Share

Bab 1337

Author: Imgnmln
last update Last Updated: 2025-08-14 09:13:23

“Emin, inikah kemampuan yang kau banggakan itu?" tanya Sancho, nadanya terdengar tidak puas.

"Aku tidak percaya!" raung Emin.

Dia mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dan menenggak isinya. Bau darah segar yang menusuk hidung seketika menyebar. Setelah menelan darah manusia itu, aura di tubuhnya berubah menjadi liar dan menakutkan.

Melihat itu, senyum di wajah Nathan lenyap. "Kultivator hitam," katanya, auranya sendiri berubah menjadi sedingin es. "Harus mati."

"Yang akan mati itu kau!" Emin melesat maju, tangannya yang terbungkus kabut hitam siap merobek Nathan, sementara dari mulutnya keluar suara siulan melengking yang menusuk gendang telinga.

Nathan berdiri dengan tenang. Tepat saat Emin tiba di hadapannya, dia melayangkan sebuah tamparan. Telapak tangannya memancarkan cahaya putih yang lembut dan suci.

BAM!

Suara ledakan yang terdengar seperti guntur suci menggema di angkasa. Tubuh Emin terlempar ke belakang, diselimuti oleh cahaya putih yang membara itu.

"AAAAHHH!" Dia berter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Jamuga
Mantap… banyakin lagi bab nya thor…
goodnovel comment avatar
Rizal Sanjaya
tambaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh
goodnovel comment avatar
Muhamad Abdullah
mantap semakin kuat nathan makin seru jln cerita nya.. Arigato haiq hehee
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1594

    “Oh, aku tahu,” jawab Chelsea cepat. “Nathan sering menyebut namamu.” Ia merapat sedikit. “Soal teman atau bukan, siapa tahu nanti kita jadi satu keluarga.”Wajah Sheerena memanas. Namun alih-alih menjauh, ia justru tersenyum lebih lembut.“Ayo,” lanjut Chelsea sambil menariknya masuk. “Aku ingin belajar darimu. Kau pasti punya rahasia merawat diri.”Nathan berdiri di tempatnya, menatap punggung dua wanita itu.Di kejauhan, beberapa tamu memperhatikan dan tersenyum.Nathan memilih diam.Bukan karena tidak ingin bicara, melainkan karena setiap celah yang ia siapkan langsung ditutup oleh Chelsea. Gadis itu bicara nyaris tanpa jeda, nadanya ringan, tapi setiap kalimat seperti dorongan kecil yang memaksa Nathan terus mundur.“Nathan,” ucap Sheena sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi, “Ternyata selama ini kamu masih memikirkan kakakku.”Nathan menoleh.“Kalau begitu,” lanjutnya tanpa perubahan ekspresi, “Kenapa setelah sekian lama kamu tidak pernah datang ke Sekte Bloody?”Nathan menarik

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1593

    Mereka bukan tamu biasa. Semua nama itu berasal dari keluarga yang naik terlalu cepat dalam beberapa tahun terakhir dan dikenal karena kekuatan, bukan hubungan.Nathan menyipitkan mata, ia tak mengenal mereka.Nalan melangkah mendekat, suaranya nyaris berbisik. “Mereka datang bukan untuk memberi selamat, hati-hati.”Nathan mengangguk pelan. Apa pun niat mereka, hari ini ia tak bisa mengusir siapa pun. Ini adalah hari kelahiran klan dan semua mata sedang menatapnya. Ia melangkah maju untuk menyambut.Chelsea mengikuti di belakangnya, langkahnya ringan, tapi matanya tajam.Di kejauhan, beberapa tamu tersenyum, senyum yang sama sekali tidak membawa niat baik.“Nathan, selamat atas berdirinya Klan Draken Ascalon.”Suara itu datang lebih dulu daripada langkahnya.Raze berdiri di depan gerbang, senyum tipis tergantung di bibirnya.Nathan berhenti dan Chelsea berdiri di sampingnya.“Terima kasih,” jawab Nathan singkat. Tatapannya menyapu wajah Raze dengan cepat. Ada sedikit kekakuan di matan

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1592

    Ia menatap Seiji lurus-lurus. “Jika ingin belajar darinya, kalian harus menantangnya secara pribadi. Apakah dia menerima atau menolak, itu di luar kewenangan saya. Saya tidak akan memaksa siapa pun demi menjaga muka politik.”Nada suaranya datar, tapi tegas.Seiji mengangguk dalam. “Dengan pernyataan Tuan Ryujin, kami sudah cukup puas. Kalau begitu, kami pamit.” Ia berdiri, memberi hormat singkat.Tujuan kunjungannya memang hanya itu, mendengar sikap resmi Ryujin. Tanpa kejelasan ini, campur tangan pemerintah bisa menjadi masalah besar di kemudian hari. Rombongan Solara pun meninggalkan aula.Sementara Ryujin tetap duduk di tempatnya, matanya menyipit tipis.Di luar sana, badai kecil sedang bergerak menuju satu nama yang sama.***Pagi itu, Moniyan terasa berbeda.Udara dipenuhi hiruk-pikuk yang jarang terlihat, para praktisi bela diri dari berbagai wilayah berdatangan, membawa rasa ingin tahu dan kewaspadaan sekaligus. Sejak matahari terbit, satu kabar telah menyebar ke seluruh Marti

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1591

    Zephir sudah duduk di kursi sebelahnya.“Paman.” Nathan menyodorkan rokok. “Cih! Aku sungguh tidak tahu harus bagaimana.”Zephir mengisap rokoknya pelan. “Kamu tak perlu melakukan apa pun. Para gadis itu cukup dewasa untuk mengurus perasaan mereka sendiri.” Ia menoleh, tatapannya tajam namun tenang. “Wanita tidak seharusnya menjadi pusat kecemasanmu. Fokusmu harus ada di tempat lain.”Nathan terdiam, lalu mengangguk.Sedikit demi sedikit, beban di dadanya mengendur.Namun jauh di dalam dirinya, sebuah firasat berbisik ini baru awal dari kekacauan yang lebih besar.***Kota Moniyan, gedung Parlemen berdiri tenang di bawah langit siang.Pintu aula utama terbuka cepat. Paul melangkah masuk dengan wajah serius. “Tuan Ryujin, tim misi diplomatik dari Negara Solara telah tiba. Mereka menunggu di luar.”Ryujin mengangguk pelan. “Biarkan mereka masuk.”Tak lama kemudian, Paul mempersilakan rombongan itu masuk. Di barisan depan berdiri seorang pria paruh baya berjanggut rapi—Seiji Valmorin, pe

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1590

    Elara menatap sekitar dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Sulit dipercaya… setelah ribuan tahun, dunia berubah sejauh ini.”Ia mengerutkan kening. “Energi spiritual di sini terlalu tipis. Untuk berkultivasi hampir mustahil. Bahkan mengeluarkan dua pertiga kekuatan tubuh fisik ini saja terasa berat.”Nathan menoleh. “Tidak ada cara lain untuk memulihkan kondisimu?”Dalam pikirannya, Elara bukan sosok biasa. Roh di dalam tubuh itu telah hidup ribuan tahun, wanita suci dari Lunar Sanctum. Mustahil jika ia benar-benar tak punya jalan keluar.Elara terdiam sejenak.Tatapannya mengeras, seolah mengingat sesuatu yang lama terkubur. “Cara itu ada,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan. “Tapi jika aku menggunakannya, dunia ini tidak akan pernah sama lagi.”Elara menggeleng perlahan. Wajahnya serius, nada suaranya turun satu tingkat.“Maka dari itu tidak bisa. Energi spiritual di dunia ini terlalu tipis. Rasanya seperti ada lapisan pengekang, sebuah kekuatan terlarang yang membatasi pertumbuha

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1589

    Raze menatap wajah Nalan, tidak ada sedikit pun tanda bercanda. Akhirnya, ia tersenyum tipis. “Kalau begitu, izinkan aku memperjelas maksudku.”Ia mengangkat kedua tangannya sedikit. “Aku tidak berniat menjadi musuh Nathan. Jika nanti ada pertukaran dan latihan bersama, murni sebagai sesama praktisi bela diri. Tanpa niat tersembunyi.”Nalan terdiam sejenak.Di dunia bela diri, menolak latihan bersama justru akan memicu kecurigaan.“Latihan dan pertukaran boleh,” kata Nalan akhirnya. “Tapi hanya sampai di situ. Jika kau melampaui batas, yang akan menyesal bukan kami.”Raze mengangguk cepat. “Tentu. Nathan berada di sisi Keluarga Island, berarti juga berada di jalur yang sama dengan Dune Hall. Aku tidak sebodoh itu.”***Waktu melaju tanpa menunggu siapa pun.Tanpa terasa, dua hari berlalu begitu saja. Besok, upacara peresmian Klan Draken Ascalon akan digelar. Seluruh wilayah kediaman utama sudah berubah menjadi lautan kesibukan.Anggota Keluarga Zellon bergerak serempak, masing-masing

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status