LOGINDikhianati oleh keluarga sendiri demi masa depan adiknya yang jenius, Revan dipaksa menjadi menantu dan nyaris kehilangan nyawanya. Namun di ambang kematian, sebuah pusaka kuno bernama Cincin Langit memilihnya sebagai pewaris, memberinya akses menuju warisan para ahli legendaris yang mampu mengubah takdirnya. Saat semua orang masih memandangnya sebagai menantu tak berguna, Revan diam-diam mengumpulkan kekuatan untuk membalas setiap penghinaan yang pernah diterimanya. Kini, perjalanan menuju puncak kultivasi pun dimulai, dan mereka yang pernah menginjak harga dirinya akan menyadari bahwa mereka telah membangunkan sosok yang seharusnya tidak pernah mereka remehkan.
View MoreKota Jayagiri.
Sejak fajar menyingsing, kediaman Keluarga Cakrawala sudah dipenuhi suasana meriah. Para tetua keluarga datang silih berganti dengan raut wajah berseri, sementara para pelayan mondar mandir menyajikan teh serta hidangan hingga nyaris tak sempat menarik napas. Seluruh keramaian itu terjadi hanya untuk merayakan satu kabar yang mengguncang seisi Kota Jayagiri.
Arya Cakrawala, putra kedua Keluarga Cakrawala, telah resmi diterima sebagai murid Perguruan Nirakasa.
"Hari ini menjadi awal kebangkitan Keluarga Cakrawala!"
"Hahaha! Setelah Arya bergabung dengan Perguruan Nirakasa, siapa lagi di Kota Jayagiri yang berani memandang rendah keluarga kita?"
"Sebentar lagi, bahkan Keluarga Draksa pun harus memberi hormat kepada kita."
Gelak tawa dan suara riuh memenuhi aula utama.
Di tengah suasana penuh sukacita itu, hanya satu sosok yang tetap membisu.
Revan Cakrawala berdiri di sisi salah satu pilar sambil menatap keluarganya yang tenggelam dalam keramaian. Tak seorang pun menghampirinya untuk berbincang, bahkan tak ada sepasang mata yang sekadar menoleh ke arahnya, seakan keberadaannya hanyalah bayangan yang tak memiliki arti.
Pemandangan seperti itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
Sejak masih kecil, seluruh perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya selalu tercurah kepada Arya. Adiknya yang dikaruniai bakat kultivasi luar biasa itu terus menjadi kebanggaan keluarga, sedangkan Revan justru lebih sering diperlakukan layaknya orang asing di rumahnya sendiri.
"Bukankah memang seharusnya begitu?" Arya bersandar santai di kursi utama dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. "Kalau dibandingkan denganku, kakakku memang berbeda jauh. Aku berada di langit, sementara dia masih bergelimang di tanah."
Tak ada seorang pun yang berniat menegurnya.
Meski kursi utama yang semestinya hanya boleh diduduki kepala keluarga kini ditempati Arya begitu saja, seluruh anggota keluarga menganggapnya sebagai hal yang wajar.
Ucapan itu kembali menghujam dada Revan. Bukan karena kalimat tersebut terdengar asing baginya, tetapi sebab hinaan yang terus berulang selalu meninggalkan luka yang sama.
"Perbandingan itu terlalu berlebihan," ujar salah seorang tetua sambil terkekeh. "Arya adalah jenius terbaik yang pernah lahir di Kota Jayagiri selama puluhan tahun. Mana mungkin sampah seperti dia pantas disejajarkan?"
Jayendra Cakrawala—Kepala Keluarga Cakrawala mengangguk tanpa sedikit pun keraguan. Wajahnya bahkan memancarkan kebanggaan setiap kali mendengar putra sulung mereka dipermalukan di hadapan semua orang.
Bagi mereka, satu-satunya orang yang layak menyandang gelar harapan Keluarga Cakrawala hanyalah Arya.
Setelah gelak tawa di aula perlahan mereda, Arya mengangkat cangkir teh di tangannya. "Meskipun aku sudah diterima di Perguruan Nirakasa, persaingan di sana pasti jauh lebih sengit. Setengah bulan lagi utusan perguruan akan datang menjemputku. Kalau tidak memiliki sumber daya yang memadai, akan sulit bagiku mengejar murid-murid lainnya."
Jayendra Cakrawala langsung tersenyum puas. "Jangan khawatir, Ayah sudah menyiapkan semuanya untukmu."
Ucapan itu seketika menarik perhatian seluruh orang di dalam aula.
"Ayah telah mencapai kesepakatan dengan Keluarga Draksa. Mereka bersedia menyerahkan seribu Kristal Langit, bahkan memberikan teknik rahasia warisan leluhur mereka kepada Keluarga Cakrawala."
Arya mengernyit pelan. "Keluarga Draksa? Bukankah leluhur mereka hanya berada di Fase Langit? Setelah aku menjadi murid Perguruan Nirakasa, keluarga seperti itu sudah tidak lagi sebanding denganku."
"Itulah alasannya mengapa yang akan menikah bukan dirimu." Jayendra Cakrawala terkekeh ringan sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Revan. "Orang yang akan menikahi putri ketiga Keluarga Draksa adalah kakakmu."
Suasana aula kembali dipenuhi keramaian.
"Keluarga Draksa hanya ingin menjalin hubungan dengan keluarga kita. Mereka tahu masa depanmu sangat menjanjikan, jadi mereka rela mengeluarkan harga sebesar itu. Sebagai imbalannya, Revan akan tinggal di kediaman mereka sebagai menantu."
Mendengar penjelasan tersebut, mata Arya langsung berbinar. Senyum di bibirnya semakin lebar. "Keputusan yang sangat bagus."
"Putri ketiga Keluarga Draksa memang cukup rupawan. Sayangnya, ada tanda lahir yang menutupi separuh wajahnya hingga dia selalu disembunyikan dari orang luar. Kakakku yang tak berguna itu memang pasangan yang paling cocok untuk wanita sepertinya."
Ucapan itu kembali mengundang gelak tawa.
Di mata mereka, hidup Revan tak lebih dari sekadar alat tawar demi membuka jalan bagi masa depan Arya. Tak seorang pun merasa perlu menanyakan apakah dirinya menerima keputusan tersebut.
Revan menghembuskan napas panjang, lalu melangkah perlahan ke tengah aula.
"Sampai kapan kalian akan terus menentukan jalan hidupku?"
Suasana yang semula dipenuhi canda tawa langsung berubah sunyi.
Seluruh tatapan seketika beralih kepadanya.
"Aku memang bukan orang yang paling berbakat di keluarga ini." Suara Revan tetap tenang meski kedua tangannya telah mengepal kuat. "Namun itu bukan berarti kalian berhak menjadikan masa depanku sebagai barang dagangan."
Jayendra Cakrawala sontak berdiri dari kursinya. "Kurang ajar! Berani-beraninya kau menyela pembicaraan keluarga!"
Revan sama sekali tidak menghiraukan bentakan itu. Pandangannya tetap tertuju lurus kepada Arya. "Jadi, selama ini kau benar-benar menganggapku hanya sebagai pijakan untuk naik lebih tinggi?"
Arya bangkit perlahan dari kursinya, sorot matanya dipenuhi penghinaan. "Sejak kapan seorang sampah memiliki hak untuk menentukan pilihan?"
Ia melangkah santai hingga berhenti di depan Revan. "Selama bertahun-tahun, kau masih terjebak di tingkat kedua Fase Raga. Sementara aku sudah mencapai tingkat kelima Fase Roh dan resmi menjadi murid Perguruan Nirakasa."
Ia menatap Revan tepat di depan wajahnya. "Coba katakan, apa yang pernah kau sumbangkan kepada keluarga ini selain mempermalukan nama Keluarga Cakrawala?"
Napas Revan terasa semakin berat memenuhi dadanya. "Kalau bakatku memang rendah, itu urusanku sendiri." Ia mengatupkan rahangnya erat. "Tapi aku tidak akan mengorbankan hidupku hanya untuk mempermudah jalan kultivasimu."
"Hidupmu?" Arya menyunggingkan senyum penuh ejekan. "Kau terlalu memandang dirimu tinggi."
"Di dunia kultivasi, hanya mereka yang kuat yang berhak menentukan segalanya. Menjadi menantu Keluarga Draksa justru merupakan keberuntungan terbesar yang pernah menghampirimu."
Sorot mata Revan perlahan membeku.
Selama bertahun-tahun, masih ada secuil harapan di dalam hatinya bahwa suatu hari nanti keluarganya akan mengakui keberadaannya. Namun, pada detik itu juga, harapan terakhir tersebut benar-benar hancur tanpa sisa.
"Aku menolak."
Suaranya menggema lantang memenuhi seluruh aula.
"Meski harus kehilangan nyawa, aku tidak akan menikahi siapa pun demi memenuhi ambisi kalian."
Untuk sesaat, seluruh aula terdiam.
Tatapan Arya langsung berubah tajam. "Jadi, sampah sepertimu masih berani melawan?"
BANG!
Begitu kata-kata itu terucap, ledakan energi spiritual langsung memancar dari tubuhnya.
Revan bahkan belum sempat bereaksi ketika gelombang angin dari pukulan itu sudah menghantam dadanya dengan kekuatan yang luar biasa.
"Ugh—!"
Darah segar muncrat dari mulutnya. Tubuhnya terlempar beberapa meter ke belakang sebelum menghantam dinding aula dengan benturan keras hingga retakan menjalar ke segala arah, lalu ia jatuh tersungkur bersama pecahan batu yang berhamburan di lantai.
Arya bahkan tidak berniat menghampirinya. "Periksa dia nanti," ucapnya dengan nada dingin. "Kalau masih bernapas, lempar saja keluar."
Pandangan Revan semakin kabur. Suara-suara di sekitarnya perlahan memudar, lalu menghilang sepenuhnya, digantikan kegelapan pekat yang sedikit demi sedikit menelan kesadarannya.
Tepat saat kesadarannya hampir lenyap sepenuhnya, sebuah suara dingin tiba-tiba bergema dari segala penjuru.
[Sinkronisasi pewaris berhasil.]
[Artefak Cincin Langit aktif.]
[Memulai proses pengikatan…]
Raungan Revan mengguncang ruang berbintang. Tebasan Terpadu meledak dengan kekuatan yang belum pernah dia kenali sebelumnya, seakan pada saat itu dia benar-benar memiliki kemampuan untuk menghancurkan segala sesuatu di hadapannya.Serangan Revan menghantam bintang merah raksasa itu dengan kekuatan penuh. Jejak emas Tebasan Terpadu menerjang permukaannya, tetapi bintang tersebut nyaris tidak bergeming. Hanya beberapa retakan tipis yang muncul, kerusakan yang tampak terlalu kecil untuk membawa perubahan berarti.Namun, tepat ketika Revan mengira serangannya sia-sia, sesuatu di dalam bintang itu mendadak bergerak.Kekuatan misterius meledak dari pusatnya, begitu dahsyat hingga langsung beresonansi dengan cahaya keemasan di tangan Revan. Kedua kekuatan itu saling menyambut, lalu berpadu menjadi gelombang energi yang jauh melampaui serangan sebelumnya.Revan merasakan perubahan tersebut. Matanya memerah, sementara seluruh otot tubuhnya menegang saat dia mengerahkan sisa tenaga tanpa menaha
“Lintasan Rasi dan Tatanan Langit.... Mari kita lihat kemampuanmu yang sebenarnya.”Revan membuka sampul kitab tersebut. Dari luar, buku itu tampak masih utuh, tetapi halaman-halamannya sudah menguning karena usia. Bau kertas tua yang lembap pun tercium samar ketika dia mulai membalik lembar demi lembar.Sebelum penggunaan lempengan giok menjadi umum, berbagai teknik kultivasi kuno diwariskan melalui naskah tertulis atau ukiran pada batu. Kitab di tangan Revan jelas termasuk peninggalan dari masa tersebut.Dia membaca dengan teliti, berusaha memahami setiap uraian yang tersisa. Namun, semakin jauh dia membalik halaman, semakin dalam kerutan di dahinya. Ekspresinya yang semula penuh harapan perlahan berubah serius.Satu jam berlalu sebelum akhirnya Revan menutup kitab itu sejenak. “Isinya bahkan tidak mencapai tujuh puluh persen.... Terlalu banyak bagian penting yang hilang.”Dia mengusap wajahnya dengan frustasi. Baru sekarang dia benar-benar menyadari betapa parah kerusakan teknik te
Salah seorang tetua akhirnya membuka suara. “Kau sudah menemukan teknik yang ingin dipilih?”Revan tersenyum dan mengangguk. “Sudah.”“Teknik apa yang kau ambil?” tanya tetua lainnya, tak mampu menahan rasa penasarannya.“Lintasan Rasi dan Tatanan Langit.”Kedua pria tua itu seketika terdiam. Mereka berusaha mempertahankan ketenangan, tetapi nama teknik tersebut jelas membuat mereka terkejut.Dari sekian banyak teknik kultivasi tingkat Agung yang tersedia, mengapa pemuda ini justru memilih teknik yang terkenal sulit dikuasai?Kedua tetua memahami betul masalah di balik teknik tersebut. Isinya tidak lengkap, bagian terpentingnya telah hilang, dan selama bertahun-tahun belum ada seorang pun yang berhasil menguasainya. Kesempatan memperoleh teknik tingkat Agung yang begitu langka seakan terbuang sia-sia.Salah seorang tetua menghela napas, lalu menatap Revan dengan ekspresi prihatin.“Teknik itu sangat sulit dipelajari. Bahkan, bisa dibilang hampir mustahil untuk dikuasai dalam kondisi s
“Adik Junior, kau benar-benar memilih teknik itu?” Suara Aluna kembali terdengar dari samping.Dia dan pemuda tampan yang bersamanya tadi sama-sama menyadari perubahan pada formasi rak, sehingga perhatian mereka langsung tertuju kepada Revan. Keduanya tampak terkejut ketika mengetahui kitab yang dipilihnya.Revan mengangguk tanpa ragu. “Menurutku, teknik ini cukup bagus. Jadi, aku ingin mempelajarinya.”Aluna spontan menepuk dahinya. Di sisi lain, pemuda tampan itu hanya mengangkat sudut bibir, lalu menggeleng pelan sebelum kembali melanjutkan pencariannya. Sikap Revan jelas berada di luar perkiraannya.“Bukankah tadi sudah kuingatkan agar kau memilih dengan cermat?” Aluna menatap kitab di tangan Revan dengan ekspresi tak habis pikir. “Kesempatan memasuki lantai tiga dan mengambil teknik kultivasi tingkat Agung itu sangat langka. Kau tahu berapa banyak usaha yang diperlukan untuk mengumpulkan lima ratus poin kontribusi?”Dia menunjuk kitab tersebut, seakan masih berharap Revan menyada






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.