مشاركة

Bab 1459

مؤلف: Imgnmln
last update تاريخ النشر: 2025-10-13 14:51:28

Nathan dibawa ke kediaman keluarga Island, sebuah manor terpencil yang dikelilingi oleh taman-taman yang tenang dan dinding-dinding tinggi, sebuah kedamaian di tengah dunia yang penuh kekacauan. Ia ditempatkan di sebuah kamar yang nyaman dan terawat baik.

Setelah Scholar dan yang lainnya pergi, Chelsea menghampiri ayahnya, wajahnya penuh dengan kebingungan.

"Ayah," tanyanya. "Mengapa? Mengapa kau melanggar tradisi leluhur hanya demi satu orang? Aturan keluarga kita jelas, jangan pernah terlibat
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2136

    Nathan menatap Tetua Ketiga tanpa sedikit pun rasa iba. "Kalau aku membiarkanmu hidup, lalu bagaimana dengan mereka yang mati tanpa alasan?"Tatapannya beralih sekilas ke deretan jasad yang memenuhi lereng gunung.Kilatan dingin melintas di matanya.GRAAKK—!Nathan menginjak lebih keras.Tetua Ketiga kembali memuntahkan darah segar. Cahaya di matanya perlahan memudar, napasnya terputus, lalu tubuhnya terkulai tanpa kehidupan.Seorang Puncak Sovereign Tingkat Menengah tewas begitu saja di bawah satu injakan Nathan.Melihat para murid Ordo Tempest berusaha melarikan diri, Nathan mengangkat tangannya.Whoossshh!Pedang Aruna langsung muncul di genggamannya, memancarkan cahaya dingin yang menusuk mata.Detik berikutnya, sosok Nathan lenyap bagaikan kilatan petir.Srrt! Srrt! Srrt!Jeritan demi jeritan memecah keheningan pegunungan.Dalam sekejap mata, seluruh murid Ordo Tempest yang mencoba kabur telah roboh satu per satu. Tak seorang pun berhasil menyelamatkan diri dari tebasan Pedang Ar

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2135

    DUAAAAR!Ledakan dahsyat mengguncang seluruh pegunungan. Debu dan batu beterbangan ke segala arah. Tanah retak, sementara bebatuan di sekitar hancur berkeping-keping akibat benturan dua kekuatan itu.Beberapa saat kemudian, debu mulai menghilang.Pemandangan yang tersisa membuat semua orang terpaku.Artefak petir milik Tetua Ketiga telah hancur berkeping-keping. Yang masih berada di tangannya hanyalah dua batang gagang yang patah.Tetua Ketiga berdiri membeku. Tatapannya kosong saat memandangi sisa senjata spiritualnya yang telah berubah menjadi rongsokan."Cih!" Nathan mendengus dingin. "Dengan kemampuan seperti itu, kau masih punya muka untuk sombong?"Belum sempat Tetua Ketiga tersadar, Nathan sudah melayangkan tendangan keras ke dadanya.DUAAAG!Tubuh Tetua Ketiga langsung terpental puluhan meter. Di tengah lintasan, darah segar menyembur dari mulutnya, membentuk lengkungan merah di udara sebelum tubuhnya menghantam tanah dengan keras.Para murid Ordo Tempest langsung membeku di t

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2134

    Raze menelan ludah. "Tuan Nathan... benar-benar bukan manusia biasa." Ia menggeleng pelan sambil terus menatap sosok Nathan yang melesat di udara. "Dengan kultivasi Sovereign Tingkat Akhir saja, beliau sudah memiliki kekuatan seperti ini."Alric, Aldren, dan Riven hanya bisa terdiam. Kekaguman dalam hati mereka semakin sulit diungkapkan dengan kata-kata.Melihat Nathan benar-benar berani menyerangnya, Tetua Ketiga mendengus keras. "Majulah!"Ia mengangkat kedua tangannya ke udara. Beberapa murid Ordo Tempest segera melemparkan artefak ke arahnya.Whoossshh!Di tengah lintasan, artefak itu membesar berkali-kali lipat sebelum mendarat mantap di telapak tangan Tetua Ketiga. Ia memutar artefak tersebut dengan ringan.BANG! BANG! BANG!Setiap benturan di antara keduanya menghasilkan dentingan yang mengguncang udara. Gelombang suara itu begitu tajam hingga banyak kultivator spontan menutup telinga, sementara wajah mereka berubah pucat.Di sisi lain, Nathan sama sekali tidak berniat menghind

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2133

    Meski Velisa mengerahkan seluruh kemampuannya, gelombang tekanan itu tetap menembus pertahanannya sedikit demi sedikit. Raze dan yang lainnya masih merasakan beban luar biasa di atas bahu mereka, seolah seluruh langit hendak runtuh menimpa tubuh masing-masing."Cih! Kau baru Puncak Sovereign Tingkat Awal, tapi sudah berani menantangku? Apa kau benar-benar tahu batas kemampuanmu?" Tatapan Tetua Ketiga dipenuhi ejekan saat memandang Velisa.Velisa hendak membalas, tetapi Nathan sudah melangkah ke depan. "Kalau dia tidak cukup, bagaimana denganku?"Begitu kalimat itu berakhir, aura yang selama ini ia tekan langsung meledak keluar.Tetua Ketiga tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Bocah, kau hanya Sovereign Tingkat Akhir. Dari mana datangnya keberanian berbicara seperti itu di hadapanku?"Namun, tawanya perlahan menghilang. Ia menyadari tekanan auranya tidak lagi mampu bergerak bebas. Seolah ada tembok tak kasatmata yang menahannya. Sorot matanya berubah tajam. Tanpa ragu, ia kembali meningka

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2132

    Ratusan orang menerjang bersamaan. Para murid Ordo Tempest yang biasanya congkak kini justru pontang-panting melarikan diri sambil berteriak meminta bala bantuan.Melihat pemandangan itu, Raze tertawa puas. "Lihat! Selama kita bersama Tuan Nathan, tidak akan ada lagi yang bisa menginjak-injak kita!"Ucapan itu membuat banyak kultivator di sekitar mengangguk setuju. Nama Nathan sudah lama menggema di dunia kultivasi. Kini, setelah menyaksikan sendiri kekuatannya, rasa hormat mereka semakin bertambah.Nathan tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangkat tangan memberi isyarat. "Ayo, kita lanjut."Rombongan kembali bergerak mendaki Pegunungan Langit Purba.Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, embusan angin tiba-tiba membawa aroma darah yang begitu pekat hingga menusuk hidung.Tak lama kemudian, pemandangan mengerikan terbentang di depan mereka.Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalur pegunungan. Sebagian besar tubuh mereka telah remuk hingga sulit dikenali, sementara tanah di se

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2131

    "Tenang saja, Tuan Nathan." Raze mengangguk mantap. "Apa pun perintah Anda, kami akan mengikutinya tanpa banyak bertanya."Alric, Aldren, dan Riven turut menganggukkan kepala tanpa ragu.Tak lama kemudian, Nathan memimpin rombongan bergerak menuju Pegunungan Langit Purba.Melihat mereka mulai mendaki, para kultivator yang sebelumnya berkumpul di sekitar kaki gunung ikut berbondong-bondong mengikuti dari belakang. Ledakan energi yang sempat mengguncang kawasan itu membuat semua orang yakin pasti ada harta karun besar yang tersembunyi di dalamnya. Demi kesempatan seperti itu, mempertaruhkan nyawa bukan lagi hal yang aneh.Sedikit demi sedikit, jumlah orang yang mengikuti Nathan bertambah hingga melampaui seratus orang. Arus manusia itu terus bergerak menuju Pegunungan Langit Purba.Sementara itu, beberapa murid Ordo Tempest masih bersantai di kaki gunung. Mereka bersandar di bawah pohon besar sambil mengobrol seolah tidak terjadi apa-apa.Begitu melihat rombongan yang sebelumnya telah m

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 375

    "Pa! Ma!" Nathan menghentikan mobilnya di depan sebuah halaman kecil, halamannya tidak besar tapi sangat bersih, rumah yang terbuat dari batu bata itu juga baru di cat. Ini adalah kampung halaman Nathan, sepertinya sejak orang tuanya pulang, mereka sudah membersihkan rumah ini.​ Melihat rumah dari b

    last updateآخر تحديث : 2026-03-21
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 371

    Melihat tidak ada orang yang berbicara, Aston menjadi semakin panik. “Reus, tolong aku, kalau kamu menolongku, Keluarga Holcy akan mengikuti perintah Keluarga Alvaro!” Aston meminta bantuan pada Reus, saat ini setengah dari kepala Aston sudah tenggelam ke dalam tanah. Kalau Nathan menambah kekuatann

    last updateآخر تحديث : 2026-03-21
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 402

    “Tenang saja, kami tidak akan meminta jalur tambang yang baru itu. Lagipula, kami hanya berdua, tidak mungkin bisa melawan tiga keluarga, aku hanya penasaran dan ingin melihat-lihat saja!” Nathan menjelaskan kepada Sebastian. Mendengar perkataan Nathan, Sebastian tidak merahasiakannya lagi dan berka

    last updateآخر تحديث : 2026-03-21
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 407

    “Bocah, berlutut padaku dan minta maaf sekarang!" Dengus Hagen dengan kesal. "Kemudian, mungkin aku bisa mengampunimu, kamu sudah menyinggungku, dan masih berani datang ke Antarka? Nyalimu besar juga ya!” “Disini juga bukan rumahmu, aku mau kemana, ya terserah aku!” Nathan berkata sambil tersenyum d

    last updateآخر تحديث : 2026-03-21
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status