Share

Bab 2

Penulis: Buchara
Emilia tertegun dan mendongak untuk melihat ponsel yang ditaruhnya di atas meja. Kata sandinya telah dibuka. Dia segera menyadari bahwa Aaron yang membukanya.

Pada ulang tahun Aaron tahun lalu, Emilia menyiapkan 18 hadiah ulang tahun dan meletakkannya di hadapan Aaron seperti harta karun.

Emilia bahkan menggoyangkan ponselnya sambil berujar, "Aaron, 18 hadiah ini untuk menebus 18 ulang tahun terakhir yang nggak kulewati bersamamu. Aku juga sudah ubah kata sandi ponselku jadi ulang tahunmu. Mulai sekarang, aku harap kita bisa rayakan setiap ulang tahunmu bersama."

Namun, Emilia tidak pernah menyangka bahwa Aaron akan benar-benar melihat ponselnya tanpa izin. Dia tidak senang karena privasinya dilanggar. Hanya saja, sebelum dia sempat berbicara, Cecilia bergegas mendekat dan berbicara dengan mata memerah.

"Kak, aku tahu kamu nggak suka sama aku. Tapi, kamu tetap nggak boleh hubungi pihak penerimaan mahasiswa Universitas Teknologi Nasional untuk jelek-jelekkan aku dan larang mereka untuk terima aku!"

"Omong kosong apa yang kamu bicarakan?" Emilia berkata dengan bingung, "Mereka meneleponku karena ...."

Namun, sebelum Emilia selesai berbicara, para siswa di sekitarnya mulai membuat keributan.

"Emilia, jangan sandiwara lagi. Kami sudah tahu. Kamu tahu pihak penerimaan mahasiswa Universitas Teknologi Nasional pernah hubungi Aaron sebelum ujian masuk perguruan tinggi dan setuju untuk terima dia dan Cecil. Kamu cemburu, makanya kamu kirim surat pengaduan kepada Universitas Teknologi Nasional untuk jelek-jelekkan Cecil, 'kan?"

"Iya! Tapi, kamu mungkin nggak kepikiran Aaron masuk peringkat 20 besar provinsi dalam ujian masuk perguruan tinggi. Pihak penerimaan mahasiswa Universitas Nasional Ibu Kota juga menghubunginya. Dia dan Cecil sudah setuju untuk kuliah di Universitas Nasional Ibu Kota bersama!"

"Benar, mereka itu pasangan yang serasi. Hubungan mereka nggak akan bisa dihancurkan sama orang yang cuma modal tampang sepertimu!"

Emilia akhirnya mengerti. Sepertinya setelah mempertimbangkan dengan cermat, pihak Universitas Teknologi Nasional memutuskan untuk tidak menerima Cecilia demi Aaron. Namun, entah siapa yang menyebarkan rumor palsu bahwa dia yang mengacaukan hal itu. Oleh karena itu, Aaron baru memeriksa ponselnya.

Panggilan telepon dari pihak penerimaan mahasiswa Universitas Teknologi Nasional pun menjadi buktinya. Emilia membuka mulutnya dan hendak menjelaskan, tetapi disela oleh suara dingin Aaron.

"Emilia." Nada Aaron sangat dingin dan penuh jarak. "Jangan sampai aku tahu kamu menghubungi Universitas Nasional Ibu Kota. Kalau nggak, jangan salahkan aku bertindak tegas."

Ucapan itu sukses membuat kata-kata Emilia tercekat di tenggorokannya. Sorot matanya sedikit bergetar dan dia terdiam beberapa saat. Pada akhirnya, dia hanya sedikit menunduk dan menjawab, "Oke."

Orang memberi penjelasan karena peduli. Sekarang, karena sudah tidak peduli, Emilia tidak perlu menjelaskan apa pun lagi.

Reaksi Emilia membuat Aaron sedikit terkejut. Awalnya, dengan temperamen Emilia, dia mengira menurut Emilia akan menyangkal, membela diri, atau membuat alasan. Namun, gadis itu tidak mengatakan apa-apa.

Perasaan aneh segera menyebar di hati Aaron. Sebelum dia sempat memikirkannya, guru masuk dan menyuruh semua orang untuk mengambil foto kelulusan.

Setelah mengambil foto kelulusannya, Aaron dikelilingi oleh banyak murid perempuan. Semua orang ingin mendapatkan kancing kedua kemeja seragam sekolahnya. Sebab, kancing itu berada paling dekat dengan jantung. Memberikan kancing itu kepada seseorang berarti orang itu menempati hatinya.

Hanya saja, yang mengejutkan semua orang, Emilia yang biasanya paling gencar mendekati Aaron malah tidak menghampiri pemuda itu.

Emilia hanya berdiri di tempat dan membuka telapak tangannya. Ada seuntai gelang tipis di atas tangannya. Itu adalah satu-satunya barang peninggalan ibunya.

"Ibu." Emilia berkata dengan lembut, "Sudah lihat? Aku akan segera pergi ke almamatermu."

Dulu, ibu Emilia adalah seorang mahasiswi berprestasi lulusan Havert. Dia melepaskan kariernya karena jatuh cinta pada ayah Emilia. Akhirnya, ibunya malah dikhianati dan meninggal secara tragis. Sekarang, Emilia tidak akan mengikuti jejak ibunya.

Saat Emilia sedang diam-diam membulatkan tekad, sebuah tangan dengan ruas-ruas jari yang tegas muncul dalam pandangannya. Kemudian, dia merasakan sesuatu yang dingin di telapak tangannya. Seseorang menaruh sebuah kancing abu-abu di tangannya.

Emilia pun kaget. Dia mendongak dan melihat wajah tampan Aaron. Kemudian, terdengar dia berkata dengan suara rendah, "Ini untukmu."

Emilia melihat kancing kedua yang kosong pada seragam pemuda itu dan masih belum tersadar. "Untukku?"

Aaron membuang muka dengan canggung. Telinganya terlihat agak merah, "Jangan berpikir kejauhan. Aku cuma pernah buat janji padamu."

Saat ini, Emilia baru teringat kejadian itu. Dua bulan sebelum ujian masuk perguruan tinggi, pada hari peringatan kematian ibunya, dia diam-diam menangis sendirian di lapangan karena dilarang meninggalkan sekolah untuk berziarah.

Tanpa diduga, Emilia kebetulan bertemu dengan Aaron yang baru saja kembali dari bermain basket. Menyadari matanya yang merah, Aaron menghampirinya dan berjongkok di depannya.

"Emilia, kenapa kamu menangis?"

Pertanyaan itu membuat Emilia menangis makin kuat.

Pemuda itu pun panik. Dia ingin menyeka air mata Emilia, tetapi pakaiannya sudah dibasahi keringat. Akhirnya, dia tidak punya pilihan selain berkata, "Jangan nangis lagi. Aku akan kabulkan satu permintaanmu."

Setelah itu, Emilia baru mengangkat kepalanya dan bertanya dengan mata merah, "Apa saja boleh?"

Aaron merasa makin tidak berdaya. "Apa saja boleh, asal kamu berhenti menangis."

Emilia langsung tersenyum di tengah tangisnya. "Kalau begitu, aku mau kancing kedua dari seragam yang kamu pakai di hari kelulusan!"

Tak disangka, Aaron masih mengingatnya.

Emilia melihat kancing di telapak tangannya sambil termenung. Dia tidak menyadari bahwa Cecilia yang berada di sebelah telah melihat pemandangan ini. Wajahnya berubah muram untuk sesaat.

Kemudian, Cecilia tiba-tiba menangis.

"Kak." Cecilia berkata dengan sedih, "Oke, aku akui kamu sudah menang. Aku akan pergi ke lapangan dan berlari 20 putaran sekarang juga!"

Seusai berbicara, Cecilia berbalik dan ingin pergi, tetapi ditahan oleh Aaron. "Cecil, apa yang kamu lakukan?"

Cecilia menggigit bibirnya dan berbicara dengan pelan, "Semalam, Kak Emilia tiba-tiba bilang mau bertaruh denganku soal siapa yang akan dapatkan kancing kedua bajumu hari ini. Yang kalah harus berlari 20 putaran di lapangan."

Emilia menatap Cecilia dengan ekspresi terkejut. "Cecilia, apa yang kamu bicarakan? Kapan aku pernah bertaruh denganmu?"

Namun, Cecilia menangis dengan makin sedih. "Kak, jelas-jelas kamu yang usulkan taruhan itu. Kenapa kamu nggak ngaku? Sejak awal, aku nggak mau bertaruh denganmu. Kamu yang ancam akan potong rambutku kalau aku nggak setuju. Karena takut, aku baru setuju .... Tapi Kakak nggak perlu khawatir. Aku akan tepati janjiku. Aku akan lari 20 putaran."

Seusai berbicara, Cecilia berbalik dan hendak pergi dengan berlinang air mata. Namun, Aaron menahannya.

Aaron menatap Emilia. Suaranya terdengar sedingin es. "Emilia, kamu sengaja?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 19

    Terjadi terlalu banyak hal dalam sekejap.Saat peluru itu ditembakkan, Thomas sudah lebih dulu melindungi Emilia di dalam pelukannya.Pada saat yang bersamaan, Aaron juga menerjang kemari berniat mendorong Emilia.Namun, saat Aaron belum sempat menyentuh Emilia, peluru itu justru memelesat lurus menembus dadanya.Di tengah kerumunan yang berteriak panik, orang yang berdiri di kejauhan itu ternyata adalah Cecilia. Hanya dalam waktu singkat mereka tidak bertemu, Cecilia seolah-olah sudah berubah menjadi orang lain.Wanita yang sebelumnya cantik itu kini malah rambutnya berantakan, sepasang matanya memerah, dan wajahnya semakin kurus."Mati," jerit Cecilia dengan suara seraknya, "Mati sana!"Cecilia yang sekarang benar-benar telah kehilangan kewarasannya. Lantaran memiliki jejak kriminal, universitas juga tidak mungkin berpura-pura tidak mengetahuinya, langsung memberi sanksi berat untuknya.Dengan adanya sanksi berat itu, jangankan Universitas Nasional Ibu Kota, bahkan perguruan tinggi ma

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 18

    Selama beberapa saat ini, sambil terus mencari Emilia, akhirnya Aaron juga bisa melihat isi hatinya sendiri dengan jelas. Awalnya, Aaron mengira semua itu hanyalah keterikatan yang sulit dilepaskan.Namun, kemudian Aaron bahkan rela membuat Wakasek Kesiswaan marah, bahkan sampai membuat ayahnya murka. Ayahnya pernah membentaknya, "Sebenarnya, untuk apa kamu mencari perempuan itu?"Pada saat itu, Aaron seolah terbangun dari mimpi.Iya.Kenapa Aaron mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencari Emilia?Semua itu bukan hanya demi menjelaskan, juga bukan demi minta maaf, melainkan karena … Aaron sudah mulai menyukai Emilia.Bahkan ketika Aaron masih belum melihat jelas wajah asli Cecilia, ketika dia masih terus diprovokasi dan berulang kali salah paham terhadap Emilia, hatinya sebenarnya sudah mulai jatuh cinta kepada Emilia.Hanya saja, Aaron tidak bersedia untuk mengakuinya, itulah sebabnya dia membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa, dia hanya menjadikan Emilia sebagai tameng saj

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 17

    Kali ini, langkah kaki Emilia baru berhenti.Pada detik berikutnya, sosok bayangan gelap menutupi kepalanya. Emilia mengangkat kepalanya dan melihat wajah yang pernah dirindukannya setiap saat, tetapi kini malah terasa seperti berasal dari kehidupan yang sudah berlalu.Orang itu tak lain adalah Aaron.Meskipun sebelumnya Emilia sudah mendengar dari sahabatnya bahwa Aaron sedang mencarinya ke berbagai penjuru dunia, Emilia tetap tidak menyangka bahwa Aaron benar-benar akan datang mencarinya.Sementara itu, ketika akhirnya pemuda yang berdiri di hadapannya melihatnya dengan jelas, hati pemuda itu malah dipenuhi berbagai macam perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa gembira, antusias, dan juga sedikit marah ….Aaron merasa marah karena Emilia pergi tanpa berpamitan, marah karena sikap tenang Emilia yang membuat jarak di antara mereka, lebih marah lagi karena saat Emilia melihatnya tadi, Emilia malah ingin melarikan diri.Namun semua itu pada akhirnya berubah menjadi satu kalimat. "Emilia,

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 16

    Ketika melihat ekspresi bingung Emilia, Thomas menghela napas dan melanjutkan ucapannya, "Baiklah, aku memang sudah mengubah margaku. Kalau kamu nggak ingat dengan nama Thomas Lisman, bagaimana dengan nama … Thomas Anggara. Apa kamu masih ingat?"Emilia tertegun. Satu detik kemudian, dia langsung tersadar. "Kamu itu Kak Thomas?"Tentu saja Emilia mengingatnya. Saat ibunya masih hidup, di rumah sebelah mereka tinggal seorang anak laki-laki bernama Thomas Anggara.Mereka bisa dibilang tumbuh bersama sejak kecil dan merupakan teman masa kecil. Hubungan mereka sangat dekat.Namun, sebelum Emilia menduduki bangku SMP, Thomas dan keluarganya berimigrasi ke Negara Ariku. Setelah itu, mimpi buruk Emilia pun dimulai ….Ibunya meninggal dunia. Cecilia dan Sarah masuk ke keluarga mereka. Sejak saat itu, tidak ada lagi senyuman di dunia Emilia.Di dalam kenangan indahnya yang tidak tergolong banyak, satu-satunya momen hangat adalah saat ibunya masih hidup dan masa-masa menjadi tetangga dengan Thom

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 15

    Ketika Emilia mendengar sampai di sini, dia sepenuhnya tertegun di tempat.Tadinya Emilia mengira masalah kepergiannya tidaklah penting bagi Aaron. Saat mendengar kabar bahwa dia meraih peringkat pertama, Aaron mungkin hanya akan merasa kaget sejenak, kemudian tidak akan memedulikannya lagi. Namun, Emilia sungguh tidak menyangka bahwa Aaron akan mencarinya ke mana-mana.Kening Emilia seketika berkerut. Dia berkata, "Kenapa dia mencariku?"Jangan-jangan demi membalas dendam terhadap Emilia, karena sudah melaporkan Cecilia mengendarai mobil di saat mengonsumsi alkohol?"Menurutmu?" Teman sebangkunya yang berada di ujung telepon saat ini benar-benar ingin sekali merangkak keluar dari sambungan telepon dan mengetuk kepala sahabatnya yang begitu lamban memahami perasaan itu."Tentu saja karena dia sadar kalau dia menyukaimu! Bukankah drama serial dan novel selalu seperti itu? Saat orang yang dicintai masih berada di sisinya, dia malah bersikap acuh tak acuh. Begitu orang itu pergi, barulah

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 14

    Emilia terbengong sesaat. Kali ini, dia baru menyadari … apa dirinya sedang didekati seseorang di negara asing?Pria itu menggaruk kepalanya dengan sedikit malu. "Aku tahu, mungkin sikapku kelihatan agak kurang sopan. Tapi aku juga nggak tahu kenapa, begitu melihatmu, entah kenapa … aku merasa sangat familier denganmu. Jadi, aku ingin berkenalan denganmu."Seandainya orang lain yang mengatakan ucapan ini, mungkin Emilia akan merasa trik mendekati wanita ini sudah ketinggalan zaman. Namun ketika melihat pria di hadapannya, entah karena dia berbicara dengan terlalu tulus atau bukan, Emilia malah benar-benar memercayainya.Bukan begitu saja, Emilia juga merasa … sedikit familier dengan pria ini.Setelah ragu beberapa saat, Emilia mengangguk, lalu bertukar kontak dengan pria itu. Saat bertukar nomor telepon, mereka berdua juga saling memperkenalkan diri."Emilia."Pria itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap Emilia dengan tatapan tidak percaya. Namun, Emilia tidak memperhatikannya ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status