Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit

Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit

last updateLast Updated : 2026-10-14
By:  SkyyUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
Not enough ratings
240Chapters
5.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dikhianati oleh keluarga sendiri demi masa depan adiknya yang jenius, Revan dipaksa menjadi menantu dan nyaris kehilangan nyawanya. Namun di ambang kematian, sebuah pusaka kuno bernama Cincin Langit memilihnya sebagai pewaris, memberinya akses menuju warisan para ahli legendaris yang mampu mengubah takdirnya. Saat semua orang masih memandangnya sebagai menantu tak berguna, Revan diam-diam mengumpulkan kekuatan untuk membalas setiap penghinaan yang pernah diterimanya. Kini, perjalanan menuju puncak kultivasi pun dimulai, dan mereka yang pernah menginjak harga dirinya akan menyadari bahwa mereka telah membangunkan sosok yang seharusnya tidak pernah mereka remehkan.

View More

Chapter 1

Bab 1

Kota Jayagiri.

Sejak fajar menyingsing, kediaman Keluarga Cakrawala sudah dipenuhi suasana meriah. Para tetua keluarga datang silih berganti dengan raut wajah berseri, sementara para pelayan mondar mandir menyajikan teh serta hidangan hingga nyaris tak sempat menarik napas. Seluruh keramaian itu terjadi hanya untuk merayakan satu kabar yang mengguncang seisi Kota Jayagiri.

Arya Cakrawala, putra kedua Keluarga Cakrawala, telah resmi diterima sebagai murid Perguruan Nirakasa.

"Hari ini menjadi awal kebangkitan Keluarga Cakrawala!"

"Hahaha! Setelah Arya bergabung dengan Perguruan Nirakasa, siapa lagi di Kota Jayagiri yang berani memandang rendah keluarga kita?"

"Sebentar lagi, bahkan Keluarga Draksa pun harus memberi hormat kepada kita."

Gelak tawa dan suara riuh memenuhi aula utama.

Di tengah suasana penuh sukacita itu, hanya satu sosok yang tetap membisu.

Revan Cakrawala berdiri di sisi salah satu pilar sambil menatap keluarganya yang tenggelam dalam keramaian. Tak seorang pun menghampirinya untuk berbincang, bahkan tak ada sepasang mata yang sekadar menoleh ke arahnya, seakan keberadaannya hanyalah bayangan yang tak memiliki arti.

Pemandangan seperti itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya.

Sejak masih kecil, seluruh perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya selalu tercurah kepada Arya. Adiknya yang dikaruniai bakat kultivasi luar biasa itu terus menjadi kebanggaan keluarga, sedangkan Revan justru lebih sering diperlakukan layaknya orang asing di rumahnya sendiri.

"Bukankah memang seharusnya begitu?" Arya bersandar santai di kursi utama dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. "Kalau dibandingkan denganku, kakakku memang berbeda jauh. Aku berada di langit, sementara dia masih bergelimang di tanah."

Tak ada seorang pun yang berniat menegurnya.

Meski kursi utama yang semestinya hanya boleh diduduki kepala keluarga kini ditempati Arya begitu saja, seluruh anggota keluarga menganggapnya sebagai hal yang wajar.

Ucapan itu kembali menghujam dada Revan. Bukan karena kalimat tersebut terdengar asing baginya, tetapi sebab hinaan yang terus berulang selalu meninggalkan luka yang sama.

"Perbandingan itu terlalu berlebihan," ujar salah seorang tetua sambil terkekeh. "Arya adalah jenius terbaik yang pernah lahir di Kota Jayagiri selama puluhan tahun. Mana mungkin sampah seperti dia pantas disejajarkan?"

Jayendra Cakrawala—Kepala Keluarga Cakrawala mengangguk tanpa sedikit pun keraguan. Wajahnya bahkan memancarkan kebanggaan setiap kali mendengar putra sulung mereka dipermalukan di hadapan semua orang.

Bagi mereka, satu-satunya orang yang layak menyandang gelar harapan Keluarga Cakrawala hanyalah Arya.

Setelah gelak tawa di aula perlahan mereda, Arya mengangkat cangkir teh di tangannya. "Meskipun aku sudah diterima di Perguruan Nirakasa, persaingan di sana pasti jauh lebih sengit. Setengah bulan lagi utusan perguruan akan datang menjemputku. Kalau tidak memiliki sumber daya yang memadai, akan sulit bagiku mengejar murid-murid lainnya."

Jayendra Cakrawala langsung tersenyum puas. "Jangan khawatir, Ayah sudah menyiapkan semuanya untukmu."

Ucapan itu seketika menarik perhatian seluruh orang di dalam aula.

"Ayah telah mencapai kesepakatan dengan Keluarga Draksa. Mereka bersedia menyerahkan seribu Kristal Langit, bahkan memberikan teknik rahasia warisan leluhur mereka kepada Keluarga Cakrawala."

Arya mengernyit pelan. "Keluarga Draksa? Bukankah leluhur mereka hanya berada di Fase Langit? Setelah aku menjadi murid Perguruan Nirakasa, keluarga seperti itu sudah tidak lagi sebanding denganku."

"Itulah alasannya mengapa yang akan menikah bukan dirimu." Jayendra Cakrawala terkekeh ringan sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Revan. "Orang yang akan menikahi putri ketiga Keluarga Draksa adalah kakakmu."

Suasana aula kembali dipenuhi keramaian.

"Keluarga Draksa hanya ingin menjalin hubungan dengan keluarga kita. Mereka tahu masa depanmu sangat menjanjikan, jadi mereka rela mengeluarkan harga sebesar itu. Sebagai imbalannya, Revan akan tinggal di kediaman mereka sebagai menantu."

Mendengar penjelasan tersebut, mata Arya langsung berbinar. Senyum di bibirnya semakin lebar. "Keputusan yang sangat bagus."

"Putri ketiga Keluarga Draksa memang cukup rupawan. Sayangnya, ada tanda lahir yang menutupi separuh wajahnya hingga dia selalu disembunyikan dari orang luar. Kakakku yang tak berguna itu memang pasangan yang paling cocok untuk wanita sepertinya."

Ucapan itu kembali mengundang gelak tawa.

Di mata mereka, hidup Revan tak lebih dari sekadar alat tawar demi membuka jalan bagi masa depan Arya. Tak seorang pun merasa perlu menanyakan apakah dirinya menerima keputusan tersebut.

Revan menghembuskan napas panjang, lalu melangkah perlahan ke tengah aula.

"Sampai kapan kalian akan terus menentukan jalan hidupku?"

Suasana yang semula dipenuhi canda tawa langsung berubah sunyi.

Seluruh tatapan seketika beralih kepadanya.

"Aku memang bukan orang yang paling berbakat di keluarga ini." Suara Revan tetap tenang meski kedua tangannya telah mengepal kuat. "Namun itu bukan berarti kalian berhak menjadikan masa depanku sebagai barang dagangan."

Jayendra Cakrawala sontak berdiri dari kursinya. "Kurang ajar! Berani-beraninya kau menyela pembicaraan keluarga!"

Revan sama sekali tidak menghiraukan bentakan itu. Pandangannya tetap tertuju lurus kepada Arya. "Jadi, selama ini kau benar-benar menganggapku hanya sebagai pijakan untuk naik lebih tinggi?"

Arya bangkit perlahan dari kursinya, sorot matanya dipenuhi penghinaan. "Sejak kapan seorang sampah memiliki hak untuk menentukan pilihan?"

Ia melangkah santai hingga berhenti di depan Revan. "Selama bertahun-tahun, kau masih terjebak di tingkat kedua Fase Raga. Sementara aku sudah mencapai tingkat kelima Fase Roh dan resmi menjadi murid Perguruan Nirakasa."

Ia menatap Revan tepat di depan wajahnya. "Coba katakan, apa yang pernah kau sumbangkan kepada keluarga ini selain mempermalukan nama Keluarga Cakrawala?"

Napas Revan terasa semakin berat memenuhi dadanya. "Kalau bakatku memang rendah, itu urusanku sendiri." Ia mengatupkan rahangnya erat. "Tapi aku tidak akan mengorbankan hidupku hanya untuk mempermudah jalan kultivasimu."

"Hidupmu?" Arya menyunggingkan senyum penuh ejekan. "Kau terlalu memandang dirimu tinggi."

"Di dunia kultivasi, hanya mereka yang kuat yang berhak menentukan segalanya. Menjadi menantu Keluarga Draksa justru merupakan keberuntungan terbesar yang pernah menghampirimu."

Sorot mata Revan perlahan membeku.

Selama bertahun-tahun, masih ada secuil harapan di dalam hatinya bahwa suatu hari nanti keluarganya akan mengakui keberadaannya. Namun, pada detik itu juga, harapan terakhir tersebut benar-benar hancur tanpa sisa.

"Aku menolak."

Suaranya menggema lantang memenuhi seluruh aula.

"Meski harus kehilangan nyawa, aku tidak akan menikahi siapa pun demi memenuhi ambisi kalian."

Untuk sesaat, seluruh aula terdiam.

Tatapan Arya langsung berubah tajam. "Jadi, sampah sepertimu masih berani melawan?"

BANG!

Begitu kata-kata itu terucap, ledakan energi spiritual langsung memancar dari tubuhnya.

Revan bahkan belum sempat bereaksi ketika gelombang angin dari pukulan itu sudah menghantam dadanya dengan kekuatan yang luar biasa.

"Ugh—!"

Darah segar muncrat dari mulutnya. Tubuhnya terlempar beberapa meter ke belakang sebelum menghantam dinding aula dengan benturan keras hingga retakan menjalar ke segala arah, lalu ia jatuh tersungkur bersama pecahan batu yang berhamburan di lantai.

Arya bahkan tidak berniat menghampirinya. "Periksa dia nanti," ucapnya dengan nada dingin. "Kalau masih bernapas, lempar saja keluar."

Pandangan Revan semakin kabur. Suara-suara di sekitarnya perlahan memudar, lalu menghilang sepenuhnya, digantikan kegelapan pekat yang sedikit demi sedikit menelan kesadarannya.

Tepat saat kesadarannya hampir lenyap sepenuhnya, sebuah suara dingin tiba-tiba bergema dari segala penjuru.

[Sinkronisasi pewaris berhasil.]

[Artefak Cincin Langit aktif.]

[Memulai proses pengikatan…]

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
240 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status