Share

Bab 6

Penulis: Buchara
Sebelum Emilia sempat berbicara, teman sekamar di sebelahnya berbicara dengan marah, "Emilia, pantas saja tadi kamu begitu murah hati dan langsung berikan syal yang kamu rajut sendiri. Ternyata, kamu taruh sesuatu di syal itu! Cepat ngomong! Apa yang kamu taruh di syal waktu kami nggak memperhatikan? Kamu memang berniat melukai Cecil?"

Menghadapi tudingan tersebut, Emilia tidak terburu-buru menjelaskan. Dia hanya meletakkan kotaknya, lalu mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.

Teman sekamar itu menahan tangannya. "Apa yang kamu lakukan? Jangan berpura-pura nggak dengar!"

Saat ini, Emilia baru mengangkat pandangannya dan menyahut dengan ekspresi tenang, "Aku lagi panggil ambulans. Bukannya kalian khawatir sama Cecilia? Ya langsung panggil ambulans saja. Sekalian periksa apa yang ada di syal itu."

Ekspresi Cecilia tiba-tiba berubah. Dia dengan cepat mengubah kata-katanya dengan panik, "Aku baik-baik saja. Seharusnya cuma kainnya kena ke luka. Karena terlalu sakit, aku salah paham ...."

Semua orang pun tercengang.

Aaron juga mengerutkan kening, "Cecil, kamu benar-benar baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja." Cecilia memaksakan senyum, lalu berkata dengan tampang kasihan, "Aku yang terlalu besar-besarkan masalah, jadinya semua orang salah paham sama Kakak ...."

Begitu kata-kata itu keluar, semua orang menjadi malu.

Aaron memandang Emilia dengan canggung, lalu melepaskan tangannya. Setelah sekian lama, dia berbisik, "Maaf."

Setelah saling mengenal begitu lama, ini adalah kedua kalinya Aaron meminta maaf kepada Emilia.

Pertama kali adalah ketika Aaron kehilangan buku pelajarannya. Semua orang di kelasnya bersikeras mengatakan bahwa satu-satunya orang yang mendekati mejanya adalah Emilia yang datang untuk mengantarkan sesuatu.

Pada akhirnya, Emilia yang mendesak guru untuk menunjukkan rekaman CCTV. Setelah itu, baru terbukti bahwa yang mencuri adalah seorang gadis di kelas mereka yang diam-diam menyukai Aaron. Saat itu, Aaron juga mengucapkan sepatah kata "maaf" kepadanya.

Bagaimana reaksi Emilia saat itu? Aaron ingat mata gadis itu sudah memerah, tetapi dia tetap tersenyum dan berkata, "Aku nggak mau permintaan maafmu. Kalau kamu benar-benar merasa bersalah, jadilah pacarku!"

Aaron awalnya khawatir Emilia akan mengucapkan kata-kata tak tahu malu seperti itu lagi di depan semua orang. Tak disangka, gadis di depannya hanya mengambil kotak yang ditaruhnya di lantai, lalu menjawab dengan tenang, "Nggak apa-apa."

Aaron pun tertegun. Sebelum dia sempat bereaksi, gadis di depannya sudah berbalik dan pergi. Dia menatap kosong ke punggung Emilia yang menghilang di ujung koridor. Pada saat ini, dia tiba-tiba merasa ada sesuatu yang sudah berubah.

Malam itu, setiap kelas mengadakan pesta perpisahan kelulusan masing-masing. Awalnya, Emilia tidak ingin berpartisipasi, tetapi dia tidak tahan dengan ajakan dari teman-teman sekelasnya. Besok, dia akan berangkat ke Negara Ariku dan tidak tahu kapan mereka akan bertemu lagi. Jadi, dia akhirnya mengangguk.

Tak disangka, sesampainya di ruang privat karaoke, Emilia juga melihat Aaron dan siswa-siswa dari kelasnya. Teman sebangku Emilia menariknya ke samping dengan penuh semangat.

"Gimana? Untung kamu datang, 'kan? Waktu di depan pintu tadi, kami kebetulan ketemu Aaron dan siswa lain dari kelas unggulan. Mereka juga adakan acara di sini, jadi kami semua putusin untuk pesan ruang privat yang mewah saja! Jangan bilang aku sebagai sahabat nggak kasih kamu kesempatan terakhir, ya!"

Emilia duduk dan minum air sambil termenung, sampai seseorang bertanya tentang nilai ujian masuk perguruan tingginya. Dia menjawab dengan jujur, "Aku nggak tahu."

Nilai 20 siswa peringkat tertinggi dalam ujian masuk perguruan tinggi akan dikunci oleh sistem sehingga nilainya tidak terlihat. Namun, dilihat dari sikap pihak penerimaan mahasiswa dari beberapa universitas unggulan yang meneleponnya dan para guru di kantor urusan akademik, dia seharusnya adalah peraih nilai tertinggi tingkat provinsi tahun ini.

Semua orang tercengang ketika mendengar kata-kata Emilia. Kemudian, tawa tajam tiba-tiba terdengar dari belakang mereka. Saat menoleh, mereka melihat itu adalah tawa seorang gadis yang duduk di sebelah Cecilia.

Dia berkata dengan penuh ejekan, "Emilia, apa maksudmu? Nilai ujian masuk perguruan tinggi sudah diumumkan kemarin. Sekarang, yang nggak tahu nilainya cuma 20 siswa dengan peringkat tertinggi seperti Aaron. Memangnya kamu mau bilang bahwa kamu juga masuk peringkat 20 besar provinsi?"

Begitu kata-kata itu keluar, semua siswa dari kelas unggulan tertawa terbahak-bahak.

Akhirnya, Cecilia menahan tawanya dan berkata dengan lembut, "Sudah, kalian jangan tertawa lagi. Mungkin Kakak cuma gugup dan nggak berani periksa nilainya."

Sambil berbicara, Cecilia menatap Emilia dengan penuh prihatin. "Kak, sebenarnya kamu nggak perlu takut. Paling-paling cuma ulang setahun lagi, 'kan?

Orang di sekitar tertawa makin keras, tetapi Emilia malas menjelaskannya. Lagi pula, jika semuanya berjalan lancar, pihak sekolah akan mengeluarkan pengumuman untuk merayakan bahwa dia adalah peraih nilai tertinggi tingkat provinsi. Pada saat itu, kebenaran akan terungkap secara alami.

Hanya saja, teman-teman sekelas Emilia tidak mengetahui hal ini. Jadi, mereka semua merasa menyesal karena sudah menanyakan pertanyaan ini kepada Emilia. Setelah itu, mereka buru-buru mengganti topik pembicaraan dengan mengatakan ingin minum alkohol.

Kebanyakan orang di kelas mereka sudah mencapai umur dewasa. Setelah ujian masuk perguruan tinggi akhirnya selesai, tidak ada salahnya untuk minum sedikit.

Hanya saja, karena pengaruh alkohol dan perpisahan sudah dekat, beberapa orang segera kehilangan kendali atas emosi mereka. Terutama seorang anggota komite olahraga di kelas Emilia yang selama ini menyukai Emilia. Dia jelas sudah mabuk dan mendorong segelas alkohol ke depan Emilia dengan mata merah.

"Emilia, aku tahu kamu nggak menyukaiku, tapi aku sudah menyukaimu selama tiga tahun. Kamu harus habiskan segelas alkohol ini hari ini. Kalau nggak, itu berarti kamu memandang rendah aku!"

Orang-orang di sekitar mulai bersorak dan Emilia merasa sedikit canggung. Berhubung tidak bisa menolak, dia hanya bisa mengambil gelas alkohol itu. Tak disangka, sebuah tangan dengan buku-buku jari tegas tiba-tiba muncul dari belakangnya dan menahan gelas alkohol itu. Dia berbalik dan melihat wajah Aaron yang tampan, tetapi agak suram di bawah gemerlap cahaya lampu pesta.

"Kamu alergi terhadap alkohol, tapi masih mau minum?" Aaron bertanya dengan suara dingin, "Emilia, kamu mau mati?"

Suasana di sekitar tiba-tiba menjadi sunyi. Yang tersisa hanyalah suara lagu dari TV. Semua orang menyaksikan Aaron mengambil gelas alkohol itu dan berbicara tanpa ekspresi kepada anggota komite olahraga tersebut, "Aku akan gantikan Emilia minum."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 19

    Terjadi terlalu banyak hal dalam sekejap.Saat peluru itu ditembakkan, Thomas sudah lebih dulu melindungi Emilia di dalam pelukannya.Pada saat yang bersamaan, Aaron juga menerjang kemari berniat mendorong Emilia.Namun, saat Aaron belum sempat menyentuh Emilia, peluru itu justru memelesat lurus menembus dadanya.Di tengah kerumunan yang berteriak panik, orang yang berdiri di kejauhan itu ternyata adalah Cecilia. Hanya dalam waktu singkat mereka tidak bertemu, Cecilia seolah-olah sudah berubah menjadi orang lain.Wanita yang sebelumnya cantik itu kini malah rambutnya berantakan, sepasang matanya memerah, dan wajahnya semakin kurus."Mati," jerit Cecilia dengan suara seraknya, "Mati sana!"Cecilia yang sekarang benar-benar telah kehilangan kewarasannya. Lantaran memiliki jejak kriminal, universitas juga tidak mungkin berpura-pura tidak mengetahuinya, langsung memberi sanksi berat untuknya.Dengan adanya sanksi berat itu, jangankan Universitas Nasional Ibu Kota, bahkan perguruan tinggi ma

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 18

    Selama beberapa saat ini, sambil terus mencari Emilia, akhirnya Aaron juga bisa melihat isi hatinya sendiri dengan jelas. Awalnya, Aaron mengira semua itu hanyalah keterikatan yang sulit dilepaskan.Namun, kemudian Aaron bahkan rela membuat Wakasek Kesiswaan marah, bahkan sampai membuat ayahnya murka. Ayahnya pernah membentaknya, "Sebenarnya, untuk apa kamu mencari perempuan itu?"Pada saat itu, Aaron seolah terbangun dari mimpi.Iya.Kenapa Aaron mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencari Emilia?Semua itu bukan hanya demi menjelaskan, juga bukan demi minta maaf, melainkan karena … Aaron sudah mulai menyukai Emilia.Bahkan ketika Aaron masih belum melihat jelas wajah asli Cecilia, ketika dia masih terus diprovokasi dan berulang kali salah paham terhadap Emilia, hatinya sebenarnya sudah mulai jatuh cinta kepada Emilia.Hanya saja, Aaron tidak bersedia untuk mengakuinya, itulah sebabnya dia membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa, dia hanya menjadikan Emilia sebagai tameng saj

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 17

    Kali ini, langkah kaki Emilia baru berhenti.Pada detik berikutnya, sosok bayangan gelap menutupi kepalanya. Emilia mengangkat kepalanya dan melihat wajah yang pernah dirindukannya setiap saat, tetapi kini malah terasa seperti berasal dari kehidupan yang sudah berlalu.Orang itu tak lain adalah Aaron.Meskipun sebelumnya Emilia sudah mendengar dari sahabatnya bahwa Aaron sedang mencarinya ke berbagai penjuru dunia, Emilia tetap tidak menyangka bahwa Aaron benar-benar akan datang mencarinya.Sementara itu, ketika akhirnya pemuda yang berdiri di hadapannya melihatnya dengan jelas, hati pemuda itu malah dipenuhi berbagai macam perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa gembira, antusias, dan juga sedikit marah ….Aaron merasa marah karena Emilia pergi tanpa berpamitan, marah karena sikap tenang Emilia yang membuat jarak di antara mereka, lebih marah lagi karena saat Emilia melihatnya tadi, Emilia malah ingin melarikan diri.Namun semua itu pada akhirnya berubah menjadi satu kalimat. "Emilia,

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 16

    Ketika melihat ekspresi bingung Emilia, Thomas menghela napas dan melanjutkan ucapannya, "Baiklah, aku memang sudah mengubah margaku. Kalau kamu nggak ingat dengan nama Thomas Lisman, bagaimana dengan nama … Thomas Anggara. Apa kamu masih ingat?"Emilia tertegun. Satu detik kemudian, dia langsung tersadar. "Kamu itu Kak Thomas?"Tentu saja Emilia mengingatnya. Saat ibunya masih hidup, di rumah sebelah mereka tinggal seorang anak laki-laki bernama Thomas Anggara.Mereka bisa dibilang tumbuh bersama sejak kecil dan merupakan teman masa kecil. Hubungan mereka sangat dekat.Namun, sebelum Emilia menduduki bangku SMP, Thomas dan keluarganya berimigrasi ke Negara Ariku. Setelah itu, mimpi buruk Emilia pun dimulai ….Ibunya meninggal dunia. Cecilia dan Sarah masuk ke keluarga mereka. Sejak saat itu, tidak ada lagi senyuman di dunia Emilia.Di dalam kenangan indahnya yang tidak tergolong banyak, satu-satunya momen hangat adalah saat ibunya masih hidup dan masa-masa menjadi tetangga dengan Thom

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 15

    Ketika Emilia mendengar sampai di sini, dia sepenuhnya tertegun di tempat.Tadinya Emilia mengira masalah kepergiannya tidaklah penting bagi Aaron. Saat mendengar kabar bahwa dia meraih peringkat pertama, Aaron mungkin hanya akan merasa kaget sejenak, kemudian tidak akan memedulikannya lagi. Namun, Emilia sungguh tidak menyangka bahwa Aaron akan mencarinya ke mana-mana.Kening Emilia seketika berkerut. Dia berkata, "Kenapa dia mencariku?"Jangan-jangan demi membalas dendam terhadap Emilia, karena sudah melaporkan Cecilia mengendarai mobil di saat mengonsumsi alkohol?"Menurutmu?" Teman sebangkunya yang berada di ujung telepon saat ini benar-benar ingin sekali merangkak keluar dari sambungan telepon dan mengetuk kepala sahabatnya yang begitu lamban memahami perasaan itu."Tentu saja karena dia sadar kalau dia menyukaimu! Bukankah drama serial dan novel selalu seperti itu? Saat orang yang dicintai masih berada di sisinya, dia malah bersikap acuh tak acuh. Begitu orang itu pergi, barulah

  • Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas   Bab 14

    Emilia terbengong sesaat. Kali ini, dia baru menyadari … apa dirinya sedang didekati seseorang di negara asing?Pria itu menggaruk kepalanya dengan sedikit malu. "Aku tahu, mungkin sikapku kelihatan agak kurang sopan. Tapi aku juga nggak tahu kenapa, begitu melihatmu, entah kenapa … aku merasa sangat familier denganmu. Jadi, aku ingin berkenalan denganmu."Seandainya orang lain yang mengatakan ucapan ini, mungkin Emilia akan merasa trik mendekati wanita ini sudah ketinggalan zaman. Namun ketika melihat pria di hadapannya, entah karena dia berbicara dengan terlalu tulus atau bukan, Emilia malah benar-benar memercayainya.Bukan begitu saja, Emilia juga merasa … sedikit familier dengan pria ini.Setelah ragu beberapa saat, Emilia mengangguk, lalu bertukar kontak dengan pria itu. Saat bertukar nomor telepon, mereka berdua juga saling memperkenalkan diri."Emilia."Pria itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap Emilia dengan tatapan tidak percaya. Namun, Emilia tidak memperhatikannya ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status