Share

Bab 3

Penulis: Buchara
Emilia tertegun, lalu menyadari apa maksud pemuda itu. Aaron mengira Emilia sudah tahu sejak awal bahwa dia akan memberikan kancing itu kepadanya. Jadi, Emilia sengaja bertaruh dengan Cecilia agar bisa menyiksanya.

"Aku nggak berbuat begitu."

Emilia hendak membela diri. Namun, begitu kata-kata itu terucap, dia tiba-tiba tersadar. Mana mungkin Aaron memercayainya dan mencurigai Cecilia? Jadi, setelah berpikir sejenak, dia hanya membuka telapak tangannya dan berkata dengan tenang, "Kalau nggak percaya, ambil balik saja kancing ini."

Aaron pun mematung. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Apa katamu?"

Aaron masih mengingat bagaimana reaksi Emilia saat dia setuju memberikan kancing itu. Bagaimana gadis itu tersenyum berseri-seri di sela-sela air matanya, bagaimana gadis itu berjalan mengelilinginya di lapangan sambil berseru kegirangan, "Aaron, aku akan segera menangkan hatimu!"

Sekarang, Emilia malah dengan mudah menyetujui untuk mengembalikan kancing tersebut? Pikiran Aaron sempat kosong sesaat.

Sementara itu, Emilia mengira Aaron masih belum puas dan sedikit mengernyit. "Apa itu belum cukup? Kamu juga mau aku lari lapangan?"

Sebelum Aaron sempat bicara, Cecilia memberi isyarat mata kepada seorang gadis yang berdiri di sampingnya. Gadis itu segera maju, lalu menyambar kancing dari tangan Emilia sambil berseru, "Kamu sudah sentuh kancing ini. Siapa yang masih mau barang kotor ini?"

Seusai berbicara, dia langsung melempar kancing itu ke dalam danau buatan.

"Jangan!"

Saat ini, ekspresi Emilia baru berubah. Bukan karena kancing itu, melainkan karena gerakan kasar gadis tadi membuat gelang ibunya juga ikut terlempar jauh.

Aaron dan rombongannya segera pergi, tetapi Emilia bergegas masuk ke dalam danau buatan itu. Dia berusaha mati-matian mencari gelang ibunya.

Demi keamanan, kedalaman danau buatan di sekolah hanya sebatas lutut. Hanya saja, dasarnya dipenuhi lapisan lumpur tebal. Mencari gelang halus di sana ibarat mencari jarum di tumpukan jerami.

Emilia terus mencari hingga malam, tetapi masih tidak menemukan apa pun. Tubuhnya sudah berlumuran lumpur, sedangkan betisnya penuh luka akibat tergores batu. Namun, dia tidak peduli dan lanjut membungkuk untuk mencari meskipun punggungnya sudah pegal.

"Haha, Aaron, lihat! Emilia bilang, dia nggak mau kancingmu. Tapi, dia diam-diam mencarinya sampai sekarang. Dia cuma keras kepala."

Emilia mendongak, lalu mendapati entah sejak kapan, Aaron dan Cecilia telah tiba bersama sekelompok teman sekelas mereka. Di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, wajah Aaron tertutup bayangan dan membuat ekspresinya sulit dibaca.

Emilia mengabaikan mereka dan kembali membungkuk untuk melanjutkan pencariannya. Dia baru berhenti saat mendengar gadis sebelumnya berseru sambil tertawa, "Emilia, nggak usah cari lagi. Benda yang kamu inginkan ada di sini."

Emilia seketika mendongak dan melihat gadis itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Dia membuka telapak tangannya dan memperlihatkan kancing sekaligus gelang tersebut.

Gadis itu sepertinya baru menyadari keberadaan gelang tersebut. Dia berkata dengan nada meremehkan, "Kenapa ada tambahan gelang ini?"

Seusai berbicara, dia melemparkan gelang dan kancing itu ke lantai.

Ekspresi Emilia seketika berubah. Dia berlari mendekat dengan langkah limbung, lalu menjatuhkan diri ke atas lantai, dan memeriksa gelang itu dengan panik.

Orang-orang di sekitar tertawa makin keras.

"Aaron, lihat. Kancingmu benar-benar berharga baginya!"

"Sayang sekali. Memangnya kenapa kalau dia dapatkan kancing itu? Itu nggak berarti dia benar-benar menangkan hati Aaron!"

Sekelompok orang itu berjalan pergi sambil tertawa.

Emilia memungut gelang itu dan menggenggamnya erat-erat di telapak tangannya. Rasa perih yang tajam membuat pikirannya tiba-tiba menjadi jernih.

Gadis yang ditemuinya pagi itu ternyata sama sekali tidak membuang kancing tersebut. Aaron sudah mengetahuinya sejak awal, tetapi diam saja dan membiarkannya mencari tanpa arah di air danau yang dingin sepanjang hari.

Untungnya, gelang itu masih utuh. Untungnya, dia juga tidak lagi peduli pada Aaron ....

Emilia tidak pulang ke rumah hari itu, melainkan tinggal sendirian di asrama yang kosong. Keesokan paginya, dia terbangun dan mendapati grup WhatsApp angkatan mereka sudah heboh.

Entah bagaimana, kabar mengenai penerimaan khusus Cecilia di Universitas Nasional Ibu Kota telah bocor dan diketahui murid kelas lain. Banyak yang merasa iri dan kesal, lalu menyebarkan rumor bahwa Cecilia bukan hanya mempermainkan perasaan Aaron, tetapi juga memberi harapan palsu kepada sejumlah siswa berprestasi dari kelas unggulan.

Menurut mereka, Cecilia melakukan semua itu demi mendapatkan jalur penerimaan khusus ke Universitas Teknologi Nasional atau Universitas Nasional Ibu Kota.

Rumor yang disebarkan makin kasar, hingga Aaron yang biasanya tidak pernah bersuara di grup tiba-tiba angkat bicara.

[ Kalau aku dengar rumor nggak berdasar seperti itu lagi, jangan salahkan aku kalau pengacara turun tangan. ]

Grup itu seketika menjadi sunyi senyap. Bagaimanapun juga, semua orang tahu bahwa Aaron bukan hanya tampan dan berprestasi, tetapi juga memiliki latar belakang keluarga yang baik. Dia berasal dari keluarga terkaya di Kota Hedia dan tim hukum mereka bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan.

Emilia tidak merasakan apa-apa. Dia hanya turun dari tempat tidur, lalu pergi menuju rumah tempat dia memberikan les privat.

Berhubung uang sakunya dipotong oleh ibu tirinya, Emilia harus hidup sangat berhemat selama bersekolah. Dia hanya bisa memberikan les privat kepada seorang siswa SD di luar sekolah pada akhir pekan untuk mencari uang tambahan.

Keluarga itu memperlakukan Emilia dengan sangat baik. Berhubung akan segera pindah ke luar negeri, Emilia pun pergi untuk berpamitan. Ayah anak itu dengan baik hati mengantarnya kembali ke sekolah. Namun, baru saja dia melangkah keluar dari mobil, terdengar suara seseorang memanggilnya.

"Emilia?"

Emilia menoleh dan melihat Cecilia, Aaron, dan kelompok mereka.

Saat melihat mobil Bentley hitam di belakang Emilia dan pria paruh baya di dalamnya, Cecilia menutup mulutnya dengan terkejut.

"Kak." Cecilia berkata dengan wajah penuh kekecewaan dan sedih, "Ma ... mana boleh kamu kesampingkan harga dirimu demi uang?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 19

    Terjadi terlalu banyak hal dalam sekejap.Saat peluru itu ditembakkan, Thomas sudah lebih dulu melindungi Emilia di dalam pelukannya.Pada saat yang bersamaan, Aaron juga menerjang kemari berniat mendorong Emilia.Namun, saat Aaron belum sempat menyentuh Emilia, peluru itu justru memelesat lurus menembus dadanya.Di tengah kerumunan yang berteriak panik, orang yang berdiri di kejauhan itu ternyata adalah Cecilia. Hanya dalam waktu singkat mereka tidak bertemu, Cecilia seolah-olah sudah berubah menjadi orang lain.Wanita yang sebelumnya cantik itu kini malah rambutnya berantakan, sepasang matanya memerah, dan wajahnya semakin kurus."Mati," jerit Cecilia dengan suara seraknya, "Mati sana!"Cecilia yang sekarang benar-benar telah kehilangan kewarasannya. Lantaran memiliki jejak kriminal, universitas juga tidak mungkin berpura-pura tidak mengetahuinya, langsung memberi sanksi berat untuknya.Dengan adanya sanksi berat itu, jangankan Universitas Nasional Ibu Kota, bahkan perguruan tinggi ma

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 18

    Selama beberapa saat ini, sambil terus mencari Emilia, akhirnya Aaron juga bisa melihat isi hatinya sendiri dengan jelas. Awalnya, Aaron mengira semua itu hanyalah keterikatan yang sulit dilepaskan.Namun, kemudian Aaron bahkan rela membuat Wakasek Kesiswaan marah, bahkan sampai membuat ayahnya murka. Ayahnya pernah membentaknya, "Sebenarnya, untuk apa kamu mencari perempuan itu?"Pada saat itu, Aaron seolah terbangun dari mimpi.Iya.Kenapa Aaron mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencari Emilia?Semua itu bukan hanya demi menjelaskan, juga bukan demi minta maaf, melainkan karena … Aaron sudah mulai menyukai Emilia.Bahkan ketika Aaron masih belum melihat jelas wajah asli Cecilia, ketika dia masih terus diprovokasi dan berulang kali salah paham terhadap Emilia, hatinya sebenarnya sudah mulai jatuh cinta kepada Emilia.Hanya saja, Aaron tidak bersedia untuk mengakuinya, itulah sebabnya dia membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa, dia hanya menjadikan Emilia sebagai tameng saj

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 17

    Kali ini, langkah kaki Emilia baru berhenti.Pada detik berikutnya, sosok bayangan gelap menutupi kepalanya. Emilia mengangkat kepalanya dan melihat wajah yang pernah dirindukannya setiap saat, tetapi kini malah terasa seperti berasal dari kehidupan yang sudah berlalu.Orang itu tak lain adalah Aaron.Meskipun sebelumnya Emilia sudah mendengar dari sahabatnya bahwa Aaron sedang mencarinya ke berbagai penjuru dunia, Emilia tetap tidak menyangka bahwa Aaron benar-benar akan datang mencarinya.Sementara itu, ketika akhirnya pemuda yang berdiri di hadapannya melihatnya dengan jelas, hati pemuda itu malah dipenuhi berbagai macam perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa gembira, antusias, dan juga sedikit marah ….Aaron merasa marah karena Emilia pergi tanpa berpamitan, marah karena sikap tenang Emilia yang membuat jarak di antara mereka, lebih marah lagi karena saat Emilia melihatnya tadi, Emilia malah ingin melarikan diri.Namun semua itu pada akhirnya berubah menjadi satu kalimat. "Emilia,

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 16

    Ketika melihat ekspresi bingung Emilia, Thomas menghela napas dan melanjutkan ucapannya, "Baiklah, aku memang sudah mengubah margaku. Kalau kamu nggak ingat dengan nama Thomas Lisman, bagaimana dengan nama … Thomas Anggara. Apa kamu masih ingat?"Emilia tertegun. Satu detik kemudian, dia langsung tersadar. "Kamu itu Kak Thomas?"Tentu saja Emilia mengingatnya. Saat ibunya masih hidup, di rumah sebelah mereka tinggal seorang anak laki-laki bernama Thomas Anggara.Mereka bisa dibilang tumbuh bersama sejak kecil dan merupakan teman masa kecil. Hubungan mereka sangat dekat.Namun, sebelum Emilia menduduki bangku SMP, Thomas dan keluarganya berimigrasi ke Negara Ariku. Setelah itu, mimpi buruk Emilia pun dimulai ….Ibunya meninggal dunia. Cecilia dan Sarah masuk ke keluarga mereka. Sejak saat itu, tidak ada lagi senyuman di dunia Emilia.Di dalam kenangan indahnya yang tidak tergolong banyak, satu-satunya momen hangat adalah saat ibunya masih hidup dan masa-masa menjadi tetangga dengan Thom

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 15

    Ketika Emilia mendengar sampai di sini, dia sepenuhnya tertegun di tempat.Tadinya Emilia mengira masalah kepergiannya tidaklah penting bagi Aaron. Saat mendengar kabar bahwa dia meraih peringkat pertama, Aaron mungkin hanya akan merasa kaget sejenak, kemudian tidak akan memedulikannya lagi. Namun, Emilia sungguh tidak menyangka bahwa Aaron akan mencarinya ke mana-mana.Kening Emilia seketika berkerut. Dia berkata, "Kenapa dia mencariku?"Jangan-jangan demi membalas dendam terhadap Emilia, karena sudah melaporkan Cecilia mengendarai mobil di saat mengonsumsi alkohol?"Menurutmu?" Teman sebangkunya yang berada di ujung telepon saat ini benar-benar ingin sekali merangkak keluar dari sambungan telepon dan mengetuk kepala sahabatnya yang begitu lamban memahami perasaan itu."Tentu saja karena dia sadar kalau dia menyukaimu! Bukankah drama serial dan novel selalu seperti itu? Saat orang yang dicintai masih berada di sisinya, dia malah bersikap acuh tak acuh. Begitu orang itu pergi, barulah

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 14

    Emilia terbengong sesaat. Kali ini, dia baru menyadari … apa dirinya sedang didekati seseorang di negara asing?Pria itu menggaruk kepalanya dengan sedikit malu. "Aku tahu, mungkin sikapku kelihatan agak kurang sopan. Tapi aku juga nggak tahu kenapa, begitu melihatmu, entah kenapa … aku merasa sangat familier denganmu. Jadi, aku ingin berkenalan denganmu."Seandainya orang lain yang mengatakan ucapan ini, mungkin Emilia akan merasa trik mendekati wanita ini sudah ketinggalan zaman. Namun ketika melihat pria di hadapannya, entah karena dia berbicara dengan terlalu tulus atau bukan, Emilia malah benar-benar memercayainya.Bukan begitu saja, Emilia juga merasa … sedikit familier dengan pria ini.Setelah ragu beberapa saat, Emilia mengangguk, lalu bertukar kontak dengan pria itu. Saat bertukar nomor telepon, mereka berdua juga saling memperkenalkan diri."Emilia."Pria itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap Emilia dengan tatapan tidak percaya. Namun, Emilia tidak memperhatikannya ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status