Kembalinya Sang Pewaris : Obsesi Tuan Muda Yang Berbahaya
"Om, aku kalah taruhan. Om Gavin mau, kan tidur sama aku?!" Sebuah kalimat lolos dari bibir Xienna. Bukan hanya pertanyaan, tapi juga sebuah paksaan.
Gavin Nathaniel Garth kembali setelah pengusirannya sembilan belas tahun yang lalu. Terlibat perseteruan dengan sang kakak, Gavin justru terjebak dalam cinta terlarang bersama dengan keponakannya sendiri.
Ditunjuk sebagai pewaris Group Raharja, di tengah polemiknya dengan keluarga kakaknya, Gavin harus menghadapi keserakahan pamannya yang berusaha menyingkirkannya sebagai pewaris Group Raharja.
Xienna, gadis yang baru beranjak dewasa itu mengambil keputusan paling buruk dalam hidupnya dengan masuk ke dalam kehidupan Gavin yang gelap.
Ketika sebuah kisah terungkap, obsesi sang Tuan Muda menghancurkan hidup Xienna. Memberikan dua pilihan bagi gadis itu, pergi dan hancur sendiri atau bertahan dan dihancurkan oleh obsesi sang Tuan Muda.
Baca
Chapter: Bab 57 : Episode Terakhir"Jangan diam dan jelaskan semuanya, Om," tuntut Gavin. Aiden tertunduk seolah tak bisa menyangkal hingga pada akhirnya ia membuat sebuah pengakuan. "Om memang ayah kandung kamu." Gavin meraih vas bunga di atas meja dan membantingnya ke lantai sebagai ungkapan kemarahan. "Dari semua orang, kenapa harus Om Aiden? Ini bahkan lebih buruk dari menjadi anak seorang simpanan. Kenapa Om bisa setega ini? Sekarang bagaimana aku bisa berhadapan dengan Tante Mitha? Apa Tante Mitha tahu soal ini?" Aiden memandang penuh sesal. "Semua ini salah om. Kamu bisa membenci om sepuas kamu. Seandainya om dulu lebih berani bertanggungjawab." "Berani menyakiti Tante Mitha," celetuk Gavin mengoreksi. Ia tak terima. Selama ini hanya Mitha yang memperlakukannya layaknya keluarga. Tapi rahasia kelahirannya justru akan menyakiti wanita itu. Bagaimana Gavin bisa berhadapan dengan wanita itu setelah ini. "Tante kamu tidak boleh tahu, dia tidak akan tahu." "Bukan hanya menjadi wanita simpanan, mama aku juga m
Terakhir Diperbarui: 2026-01-28
Chapter: Bab 56 : Kejahatan Yang TerungkapSatu minggu setelah kematian Abimana Raharja, Anthony mengadakan rapat pemegang saham untuk mengambil alih perusahaan secara resmi. Di depan pintu masuk, Anthony bertemu dengan Aiden. Keduanya berseteru setelah kematian Abimana."Kita hanya seorang menantu, ada baiknya kita tahu batasan," ujar Aiden menyindir."Tetap pada batasan yang kamu buat sendiri. Pada faktanya saya yang mengembangkan perusahaan ini, bukan anak haram yang sudah mati itu."Aiden tampak geram, tapi ia tak memiliki kuasa untuk menggulingkan Anthony."Kamu akan mendapatkan balasan yang pantas.""Balasan untuk apa? Kamu bicara seolah sayang telah melakukan hal yang buruk.""Kecelakaan yang menimpa Gavin, bukankah itu rencana kamu? Dan orang terakhir yang bertemu papa sebelum ditemukan meninggal itu juga kamu. Jangan kamu pikir saya tidak tahu.""Jadi apanya yang berbeda. Kamu han6a sekadar tahu. Jika memang ada bukti, seret saya ke pengadilan!" tandas Anthony sebelum meninggalkan Aiden.Aiden menghela napas, tampak s
Terakhir Diperbarui: 2026-01-26
Chapter: Bab 55 : Kabar Buruk Yang Tak Seharusnya DidengarXienna menangis di ruang tunggu rumah sakit. Di dalam ruang operasi, Gavin tengah berjuang dalam masa sulitnya. Xienna menyesal, menganggap bahwa kecelakaan itu terjadi karena dirinya. Jika seandainya ia tidak bertengkar dengan Gavin dan memaksa untuk turun, mungkin kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi. Kini, Xienna hanya bisa menangis tanpa suara dengan tangan gemetar. Langkah Ailyn terhenti ketika ia melihat putrinya. Di belakangnya, Allan berdiri. Setelah Gavin memasuki ruang operasi, Allan segera menghubungi Ailyn dan begitulah cara Ailyn menemukan putrinya kali ini. Dalam satu helaan napas pelan Ailyn lantas menghampiri Xienna dan menyentuh bahu putrinya."Mama? Mama... Om Gavin..." Xienna kembali menangis."Kita pulang sekarang." Xienna menggeleng. "Nggak, Om Gavin gimana? Aku nggak mau pulang. Aku mau di sini." "Kamu jangan keras kepala. Percuma kamu di sini, Gavin nggak akan kembali." Batin Xienna tersentak hingga menghentikan tangisnya. "Maksud Mama apa?" Ailyn sempa
Terakhir Diperbarui: 2026-01-21
Chapter: Bab 54 : Kehancuran ArnoldXienna mondar-mandir di ruang tamu sembari sesekali memperhatikan jam dinding. Penerbangan mereka sekitar dua jam lagi, tapi Gavin belum juga pulang sejak kepergiannya kemarin. Xienna berulang kali mencoba untuk menghubungi Gavin, tapi tak ada jawaban. Muncul sedikit kekhawatiran, mungkinkah ia ditinggalkan lagi.Sementara itu, di rumah sakit Arnold siuman. Menyadari jika ia terbaring di ranjang pasien tentu saja membuatnya bingung dan kala itu Aiden masuk."Anda?""Bersyukurlah karena kamu masih hidup pagi ini," ujar Aiden dengan dingin.Arnold teringat apa yang terjadi semalam. Apakah Gavin yang membawanya ke sana."Di mana keponakan anda?""Jika dia masih di sini, kamu tidak akan bisa bangun lagi."Arnold buru-buru mengangkat bajunya untuk memeriksa perutnya. Ada rasa lega saat ia mendapati tidak terjadi sesuatu pada perutnya."Jika kamu manusia, seharusnya kamu memiliki sedikit saja rasa malu. Apa yang sudah keluarga kamu lakukan pada Gavin, seharusnya kamu membayarnya semalam.""
Terakhir Diperbarui: 2026-01-18
Chapter: Bab 53 : Rasa Sakit Yang Sia-sia"Apa maksud Om Aiden?" Wajah Aiden gelisah. Tak ingin jika Gavin melakukan kesalahan besar, pada akhirnya Aiden membuka rahasia besar keluarga Gavin sembilan belas tahun yang lalu. "Darah kalian tidak cocok." Gavin menatap tak percaya. "Itu konyol." "Terjadi komplikasi pasca operasi, Arnold harus mencari pendonor lain. Dan ginjal yang saat ini ada di tubuhnya, itu bukan milik kamu. Itu milik orang lain." Gavin tertegun, otaknya yang dipenuhi kebencian tiba-tiba terasa kosong. Setelah semua kesulitan yang ia alami, ia justru dihadapkan dengan fakta yang konyol. "Itu nggak mungkin, aku saudaranya, aku adik Kak Arnold. Kecuali aku bukan anak papa." Aiden mencengkram kedua lengan Gavin. "Kamu dengarkan om baik-baik, kamu memang bukan anak orang itu." Dahi Gavin mengernyit, ia mengambil satu langkah mundur dengan ragu. "Sejak awal kamu dan Arnold memang tidak memiliki hubungan darah." Gavin menggeleng pelan. "Om pasti salah." "Orang itu menikahi ibu kamu saat ibu kamu sedang men
Terakhir Diperbarui: 2026-01-12
Chapter: Bab 52 : Pembalasan Yang SesungguhnyaSebuah panggilan masuk ke ponsel Gavin. Pandangan Gavin beralih pada sosok Xienna yang berada tidak jauh darinya saat ia melihat nama Ailyn di layar ponselnya. Dia sudah mendapatkan panggilan, itu berarti Ailyn dan Arnold sudah tahu ke mana putrinya pergi. Gavin kemudian bangkit dan pergi menjauh seraya menjawab panggilan tersebut."Bajingan kamu Gavin! Kembalikan putri saya!" hardik Arnold begitu telepon tersambung.Gavin tak terkejut seolah sudah menduganya. Karena ia memblokir nomor Arnold, Arnold pasti mencari cara lain untuk menghubunginya."Kalau begitu kita harus bertemu," gumam Gavin yang kemudian masuk ke kamarnya."Om Gavin mau pergi ke mana?" tegur Xienna ketika melihat Gavin hendak pergi."Mengambil beberapa barang. Besok kita pergi ke Jerman.""Besok?" Xienna kaget karena terlalu mendadak."Kamu nggak perlu membawa barang apapun, semua keperluan kamu sudah ada di sana. Saya pergi dulu."Saat langit sudah gelap, mobil Arnold memasuki ruang parkir bawah tanah sebuah gedung
Terakhir Diperbarui: 2026-01-11

Menjadi Orang Ketiga Di Hubungan Suamiku
Karina Atmajaya memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya pada usia 20 tahun dengan menikah bersama laki-laki yang lima tahun lebih tua darinya yang bernama Haris Ghaffari Dananjaya. Berawal dari sebuah perjodohan, keduanya menjalani rumah tangga yang harmonis. Namun, sayangnya. Setelah tujuh tahun usia pernikahan mereka, Karina baru mengetahui bahwa suaminya tak sebaik yang ia kenal selama ini.
Haris berselingkuh dengan rekan sesama dokter di rumah sakit tempat pria bekerja. Dan karena pengkhianatan Haris, rumah tangga mereka menemukan akhir yang menyedihkan.
Karina menggugat cerai dan bodohnya Haris menerima gugatan itu. Karina berpikir bahwa ia bisa segera memulai hidup baru setelah bercerai dengan Haris. Namun, takdir berkata lain. Beberapa hari setelah menyandang status baru, Karina dikejutkan dengan fakta bahwa dia tengah mengandung calon anak Haris.
Di tengah kegelisahan hatinya, Karina memutuskan untuk pergi jauh dari Haris dan merawat calon anaknya itu sendirian. Namun, sekali lagi takdir berkata lain. Di saat Karina sudah menentukan jalan yang akan ia tuju, kala itu Haris justru berdiri di ujung jalan itu.
Haris mengetahui tentang kehamilan Karina. Lalu apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Akankah Haris mengabaikan calon anaknya sendiri dan menjauh dari Karina?
Bisakah Karina tetap pada keputusan awalnya?
Baca
Chapter: Bab 10 : Pelarian KarinaPagi itu Haris bertamu ke rumah mantan mertuanya dan kebetulan Karina lah yang masih di rumah dan membuka pintu. Tampak kaget melihat kedatangan Haris, Karina menahan pintu seolah tak mengizinkan Haris bertamu. "Ada perlu apa, Mas?" tegur Karina dengan dingin. "Kita perlu bicara." "Silakan bicara di sini." "Kamu hamil?" Karina terkejut tapi ia justru bergeming. "Dari mana Mas Haris tahu?" gumam Karina dalam hati. "Jawab pertanyaanku, Karina." "Itu bukan urusan kamu, kita sudah bercerai." Karina hendak menutup pintu tapi Haris langsung menahan pintu. "Aku bukan istri kamu lagi, Mas!" tandas Karina. "Tapi anak itu adalah anakku!" balas Haris. Karina berusaha menutup pintu dan Haris mendorong pintu terlalu keras hingga membuat Karina hampir terjatuh. Dengan sigap Haris menahan pinggang Karina. Keduanya bertatap muka tapi Karina langsung berpaling dan menjauh. "Kamu pergi sekarang, aku nggak mau berurusan dengan kamu lagi." "Kenapa kamu merahasiakan hal ini? Aku ayahnya, aku
Terakhir Diperbarui: 2025-12-16
Chapter: Bab 9 : Terhubung Dengan Dua Garis BiruSetelah skandal memalukan itu, Haris mengambil cuti selama dua bulan untuk menenangkan publik. Sementara Karina, ia menjalani kembali pada kehidupan lamanya. Menjadi seorang putri tunggal yang mendapatkan seluruh kasih sayang dari ibunya. Karina menyibukkan diri dengan membantu di klinik ibunya. Tapi hari itu Karina menetap di rumah karena merasa kurang enak badan. Duduk di tepi ranjang, Karina memandang kalender yang berada di atas nakas. Kesedihan yang mulai terpendam membuatnya menyadari sesuatu yang cukup fatal. Membuka laci, Karina mengambil alat tes kehamilan yang ia beli kemarin. Setelah hari yang berat terlewati, Karina menyadari bahwa ia sudah melewatkan beberapa minggu dari tanggal merahnya. Dengan hati yang kacau Karina pergi ke kamar mandi. Dalam situasi ini Karina berpikir bahwa mungkin lebih baik jika ia memiliki suatu penyakit dibandingkan dengan harus melihat dua garis biru di dalam hidupnya. Namun, hidup Karina tak berjalan sesuai keinginannya. Dengan hati yang gu
Terakhir Diperbarui: 2025-03-04
Chapter: Bab 8 : Kehancuran Yang AdilMalam itu Karina tiba di halaman rumah ibunya. Hatinya terasa berat untuk mengadu kesakitan yang selama ini ia pendam sendirian. Pintu utama terbuka, Nathalia menyambut kedatangan putrinya dengan wajah suram tanpa senyuman. Tak ada pilihan lain, Karina kemudian datang mendekat dan langsung mendapatkan pelukan dari sang ibu. Karina berpikir bahwa hatinya sudah cukup kuat. Tapi pada akhirnya semua pertahanan yang ia bangun sendirian hancur dengan begitu mudahnya ketika ia kembali ke sandaran pertamanya. Di hadapan sang ibu, Karina kembali menangis seolah-olah itu adalah pengaduan terbaik uang bisa ia lakukan pada saat ini. Nathalia membawa putrinya masuk, menutup pintu rapat-rapat agar tak ada yang bisa mengusik putrinya. Keduanya duduk berdampingan di ruang tamu dan Karina sudah cukup tenang. Hanya saja ia tak berani mengangkat pandangannya. "Mama sudah mendengar semuanya dari Pak Brata. Kamu dan Haris sudah bercerai." "Aku minta maaf, Ma," ujar Karina, masih tak berani memandang s
Terakhir Diperbarui: 2025-03-03
Chapter: Bab 7 : Done For MeKarina kembali ke hotel tempat ia menginap setelah mengurus berkas perceraiannya. Berdiri menghadap jendela, Karina memandang kota dengan hati yang kosong. Dalam sekejap, kebahagiaan yang ia anggap sempurna langsung hancur tak bersisa. Hingga detik ini Karina masih belum bisa berkata jujur pada sang ibu. Hatinya belum siap. Karena ia pasti akan menangis jika sampai ibunya tahu tentang rumah tangganya yang hancur. Dalam situasi ini, Karina tak ingin menangis sendirian lagi. Bel pintu berbunyi. Karina bergegas membuka pintu, berpikir bahwa pesanannya beberapa waktu yang lalu sudah datang. Namun, ketika pintu terbuka, sebuah kejutan kecil datang. Lisa tiba-tiba masuk dan langsung menampar wajah Karina. "Kurang ajar kamu! Begini cara kamu balas dendam?!" hardik Lisa. Karina menghela napas pelan. Sesaat kemudian ia menampar balik wajah Lisa. "akh!" pekik Lisa. "Harusnya aku yang datang ke tempat kamu, bukan kamu yang datang ke sini!" Karina balas menghardik. "Karina!" Lisa menggeram.
Terakhir Diperbarui: 2024-05-17
Chapter: Bab 6 : Memulangkan SuamiJulia mengobati luka yang didapatkan oleh Haris. Haris sepertinya tak lagi memiliki muka untuk muncul di hadapan Julia hingga ia terus menghindari kontak mata dengan wanita itu. Julia lantas menarik dagu Haris, berniat mengobati sisi yang disembunyikan oleh Haris dan hal itu membuat pandangan mereka sempat beradu."Syukurlah kalau kamu masih punya rasa malu," ujar Julia tak acuh.Haris menahan tangan Julia. "Kamu boleh pergi.""Semua orang udah tahu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"Haris melepaskan tangan Julia dan berpaling, mengambil kaca matanya dan mengenakannya kembali. Ia menyahut, "itu bukan urusan kamu.""Kamu masih nggak tahu atau hanya pura-pura?"Haris terdiam memandang Julia."Aku khawatir," ujar Julia."Aku bukan orang yang pantas untuk kamu khawatirkan."Sebuah panggilan masuk ke ponsel Haris, terlihat sang ayah memanggil. Ia pun bangkit dan berbicara pada Julia untuk kali terakhir."Kita hanya perlu menjadi orang asing waktu bertemu."Haris kemudian meninggalkan J
Terakhir Diperbarui: 2023-09-25
Chapter: Bab 5 : Tak Pantas Diperjuangkan"Ceraikan aku, atau aku yang gugat kamu."Haris terdiam, sementara air mata Karina sudah mulai berjatuhan meski wanita itu berusaha untuk tetap terlihat kuat. Pandangan Haris sempat terjatuh, menghembuskan napas dalam dengan pelan sebelum ia kembali memandang Karina dan berbicara."Silakan lakukan apa yang kamu mau."Ucapan Haris berhasil menyentak batin Karina, seperti sebuah pukulan yang meruntuhkan dinding pertahanannya. Dan ketika Haris memutuskan untuk pergi, Karina tak bisa lagi berpura-pura baik-baik saja.Berpegangan pada meja, Karina membiarkan isak tangis keluar dari mulutnya. Tanpa ada kata maaf, seakan tak pantas untuk diperjuangkan. Karina ditinggalkan begitu saja. Sebenarnya siapa yang bersalah di sana?Tubuh Karina merosot ke lantai. Tak lagi peduli tentang apapun, ia menangis dengan suara yang keras. Memukul dadanya sendiri yang terasa sesak dan menyakitkan. Hanya dengan satu kesalahan yang dilakukan oleh suaminya, pria kaku berhati dingin itu membuangnya dengan cara y
Terakhir Diperbarui: 2023-08-20
Chapter: Bab 81 : Bukan Akhir Yang Kau JanjikanJulian menyusuri jalan setapak yang menurun sembari sesekali memeriksa keadaan di belakangnya. Ia berniat menghubungi seseorang, tapi karena tidak berhati-hati ponselnya justru terjatuh di tumpukan dedaunan kering yang kemudian menyembunyikan benda pipih itu."Sial! Ada-ada aja sih!" gerutu Julian. Ia pun bergegas mencari ponselnya.Tak butuh waktu lama bagi Julian untuk mendapatkan kembali ponselnya. Namun, ketika ia bangkit, ia tak sengaja menangkap bayangan seseorang yang berdiri di atas melalui layar ponselnya. Perlahan Julian menoleh. Netranya membulat begitu ia melihat Damian tengah menodongkan senapan ke arahnya."Bajingan," gumam Julian.Dorr!Satu tembakan memekakkan telinga dan langsung menarik perhatian Haedar serta Nayra yang sebelumnya kembali memeriksa rumah."Haedar!" Nayra bergegas menghampiri Haedar."Kita susul Damian sekarang, bayi saya nggak ada di sini."Keduanya segera berlari memasuki hutan. Julian refleks menunduk sembari melindungi kepalanya. Tapi alih-alih l
Terakhir Diperbarui: 2025-05-30
Chapter: Bab 80 : Seorang BuruanDua minggu setelah Julian menghilang. Damian kembali mendatangi rumah Julian yang kini sudah kosong. Damian memasuki paviliun di mana Nayra terkurung selama satu tahun terakhir. Sungguh, ia merasa sangat bodoh. Selama satu tahun ia habiskan untuk mencurigai Julian tanpa berusaha untuk mengungkap kejahatan Julian dengan serius.Kasus penculikan Julian sedang diselidiki pihak kepolisian, mereka juga turut membantu pencarian Julian yang kini membawa bayi Nayra."Damian." Nayra datang dengan langkah terburu-buru."Julian barusan telepon aku," ujar Nayra setengah panik."Dia mengatakan sesuatu?"Nayra mengangguk. "Dia minta kita mencabut laporan. Anak kita ada sama dia sekarang.""Itu tidak akan merubah keadaan," gumam Damian."Julian nggak akan berbuat nekad, kan?"Damian kemudian menggandeng tangan Nayra. "Dia tidak akan melakukan hal yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri."Damian lantas membawa Nayra pergi. Setelah pemakaman Veronica, Julian langsung kabur dengan membawa an
Terakhir Diperbarui: 2025-05-29
Chapter: Bab 79 : Kebenaran Dan KarmaVeronica menunggu kedatangan Damian di bandara. Tapi karena hujan, ia berteduh di dalam mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Veronica ingin memastikan jika Damian benar-benar pergi meninggalkan Jakarta hari itu.Setelah menunggu cukup lama pada akhirnya yang ditunggu-tunggu oleh Veronica tiba. Wanita itu baru menyadari keberadaan Damian setelah Damian turun dari mobil."Bajingan itu, seharusnya dia sudah mati sejak dulu," desis Veronica penuh kebencian.Begitu besar kebencian Veronica terhadap Damian hingga ia ingin menyingkirkan Damian saat itu juga. Veronica menyalakan mesin mobil, berniat untuk menabrak Damian. Akan tetapi keberadaan sosok yang berlari menerobos hujan dan melewati mobilnya berhasil menyita perhatian Veronica."Nayra?"Veronica tampak terkejut. Orang yang katanya sudah menghilang tiba-tiba muncul. Sudut bibir wanita itu tersungging."Bagus dia di sini, kalian bisa mati bersama."Tanpa pikir panjang, Veronica langsung menginjak gas. Mengemudi dengan kecepatan ya
Terakhir Diperbarui: 2025-05-26
Chapter: Bab 78 : Tak Bisa Membiarkannya PergiHari itu Julian pulang lebih awal dengan senyum yang membuat wajahnya terlihat lebih bahagia. Seperti hari-hari sebelumnya, ia akan langsung mengunjungi Nayra saat pulang. Dan saat ia tiba di paviliun, Nayra tengah merajut. Menjadi tahanan selama satu tahun bukan berarti Nayra tak pernah berusaha untuk melarikan diri. Nayra kerap mencoba untuk kabur, tapi dari semua usahanya tak membuahkan hasil apapun dan kini ia tak berkutik setelah Julian membawa kelemahannya."Mana bayi aku?" tegur Nayra dengan dingin.Dengan senyumnya, Julian duduk di hadapan Nayra. Memang ada bayi di rumah Julian dan itu adalah bayi Nayra yang lahir beberapa bulan yang lalu dan itulah alasan kenapa Nayra tak bisa melarikan diri. Alih-alih melakukan persalinan di rumah sakit, Julian membiarkan Nayra melakukan persalinan di paviliun sehingga bayi yang dilahirkan Nayra belum terdaftar dan bahkan Nayra sendiri tak bisa memberikan nama untuk bayinya. Julian tak mengizinkan Nayra untuk merawat bayinya. Sesekali Juli
Terakhir Diperbarui: 2025-05-24
Chapter: Bab 77 : Kepergian DamianZizan memasuki sebuah pusat perbelanjaan dengan mengenakan topi untuk menyamarkan wajahnya. Ia mengikuti Julian yang memasuki swalayan. Menuruti perintah Damian, Zizan berusaha memastikan apa saja yang dibeli oleh Julian. Zizan berusaha untuk terlihat sibuk ketika Julian tampak tengah memilah barang. Tapi yang membuat Zizan heran adalah ketika ia melihat barang-barang yang berjajar di rak di hadapan Julian."Susu bayi? Tuh orang ngapain beli susu bayi? Emangnya punya bayi?" batin Zizan bertanya-tanya dalam hati.Dan benar saja Julian hanya membeli susu formula untuk bayi. Dari sana, Julian naik ke lantai atas dan Zizan terus mengikuti Julian hingga pria itu memasuki sebuah restoran yang berada di gedung pusat perbelanjaan itu.Kala itu Julian mendatangi seorang wanita yang tengah duduk sendirian. Zizan pun segera mencari tempat duduk terdekat tapi tetap aman."Mama udah lama?" tegur Julian seraya duduk.Veronica tersenyum tipis, tampak prihatin dengan keadaan putranya saat ini."Mama
Terakhir Diperbarui: 2025-05-23
Chapter: Bab 76 : Si Pengecut Yang SebenarnyaMalam itu Julian memasuki sebuah restoran ternama karena undangan dari Suganda. Namun, langkah pincang Julian terhenti ketika ia menemukan bahwa bukan hanya Suganda yang ada di sana, melainkan juga Damian."Julian, kamu sudah datang," tegur Suganda.Julian mendekat dan langsung melayangkan protes. "Papa nggak bilang kalau Papa ngundang orang lain.""Kamu duduk dulu.""Perjalanan dari sini ke area parkir cukup jauh, jangan sia-siakan perjuangan kaki cacat kamu untuk bisa sampai di sini," sarkas Damian dengan tenang.Julian menatap tajam, tapi Suganda segera menengahi."Kalian di sini untuk makan malam, papa tidak ingin ada pertengkaran. Julian, kamu duduk."Dengan wajah terpaksa, Julian pun pada akhirnya duduk berhadapan dengan Damian. Meski Damian terus menatapnya, ia enggan untuk membalas dan lebih memilih untuk berpaling."Papa ngapain ngajak makan malam, aku udah biasa makan sendirian," ujar Julian."Damian yang meminta papa mengundang kamu."Dengan begitu pandangan keduanya kembal
Terakhir Diperbarui: 2025-05-19

Pendekar Titisan Naga Langit
Kelahirannya membawa titah dari langit. Namun, di saat yang bersamaan kutukan itu memakan takdirnya. Bai Yu Xuan, bayi kecil yang baru saja melihat dunia itu harus menelan pahitnya kehidupan. Di hari kelahirannya, ia diramalkan akan menjadi orang besar dan paling disegani di negeri ini. Tapi hal lain datang sebagai kutukan, mengatakan bahwa kelak ia akan dibutakan dengan kekuasan dan membunuh rajanya sendiri.
Demi menghindari kutukan itu, Bai Yu Heng membawa putranya ke pengasingan. Hidup di pedesaan dan menjadi rakyat biasa. Namun, ketika negeri mengalami masa krisis, Menteri Pertahanan menemukan keberadaan mereka dengan membawa titah dari sang raja.
Bai Yu Xuan yang sudah tumbuh menjadi remaja yang tampan diangkat menjadi panglima tingkat tujuh dan harus turun ke medan perang. Namun, statusnya yang berasal dari kasta bawah membuatnya berselisih dengan para panglima dari kalangan kasta tinggi.
Bai Yu Xuan harus bertaruh nyawa saat bertarung dengan harga diri para bangsawan sebelum bisa turun ke medan perang. Bisakah putra dari tabib rendahan ini menghadapi kekejaman dari dunia yang telah mengutuknya. Akankah ia mati di medan perang atau justru mati di negerinya sendiri.
Baca
Chapter: Bab 53 : Duel PertamaBai Yuxuan membuka pintu kamar para jenderal dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang begitu keras. Berjalan layaknya seorang pimpinan bandit, Yuxuan keluar dan hendak menuju arena pertarungan yang akan digunakan untuk duel dirinya dengan para panglima lainnya. Tak memiliki ketakutan, Yuxuan tak mengharapkan apapun dari pertarungan yang bahkan ia tidak tahu akan jadi seperti apa. Baru saja turun ke halaman dan hendak pergi, sebuah teguran kemudian menghentikan langkahnya. "Desa Daolin." Yuxuan menemukan Zhou Jingguo menahan langkahnya. "Kau tidak mengingatku, Bai Yuxuan?" tegur Jingguo yang disertai dengan senyuman misteriusnya. "Aku tidak mendapatkan apapun meski mengingatmu." Yuxuan bersikap tak acuh, tentu saja ia mengenal pemuda itu. Ingatannya sangatlah tajam. "Akan lebih baik bagimu jika kau mengabaikan mereka." Jingguo melangkah mendekat. "Situasi di sini berbeda dengan di desa Daolin. Di sana kau bisa membunuh siapapun, tapi di sini... jika ada yang mati, hanya bol
Terakhir Diperbarui: 2026-05-15
Chapter: Bab 52 : Tantangan BerduelGaris kekuningan yang mulai merambah di langit bagian barat, matahari yang tengah mengucapkan perpisahan untuk pergi sementara waktu dan membiarkan tanah Xia berselimut langit gelap dengan ribuan bintang untuk beberapa waktu sebelum ia yang akan kembali dari sebelah timur dan mengusir langit gelap beserta cahaya bintang dengan sinarnya yang mampu menerangi Tanah Xia kembali. Bai Yuxuan kembali ke asrama, namun perasaannya sedikit tidak enak ketika melihat sekumpulan orang yang terduduk di teras tepat di samping kamar para jenderal. Meski bukan masalah jika mereka yang lebih dulu membuat perkara karena Yuxuan tidak perlu repot-repot untuk menahan diri. Sejak memasuki Ibu Kota, ia sangat ingin menghajar orang. Dan firasat buruknya itu akhirnya terjadi ketika ia menaiki tangga menuju teras. "Dia memiliki pedang yang bagus," celetuk Li Houyu, menjadi orang pertama yang membuka mulut dan mendapatkan sedikit perhatian dari Yuxuan yang terlihat begitu tak perduli dan tetap melangkahkan
Terakhir Diperbarui: 2026-05-14
Chapter: Bab 51 : Sambutan Di Aula JiangchunZhang Yingjie terduduk di luar pintu kamar mandi dan tengah menunggu Yuxuan yang membersihkan diri tanpa ada hal yang ingin dipikirkannya. Sama seperti saat dia memilih tinggal dan menyapa Yuxuan terlebih dulu, dia sama sekali tidak memikirkan apapun saat melakukan hal itu. Setelah terdiam beberapa waktu, dia pun mengalihkan pandangannya pada pedang milik Yuxuan yang beberapa waktu lalu dititipkan kepadanya. "Pedang ini adalah kepalaku, jika sampai kau menghilangkannya maka aku akan segera kehilangan kepalaku. Kau jaga baik-baik pedang ini." Perkataan konyol yang kembali terngiang di telinga Zhang Yingjie membuatnya tertawa ringan tak percaya, bahkan tidak ada perkataan 'tolong' pada kalimat permintaan tersebut. Menghilangkan senyum tipis yang tersisa di sudut bibirnya. Merasa tertarik dengan pedang milik Yuxuan, Zhang Yingjie pun mulai mengamati bagian luar pedang tersebut. Dan jika dilihat dari tampilannya sepertinya pedang tersebut sudah berumur tua, terlihat dari warnanya yang t
Terakhir Diperbarui: 2026-05-12
Chapter: Bab 50 : Kambing Liar Ternyata Masih BernapasMalam yang semakin larut, satu persatu dari mereka yang masih terjaga mulai menjatuhkan diri ke alam mimpi dan membiarkan jiwa mereka berkelana di saat raga mereka terdiam di tempat yang sama hingga jiwa itu lelah berkelana dan kembali. Begitu sepi di saat hanya ada suara dengkuran yang kadang berbaur dengan udara yang sunyi. Namun di antara kesunyian yang terjadi terlihat, empat pasang mata masih tetap terjaga. Dan merekalah ketiga jenderal dan juga orang baru yang telah berbaring di tempat tidur mereka masing-masing. Bai Yuxuan yang tidur di ranjang atas yang menyatu dengan ranjang milik Zhang Yingjie dan Zhou Jingguo yang juga menempati ranjang di atas rajang milik Zhao Jin'an. Setelah sambutan ringan yang dilakukan oleh Jin'an sebelumnya, mereka memutuskan untuk segera pergi ke tempat masing-masing tanpa ada keinginan untuk mengenal lebih dekat seperti apa sosok orang baru yang menjadi teman sekamar mereka menggantikan Panglima Qing Yue yang telah gugur sebelumnya. Sebuah pe
Terakhir Diperbarui: 2026-05-10
Chapter: Bab 49 : Rahasia Kelahiran Sang Naga LangitLangit gelap yang kembali menyelimuti bumi Xia, menuntun langkah ketiga jenderal untuk kembali ke asrama. Dan Zhao Jin'an lah orang terakhir yang sampai di sana. Menyusul kedua rekannya yang sudah sampai di sana beberapa waktu sebelum kedatangannya. Pemandangan yang tak biasa terlihat ketika ia menapakkan kakinya untuk menyusuri tangga kayu menuju kamarnya, di mana beberapa orang tampak menyembulkan kepala mereka dari pintu dan melihat ke arahnya. Tepat setelah ia mencapai pintu kamarnya, Jin'an sejenak menghentikan langkahnya dan mengarahkan pandangannya kepada orang-orang yang kemudian menutup rapat-rapat pintu mereka seakan ingin bersembunyi dari tatapan mematikan milik salah satu jenderal yang terkenal paling sadis di antara kedua jenderal yang tersisa. Setelah melihat hal tersebut, Jin'an pun melanjutkan langkahnya. Membuka pintu dan langsung masuk ke dalam kamar, menutup pintu dari dalam sebelum akhirnya tertegun setelah ia mengangkat pandangannya dan menemukan kedua rekannya
Terakhir Diperbarui: 2026-05-08
Chapter: Bab 48 : Kehadiran Yang Tak DiterimaGuozhi berjalan sedikit di belakang Jianglan, keduanya kini tengah dalam perjalanan pulang setelah mengantarkan Yuxuan ke asrama sebelumnya. Namun jika diperhatikan, Guozhi merasa ada yang sedikit berbeda dari Nona Mudanya tersebut. Bahkan sejak dalam perjalanan menuju asrama hingga sekarang wajahnya terlihat begitu sumringah seperti baru saja mendapatkan sesuatu yang besar, tapi ada hal yang lebih penting dari pada sikap Jianglan saat itu. Mengingat seperti apa Nona Muda di hadapannya tersebut, Guozhi takut-takut bertanya. "Anu ... Nona." Jianglan segera menghentikan langkahnya dan tentu saja senyum itu masih terlihat di sudut bibirnya, sesuatu yang patut untuk dicurigai. Pasalnya Nona Mudanya tersebut lebih sering marah-marah dan berkelahi dengannya hampir setiap waktu dibandingkan dengan tersenyum manis seperti ini. "Kenapa? Apa ada yang tertinggal?." "Anu ..." "Ada apa? Sebenarnya kau ingin bicara apa?" "Apa ... tidak masalah meninggalkan Tuan Muda di sana?" "Memang
Terakhir Diperbarui: 2026-05-07