Share

Bab 1317

Penulis: Imgnmln
last update Tanggal publikasi: 2025-08-07 16:18:04

“Darahku?”

Nathan tampak bingung, namun dia tidak bertanya lebih jauh. Dia menggigit ujung jarinya, dan setetes darah merah yang berkilauan muncul.

Bonang menampung darah itu dengan ujung kuasnya, lalu dengan cepat menggambar sebuah pola naga yang rumit di atas jimat terakhir. Dia kemudian menempelkan jimat darah itu tepat di tengah-tengah batu segel raksasa.

GRRR~ BRAKK!

Seketika, seluruh gua bergetar hebat. Semua jimat yang tertempel di dinding menyala serempak, menembakkan berkas-berkas caha
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2217

    Sementara itu, suasana di Ordo Tempest justru berubah menjadi jauh lebih tegang.Tetua Eksel telah kembali dalam keadaan terluka. Setelah menemui Harland, ia menceritakan semua yang terjadi, termasuk kekuatan Nathan yang ternyata telah melampaui puncak Sovereign tingkat menengah.Mendengar laporan tersebut, wajah Harland seketika menggelap. Belum sempat mereka berbicara lebih jauh, seorang wanita bergegas masuk ke ruangan dengan wajah penuh kecemasan.“Eksel!” Tatapannya langsung tertuju kepada Tetua Eksel. “Aku dengar kau terluka. Separah apa lukamu? Bagaimana bisa kau sampai kalah dari anak muda itu?”Tetua Eksel menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja, Kakak Ipar.”Harland memperhatikan interaksi keduanya dalam diam. Sorot matanya semakin dingin ketika melihat betapa cemasnya sang istri terhadap Tetua Eksel, tetapi ia tetap menahan emosinya.Ia lalu mengambil sebuah pil berwarna hijau dari dalam wadah. “Minum ini. Elixir Pemurnian akan membantu menstabilkan kondisimu. Setelah itu, be

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2216

    Nathan juga menghentikan langkahnya. Di hadapan mereka terbentang sebuah kerangka utuh yang memancarkan cahaya putih kebiruan dari dalam kegelapan laut. Cahaya itu begitu jelas hingga membuat tulang-tulang tersebut tampak seperti terbuat dari kristal.Nathan mendekat dengan hati-hati. Semakin dekat ia mengamati, semakin aneh pemandangan itu terasa. Kerangka tersebut benar-benar menyerupai tulang manusia, tetapi permukaannya bening dan berkilau seperti kristal yang dipoles.“Ini tulang manusia atau memang terbentuk dari kristal?” Bonang menyentuh salah satu bagian kerangka dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.Kerangka itu masih dalam keadaan lengkap. Tulang-tulang jari, lengan, kaki, hingga ruas tulang belakangnya terlihat jelas. Yang membuat mereka semakin bingung adalah keberadaan jasad tersebut di dasar laut dan cahaya yang terus terpancar dari setiap tulangnya.Nathan kemudian mengamati bagian tengkorak, ada sesuatu yang berbeda. Permukaan tengkorak itu dipenuhi garis-garis aneh y

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2215

    Setelah berpamitan, Nathan meminta Rael dan Velisa kembali ke Ordo Sancta. Keduanya pun mengucapkan salam perpisahan kepada Haland sebelum Nathan, Bonang, dan Kieran bersiap meninggalkan Pulau Eron menuju Moniyan.Namun, baru beberapa langkah dari pulau, Nathan tiba-tiba berhenti. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Di permukaan laut yang tenang, sebuah kilatan cahaya samar terlihat sesaat sebelum menghilang kembali.Nathan menyipitkan mata. “Bonang, lihat ke sana.”Ia menunjuk ke arah cahaya tersebut.Bonang mengikuti arah jarinya dan memandang permukaan laut cukup lama. “Apa yang harus kulihat?”“Kau tidak melihat cahaya yang berkedip di sana?” Nathan semakin heran.Bonang menggelengkan kepala. “Cahaya? Aku tidak melihat apa-apa.”Ia kemudian menoleh kepada Kieran. “Kieran, kau melihat sesuatu?”Kieran ikut memperhatikan arah yang ditunjuk Nathan, tetapi akhirnya menggeleng. “Tidak ada apa-apa.”Bonang kembali menatap Nathan. “Sudah kubilang, kau mungkin salah lihat.”Namun Natha

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2214

    Sementara itu, di pegunungan dekat pantai, pemimpin Tujuh Astral akhirnya berhasil mencapai daratan. Tubuhnya penuh luka dan napasnya tersengal-sengal, tetapi setidaknya ia berhasil lolos dari wilayah laut yang telah berubah menjadi medan pembantaian.Ia ingin segera kembali ke markas Ordo Astrum dan melaporkan satu hal kepada Osric. Kekuatan Nathan telah berubah jauh melampaui perkiraan mereka.Baru saja ia hendak melanjutkan perjalanan, beberapa sosok tiba-tiba muncul dan menghadang jalannya.Langkah pemimpin Tujuh Astral terhenti. Ia perlahan mengangkat kepala. Saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya, wajahnya seketika berubah pucat.“Da... Damian?”Ketakutan langsung terpancar dari sorot matanya.Pemimpin Ordo Ignis telah muncul tepat di hadapannya. Ordo Ignis menyimpan dendam terhadap Sembilan Pilar Agung sejak lama. Kini, setelah dirinya terluka parah dan terjebak sendirian di tempat terpencil, bertemu Damian beserta orang-orangnya jelas bukan pertanda baik.“Sebagai kartu

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2213

    “Sudah sampai sejauh ini, kalian pikir masih bisa pergi?”Tatapan Nathan berubah dingin. Ia mengangkat satu tangan ke udara, lalu laut di hadapannya seketika bergemuruh. Gelombang raksasa setinggi lebih dari sepuluh meter bangkit dari permukaan air dan menghantam ke arah pasukan Ordo Astrum yang sedang berusaha mundur.Dalam hempasan gelombang itu, ribuan anak panah air terbentuk. Setiap anak panah dipenuhi Kekuatan Spiritual milik Nathan. Begitu tangannya turun, seluruh anak panah melesat bersamaan, memenuhi langit seperti hujan maut yang tak memberi celah untuk menghindar.Para anggota Ordo Astrum berusaha melawan. Namun, tidak peduli apakah mereka berada di Sovereign tingkat akhir, tak seorang pun mampu menahan serangan tersebut. Tubuh mereka ditembus satu demi satu, lalu jatuh ke laut tanpa sempat memberikan perlawanan berarti.Dalam hitungan detik, permukaan laut berubah merah oleh darah.Pemimpin Tujuh Astral menyaksikan semua itu dengan wajah pucat. Orang-orang yang dibawanya k

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2212

    Nathan menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tangannya. Ujung jarinya bergerak ringan sebelum energi dahsyat ditembakkan bertubi-tubi, beradu dengan ribuan pancaran pedang tersebut.BANG! BANG! BANG!Ledakan berturut-turut mengguncang udara dan membuat permukaan laut bergolak hebat. Gelombang besar bermunculan di sekitar mereka, tetapi Nathan bahkan belum menghunus Pedang Aruna. Ia memilih menghadapi Tetua Eksel dengan tangan kosong.Tetua Eksel mempersempit tatapannya. Semakin lama pertarungan berlangsung, semakin jelas baginya bahwa pemuda di hadapannya bukan lawan yang bisa diukur dengan tingkat kultivasi biasa.“Hanya kemampuan seperti ini yang kau miliki?” Nathan menatapnya dengan senyum mengejek. “Berani-beraninya kau mengejarku demi membalaskan dendam.”Tanpa menunggu jawaban, Nathan merentangkan tangan kanannya ke permukaan laut. Air laut seketika terangkat.Seberkas air membubung ke udara dan berkumpul di telapak tangan Nathan sebelum memadat menjadi sebuah tombak panjan

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 51

    Nathan melihat sekilas kearah Yuda kemudian dia tertawa dingin dan tidak menggubrisnya.“Bos, telpon Tuan Ryze, katakan anak muda ini berbuat masalah disini! Biarkan Tuan Ryzen memberinya pelajaran, dengan begitu kita juga bisa tahu apakah yang barusan menelepon adalah Tuan Ryzen atau bukan!” Wulan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 55

    “Apa, hah?”“Sudahlah, Darby, tidak apa,” seru David sedikit malu.Darby lalu berkata dengan perasaan menyesal. “Kapten, jangan hiraukan perkataan wanita ini, perusahaan kami mempunyai hubungan bisnis dengan Dwimas Company. Akan tetapi, hasil keuntungan bersama ditahan mereka, dan sekarang dana perusa

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 30

    “Mencuri?” Nathan terkejut saat mendengar ucapan pemilik toko itu. “Jelas-jelas aku sudah membelinya darimu.”"Omong kosong! Sedari awal aku ingin memberikan cincin itu untuk Tuan Ryzen, tapi kamu mencurinya dariku!" elak pemilik toko itu seraya menatap wajah pria di hadapannya yang terkejut.Mendenga

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 32

    “Ada apa? Apakah kamu melihat kursi naga itu bukan seperti kursi biasa?” terlihat rasa bangga di wajah Zayn dan berkata. “Kursi ini dikirim dari luar negri dengan harga yang cukup mahal, konon katanya, kursi ini pernah diduduki oleh kaisar Qing.”Zayn meraba tangan kursi naga itu dengan lembut, terli

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status