Compartilhar

Bab 2

Autor: Josep
Bekas luka di dadaku samar-samar kembali terasa nyeri, dan napasku pun mulai sesak.

Dokter pernah mengatakan bahwa gejolak emosi dapat memicu reaksi penolakan pada jantung transplantasi ini.

Aku segera menelan obat, lalu bersandar di sofa dengan tubuh dipenuhi keringat dingin.

Seluruh rumah hanya dipenuhi suara napasku yang berat, sementara air mata kembali mengalir tanpa bisa kutahan.

Aku masih ingat. Sehari setelah lamaran kami di Eswana tiga tahun lalu, aku mengalami demam tinggi yang tak kunjung reda.

Yudha menemaniku semalaman, dengan canggung memasak bubur dan meniupnya hati-hati sebelum menyuapiku.

Dia berkata, "Cynthia, mulai sekarang, apa pun yang terjadi, kamu akan selalu jadi prioritas utamaku."

Saat mengucapkan kalimat itu, di matanya hanya ada diriku. Aku yang tersipu malu langsung bersembunyi di balik selimut dan tak mau keluar.

Aku teringat masa yang lebih lama lagi, saat pertama kali kami bertemu di sebuah gereja terkenal di luar negeri yang menjadi tujuan wisata.

Kawanan merpati beterbangan, dan saat itulah dia begitu saja masuk ke dalam bidikan kameraku.

Setelah obat mulai bekerja, detak jantungku sedikit mereda.

Baru saja rasa kantuk datang, getaran ponselku membangunkanku.

Ada pesan darinya.

[Cynthia, sahabatku baru putus cinta. Malam ini aku harus temani dia minum, jadi nggak pulang. Tidur aja duluan.]

Lihatlah, bahkan alasan baru pun dia malas membuatnya.

Minggu lalu alasannya jamuan kerja perusahaan, dua minggu lalu karena orang tuanya sedang ada urusan.

Aku menatap layar ponsel, merasa ada sesuatu yang mencengkeram jantungku erat-erat.

Pukul satu dini hari, rasa sakit membuatku tidak bisa tidur.

Monika mengunggah sebuah video.

Gambarnya berguncang, dengan pencahayaan remang-remang khas bar.

Yudha tampak mabuk dan duduk bersandar di sofa, sementara kamera mengarah tepat kepadanya.

Suara Monika terdengar dari belakang. "Kak Yudha, tadi kamu bilang Kak Cynthia terlalu baik sama kamu, sampai bikin kamu sulit bernapas, ya?"

Wajahnya memerah karena mabuk. Dia bahkan tidak mampu mengucapkan satu kalimat utuh dengan jelas.

Namun, Monika langsung melanjutkan sendiri, "Sebenarnya Kak Cynthia cuma terlalu cinta sama kamu. Karena itu dia berusaha ngikat kamu dengan semua pengorbanannya. Kak Yudha, jangan sedih lagi."

Begitu kata-kata itu selesai, sekelilingnya langsung dipenuhi komentar yang tidak enak didengar.

"Sial, benar-benar nggak disangka. Biasanya dia terlihat murah hati, ternyata licik juga, ya?"

"Pakai setengah nyawanya buat ngikat seseorang seumur hidup? Cinta kayak begitu menakutkan sekali."

"Kasihan Kak Yudha, udah lama diperas secara moral seperti ini .... "

"Benar! Kasihan banget Kak Yudha!"

"Utang budi seperti ini yang paling mengerikan!"

….

Yudha hanya melambaikan tangan dan bergumam pelan, " … jangan bilang begitu."

Dia bahkan tidak membelaku dengan satu kata pun.

Video itu berhenti sampai di sana.

Jantungku mendadak berdenyut nyeri sekali hingga hampir membuatku pingsan.

Aku menggigit bibirku kuat-kuat hingga terluka, memanfaatkan rasa sakit itu untuk tetap sadar sejenak, lalu memaksakan diri menelepon ambulans.

Setelah mendapat penanganan darurat di rumah sakit, aku baru pulang keesokan sorenya.

Seorang diri, aku membawa map rekam medis dan berjalan keluar dari gerbang rumah sakit dengan langkah kosong.

Saat melewati pusat kota, aku langsung melihat Yudha dan Monika keluar dari sebuah hotel.

Monika dengan santai menggandeng lengan Yudha.

Yudha menunduk menatapnya, dan di matanya terlihat kelembutan serta ketenangan yang sudah lama tidak kulihat.

Mereka berjalan lurus menuju bioskop di sebelahnya, seperti sepasang kekasih biasa.

Aku berdiri terpaku di tempat, memandangi mereka yang perlahan menghilang dari pandangan.

Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya aku bisa pulang ke rumah.

Baru saja membuka pintu, aku melihat Yudha duduk di sofa.

Saat melihatku, dia langsung mengernyit. "Semalam kamu ke mana? Telepon juga nggak diangkat."

Jawabku dengan suara serak, "Rumah sakit. Masuk ruang gawat darurat."

Dia tertegun sejenak, lalu berkata dengan canggung, "Kenapa? Badanmu kambuh lagi?"

Aku menjawab lagi dengan tenang, "Aku udah lihat video yang diunggah Monika."

Nadanya langsung tidak sabar. "Kamu mau bilang apa lagi? Monika memang orangnya blak-blakan, nggak ada niat buruk. Lagi pula mereka juga nggak tahu apa-apa. Buat apa kamu permasalahkan itu?"

"Dia bilang aku nahan kamu di sisiku hanya karena kamu merasa berutang budi sama aku. Itu juga bukan niat buruk?"

"Lalu kamu maunya aku gimana?"

Tiba-tiba dia menjadi kesal. "Mukulin semua orang itu? Cynthia, bisa nggak kamu lebih dewasa? Dia cuma merasa kasihan sama aku!"

Aku bertanya, "Kasihan kenapa?"

"Kasihan karena ... kasihan karena tekananku terlalu besar!"

Wajahnya langsung memerah.

Keheningan menyelimuti kami selama beberapa saat.

Aku menahan rasa sesak dan perih di hati. "Yudha, jadi ini balasan buat separuh jantung yang aku kasih? Kamu dan orang-orang lain sama-sama menuduhku melakukan pemerasan moral?"

Tubuhnya langsung menegang, dan sorot matanya menjadi panik. "Bukan begitu maksudku …. "

"Kalau gitu, apa maksudmu?"

Air mataku kembali mengalir tanpa bisa ditahan. "Apa hanya air mata Monika yang dianggap air mata, sementara aku selalu dianggap maksa kamu?"

Dia langsung meledak marah. "Kamu mulai lagi! Selalu kalimat yang sama! Ya, kamu hebat, kamu nyelamatin aku! Jadi seumur hidup aku harus memujamu seperti leluhur, nggak boleh punya perasaan atau emosi sendiri sedikit pun, begitu?"

Dia menunjukku. Di matanya tampak jelas rasa muak dan kelelahan yang tidak lagi ditutupi sedikit pun.

Setelah mengatakan itu, dia membanting pintu dan pergi.

Sepuluh menit kemudian, Monika mengunggah sebuah foto bersama Yudha yang sedang bermain game di rumahnya.

Keterangan fotonya berbunyi: [Di tempatku, Kak Yudha akan selalu bebas!]

Yudha langsung memberikan tanda suka hanya dalam hitungan detik.

Aku menatap wajah samping di foto itu. Itulah pria yang dulu kucintai sampai mempertaruhkan setengah hidupku.

Namun di matanya, cinta dan pengorbananku sudah lama berubah menjadi beban berat yang paling ingin dia lepaskan.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 9

    Sebulan kemudian, Yudha memperbarui media sosialnya dengan lokasi di Eswana.Dalam sebuah foto, dia berdiri sendirian di depan ombak besar di pantai pasir hitam, dengan keterangan: [Kalau memang takdir berakhir di sini, nggak apa-apa.]Reza mengernyit. "Dia udah gila! Mendaki saat cuaca ekstrem sama aja cari mati!"Jariku bergerak dan aku langsung membalas komentarnya secara terbuka. [Sekali bodoh hampir kehilangan nyawa, kedua kalinya masih sebodoh ini, berarti memang ada masalah di otaknya.] Setelah mengirimnya, aku langsung memblokirnya.Reza memelukku dari belakang, dagunya bertumpu di puncak kepalaku."Benar-benar nggak khawatir?""Kalau dia mati, itu urusannya. Kalau aku hidup, itu urusanku. Kami udah nggak ada hubungan apa-apa."Tengah malam, Yudha menelepon.Aku mengangkatnya tanpa berkata apa-apa.Suaranya terdengar terputus-putus di tengah deru angin dan ombak."Cynthia ... aku cuma mau dengar suaramu ....""Untuk terakhir kalinya, aku mohon ...."Aku memotongnya, "Udah sele

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 8

    Tujuan berikutnya adalah pemandian air panas di pegunungan bersalju Nivara.Kabut tipis mengepul di sekitar kami. Aku bersandar di bahu Reza sambil memandangi butiran salju yang jatuh tanpa suara ke permukaan kolam.Tiba-tiba ponsel Reza yang diletakkan di tepi kolam bergetar.Setelah melihatnya sekilas, dia langsung terduduk tegak.Dia membaca pesan itu berulang kali sebelum akhirnya menoleh kepadaku.Suaranya bergetar, sementara kegembiraan yang luar biasa tak mampu disembunyikan dari matanya."Cynthia, udah ditemukan! Ada donor jantung yang cocok!"Aku terpaku. Harapan yang bahkan tak pernah kuungkapkan kepadanya ternyata selama ini diam-diam selalu dia simpan dalam hati."Nggak perlu berendam lagi. Kita pulang."Dia segera berdiri, membungkus tubuhku rapat dengan handuk, gerakannya cepat dan tergesa-gesa."Operasinya harus segera dilakukan. Nggak bisa ditunda sedetik pun."...Di depan ruang operasi, dia menggenggam tanganku erat, suaranya tercekat."Jangan takut. Aku akan tetap di

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 7

    Yudha baru meneleponku pada siang keesokan harinya.Hari itu sudah tidak ada penerbangan lagi, jadi dia tidak bisa datang.Yudha bersandar pada rak buku, suaranya terdengar sangat parau."Cynthia, cuma gara-gara aku batalin pernikahan tamasya keliling dunia dan aku ubah jadi pernikahan di dalam negeri, kamu langsung nikah sama orang lain?""Terus hubungan kita selama lima tahun ini kamu buang begitu aja? Cynthia, berhenti bersikap begini."Aku mendengarkannya dan menjawab dengan tenang, "Yudha, kamu salah paham.""Aku bukan sedang marah sama kamu, juga bukan sedang buat keributan.""Aku benar-benar udah nikah."Di seberang telepon, napas Yudha seketika tertahan."Mana mungkin ... sekalipun kamu mau balas dendam sama aku, kamu nggak bisa langsung nikah sama pria asing."Aku memandang pria yang tertidur lelap di sampingku, sudut mataku melengkung membentuk senyuman."Reza bukan pria asing. Kami udah saling kenal hampir dua puluh tahun. Bukan hanya kamu yang punya sahabat masa kecil yang

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 6

    Aku melangkah perlahan menuju sang mempelai pria, Reza Lukman.Cinta pertamaku, sekaligus penyesalan terbesarku di masa muda.Saat berusia tujuh belas tahun, keluarganya mengalami perubahan besar dan dia dipaksa pergi.Aku pikir kami tidak akan pernah bertemu lagi seumur hidup.Dua tahun lalu, Yudha kembali mengecewakanku demi Monika dengan tidak datang ke pesta pertunangan kami. Setelah transplantasi jantung, aku sebenarnya tidak boleh mengalami guncangan emosi. Saat itu aku mendadak sesak napas hingga hampir terjatuh, dan Reza-lah yang menangkapku.Dalam kesadaranku yang samar-samar, ada seseorang yang menggenggam tanganku erat-erat dan memohon agar aku tidak tertidur.Setelah sadar, baru aku tahu bahwa Reza yang mengenaliku lalu dengan segala cara meminta tim dokter ahli melakukan konsul, lalu menarikku kembali dari ambang kematian.Aku mengangkat wajahku dan mendapati sepasang mata yang dipenuhi kecemasan, seperti seseorang yang baru saja mendapatkan kembali sesuatu yang nyaris hil

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 5

    H-1 sebelum hari pernikahan, Yudha akhirnya menelepon.Suaranya terdengar hati-hati dan penuh keraguan. "Cynthia, kamu masih marah? Beberapa hari ini aku sibuk di kantor, nggak bisa pulang ke rumah, lembur terus setiap hari."Aku menjawab dengan tenang, "Nggak."Dia jelas menghela napas lega, lalu nadanya menjadi lebih ringan. "Syukurlah. Oh ya, semua jadwal pernikahan udah kamu konfirmasi, 'kan?""Hmm."Aku tersenyum tipis sambil melihat koper-koper yang sudah rapi di sudut ruangan.Dia benar-benar santai kembali, bahkan terdengar seperti sedikit tersenyum. "Bagus. Tidurlah lebih awal. Besok aku akan jemput kamu."...Keesokan harinya, telepon dari Yudha kembali masuk.Nadanya terdengar sangat panik. "Cynthia, kamu pergi duluan aja ke lokasi acara! Monika sedang sakit haid parah. Aku harus antar dia ke rumah sakit dulu.""Baik."Aku menjawab datar sambil memberi isyarat kepada teman yang membantuku bahwa koper-koper sudah bisa dimasukkan ke mobil.Dia terdiam sejenak, seolah tidak men

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 4

    Malam itu, aku sendirian memandangi langit malam dari balkon.Di ponselku, sedang diputar sebuah siaran langsung yang direkomendasikan sistem. Ternyata yang menjadi pembawa acaranya adalah Monika dan Yudha.Menghadap kamera, Monika menangis sambil tersenyum dengan wajah penuh air mata."Kak Yudha sering ngajak aku ke sini. Katanya kalau suasana hati sedang buruk, makan sesuatu yang manis pasti akan bikin perasaan lebih baik."Lalu dia mengubah topik pembicaraan. "Pria sebaik ini sebentar lagi akan menikah ... tapi kenapa Kak Cynthia nggak bisa menghargainya? Sedikit-sedikit bertengkar karena hal sepele, bahkan pasang muka dingin di depan teman-temannya. Kak Yudha pasti jadi serba salah berada di posisi itu."Kamera bergeser, dan Yudha ternyata duduk tepat di sampingnya.Dia mengambil tisu lalu dengan lembut menyeka air mata Monika.Setelah itu, Yudha menyendok sepotong kue dan dengan santai menyuapkannya ke mulutnya.Monika menerimanya dengan wajah memerah. Sementara itu, Yudha memanda

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status