FAZER LOGINSebulan kemudian, Yudha memperbarui media sosialnya dengan lokasi di Eswana.Dalam sebuah foto, dia berdiri sendirian di depan ombak besar di pantai pasir hitam, dengan keterangan: [Kalau memang takdir berakhir di sini, nggak apa-apa.]Reza mengernyit. "Dia udah gila! Mendaki saat cuaca ekstrem sama aja cari mati!"Jariku bergerak dan aku langsung membalas komentarnya secara terbuka. [Sekali bodoh hampir kehilangan nyawa, kedua kalinya masih sebodoh ini, berarti memang ada masalah di otaknya.] Setelah mengirimnya, aku langsung memblokirnya.Reza memelukku dari belakang, dagunya bertumpu di puncak kepalaku."Benar-benar nggak khawatir?""Kalau dia mati, itu urusannya. Kalau aku hidup, itu urusanku. Kami udah nggak ada hubungan apa-apa."Tengah malam, Yudha menelepon.Aku mengangkatnya tanpa berkata apa-apa.Suaranya terdengar terputus-putus di tengah deru angin dan ombak."Cynthia ... aku cuma mau dengar suaramu ....""Untuk terakhir kalinya, aku mohon ...."Aku memotongnya, "Udah sele
Tujuan berikutnya adalah pemandian air panas di pegunungan bersalju Nivara.Kabut tipis mengepul di sekitar kami. Aku bersandar di bahu Reza sambil memandangi butiran salju yang jatuh tanpa suara ke permukaan kolam.Tiba-tiba ponsel Reza yang diletakkan di tepi kolam bergetar.Setelah melihatnya sekilas, dia langsung terduduk tegak.Dia membaca pesan itu berulang kali sebelum akhirnya menoleh kepadaku.Suaranya bergetar, sementara kegembiraan yang luar biasa tak mampu disembunyikan dari matanya."Cynthia, udah ditemukan! Ada donor jantung yang cocok!"Aku terpaku. Harapan yang bahkan tak pernah kuungkapkan kepadanya ternyata selama ini diam-diam selalu dia simpan dalam hati."Nggak perlu berendam lagi. Kita pulang."Dia segera berdiri, membungkus tubuhku rapat dengan handuk, gerakannya cepat dan tergesa-gesa."Operasinya harus segera dilakukan. Nggak bisa ditunda sedetik pun."...Di depan ruang operasi, dia menggenggam tanganku erat, suaranya tercekat."Jangan takut. Aku akan tetap di
Yudha baru meneleponku pada siang keesokan harinya.Hari itu sudah tidak ada penerbangan lagi, jadi dia tidak bisa datang.Yudha bersandar pada rak buku, suaranya terdengar sangat parau."Cynthia, cuma gara-gara aku batalin pernikahan tamasya keliling dunia dan aku ubah jadi pernikahan di dalam negeri, kamu langsung nikah sama orang lain?""Terus hubungan kita selama lima tahun ini kamu buang begitu aja? Cynthia, berhenti bersikap begini."Aku mendengarkannya dan menjawab dengan tenang, "Yudha, kamu salah paham.""Aku bukan sedang marah sama kamu, juga bukan sedang buat keributan.""Aku benar-benar udah nikah."Di seberang telepon, napas Yudha seketika tertahan."Mana mungkin ... sekalipun kamu mau balas dendam sama aku, kamu nggak bisa langsung nikah sama pria asing."Aku memandang pria yang tertidur lelap di sampingku, sudut mataku melengkung membentuk senyuman."Reza bukan pria asing. Kami udah saling kenal hampir dua puluh tahun. Bukan hanya kamu yang punya sahabat masa kecil yang
Aku melangkah perlahan menuju sang mempelai pria, Reza Lukman.Cinta pertamaku, sekaligus penyesalan terbesarku di masa muda.Saat berusia tujuh belas tahun, keluarganya mengalami perubahan besar dan dia dipaksa pergi.Aku pikir kami tidak akan pernah bertemu lagi seumur hidup.Dua tahun lalu, Yudha kembali mengecewakanku demi Monika dengan tidak datang ke pesta pertunangan kami. Setelah transplantasi jantung, aku sebenarnya tidak boleh mengalami guncangan emosi. Saat itu aku mendadak sesak napas hingga hampir terjatuh, dan Reza-lah yang menangkapku.Dalam kesadaranku yang samar-samar, ada seseorang yang menggenggam tanganku erat-erat dan memohon agar aku tidak tertidur.Setelah sadar, baru aku tahu bahwa Reza yang mengenaliku lalu dengan segala cara meminta tim dokter ahli melakukan konsul, lalu menarikku kembali dari ambang kematian.Aku mengangkat wajahku dan mendapati sepasang mata yang dipenuhi kecemasan, seperti seseorang yang baru saja mendapatkan kembali sesuatu yang nyaris hil
H-1 sebelum hari pernikahan, Yudha akhirnya menelepon.Suaranya terdengar hati-hati dan penuh keraguan. "Cynthia, kamu masih marah? Beberapa hari ini aku sibuk di kantor, nggak bisa pulang ke rumah, lembur terus setiap hari."Aku menjawab dengan tenang, "Nggak."Dia jelas menghela napas lega, lalu nadanya menjadi lebih ringan. "Syukurlah. Oh ya, semua jadwal pernikahan udah kamu konfirmasi, 'kan?""Hmm."Aku tersenyum tipis sambil melihat koper-koper yang sudah rapi di sudut ruangan.Dia benar-benar santai kembali, bahkan terdengar seperti sedikit tersenyum. "Bagus. Tidurlah lebih awal. Besok aku akan jemput kamu."...Keesokan harinya, telepon dari Yudha kembali masuk.Nadanya terdengar sangat panik. "Cynthia, kamu pergi duluan aja ke lokasi acara! Monika sedang sakit haid parah. Aku harus antar dia ke rumah sakit dulu.""Baik."Aku menjawab datar sambil memberi isyarat kepada teman yang membantuku bahwa koper-koper sudah bisa dimasukkan ke mobil.Dia terdiam sejenak, seolah tidak men
Malam itu, aku sendirian memandangi langit malam dari balkon.Di ponselku, sedang diputar sebuah siaran langsung yang direkomendasikan sistem. Ternyata yang menjadi pembawa acaranya adalah Monika dan Yudha.Menghadap kamera, Monika menangis sambil tersenyum dengan wajah penuh air mata."Kak Yudha sering ngajak aku ke sini. Katanya kalau suasana hati sedang buruk, makan sesuatu yang manis pasti akan bikin perasaan lebih baik."Lalu dia mengubah topik pembicaraan. "Pria sebaik ini sebentar lagi akan menikah ... tapi kenapa Kak Cynthia nggak bisa menghargainya? Sedikit-sedikit bertengkar karena hal sepele, bahkan pasang muka dingin di depan teman-temannya. Kak Yudha pasti jadi serba salah berada di posisi itu."Kamera bergeser, dan Yudha ternyata duduk tepat di sampingnya.Dia mengambil tisu lalu dengan lembut menyeka air mata Monika.Setelah itu, Yudha menyendok sepotong kue dan dengan santai menyuapkannya ke mulutnya.Monika menerimanya dengan wajah memerah. Sementara itu, Yudha memanda







