Share

Bab 5

Penulis: Buchara
Ketika sadar, Emilia sudah berada di ruang gawat darurat rumah sakit. Tirai di samping ranjang rumah sakit ditutup, tetapi dia masih bisa mendengar tangisan Cecilia di baliknya.

"Aaron, kamu mau mati? Demi selamatkan kakak, kamu hampir ketabrak truk itu, tahu!"

Kemudian, terdengar suara teman sekelas lainnya.

"Benar, Aaron. Jangan bilang kamu benar-benar tertarik sama Emilia? Kalau nggak, kenapa kamu sampai pertaruhkan nyawa demi selamatkan dia?"

Terjadi keheningan sejenak di balik tirai. Kemudian, Emilia mendengar suara dingin Aaron.

"Kalian berpikir kejauhan. Aku selamatkan Emilia cuma karena kita sudah kerjai dia soal kancing. Hari ini, kita salah paham lagi padanya. Aku takut dia akan simpan dendam, lalu coba buat masalah lagi supaya Cecil ditolak masuk ke Universitas Nasional Ibu Kota."

Setelah sekian lama, suara Cecilia terdengar lirih. "Benar cuma begitu?"

"Kalau nggak?" Suara Aaron menjadi tidak sabar di balik tirai. "Memangnya kalian kira aku bisa suka sama orang yang bodoh, sembrono, dan manja seperti Emilia?"

Bodoh, sembrono, dan manja. Kata-kata itu tertanam kuat di hati Emilia. Dulu, dia pernah menangis sepanjang malam hanya karena Aaron mengatakan dia berisik. Kali ini, tidak ada sedikit pun gejolak emosi di matanya.

Emilia hanya memejamkan mata dengan pelan, lalu menghela napas. Ternyata Aaron menyelamatkannya karena alasan itu. Bagus sekali. Dengan begitu, dia tidak perlu merasa berutang pada pemuda itu ....

Untungnya, Emilia dan Aaron baik-baik saja. Mereka bisa segera keluar dari rumah sakit.

Keesokan harinya, pihak sekolah meminta para siswa untuk mengosongkan asrama mereka. Berhubung mereka semua sudah lulus, pengelola asrama juga tidak bersikap sekaku dulu. Untuk pertama kalinya, dia memperbolehkan siswa laki-laki masuk ke asrama putri untuk membantu memindahkan barang.

Emilia dan Cecilia tinggal di asrama yang sama. Saat hampir selesai mengemas barang, dia melihat Aaron dan beberapa siswa laki-laki dari kelas mereka berjalan masuk. Dia hanya berpura-pura tidak melihat mereka dan lanjut mengemasi barang-barangnya.

Kemudian, salah satu teman sekamarnya tiba-tiba berseru, "Tunggu, apa ini?"

Emilia tertegun, lalu menunduk. Dia baru menyadari bahwa dia telah mengeluarkan syal dari lemari. Syal rajut berwarna putih itu tidak serapi hasil buatan mesin. Itu jelas adalah rajutan tangan.

Teman sekamar Emilia langsung tersadar dan menutup mulutnya. "Tunggu. Emilia, seingatku, kamu merajut ini untuk Aaron, 'kan? Ya Tuhan, kamu sudah selesai merajutnya?"

Tangan Aaron yang memegang kotak itu berhenti sejenak. Dia teringat bahwa Emilia telah menyiapkan 18 hadiah untuknya di hari ulang tahunnya tahun lalu. Namun, dia menolak hadiah itu dengan dingin.

Untuk sesaat, mata gadis itu meredup. Namun, pada detik berikutnya, dia mengangkat kepalanya lagi dan berkata dengan mata berbinar, "Kalau kamu nggak suka diberi terlalu banyak hadiah, tahun depan aku cuma akan kasih kamu satu. Oke? Gimana kalau syal?"

Mata Emilia terlihat melengkung saat tersenyum. "Syal putih, deh. Sama seperti yang kamu pakai untuk selimuti kakiku terakhir kali. Oke? Meski ulang tahunmu di musim panas, kamu bisa pakai syal itu setelah tunggu beberapa bulan!"

Oleh karena itu, Emilia tidak sabar untuk mulai merajut keesokan harinya. Sejak hari itu, setiap hari mereka bertemu, Emilia selalu membicarakan tentang syal.

"Aaron, kamu nggak tahu betapa sulitnya merajut syal ini. Tanganku sudah hampir kram! Tapi nggak masalah, aku akan terus berlatih. Aku pasti bisa merajut syal yang indah saat ulang tahunmu tiba tahun depan!"

Sekarang, apakah Emilia akhirnya sudah selesai merajut? Jari-jari Aaron tanpa sadar terkepal sejenak. Tak disangka, pada detik berikutnya ....

"Ah!"

Cecilia yang ada di samping tiba-tiba menjerit kesakitan. Lamunan Aaron langsung buyar. Dia segera meletakkan kotak itu dan menghampiri Cecilia.

"Ada apa?"

Ternyata betis Cecilia tergores paku di tempat tidur. Betis putihnya pun berlumuran darah.

"Darahnya banyak sekali!"

Gadis-gadis lain tiba-tiba panik, lalu buru-buru mencari sesuatu untuk menghentikan pendarahan. Namun, asrama sudah hampir selesai dikosongkan dan tidak ada yang bisa digunakan.

Tiba-tiba, seorang gadis berseru, "Gimana kalau pakai syal rajutan Emilia saja?"

Gerakan Aaron tiba-tiba terhenti. Dia tanpa sadar menatap Emilia. Dia mengira Emilia akan langsung menolak. Tak disangka, Emilia menyodorkan syal itu dan berkata dengan tenang, "Terserah."

Atas persetujuan Emilia, teman sekamar itu segera mengambil syal Emilia dan hendak menyeka darah Cecilia. Namun, Aaron menghentikannya.

Aaron menatap Emilia yang sedang mengemasi selimutnya, lalu bertanya dengan penekanan, "Emilia, bukannya kamu yang merajutnya?"

Aaron ingat dengan jelas bahwa setiap kali gadis itu menyebut tentang syal ini, matanya selalu berbinar. Sekarang, dia malah dengan mudah menyetujui seseorang menggunakan syalnya untuk menyeka darah?

Gerakan Emilia seketika terhenti. Sebelum dia sempat berbicara, Cecilia tiba-tiba berteriak kesakitan lagi.

"Ah!"

Aaron pun tidak peduli lagi dan secara refleks menekan syal itu di luka Cecilia. Pada saat dia tersadar, darah merah cerah telah menodai syal seputih salju itu. Noda itu terlihat sangat mencolok.

Melihat pemandangan itu, Emilia hanya tertawa kecil. Kemudian, dia mengemas beberapa barang terakhirnya dan bersiap meninggalkan asrama.

Tak disangka, saat Emilia sampai di depan pintu, Cecilia tiba-tiba menjerit dengan lebih kesakitan lagi. Seluruh wajahnya juga menjadi pucat.

"Ah! Sakit! Sakit banget! Ada sesuatu di syal ini. Sakit banget waktu kena ke lukanya!"

Aaron pun tertegun. Pada detik berikutnya, dia tiba-tiba berdiri dan meraih pergelangan tangan Emilia. Wajahnya terlihat muram.

"Emilia, apa yang kamu taruh di syal itu?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 19

    Terjadi terlalu banyak hal dalam sekejap.Saat peluru itu ditembakkan, Thomas sudah lebih dulu melindungi Emilia di dalam pelukannya.Pada saat yang bersamaan, Aaron juga menerjang kemari berniat mendorong Emilia.Namun, saat Aaron belum sempat menyentuh Emilia, peluru itu justru memelesat lurus menembus dadanya.Di tengah kerumunan yang berteriak panik, orang yang berdiri di kejauhan itu ternyata adalah Cecilia. Hanya dalam waktu singkat mereka tidak bertemu, Cecilia seolah-olah sudah berubah menjadi orang lain.Wanita yang sebelumnya cantik itu kini malah rambutnya berantakan, sepasang matanya memerah, dan wajahnya semakin kurus."Mati," jerit Cecilia dengan suara seraknya, "Mati sana!"Cecilia yang sekarang benar-benar telah kehilangan kewarasannya. Lantaran memiliki jejak kriminal, universitas juga tidak mungkin berpura-pura tidak mengetahuinya, langsung memberi sanksi berat untuknya.Dengan adanya sanksi berat itu, jangankan Universitas Nasional Ibu Kota, bahkan perguruan tinggi ma

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 18

    Selama beberapa saat ini, sambil terus mencari Emilia, akhirnya Aaron juga bisa melihat isi hatinya sendiri dengan jelas. Awalnya, Aaron mengira semua itu hanyalah keterikatan yang sulit dilepaskan.Namun, kemudian Aaron bahkan rela membuat Wakasek Kesiswaan marah, bahkan sampai membuat ayahnya murka. Ayahnya pernah membentaknya, "Sebenarnya, untuk apa kamu mencari perempuan itu?"Pada saat itu, Aaron seolah terbangun dari mimpi.Iya.Kenapa Aaron mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencari Emilia?Semua itu bukan hanya demi menjelaskan, juga bukan demi minta maaf, melainkan karena … Aaron sudah mulai menyukai Emilia.Bahkan ketika Aaron masih belum melihat jelas wajah asli Cecilia, ketika dia masih terus diprovokasi dan berulang kali salah paham terhadap Emilia, hatinya sebenarnya sudah mulai jatuh cinta kepada Emilia.Hanya saja, Aaron tidak bersedia untuk mengakuinya, itulah sebabnya dia membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa, dia hanya menjadikan Emilia sebagai tameng saj

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 17

    Kali ini, langkah kaki Emilia baru berhenti.Pada detik berikutnya, sosok bayangan gelap menutupi kepalanya. Emilia mengangkat kepalanya dan melihat wajah yang pernah dirindukannya setiap saat, tetapi kini malah terasa seperti berasal dari kehidupan yang sudah berlalu.Orang itu tak lain adalah Aaron.Meskipun sebelumnya Emilia sudah mendengar dari sahabatnya bahwa Aaron sedang mencarinya ke berbagai penjuru dunia, Emilia tetap tidak menyangka bahwa Aaron benar-benar akan datang mencarinya.Sementara itu, ketika akhirnya pemuda yang berdiri di hadapannya melihatnya dengan jelas, hati pemuda itu malah dipenuhi berbagai macam perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa gembira, antusias, dan juga sedikit marah ….Aaron merasa marah karena Emilia pergi tanpa berpamitan, marah karena sikap tenang Emilia yang membuat jarak di antara mereka, lebih marah lagi karena saat Emilia melihatnya tadi, Emilia malah ingin melarikan diri.Namun semua itu pada akhirnya berubah menjadi satu kalimat. "Emilia,

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 16

    Ketika melihat ekspresi bingung Emilia, Thomas menghela napas dan melanjutkan ucapannya, "Baiklah, aku memang sudah mengubah margaku. Kalau kamu nggak ingat dengan nama Thomas Lisman, bagaimana dengan nama … Thomas Anggara. Apa kamu masih ingat?"Emilia tertegun. Satu detik kemudian, dia langsung tersadar. "Kamu itu Kak Thomas?"Tentu saja Emilia mengingatnya. Saat ibunya masih hidup, di rumah sebelah mereka tinggal seorang anak laki-laki bernama Thomas Anggara.Mereka bisa dibilang tumbuh bersama sejak kecil dan merupakan teman masa kecil. Hubungan mereka sangat dekat.Namun, sebelum Emilia menduduki bangku SMP, Thomas dan keluarganya berimigrasi ke Negara Ariku. Setelah itu, mimpi buruk Emilia pun dimulai ….Ibunya meninggal dunia. Cecilia dan Sarah masuk ke keluarga mereka. Sejak saat itu, tidak ada lagi senyuman di dunia Emilia.Di dalam kenangan indahnya yang tidak tergolong banyak, satu-satunya momen hangat adalah saat ibunya masih hidup dan masa-masa menjadi tetangga dengan Thom

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 15

    Ketika Emilia mendengar sampai di sini, dia sepenuhnya tertegun di tempat.Tadinya Emilia mengira masalah kepergiannya tidaklah penting bagi Aaron. Saat mendengar kabar bahwa dia meraih peringkat pertama, Aaron mungkin hanya akan merasa kaget sejenak, kemudian tidak akan memedulikannya lagi. Namun, Emilia sungguh tidak menyangka bahwa Aaron akan mencarinya ke mana-mana.Kening Emilia seketika berkerut. Dia berkata, "Kenapa dia mencariku?"Jangan-jangan demi membalas dendam terhadap Emilia, karena sudah melaporkan Cecilia mengendarai mobil di saat mengonsumsi alkohol?"Menurutmu?" Teman sebangkunya yang berada di ujung telepon saat ini benar-benar ingin sekali merangkak keluar dari sambungan telepon dan mengetuk kepala sahabatnya yang begitu lamban memahami perasaan itu."Tentu saja karena dia sadar kalau dia menyukaimu! Bukankah drama serial dan novel selalu seperti itu? Saat orang yang dicintai masih berada di sisinya, dia malah bersikap acuh tak acuh. Begitu orang itu pergi, barulah

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 14

    Emilia terbengong sesaat. Kali ini, dia baru menyadari … apa dirinya sedang didekati seseorang di negara asing?Pria itu menggaruk kepalanya dengan sedikit malu. "Aku tahu, mungkin sikapku kelihatan agak kurang sopan. Tapi aku juga nggak tahu kenapa, begitu melihatmu, entah kenapa … aku merasa sangat familier denganmu. Jadi, aku ingin berkenalan denganmu."Seandainya orang lain yang mengatakan ucapan ini, mungkin Emilia akan merasa trik mendekati wanita ini sudah ketinggalan zaman. Namun ketika melihat pria di hadapannya, entah karena dia berbicara dengan terlalu tulus atau bukan, Emilia malah benar-benar memercayainya.Bukan begitu saja, Emilia juga merasa … sedikit familier dengan pria ini.Setelah ragu beberapa saat, Emilia mengangguk, lalu bertukar kontak dengan pria itu. Saat bertukar nomor telepon, mereka berdua juga saling memperkenalkan diri."Emilia."Pria itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap Emilia dengan tatapan tidak percaya. Namun, Emilia tidak memperhatikannya ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status