Short
Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas

Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas

By:  BucharaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
19Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Akhir-akhir ini, semua orang di SMA Negeri 1 menyadari ada yang berubah pada diri Emilia Prasetyo. Dulu, semua orang merasa dia sangat bucin dan bodoh. Setiap hari, dia selalu berusaha mendekati Aaron Saputra. Namun, dia tiba-tiba tidak lagi muncul di hadapan Aaron, melainkan belajar dengan serius. Semua orang pun tertawa dan mengejeknya. "Apa gunanya belajar? Sudah terlambat!" Semua orang di SMA Negeri 1 mengira Emilia hanya cantik, tetapi bodoh. Tidak ada yang tahu bahwa dia sebenarnya hanya berpura-pura. Selama tiga tahun di SMA, Emilia menjaga nilainya tetap berada di ambang batas kelulusan dalam setiap ujian. Sampai ujian masuk perguruan tinggi hari ini, dia baru berhenti berpura-pura. Sebulan kemudian, nilai ujian masuk perguruan tinggi diumumkan. Dia langsung membuat semua orang tercengang karena berhasil menjadi peraih nilai tertinggi dalam ujian. Dengan nilai itu, dia berhasil diterima di universitas ternama Negara Ariku. Tak disangka, Aaron yang pernah menyuruh Emilia untuk tidak mengganggunya, malah tiba-tiba menggila dan mencarinya ke seluruh dunia.

View More

Chapter 1

Bab 1

Akhir-akhir ini, semua orang di SMA Negeri 1 menyadari ada yang berubah pada diri Emilia Prasetyo. Dulu, semua orang merasa dia sangat bucin dan bodoh. Setiap hari, dia selalu berusaha mendekati Aaron Saputra.

Ketika siswa lain sedang belajar mandiri di pagi hari, Emilia membuatkan sarapan penuh cinta untuk Aaron. Ketika siswa lain serius mendengar pelajaran, dia melipat origami kertas bangau untuk Aaron. Ketika siswa lain mengerjakan tugas, dia menulis surat cinta kepada Aaron.

Namun, akhir-akhir ini, Emilia tidak lagi muncul di luar kelas unggulan tempat Aaron berada. Sebaliknya, dia menghabiskan waktu di perpustakaan setiap hari. Dia selalu menjadi orang pertama yang datang dan orang terakhir yang pulang.

Pada hari ujian masuk perguruan tinggi berakhir, Emilia tidak sengaja bertemu dengan Aaron. Dia tertegun, lalu berbalik dan hendak pergi. Tak disangka, pemuda jangkung itu justru menghalangi jalannya.

"Emilia." Matahari terbenam menyinari wajah dingin pemuda itu. "Kamu lagi menghindariku?"

Mendengar pertanyaan itu, tangan Emilia yang sedang memegang buku tiba-tiba menegang.

Pertama kali Emilia bertemu Aaron adalah di semester pertama tahun keduanya di SMA. Dia mendengar ada seorang siswa berprestasi dan tampan yang pindah ke sekolah mereka. Dia juga mendengar bahwa pemuda tampan itu terkenal dingin dan sulit didekati di sekolah sebelumnya, bahkan primadona sekolah juga gagal mendekatinya.

Jadi, Emilia pergi ke kelas unggulan dengan penuh semangat untuk melihat seperti apa sosok itu. Begitu mendongak, dia melihat seorang pemuda berdiri di dekat jendela dan langsung terkesiap. Sejak hari itu, dia mulai mengejar Aaron.

Emilia selalu menghentikan Aaron dalam perjalanan ke sekolah, menyorakinya saat dia bermain basket, bahkan mengungkapkan rasa cinta dengan bernyanyi di lantai bawah gedung asrama putra.

Emilia memiliki kepribadian yang blak-blakan. Dia mengejar Aaron secara terang-terangan hingga semua orang mengetahuinya. Namun, seperti saat mengejar orang lain sebelumnya, dia hanya menikmati proses mengejar, bukan benar-benar jatuh cinta. Dia hanya selalu berpikir bahwa Aaron harus menjadi miliknya.

Sampai suatu musim dingin, Emilia yang mengenakan rok pendek menggambar bentuk hati dengan kakinya di bawah asrama Aaron. Kebetulan, Aaron kembali ke asrama putra bersama teman-teman sekelasnya. Dia pun berlari ke hadapan Aaron dan berkata dengan gembira, "Aaron! Lihat! Ini cinta yang ingin kuberikan padamu! Bagus nggak?"

Mata Aaron tertuju pada kaki Emilia yang sudah berwarna keunguan karena kedinginan. Pada detik berikutnya, dia berlutut, melepas syalnya, dan melilitkannya di kaki gadis itu.

"Mulai sekarang, jangan pakai rok pendek lagi di hari sedingin ini." Aaron berkata dengan tenang, "Itu akan melukai lutut dan pembuluh darahmu."

Emilia yang kedinginan bisa merasakan kehangatan pemuda itu. Aaron tetap menjaga jarak dan bersikap terkendali, tidak pernah benar-benar menyentuhnya dari awal hingga akhir.

Emilia membeku di tempat. Dia menyaksikan butiran salju berjatuhan di bulu mata panjang Aaron, lalu tiba-tiba menyadari bahwa dia sepertinya sudah benar-benar jatuh cinta.

Awalnya, Emilia memutuskan untuk kuliah di universitas yang sama dengan Aaron.

Namun, pada malam sebelum ujian masuk perguruan tinggi, Emilia secara tidak sengaja melihat seseorang dari pihak penerimaan mahasiswa Universitas Teknologi Nasional datang menemui Aaron. Orang itu mengatakan bahwa dengan prestasinya dalam olimpiade matematika, Aaron bisa diterima tanpa perlu mengikuti ujian.

Namun, Aaron malah berkata, "Boleh saja kalau kalian mau rekrut aku, tapi aku punya satu syarat. Tolong terima Cecilia Prasetyo juga. Dia teman sekelasku."

Emilia langsung mematung di tempat dan menyaksikan tanpa daya ketika orang dari pihak penerimaan Universitas Teknologi Nasional pergi. Beberapa teman Aaron menghampiri dan merangkul bahunya.

"Aku nggak nyangka ternyata kamu suka sama Cecilia. Emilia sudah mengejarmu begitu lama, tapi kamu nggak pernah tolak. Kami pikir kamu suka sama Emilia!"

"Tapi kalau kamu suka sama Cecilia, kenapa kamu nggak pacaran sama dia, malah ngegantung Emilia?"

Menghadapi ejekan semua orang, ekspresi Aaron tetap tenang.

"Aku nggak mau pengaruhi Cecil sebelum ujian masuk perguruan tinggi." Aaron berkata dengan tenang, "Soal Emilia, itu cuma kedok agar guru nggak curigai hubunganku sama Cecil."

Emilia yang berdiri di depan pintu langsung memucat. Semua orang mengatakan bahwa Aaron sulit didekati, tetapi memiliki sikap yang berbeda terhadap Emilia.

Aaron memang selalu memperingatkan Emilia dengan dingin untuk tidak mengganggunya, tetapi malah membungkus kaki Emilia yang dingin dengan syal. Aaron menolak cokelat Hari Valentine yang dibuat Emilia sampai larut malam, tetapi menerima kartu darinya seorang.

Harapan tipis itulah yang membuat Emilia makin larut dalam hubungan ini. Ternyata, semua itu hanya tameng agar hubungan Aaron dengan Cecilia tidak diketahui orang lain?

Emilia menangis sepanjang malam. Saat fajar keesokan harinya, dia berkata pada dirinya sendiri bahwa dia tidak ingin menyukai Aaron lagi. Jadi, dia berhenti mengganggu Aaron.

Tak disangka, pemuda yang dengan dingin memperingatkan Emilia untuk berhenti mengganggunya malah mengadang jalannya hari ini.

Jari-jari Emilia tanpa sadar menegang. Dia menunduk dan menjawab dengan pelan, "Nggak, aku cuma sibuk persiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi."

Aaron memandangi tatapan mengelak dari gadis di depannya. Tiba-tiba, dia teringat bahwa sebelumnya Emilia selalu menatapnya dengan mata berbinar. Sekarang, mata yang dulunya selalu tertuju padanya malah tertuju pada lantai. Emilia juga sepertinya sama sekali tidak berniat untuk menatapnya. Jadi, dia pun merasa kesal tanpa alasan.

"Mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi?" Aaron mencibir, "Dengan nilaimu, memangnya kamu bisa diterima di universitas mana meski sudah belajar keras?"

Emilia tertegun sesaat, lalu mengangkat kepalanya dan melihat pemuda di depannya telah pergi. Setelah itu, tangannya yang sedari tadi terkepal erat baru perlahan merenggang dan memperlihatkan hasil perkiraan nilai yang baru selesai dihitung.

Di atas kertas itu, tertera angka 725 poin. Di tahun mana pun, nilai itu sudah cukup untuk meraih peringkat depan di tingkat provinsi.

Semua orang di SMA Negeri 1 mengira Emilia hanya cantik, tetapi bodoh. Tidak ada yang tahu bahwa dia sebenarnya hanya berpura-pura.

Selama tiga tahun di SMA, Emilia menjaga nilainya tetap berada di ambang batas kelulusan dalam setiap ujian. Sampai ujian masuk perguruan tinggi hari ini, dia baru berhenti berpura-pura.

Sesuai dugaan, sebulan kemudian, saat nilai ujian masuk perguruan tinggi diumumkan, Emilia menerima telepon dari pihak penerimaan mahasiswa Universitas Teknologi Nasional dari pagi-pagi sekali. Mereka mengundangnya untuk berkuliah di Universitas Teknologi Nasional.

Emilia menjawab dengan nada meminta maaf, "Maaf, aku sudah melamar ke Havert di Negara Ariku. Mereka sudah berjanji kepadaku bahwa selama aku masuk peringkat sepuluh besar provinsi dalam ujian masuk perguruan tinggi, mereka akan memberiku beasiswa penuh."

Bagaimanapun juga, Havert adalah universitas yang terkenal di dunia. Meskipun guru dari pihak penerimaan mahasiswa itu menyayangkan hal tersebut, dia tetap memberikan doanya.

Di saat yang sama, Emilia juga menerima e-mail dari Havert. Mereka telah memastikan hasil ujian masuk perguruan tinggi Emilia. Sesuai kesepakatan sebelumnya, mereka membelikannya tiket pesawat yang akan berangkat tiga hari lagi. Mereka ingin Emilia beradaptasi dengan lingkungan baru terlebih dahulu.

Segera setelah Emilia membalas e-mail itu, guru memanggilnya ke kantor akademik. Ternyata, pihak sekolah juga telah mengetahui nilai ujian masuk perguruan tingginya. Semua guru sangat terkejut dan bahkan mencurigai Emilia menyontek.

Sampai Emilia menyelesaikan soal ujian yang lebih sulit di depan mereka, para guru baru percaya bahwa dia tidak menyontek. Di bawah tatapan terkejut mereka, Emilia mulai berbicara.

"Pak Guru, Bu Guru, apa kalian tahu seperti apa bau jarum berkarat? Aku tahu. Saat aku duduk di kelas dua SMP, ibuku meninggal dan ayahku langsung bawa pulang Cecilia. Saat itu, aku baru tahu ternyata aku punya saudara tiri yang seumuran denganku."

"Kemudian, ibu Cecilia juga datang ke rumah kami. Di bulan kedua dia datang, hanya karena nilaiku 50 poin lebih tinggi dari Cecilia di ujian akhir, dia masukkan 50 jarum halus ke dalam nasiku."

Emilia mendongak, suaranya sedikit bergetar saat berbicara.

"Jarumnya menembus kerongkonganku. Setelah jalani operasi semalaman, semua jarum itu baru berhasil dikeluarkan. Sejak hari itu, aku berkata pada diri sendiri bahwa aku hanya akan ujian dengan baik sekali, yaitu waktu ujian masuk perguruan tinggi."

Sejak hari itu, Emilia mulai mengontrol nilainya, belajar berdandan, dan bersikap centil. Dia mulai berpura-pura bahwa dirinya adalah gadis yang sangat bucin dan suka mengejar pria tampan.

Hanya dengan cara seperti itu, Emilia baru bisa mendapatkan makanan yang layak. Saat ayahnya membentaknya, dia juga baru bisa mendengar ibu tirinya berkata dengan munafik, "Anak itu juga bukan sengaja begitu."

Para guru pun merasa bersimpati pada Emilia. Wakasek Kesiswaan menepuk-nepuk pundaknya dan berkata, "Anak baik, kamu akan terlepas dari semua itu begitu masuk perguruan tinggi."

Sorot mata Emilia bergetar. Benar, sekarang dia sudah diterima di universitas dan akan segera berangkat ke luar negeri. Semuanya akan segera berakhir.

Emilia kembali ke kelas. Tak disangka, begitu masuk ke kelas, dia menyadari semua teman sekelasnya menatapnya dengan tatapan aneh.

Entah kenapa, Aaron juga berada di kelas mereka. Dia berjalan langsung ke arah Emilia dan berkata dengan dingin, "Emilia, pihak penerimaan mahasiswa Universitas Teknologi Nasional meneleponmu?"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
19 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status