ANMELDENEric Brown hanyalah seorang mahasiswa biasa. Namun begitu menemukan pijakan pertamanya, tak ada lagi yang mampu menghentikan langkahnya menuju puncak. Saat semua terlambat menyadarinya, ia telah menjadi ancaman bagi seluruh keluarga konglomerat.
Mehr anzeigenTahun 2015.
Eric menuruni tangga fakultas setelah kelas berakhir. Kemeja putihnya sudah mulai pudar, sementara lutut celana jeans yang dikenakannya tampak usang. Meski begitu, pakaian itu tetap bersih dan rapi. Di tengah lautan mahasiswa yang mengenakan pakaian bermerek, penampilannya begitu mencolok, seolah ia berada di tempat yang salah. “Sttt… lihat tuh, mantanmu lewat, Issa.” Christine menyenggol lengan Issabel sambil tersenyum jahil. Issabel yang berdiri bersama Christine dan Xavia langsung menoleh. Begitu matanya menangkap sosok Eric, wajahnya seketika berubah dingin. “Sudahlah, jangan bahas dia lagi.” Christine justru terkekeh. “Lucu, ya. Dulu kamu sampai tergila-gila sama dia. Sekarang lihat mukanya aja kayak jijik.” Rahang Issabel mengeras. Tiga tahun lalu, saat masa orientasi kampus, dialah yang lebih dulu jatuh hati pada Eric. Sikap tenang pria itu membuatnya terpikat. Bahkan, Issabel sendiri yang memohon agar hubungan mereka menjadi lebih dari sekadar teman. Namun semuanya berubah ketika ia mengetahui kenyataan bahwa Eric hanyalah mahasiswa miskin. Sejak hari itu, rasa cintanya berubah menjadi rasa malu. Baginya, pernah mengejar pria miskin adalah aib yang menghancurkan harga dirinya. Dan selama tiga tahun terakhir, mempermalukan Eric menjadi caranya menghapus aib tersebut. Melihat Eric hampir mencapai ujung tangga, senyum tipis perlahan muncul di bibir Issabel. “Eric!” Eric berhenti dan menoleh. Issabel menatapnya dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca. “Tolong pegangin buku aku sebentar, dong. Tanganku pegal banget.” Beberapa mahasiswa mulai memperhatikan mereka. Tanpa berpikir macam-macam, Eric melangkah mendekat lalu mengulurkan tangan. Namun tepat saat jemarinya menyentuh buku itu, Issabel tiba-tiba menariknya kembali. Buku terlepas dari genggamannya, sementara ujung bajunya ikut tertarik sedikit. “Aaaah!” Issabel menjerit sambil mundur beberapa langkah. “Jangan sentuh aku! Eric, aku cuma minta tolong pegangin buku. Kenapa kamu malah narik bajuku? Mau kamu apain aku?” Christine langsung memanfaatkan situasi. “Tolong! Ada orang mesum! Dia mau memperkosa Issabel! Dasar cowok miskin nggak tahu diri!” Kata memperkosa seketika membakar emosi mahasiswa di sekitar. Tanpa mencari tahu kebenarannya, beberapa mahasiswa langsung menyerbu Eric. “Salah! Ini salah paham! Aku cuma—” Bugh! Sebuah pukulan menghantam perutnya hingga napasnya langsung terputus. Pukulan pertama menjadi awal. Tak lama kemudian, tinju dan tendangan menghujani tubuh Eric tanpa ampun. “Mesum!” “Dasar sampah!” “Berani ganggu perempuan!” Lima mahasiswa mengeroyoknya bergantian. Eric hanya mampu melindungi kepalanya. Setiap kali mencoba menjelaskan, balasannya hanyalah pukulan berikutnya. Di antara kerumunan, sebenarnya ada beberapa mahasiswa yang melihat jelas bahwa Issabellah yang sengaja menjatuhkan buku itu. Mereka tahu Eric dijebak. Namun tak seorang pun peduli. Sebagian memilih diam. Sebagian lagi justru menikmati tontonan itu, seolah penderitaan Eric hanyalah hiburan gratis. Eric menggertakkan gigi. Rasa sakit akibat pukulan masih sanggup ia tahan. Namun fitnah dan tatapan jijik dari orang-orang di sekitarnya jauh lebih menyakitkan. Dengan mata memerah, ia menatap lurus ke arah Issabel. Wanita itu membalas tatapannya. Lalu menjulurkan lidah sambil tersenyum mengejek. “Berhenti!” Suara Xavia akhirnya memecah keributan. Kelima mahasiswa itu serempak menoleh. Tanpa banyak bicara, Xavia mengeluarkan ponselnya, mengarahkan kamera ke arah mereka, lalu mulai merekam. “Kalau kalian nggak berhenti, video ini bakal aku sebar. Silakan lanjut kalau memang berani.” Wajah kelima mahasiswa itu langsung berubah pucat. Begitu menyadari wajah mereka terekam jelas, mereka buru-buru menutupi muka lalu kabur. Kerumunan yang tadi begitu berisik ikut membubarkan diri seolah tak pernah terjadi apa-apa. Eric membungkuk sambil memegangi perutnya. Ia menarik napas beberapa kali sebelum memaksa dirinya berdiri. “Terima kasih…” Xavia hanya mengangguk pelan. Tanpa mengatakan apa pun, ia menarik Issabel dan Christine meninggalkan tempat itu. Kalau bukan karena Xavia, mungkin kondisinya akan jauh lebih parah. Untungnya, tubuh Eric sudah terlalu sering menerima pukulan hingga terbiasa menahan rasa sakit. Biasanya, setelah meminum obat pereda nyeri, luka-lukanya akan membaik dengan sendirinya. ⸻ Satu jam kemudian, Eric tiba di kamar kosnya yang sempit. Ia mengganti pakaian, lalu bergegas menuju restoran tempatnya bekerja. Baginya, luka bukan alasan untuk berhenti mencari nafkah. Kalau tidak bekerja, ia tidak akan makan. Namun begitu memasuki restoran, Eric langsung merasakan ada yang berbeda. Tatapan para pelanggan dipenuhi rasa jijik. Beberapa bahkan terang-terangan menunjuk ke arahnya sambil berbisik. Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, manajer restoran menghampirinya. “Kamu dipecat. Sekarang juga.” Tanpa memberi kesempatan menjelaskan, dua petugas keamanan langsung menyeret Eric keluar. Eric masih terpaku ketika suara bisik-bisik mulai terdengar dari sekitar. “Itu dia…” “Pria yang melecehkan mahasiswi cantik itu.” Wajah Eric langsung berubah. Ia buru-buru mengeluarkan ponselnya. Begitu layar menyala, dadanya terasa sesak. Grup universitas dipenuhi unggahan tentang dirinya. Sebuah video memperlihatkan Issabel menangis histeris, disertai caption yang menuduh Eric telah melecehkannya. Video itu sudah menyebar ke berbagai platform. Kolom komentarnya dipenuhi hujatan. “Hajar sampai mati orang mesum begini!” Bahkan beberapa akun anonim terang-terangan mengancam akan membunuhnya. Tangan Eric mulai gemetar. Di mata publik, ia sudah divonis bersalah. Tak seorang pun peduli pada penjelasannya. Ia menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap tenang. Langit perlahan menggelap. Dengan langkah gontai, Eric berjalan pulang menuju kosnya. Namun saat hampir tiba, sebuah sedan hitam berhenti di pinggir jalan. Empat pria turun dan berjalan lurus ke arahnya. Eric langsung mengenali salah satu dari mereka. Jason Smith. Kakak Issabel. Jantungnya berdegup kencang. Kakinya seolah terpaku. Ia bahkan tak sempat berpikir untuk melarikan diri. Tiga pria itu lebih dulu menerjang, menjatuhkannya ke tanah, lalu menyeretnya seperti karung berisi sampah hingga berhenti tepat di depan Jason. Tanpa sepatah kata, Jason langsung menendang wajah Eric. Brak! “Argh…!” Tubuh Eric terlempar, sementara darah segar langsung mengucur dari hidungnya. Jason mencengkeram rambut Eric, memaksanya mendongak, lalu meludahi wajahnya. “Dasar sampah. Berani-beraninya kau melecehkan adikku.” “Sebentar… aku—” Plak! Sebuah tamparan keras memutus ucapannya. “Aku tidak datang untuk mendengar penjelasan.” Tatapan Jason sedingin es. “Hari ini, kau harus mati.” Bugh! Satu tendangan lagi menghantam wajah Eric hingga tubuhnya kembali terguling. “Arghhh…!” Jason menoleh kepada anak buahnya. “Patahkan tangan kanannya.” Tanpa ragu, dua pria langsung mengunci tubuh Eric, sementara pria ketiga memelintir lengan kanannya sekuat tenaga. Krak! Suara tulang patah terdengar jelas. “Aaaahhh…!” Jeritan Eric menggema di jalan yang mulai sepi. Jason hanya menatap tanpa sedikit pun rasa iba. Setelah memastikan Eric tak lagi mampu melawan, ia bersama ketiga anak buahnya kembali masuk ke mobil dan pergi, meninggalkan Eric tergeletak sendirian. Air mata bercampur darah mengalir di wajahnya. Seluruh tubuhnya dipenuhi rasa sakit. Ia tidak pernah melakukan kesalahan. Namun, selalu dialah yang harus menanggung akibatnya. Untuk sesaat, sebuah pikiran melintas di benaknya. ‘Mungkin… mati memang lebih baik daripada terus hidup seperti ini.’ Cling! Legacy Intelligence berhasil diaktifkan. Memverifikasi pengguna… Cincin tembaga di jari Eric tiba-tiba memancarkan cahaya redup setelah terkena percikan darahnya. Selama bertahun-tahun, cincin peninggalan orang tuanya itu tak pernah menunjukkan sesuatu yang aneh. Namun kali ini… berbeda. Sesaat kemudian, sebuah layar transparan muncul di hadapannya, melayang di udara seperti hologram. Pandangan Eric mulai kabur. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. “Jadi… ini halusinasi terakhirku…” Napasnya semakin lemah. “Sebentar lagi… aku bisa bertemu dengan kalian, Ayah… Ibu…” Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Eric mengangkat tangan kirinya dan perlahan menyentuh layar itu. Ujung jarinya baru saja mengenai permukaannya… Saat kesadarannya akhirnya lenyap.Setelah keluar dari ruang rawat Vincent, Eric menyapa singkat anggota keluarga Rothwell di sana sebelum berpamitan. Tak lama kemudian, sedan hitamnya meninggalkan halaman Rumah Sakit Trinity.—Di dalam ruang rawat, Vincent masih berdiri terpaku.Ia mengepalkan kedua tangannya berulang kali, lalu menggerakkan bahu dan memutar tubuhnya.Tak ada rasa sakit. Tak ada rasa pegal. Tubuhnya benar-benar telah pulih.“Hahaha…!” tawa puas tiba-tiba memenuhi ruangan.“Luar biasa…” gumamnya pelan.Ia berusaha menenangkan diri. Namun, setiap kali merasakan tubuhnya yang telah pulih sepenuhnya, senyum di wajahnya justru semakin sulit disembunyikan.Tepat saat itu, pintu ruang rawat terbuka.Beberapa anggota keluarga Rothwell bergegas masuk setelah mendengar suara tawanya.Vincent buru-buru berdeham pelan, berusaha kembali memasang wajah tenang.“Ada apa?” tanya salah seorang dari mereka.Vincent sedikit terkejut melihat beberapa orang masuk bersamaan ke dalam ruangannya. Ia menarik napas panjang,
Terdengar keheningan beberapa saat dari seberang telepon.“Aku benar-benar sembuh. Lukaku perlahan membaik. Kau tidak akan percaya sampai kau melihatnya sendiri.”Mendengar itu, sudut bibir Eric perlahan terangkat.Benar saja. Resep obat dari Legacy Intelligence memang tidak perlu diragukan lagi.“Bagus kalau begitu,” ucap Eric singkat.Vincent langsung melanjutkan, “Kau dapat pil itu dari mana? Apa benar itu warisan keluargamu? Kenapa efeknya bisa secepat itu?”“Ya.” Eric hanya menjawab satu kata.Ia sama sekali tidak berniat menjelaskan lebih jauh. “Jadi kapan kau keluar dari rumah sakit? Bukankah kau bilang ingin meminta penjelasan dariku?”Vincent langsung tertawa kecil. “Ah, lupakan saja soal itu. Lagipula meski luka di wajahku mulai sembuh, tubuhku masih terasa pegal.”Nada suaranya perlahan berubah penuh semangat. “Nanti setelah aku keluar dari rumah sakit, temani aku memberi pelajaran pada mereka.”“Tentu.” Eric mengangguk pelan. “Nanti siang, setelah kuliahku selesai, aku aka
Tak terasa, sedan hitam itu akhirnya memasuki halaman kediaman Keluarga Jones.Eric menghentikan mobil tepat di depan gerbang. “Sudah sampai,” ucapnya pelan.“Ayo masuk dulu. Kita makan malam, baru setelah itu kamu pulang,” ajak Xavia.Eric terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu harus menerima atau menolak. “Ini…”Melihat keraguan di wajah Eric, Xavia kembali berkata, “Ini permintaan Kakekku.”“Permintaan Tuan Jones?” tanya Eric memastikan.Xavia mengangguk pelan.Eric mengembuskan napas. “Baiklah.”Sedan hitam itu pun perlahan bergerak memasuki halaman Kediaman Keluarga Jones.Tak lama kemudian, mereka berdua turun dari mobil. Eric berjalan mengikuti Xavia menuju pintu utama.Beberapa pelayan yang melihat pemandangan itu saling bertukar pandang. Meski tak seorang pun berani berkomentar, raut wajah mereka jelas menunjukkan keterkejutan.Bagaimanapun, baru kali ini mereka melihat Xavia pulang bersama seorang pria.Sesampainya di ruang jamuan, ternyata belum ada seorang pun di sana. Namun
Melihat pesan dari Xavia, sudut bibir Eric perlahan terangkat. “Kau bawa mobil sendiri atau kujemput?”balasnya.“Jemput.”“Baiklah. Kirimkan lokasimu.”Tak lama kemudian, sebuah titik lokasi masuk ke ponselnya.Eric segera mengambil kunci sedan hitam di atas meja, lalu meninggalkan Mansion Brown.Bukan tanpa alasan ia mengajak Xavia.Jika nanti pembicaraan dengan Keluarga Rothwell berkembang ke arah yang tidak diinginkan, kehadiran Xavia setidaknya dapat sedikit mencairkan suasana. Bagaimanapun, gadis itu masih memiliki hubungan dengan keluarga tersebut. ⸻Pada saat yang sama, Xavia telah selesai bersiap.Penampilannya tampak sedikit lebih rapi dibanding biasanya.Kurang dari tiga puluh menit kemudian, seorang pelayan menghampirinya.“Nona Xavia, ada seseorang yang mencari Anda di depan gerbang.” Xavia mengangguk pelan, lalu berjalan keluar.Sesampainya di gerbang, ia langsung melihat sedan hitam milik Eric terparkir di sana. Pemuda itu sedang berbincang santai dengan satpam yang b


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rezensionen