"Bibi, aku sama Nikki kali ini pulang agak mendadak, jadi nggak bawa apa-apa. Ini ada sedikit suplemen, Bibi bawa pulang saja ya. Bisa direbus jadi sup, bagus buat kesehatan." Ralph membungkuk mengambil kotak hadiah, lalu menyerahkannya kepada Anjani.Nikki melirik sekilas, ekspresinya sulit digambarkan. Sekotak cordyseps, sekotak gelembung ikan kering. Semuanya adalah suplemen bergizi yang mahal.Nikki seketika tersadar, apakah pria ini diam-diam sedang bersaing? Hanya karena Anjani bilang semalam dia dan Kennedy datang makan dengan membawa rokok dan minuman mahal, Ralph pun tidak mau kalah, langsung menyodorkan suplemen semahal itu?Anjani tercengang, buru-buru melambaikan tangannya. "Nggak, nggak. Kalian simpan saja untuk dimakan sendiri. Kami orang kampung, mana bisa makan makanan mewah begitu."Meskipun tak begitu paham apa itu, melihat pakaian dan penampilan Ralph serta mobil mewahnya, Anjani bisa menebak barang-barang itu pasti mahal sekali. Dia pun segera menolak.Ralph terseny
Nikki segera menoleh, wajahnya langsung tersenyum. "Bibi Anjani."Anjani menjinjing banyak barang dalam karung plastik besar. Sambil berjalan masuk, dia berucap dengan agak sungkan, "Kamu jarang pulang. Bibi juga nggak punya barang bagus di rumah, cuma ada sedikit kacang dan kedelai hasil panen sendiri, sama buah yang dipetik dari pohon depan rumah. Kalian 'kan bawa mobil pulang. Bisa dibawa kok."Karena penglihatannya sudah kurang baik, setelah berbicara dan mendekat, dia baru sadar pria di samping Nikki bukan Kennedy. Wajahnya langsung terkejut. "Ini ... ini siapa ...."Nikki pun menjadi canggung, tidak ingin memperkenalkan. Namun, Ralph jelas tak akan melewatkan kesempatan ini. Dengan sikap sopan dan penuh wibawa, dia menjawab, "Bibi, halo. Aku suaminya Nikki, aku datang untuk jemput dia pulang.""Suami Nikki ya!" Anjani kaget, menatap Ralph lekat-lekat, lalu menoleh pada Nikki dengan gembira. "Wah, pilihanmu bagus sekali! Dapat suami setinggi dan seganteng ini, ramah dan perhatian
Nikki juga tiba-tiba meninggikan nada suaranya. "Sebenarnya siapa yang nggak bisa bicara baik-baik di sini? Siapa yang buka mulut langsung sindir-sindiran? Kenapa kalau aku nginap di kampung halamanku semalam? Apa kamu perlu buru-buru nyusul ke sini, lalu mempermalukanku di depan orang lain?""Kamu harus lihat dulu, kamu itu pulang sama siapa! Pria sama wanita, tinggal bareng begitu. Coba tanya, suami mana yang bisa terima?""Rumah lama Kak Kennedy sudah roboh, dia nggak punya tempat tinggal. Kenapa kalau dia nginap semalam di sini?""Memangnya nggak ada hotel di sini? Paling buruk pun dia bisa tidur di mobil semalam! Intinya ya karena niatnya nggak benar dan pikirannya kotor! Jangan cari alasan lagi!""Kami memang kepikiran mau ke hotel, tapi aku takut malah kamu makin salah paham! Kamu pasti bakal mikir aku sengaja keluar buat nginap di hotel sama pria lain!""Memang bukan begitu?"Nikki merasa Ralph sangat keras kepala. Meskipun merasa dirinya tidak bersalah, dia tidak bisa lagi mem
"Nikki, aku ada urusan harus kembali ke Kota Coldwell. Kamu sama Pak Ralph, jadi aku pamit dulu." Kennedy sebenarnya ingin menolong Nikki, tetapi waktunya belum tepat. Semalaman jadi penghalang saja sudah cukup melelahkan.Nikki mengangguk. "Oke, kamu menyetir jarak jauh sendirian harus hati-hati di jalan, ya."Kennedy tersenyum tipis. "Tenang saja, nggak apa-apa. Kukabari setelah sampai nanti.""Mm!"Kennedy menoleh ke arah Ralph, wajahnya yang tampan dan lembut menunjukkan senyuman sopan. "Pak Ralph, soal kerja sama kita, tunggu setelah kembali ke Kota Coldwell nanti baru kita bahas."Bibir Ralph yang masih bengkak membuat kesan dingin di wajahnya berkurang dan malah tampak agak konyol. Dia tersenyum penuh makna, lalu membalas, "Pak Kennedy sebaiknya posisikan diri dengan benar dulu, baru bicara soal kerja sama denganku."Maksudnya sangat jelas. Kalau Kennedy berani mengincar istrinya, jangankan kerja sama, dia akan menghabisi Kennedy hingga ke luar negeri!Mendengar nada penuh ancam
Nikki tiba-tiba terbatuk pelan, mie itu hampir membuatnya tersedak.Kalau bukan karena semalam mereka bertengkar hebat sampai dia benci setengah mati pada Ralph, mungkin sekarang dia sudah tertawa keras, lalu membongkar kebohongannya dan mentertawakannya habis-habisan!"Kalau memang nggak bisa makan, jangan dipaksakan. Nggak ada yang akan mentertawakanmu." Nikki berniat baik mengingatkannya dengan nada bicara yang masih tetap datar.Ralph malas menanggapi. Dalam hati dia mengumpat, tapi tetap menunduk untuk melanjutkan makan, "Makan saja cepat. Nanti masih ada urusan."Ada urusan? Nikki bingung. Apa lagi kalau bukan buru-buru pulang?Saat ketiganya duduk dan makan bersama, suasana terasa aneh dan tegang.Kennedy telah duluan menyelesaikan makanannya. Saat dia baru saja berdiri, ponselnya berdering. Dia pun keluar untuk menjawab panggilan.Begitu Kennedy menjauh, barulah wajah Ralph tampak kesulitan. Dia langsung meraih gelas air di depan Nikki dan menenggak habis dalam sekali tegukan.
Ralph menunduk dan mengambil sikat gigi dari gelas Nikki, lalu memencet pasta gigi dengan tenang. "Nggak ada yang siapin untukku? Kalau begitu, aku terpaksa pakai punyamu.""Apa?!" Mata Nikki membelalak tak percaya melihat tindakannya. "Itu ... sudah kupakai tadi!""Lalu kenapa? Hal yang jauh lebih intim dari ini sudah entah berapa kali kita lakukan, masih peduli soal beginian?" Selesai memencet pasta gigi, menyunggingkan senyum nakal padanya, ucapannya terdengar semakin menggoda, "Suamimu nggak keberatan, kok."Melihat tindakannya yang tak masuk akal ini, wajah Nikki merah padam sampai benar-benar kehilangan kata-kata.Dia semakin tidak mengerti pria ini! Dalam waktu satu sampai dua bulan ini, Ralph seakan-akan kerasukan sesuatu. Tingkah laku dan ucapannya benar-benar berubah, sampai terasa menyeramkan!Di samping mereka, Kennedy yang sedang sarapan juga mendengar Ralph sengaja melontarkan godaan mesum yang menjijikkan itu. Dia tidak menanggapinya, melainkan hanya tersenyum tipis. Dal