LOGINGavin masuk ke kamar Xienna dengan membawakan makan malam. Alih-alih membawa ke vila atau hotel, Gavin membawa Xienna ke sebuah rumah berlantai dua yang terdaftar sebagai aset Abimana agar Ailyn atau Arnold tak menemukan gadis itu. Saat Gavin tiba, ia melihat makanan yang ia antarkan tadi siang masih utuh."Jika ingin bayi kamu selamat, kamu harus makan."Teguran Gavin kini terasa sangat dingin. Hubungan mereka seolah benar-benar sudah berakhir. Sebenarnya Xienna sedikit menyesali keputusannya. Ia tak memiliki tempat tujuan dan hanya Gavin yang ada dalam pikirannya saat itu. Tapi bahkan Gavin tak pernah menyangkal semua tuduhan jika dia hanya memanfaatkan Xienna."Saya akan kembali ke Jerman, kamu mau ikut dengan saya?"Xienna memandang Gavin, tampak ragu-ragu sebelum berbicara. "Om cukup kasih aku uang, aku bisa berjuang sendiri.""Kamu menyesal datang ke tempat saya?"Xienna mengangguk tanpa ragu. "Udah jelas Om Gavin cuma manfaatin aku, tapi aku justru mengemis perhatian Om Gavin.
"Kamu sudah berbicara dengan Xienna?" tegur Arnold saat keluar dari kamar mandi."Setuju atau nggak, dia harus menggugurkan kandungannya, Mas," sahut Ailyn."Apa karena itu anak Gavin?" celetuk Arnold.Ailyn menatap tak terima, semua orang hanya bisa menghakiminya tanpa mencari tahu bagaimana penderitaannya."Jika itu bukan anak Gavin, apa kamu akan tetap memaksa Xienna untuk aborsi?" lanjut Arnold."Kalian berpikir seperti itu karena hanya aku yang punya kekurangan di sini, Mas. Padahal aku nggak pernah berselingkuh dengan Gavin. Aku justru meninggalkan Gavin dan menikah sama kamu. Kenapa selalu pihak perempuan yang dihakimi? Pihak laki-laki hanya bisa menuntut."Arnold memalingkan wajah dan menghela napas. Ia tahu bahwa jika pembicaraan dilanjutkan, Ailyn akan mengungkit perselingkuhannya. Ia pun mengalah dan memilih pergi. Arnold bergegas mengecek keadaan Xienna. Tapi pagi itu Arnold menemukan kamar putrinya dalam keadaan kosong."Xienna, Xienna..."Arnold memeriksa balkon dan kama
Pagi itu publik dihebohkan dengan berita anak seorang pejabat yang masih SMA hamil di luar nikah. Entah siapa yang memulai rumor tersebut, Arnold segera mengambil tindakan sebelum publik tahu tentang kehamilan putrinya.Arnold masuk ke kamar Xienna dan mengacak-ngacak kamar putrinya. Memasukkan pakaian Xienna ke dalam koper secara asal-asalan. Sementara Xienna hanya duduk diam di tepi ranjang dengan tatapan kosong.Ailyn masuk dan langsung menegur Arnold. "Mas, kamu ngapain?""Orang-orang sudah tahu tentang kehamilan Xienna. Mau tidak mau dia harus pergi sekarang.""Mas, Xienna baru pulang dan kamu mau mengusir Xienna lagi?""Aku bukannya mengusir, Xienna akan tinggal dan melahirkan di luar negeri.""Mas, Xienna itu juga anak aku. Kamu nggak bisa memutuskan semuanya sendirian." Ailyn tak terima, merasa tak dihargai.Arnold lantas berdiri berhadapan dengan Ailyn. "Terus kamu mau apa? Kamu punya solusi? Jika karir aku hancur, keluarga kita juga hancur. Aku hanya ingin melindungi anak ki
Gavin terbangun dari tidur lelapnya, menyadari jika Xienna tak lagi berada di sisinya. Gavin pun beranjak meninggalkan kamar untuk mencari keberadaan Xienna hingga ia menemukan sosok yang ia cari tengah berdiri di balkon yang menyatu dengan ruang bersantai di lantai atas.Gavin mendekat dan langsung memeluk sosok yang ia yakini sebagai Xienna itu dari belakang."Saya pikir kamu ke mana.""Kamu serius dengan ini?" tegur Ailyn.Gavin yang terkejut sontak melangkah mundur. Setelah dilihat kembali ia menyadari jika yang baru saja ia peluk bukannya Xienna, melainkan Ailyn."Di mana Xienna?""Kamu nggak akan bisa melihat Xienna lagi."Tak ingin mendengarkan Ailyn, Gavin hendak bergegas ke lantai bawah."Xienna pergi dengan papanya," celetuk Ailyn yang menghentikan langkah Gavin.Gavin berbalik menghampiri Ailyn. "Apa yang sedang kamu rencanakan?""Aku bahkan nggak tahu harus apa setelah semua ini.""Kamu berniat membunuh anak itu."Ailyn tampak kaget."Kamu memaksa Xienna menggugurkan kandu
Arnold masuk ke kamar dan menemukan Ailyn yang mengurung diri di sana sejak kepergian Xienna. Ailyn hanya duduk di atas ranjang tanpa makan atau pun minum. Bayangan terakhir kepergian Xienna dengan Gavin membayangi batinnya hingga bahkan ia tak mampu untuk tidur. "Di mana bajingan itu?" tegur Arnold dengan tenang. "Kamu udah mengusir anak kita, Mas. Untuk apa lagi kamu mencari Gavin?" "Kamu pikir dengan mengusir Xienna masalah ini bisa selesai?" "Lalu kenapa kamu mengusir anak kamu sendiri? Xienna baru lulus SMA dan dia hamil. Kalau kamu peduli dengan nama baik kamu, seharusnya kamu melindungi Xienna, bukan malah mengusir anak kita. Jika sampai orang tahu Xienna berkeliaran di luar dalam keadaan hamil, siapa yang akan rugi?" Ucapan Ailyn menjadi pukulan besar bagi Arnold. Ia baru sadar atas kecerobohannya. Karena kemarahannya ia menjadi gelap mata dan mengusir Xienna. "Kamu jemput Xienna, kita bisa mengugurkan kandungannya," celetuk Ailyn. Arnold sempat terkejut tapi tak menent
Xienna menyeret kopernya meninggalkan halaman rumah. Namun, tak jauh berjalan langkahnya terhenti ketika ia melihat mobil yang tak asing berhenti di tengah jalan. Si pengemudi kemudian keluar, membuat Xienna sedikit lega kala Gavin muncul di hadapannya.Tanpa terburu-buru, Xienna berjalan ke tempat Gavin dan berdiri di hadapan pria itu."Om Gavin datang buat aku?"Tanpa ada kata yang terucap, Gavin segera memeluk Xienna seolah ingin memberikan penghiburan setelah masa sulit yang dihadapi oleh gadis itu."Sekarang kamu ikut saya."Gavin memasukkan koper Xienna ke bagasi dan membukakan pintu mobil untuk Xienna. Kala itu Ailyn keluar ke jalan, berniat menahan Xienna. Wanita itu sedikit terkejut saat melihat Gavin bersama dengan putrinya."Xienna!""Kita pergi sekarang, Om," ujar Xienna.Gavin bergegas masuk ke mobil dan pergi melewati Ailyn."Gavin, tunggu! Berhenti! Kamu bawa Xienna ke mana? Berhenti!" teriak Ailyn, tapi sudah terlambat."Kenapa Om baru muncul sekarang?" Xienna membuka







