabar yang saya dengar juga begitu. Akan tetapi karena dia tak menyentuh daerah kekuasaan Kerajaan Kediri selama ini, makanya kami dari pihak istana tidak pernah bentrok dengan angg
“Deeeeeeees..! Deeeeeees..! Wuuuuuuuus...! Wuuuuuuuuuuus! Traaaaaatap..! Traaaaaaaak! Kraaaaaaaaak..!” belasan anyaman kayu lancip dan bambu runcing menderu ke depan, sebagian menghantam batang berukuran kecil hingga tumbang saat Arya yang melepaskan ajian Membeku Kawah Menembok Gunung itu memutuskan beberapa helai akar yang melintang di jalan.Bidadari Selendang Biru dan Dewa Pengemis yang tadi berada beberapa tombak di belakang seketika melesat menyusul Arya, mereka penasaran apa yang terjadi di depan dengan suara menderu dan beberapa pohon tumbang.“Kamu tidak kenapa-kenapa Arya?” tanya Bidadari Selendang Biru saat tiba di samping kekasihnya itu, Arya hanya tersenyum sembari mengeleng-gelengkan kepala.“Wah..! Ternyata di bagian dalam ini banyak sekali perangkap yang sangat berbahaya, kalau saja tadi kamu tak mencegah para pasukan untuk masuk mungkin sebagian dari mereka bakal tewas sia-sia di sini,” ujar Dewa Pengemis begitu melihat belasan anyaman kayu dan bambu-bambu runcing yan
“Bisa jadi Sobat Arya, kalau tidak mana mungkin dia memilih padepokan itu,” ujar Satrio Mandalu yang ternyata tidak pernah ke Padepokan Neraka itu.Percakapan di ruangan kebesaran yang selama ini ditempati Gandika Ireng berakhir saat malam semakin larut, Arya dan para sahabat termasuk Raja Kerajaan Mandalu serta Bidadari Selendang Biru menempati beberapa kamar yang ada di istana Kerajaan Perisai Timur itu. Sementara di luar istana ribuan prajurit yang juga termasuk prajurit Kerajaan Perisai Timur yang telah ditundukan, bergabung berjaga-jaga secara bergiliran mulai dari keliling istana hingga di depan pintu gerbang.Pagi itu cuaca mendung meskipun belum turun hujan namun gerimis sudah mulai mengembuni dedaunan, Dipo Geni dan sebagian besar murid Padepokan Neraka tampak bergerak menyebar ke penjuru jalan masuk ke kawasan padepokan untuk memasang perangkap yang telah diperintahkan Pangeran Durjana.Perangkap itu sendiri bermacam-macam bentuknya, mulai dari berupa kerangkeng yang begitu
“Sabar Baginda, Padepokan Neraka tidak seperti Kerajaan Perisai Timur ini. Di samping jumlah anggota padepokan dua kali lipat lebih banyak, mereka juga lebih terampil dan kuat dalam perperangan di bandingkan para prajurit istana ini. Untuk itu kita harus terlebih dahulu menyusun strategi dan mencari waktu yang tepat untuk bergerak,” jelas Arya.“Baik Sobat Arya, lantas bagaimana dengan Kerajaan Perisai Timur yang telah kita taklukan ini?” kembali Satrio Mandalu bertanya.“Saya serahkan sepenuhnya pada Baginda bagaimana baiknya, jika memang Kerajaan ini akan tetap berlanjut Baginda musti mengangkat pemimpin yang tepat. Yang jelas siapapun pemimpin yang akan Baginda tunjuk nantinya dapat dipercaya dan bertindak bijaksana pada rakyat,” tutur Arya.“Tentu saja Sobatku, saya akan memilih pemimpin yang tepat nantinya untuk menjadi Raja di Kerajaan Perisai Timur ini. Untuk sementara waktu menjelang saya dapatkan itu Kerajaan ini akan berada dalam pengawasan dan kendali Kerajaan Mandalu,” uja
“Benar Kangmas, terakhir kita bertemu saat Kangmas berkunjung ke istana beberapa bulan yang lalu.”“Tumben kamu yang datang sendiri ke sini? Biasanya hanya mengirimkan utusan jika ada sesuatu hal yang hendak disampaikan. Ada gerangan apa Gandika Ireng?” tanya Pangeran Durjana.“Maaf sebelumnya Kangmas, saya sengaja datang langsung ke sini karena ada hal penting yang hendak saya sampaikan,” ujar Gandika Ireng.“Katakanlah hal apakah itu?”“Beberapa waktu yang lalu Satrio Mandalu mengutus salah seorang utusannya ke istana, tujuannya mengundang saya datang untuk merencanakan sesuatu hal yang buruk terhadap Kangmas dan Padepokan Neraka ini.”“Merencanakan sesuatu hal yang buruk?!” Pangeran Durjana tampak penasaran.“Benar Kangmas, Satrio Mandalu berniat memberontak pada Kangmas dan Padepokan Neraka.”“Apa..?! Kurang ajar sekali dia..! Berani-beraninya menyusun rencana untuk melawanku..!” Pangeran Durjana terkejut dan langsung murka.“Saya sempat menangkap dan menahan utusan itu di penjara







