Share

Bab 1318

Author: Imgnmln
last update publish date: 2025-08-07 16:18:10

Tiba-tiba, Bonang menghela napas panjang. "Sayang sekali mahakarya ini sudah terlalu tua. Kekuatan langit dan bumi yang terperangkap di sini sudah mulai memudar." Matanya menatap kejauhan dengan pandangan menerawang. "Jika kita datang beberapa ribu tahun lebih awal, saat tempat ini masih berada di puncaknya, energi di sini saja sudah cukup untuk membantu kita berdua langsung naik ke tingkat keabadian."

Meskipun begitu, Nathan masih bisa merasakan energi spiritual yang luar biasa murni terus men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2217

    Sementara itu, suasana di Ordo Tempest justru berubah menjadi jauh lebih tegang.Tetua Eksel telah kembali dalam keadaan terluka. Setelah menemui Harland, ia menceritakan semua yang terjadi, termasuk kekuatan Nathan yang ternyata telah melampaui puncak Sovereign tingkat menengah.Mendengar laporan tersebut, wajah Harland seketika menggelap. Belum sempat mereka berbicara lebih jauh, seorang wanita bergegas masuk ke ruangan dengan wajah penuh kecemasan.“Eksel!” Tatapannya langsung tertuju kepada Tetua Eksel. “Aku dengar kau terluka. Separah apa lukamu? Bagaimana bisa kau sampai kalah dari anak muda itu?”Tetua Eksel menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja, Kakak Ipar.”Harland memperhatikan interaksi keduanya dalam diam. Sorot matanya semakin dingin ketika melihat betapa cemasnya sang istri terhadap Tetua Eksel, tetapi ia tetap menahan emosinya.Ia lalu mengambil sebuah pil berwarna hijau dari dalam wadah. “Minum ini. Elixir Pemurnian akan membantu menstabilkan kondisimu. Setelah itu, be

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2216

    Nathan juga menghentikan langkahnya. Di hadapan mereka terbentang sebuah kerangka utuh yang memancarkan cahaya putih kebiruan dari dalam kegelapan laut. Cahaya itu begitu jelas hingga membuat tulang-tulang tersebut tampak seperti terbuat dari kristal.Nathan mendekat dengan hati-hati. Semakin dekat ia mengamati, semakin aneh pemandangan itu terasa. Kerangka tersebut benar-benar menyerupai tulang manusia, tetapi permukaannya bening dan berkilau seperti kristal yang dipoles.“Ini tulang manusia atau memang terbentuk dari kristal?” Bonang menyentuh salah satu bagian kerangka dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.Kerangka itu masih dalam keadaan lengkap. Tulang-tulang jari, lengan, kaki, hingga ruas tulang belakangnya terlihat jelas. Yang membuat mereka semakin bingung adalah keberadaan jasad tersebut di dasar laut dan cahaya yang terus terpancar dari setiap tulangnya.Nathan kemudian mengamati bagian tengkorak, ada sesuatu yang berbeda. Permukaan tengkorak itu dipenuhi garis-garis aneh y

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2215

    Setelah berpamitan, Nathan meminta Rael dan Velisa kembali ke Ordo Sancta. Keduanya pun mengucapkan salam perpisahan kepada Haland sebelum Nathan, Bonang, dan Kieran bersiap meninggalkan Pulau Eron menuju Moniyan.Namun, baru beberapa langkah dari pulau, Nathan tiba-tiba berhenti. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Di permukaan laut yang tenang, sebuah kilatan cahaya samar terlihat sesaat sebelum menghilang kembali.Nathan menyipitkan mata. “Bonang, lihat ke sana.”Ia menunjuk ke arah cahaya tersebut.Bonang mengikuti arah jarinya dan memandang permukaan laut cukup lama. “Apa yang harus kulihat?”“Kau tidak melihat cahaya yang berkedip di sana?” Nathan semakin heran.Bonang menggelengkan kepala. “Cahaya? Aku tidak melihat apa-apa.”Ia kemudian menoleh kepada Kieran. “Kieran, kau melihat sesuatu?”Kieran ikut memperhatikan arah yang ditunjuk Nathan, tetapi akhirnya menggeleng. “Tidak ada apa-apa.”Bonang kembali menatap Nathan. “Sudah kubilang, kau mungkin salah lihat.”Namun Natha

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2214

    Sementara itu, di pegunungan dekat pantai, pemimpin Tujuh Astral akhirnya berhasil mencapai daratan. Tubuhnya penuh luka dan napasnya tersengal-sengal, tetapi setidaknya ia berhasil lolos dari wilayah laut yang telah berubah menjadi medan pembantaian.Ia ingin segera kembali ke markas Ordo Astrum dan melaporkan satu hal kepada Osric. Kekuatan Nathan telah berubah jauh melampaui perkiraan mereka.Baru saja ia hendak melanjutkan perjalanan, beberapa sosok tiba-tiba muncul dan menghadang jalannya.Langkah pemimpin Tujuh Astral terhenti. Ia perlahan mengangkat kepala. Saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya, wajahnya seketika berubah pucat.“Da... Damian?”Ketakutan langsung terpancar dari sorot matanya.Pemimpin Ordo Ignis telah muncul tepat di hadapannya. Ordo Ignis menyimpan dendam terhadap Sembilan Pilar Agung sejak lama. Kini, setelah dirinya terluka parah dan terjebak sendirian di tempat terpencil, bertemu Damian beserta orang-orangnya jelas bukan pertanda baik.“Sebagai kartu

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2213

    “Sudah sampai sejauh ini, kalian pikir masih bisa pergi?”Tatapan Nathan berubah dingin. Ia mengangkat satu tangan ke udara, lalu laut di hadapannya seketika bergemuruh. Gelombang raksasa setinggi lebih dari sepuluh meter bangkit dari permukaan air dan menghantam ke arah pasukan Ordo Astrum yang sedang berusaha mundur.Dalam hempasan gelombang itu, ribuan anak panah air terbentuk. Setiap anak panah dipenuhi Kekuatan Spiritual milik Nathan. Begitu tangannya turun, seluruh anak panah melesat bersamaan, memenuhi langit seperti hujan maut yang tak memberi celah untuk menghindar.Para anggota Ordo Astrum berusaha melawan. Namun, tidak peduli apakah mereka berada di Sovereign tingkat akhir, tak seorang pun mampu menahan serangan tersebut. Tubuh mereka ditembus satu demi satu, lalu jatuh ke laut tanpa sempat memberikan perlawanan berarti.Dalam hitungan detik, permukaan laut berubah merah oleh darah.Pemimpin Tujuh Astral menyaksikan semua itu dengan wajah pucat. Orang-orang yang dibawanya k

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2212

    Nathan menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tangannya. Ujung jarinya bergerak ringan sebelum energi dahsyat ditembakkan bertubi-tubi, beradu dengan ribuan pancaran pedang tersebut.BANG! BANG! BANG!Ledakan berturut-turut mengguncang udara dan membuat permukaan laut bergolak hebat. Gelombang besar bermunculan di sekitar mereka, tetapi Nathan bahkan belum menghunus Pedang Aruna. Ia memilih menghadapi Tetua Eksel dengan tangan kosong.Tetua Eksel mempersempit tatapannya. Semakin lama pertarungan berlangsung, semakin jelas baginya bahwa pemuda di hadapannya bukan lawan yang bisa diukur dengan tingkat kultivasi biasa.“Hanya kemampuan seperti ini yang kau miliki?” Nathan menatapnya dengan senyum mengejek. “Berani-beraninya kau mengejarku demi membalaskan dendam.”Tanpa menunggu jawaban, Nathan merentangkan tangan kanannya ke permukaan laut. Air laut seketika terangkat.Seberkas air membubung ke udara dan berkumpul di telapak tangan Nathan sebelum memadat menjadi sebuah tombak panjan

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 407

    “Bocah, berlutut padaku dan minta maaf sekarang!" Dengus Hagen dengan kesal. "Kemudian, mungkin aku bisa mengampunimu, kamu sudah menyinggungku, dan masih berani datang ke Antarka? Nyalimu besar juga ya!” “Disini juga bukan rumahmu, aku mau kemana, ya terserah aku!” Nathan berkata sambil tersenyum d

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 426

    “Reus, kenapa kamu menyerang bawahan Keluarga Holcy?” Aston melihat orang yang datang dan berteriak dengan marah. Reus yang tiba-tiba datang berkata dengan dingin dan arogan. “Aston, orang-orang disini berada dalam perlindunganku. Kalau tidak ingin menjadi musuh Keluarga Alvaro, sebaiknya kamu pergi

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 437

    Di sebuah restoran, seorang pria paruh bayah dengan wajah datar sedang menyeruput teh nya dengan hati-hati, dan seorang pemuda berdiri di belakangnya dengan tubuh tegak dan rambut pendek, dia terlihat sangat cakap. “Justin, berapa usiamu tahun ini?” Pria paruh baya itu tiba-tiba berbicra. “Tyan, t

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 382

    Setelah Simon pergi, di dalam ruangan VIP hanya tersisa Nathan sekeluarga dan keluarga bibinya. “Nathan, perkataanku memang tidak enak didengar, tapi ini semua demi kebaikanmu. Sekarang, ayah dan ibumu tidak mempunyai pekerjaan dan hanya mengandalkanmu untuk bertahan hidup. Kalau kamu memiliko motiv

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status