Pewaris Terlupakan

Pewaris Terlupakan

last updateZuletzt aktualisiert : 31.07.2026
Von:  mr.midiLaufend
Sprache: Bahasa_indonesia
goodnovel12goodnovel
10
1 Bewertung. 1 Rezension
20Kapitel
30Aufrufe
Lesen
Zur Bibliothek hinzufügen

Teilen:  

Melden
Übersicht
Katalog
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN

Zusammenfassung

Action

Pewaris

Kampus/Sekolah

Membalikkan Keadaan

Eric Brown hanyalah seorang mahasiswa biasa. Namun begitu menemukan pijakan pertamanya, tak ada lagi yang mampu menghentikan langkahnya menuju puncak. Saat semua terlambat menyadarinya, ia telah menjadi ancaman bagi seluruh keluarga konglomerat.

Mehr anzeigen

Kapitel 1

Bab 1

Tahun 2015.

Eric menuruni tangga fakultas setelah kelas berakhir.

Kemeja putihnya sudah mulai pudar, sementara lutut celana jeans yang dikenakannya tampak usang. Meski begitu, pakaian itu tetap bersih dan rapi.

Di tengah lautan mahasiswa yang mengenakan pakaian bermerek, penampilannya begitu mencolok, seolah ia berada di tempat yang salah.

“Sttt… lihat tuh, mantanmu lewat, Issa.”

Christine menyenggol lengan Issabel sambil tersenyum jahil.

Issabel yang berdiri bersama Christine dan Xavia langsung menoleh. Begitu matanya menangkap sosok Eric, wajahnya seketika berubah dingin.

“Sudahlah, jangan bahas dia lagi.”

Christine justru terkekeh.

“Lucu, ya. Dulu kamu sampai tergila-gila sama dia. Sekarang lihat mukanya aja kayak jijik.”

Rahang Issabel mengeras.

Tiga tahun lalu, saat masa orientasi kampus, dialah yang lebih dulu jatuh hati pada Eric. Sikap tenang pria itu membuatnya terpikat. Bahkan, Issabel sendiri yang memohon agar hubungan mereka menjadi lebih dari sekadar teman.

Namun semuanya berubah ketika ia mengetahui kenyataan bahwa Eric hanyalah mahasiswa miskin.

Sejak hari itu, rasa cintanya berubah menjadi rasa malu.

Baginya, pernah mengejar pria miskin adalah aib yang menghancurkan harga dirinya.

Dan selama tiga tahun terakhir, mempermalukan Eric menjadi caranya menghapus aib tersebut.

Melihat Eric hampir mencapai ujung tangga, senyum tipis perlahan muncul di bibir Issabel.

“Eric!”

Eric berhenti dan menoleh.

Issabel menatapnya dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca.

“Tolong pegangin buku aku sebentar, dong. Tanganku pegal banget.”

Beberapa mahasiswa mulai memperhatikan mereka.

Tanpa berpikir macam-macam, Eric melangkah mendekat lalu mengulurkan tangan.

Namun tepat saat jemarinya menyentuh buku itu, Issabel tiba-tiba menariknya kembali.

Buku terlepas dari genggamannya, sementara ujung bajunya ikut tertarik sedikit.

“Aaaah!”

Issabel menjerit sambil mundur beberapa langkah.

“Jangan sentuh aku! Eric, aku cuma minta tolong pegangin buku. Kenapa kamu malah narik bajuku? Mau kamu apain aku?”

Christine langsung memanfaatkan situasi.

“Tolong! Ada orang mesum! Dia mau memperkosa Issabel! Dasar cowok miskin nggak tahu diri!”

Kata memperkosa seketika membakar emosi mahasiswa di sekitar.

Tanpa mencari tahu kebenarannya, beberapa mahasiswa langsung menyerbu Eric.

“Salah! Ini salah paham! Aku cuma—”

Bugh!

Sebuah pukulan menghantam perutnya hingga napasnya langsung terputus.

Pukulan pertama menjadi awal.

Tak lama kemudian, tinju dan tendangan menghujani tubuh Eric tanpa ampun.

“Mesum!”

“Dasar sampah!”

“Berani ganggu perempuan!”

Lima mahasiswa mengeroyoknya bergantian.

Eric hanya mampu melindungi kepalanya. Setiap kali mencoba menjelaskan, balasannya hanyalah pukulan berikutnya.

Di antara kerumunan, sebenarnya ada beberapa mahasiswa yang melihat jelas bahwa Issabellah yang sengaja menjatuhkan buku itu.

Mereka tahu Eric dijebak.

Namun tak seorang pun peduli.

Sebagian memilih diam.

Sebagian lagi justru menikmati tontonan itu, seolah penderitaan Eric hanyalah hiburan gratis.

Eric menggertakkan gigi.

Rasa sakit akibat pukulan masih sanggup ia tahan.

Namun fitnah dan tatapan jijik dari orang-orang di sekitarnya jauh lebih menyakitkan.

Dengan mata memerah, ia menatap lurus ke arah Issabel.

Wanita itu membalas tatapannya.

Lalu menjulurkan lidah sambil tersenyum mengejek.

“Berhenti!”

Suara Xavia akhirnya memecah keributan.

Kelima mahasiswa itu serempak menoleh.

Tanpa banyak bicara, Xavia mengeluarkan ponselnya, mengarahkan kamera ke arah mereka, lalu mulai merekam.

“Kalau kalian nggak berhenti, video ini bakal aku sebar. Silakan lanjut kalau memang berani.”

Wajah kelima mahasiswa itu langsung berubah pucat.

Begitu menyadari wajah mereka terekam jelas, mereka buru-buru menutupi muka lalu kabur. Kerumunan yang tadi begitu berisik ikut membubarkan diri seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Eric membungkuk sambil memegangi perutnya. Ia menarik napas beberapa kali sebelum memaksa dirinya berdiri.

“Terima kasih…”

Xavia hanya mengangguk pelan.

Tanpa mengatakan apa pun, ia menarik Issabel dan Christine meninggalkan tempat itu.

Kalau bukan karena Xavia, mungkin kondisinya akan jauh lebih parah.

Untungnya, tubuh Eric sudah terlalu sering menerima pukulan hingga terbiasa menahan rasa sakit. Biasanya, setelah meminum obat pereda nyeri, luka-lukanya akan membaik dengan sendirinya.

Satu jam kemudian, Eric tiba di kamar kosnya yang sempit.

Ia mengganti pakaian, lalu bergegas menuju restoran tempatnya bekerja.

Baginya, luka bukan alasan untuk berhenti mencari nafkah.

Kalau tidak bekerja, ia tidak akan makan.

Namun begitu memasuki restoran, Eric langsung merasakan ada yang berbeda.

Tatapan para pelanggan dipenuhi rasa jijik. Beberapa bahkan terang-terangan menunjuk ke arahnya sambil berbisik.

Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, manajer restoran menghampirinya.

“Kamu dipecat. Sekarang juga.”

Tanpa memberi kesempatan menjelaskan, dua petugas keamanan langsung menyeret Eric keluar.

Eric masih terpaku ketika suara bisik-bisik mulai terdengar dari sekitar.

“Itu dia…”

“Pria yang melecehkan mahasiswi cantik itu.”

Wajah Eric langsung berubah.

Ia buru-buru mengeluarkan ponselnya.

Begitu layar menyala, dadanya terasa sesak.

Grup universitas dipenuhi unggahan tentang dirinya.

Sebuah video memperlihatkan Issabel menangis histeris, disertai caption yang menuduh Eric telah melecehkannya.

Video itu sudah menyebar ke berbagai platform.

Kolom komentarnya dipenuhi hujatan.

“Hajar sampai mati orang mesum begini!”

Bahkan beberapa akun anonim terang-terangan mengancam akan membunuhnya.

Tangan Eric mulai gemetar.

Di mata publik, ia sudah divonis bersalah.

Tak seorang pun peduli pada penjelasannya.

Ia menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap tenang.

Langit perlahan menggelap.

Dengan langkah gontai, Eric berjalan pulang menuju kosnya.

Namun saat hampir tiba, sebuah sedan hitam berhenti di pinggir jalan.

Empat pria turun dan berjalan lurus ke arahnya.

Eric langsung mengenali salah satu dari mereka.

Jason Smith.

Kakak Issabel.

Jantungnya berdegup kencang.

Kakinya seolah terpaku.

Ia bahkan tak sempat berpikir untuk melarikan diri.

Tiga pria itu lebih dulu menerjang, menjatuhkannya ke tanah, lalu menyeretnya seperti karung berisi sampah hingga berhenti tepat di depan Jason.

Tanpa sepatah kata, Jason langsung menendang wajah Eric.

Brak!

“Argh…!”

Tubuh Eric terlempar, sementara darah segar langsung mengucur dari hidungnya.

Jason mencengkeram rambut Eric, memaksanya mendongak, lalu meludahi wajahnya.

“Dasar sampah. Berani-beraninya kau melecehkan adikku.”

“Sebentar… aku—”

Plak!

Sebuah tamparan keras memutus ucapannya.

“Aku tidak datang untuk mendengar penjelasan.”

Tatapan Jason sedingin es.

“Hari ini, kau harus mati.”

Bugh!

Satu tendangan lagi menghantam wajah Eric hingga tubuhnya kembali terguling.

“Arghhh…!”

Jason menoleh kepada anak buahnya.

“Patahkan tangan kanannya.”

Tanpa ragu, dua pria langsung mengunci tubuh Eric, sementara pria ketiga memelintir lengan kanannya sekuat tenaga.

Krak!

Suara tulang patah terdengar jelas.

“Aaaahhh…!”

Jeritan Eric menggema di jalan yang mulai sepi.

Jason hanya menatap tanpa sedikit pun rasa iba.

Setelah memastikan Eric tak lagi mampu melawan, ia bersama ketiga anak buahnya kembali masuk ke mobil dan pergi, meninggalkan Eric tergeletak sendirian.

Air mata bercampur darah mengalir di wajahnya.

Seluruh tubuhnya dipenuhi rasa sakit.

Ia tidak pernah melakukan kesalahan.

Namun, selalu dialah yang harus menanggung akibatnya.

Untuk sesaat, sebuah pikiran melintas di benaknya.

‘Mungkin… mati memang lebih baik daripada terus hidup seperti ini.’

Cling!

Legacy Intelligence berhasil diaktifkan.

Memverifikasi pengguna…

Cincin tembaga di jari Eric tiba-tiba memancarkan cahaya redup setelah terkena percikan darahnya. Selama bertahun-tahun, cincin peninggalan orang tuanya itu tak pernah menunjukkan sesuatu yang aneh. Namun kali ini… berbeda.

Sesaat kemudian, sebuah layar transparan muncul di hadapannya, melayang di udara seperti hologram.

Pandangan Eric mulai kabur.

Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

“Jadi… ini halusinasi terakhirku…”

Napasnya semakin lemah.

“Sebentar lagi… aku bisa bertemu dengan kalian, Ayah… Ibu…”

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Eric mengangkat tangan kirinya dan perlahan menyentuh layar itu.

Ujung jarinya baru saja mengenai permukaannya…

Saat kesadarannya akhirnya lenyap.

Erweitern
Nächstes Kapitel
Herunterladen

Aktuellstes Kapitel

Weitere Kapitel

An die Leser

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Rezensionen

chaly93
chaly93
mantaap bagus banget ceritanya
2026-08-11 16:12:30
0
1
20 Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status