Short
Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya

Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya

By:  YunazaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
27Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Selama empat tahun menjalin hubungan diam-diam dengan adik laki-laki sahabatnya, Ivy mengira mereka sama-sama berjuang untuk cinta mereka. Siapa sangka, semua itu hanya delusinya sendiri. Hanya dia yang berharap hubungan mereka bisa menjadi resmi.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Ivy, gosip besar! Adikku yang pendiam itu ternyata diam-diam pacaran di belakangku!"

Mendengar itu, tangan Ivy yang memegang ponsel tanpa sadar membeku. Karena dia sendiri adalah objek gosip yang dimaksud sahabatnya. Dia dan adik sahabatnya sudah menjalin hubungan rahasia selama empat tahun.

Awalnya karena mempertimbangkan hubungan dengan sahabatnya, ditambah lagi saat dia bersama Theo, Theo baru saja lulus SMA, jadi dia tidak pernah jujur pada sahabatnya.

Hanya saja, tak disangka Theo yang baru lulus kuliah sudah mengumumkan hubungan itu.

Memikirkan hal itu, Ivy tanpa sadar tersenyum tipis. "Dia sudah bilang ke kamu?"

Nada Kelly terdengar bersemangat. "Pacarnya itu kayaknya baru pulang ke tanah air hari ini. Dia sampai bikin pesta penyambutan di kelab ...."

Ivy menyela, "Kamu nggak salah?"

"Nggak mungkin salah. Anak itu biasanya dingin ke siapa pun, tapi malam ini dia bukan cuma gantiin cewek itu minum, tapi juga kasih hadiah. Dari awal sampai akhir matanya nggak lepas dari cewek itu, tatapannya lembut banget sampai bikin aku merinding ...."

Kelly masih terus mengoceh, tetapi Ivy sudah tak bisa mendengar apa pun lagi. Dia bahkan mulai meragukan apakah dirinya salah dengar.

Ivy tersadar, berusaha keras menahan getaran di ujung suaranya, lalu pura-pura bertanya dengan tenang, "Mereka sudah berapa lama bersama?"

"Itu aku nggak tahu, tapi setahuku dia sudah lama ngejar cewek itu."

"Kamu tahu nggak, anak itu ternyata setia banget. Dari zaman SMA sudah ngejar cewek itu. Nilainya waktu itu bahkan cukup buat masuk universitas top, tapi dia malah ganti pilihan demi cewek itu. Terus kamu tebak kelanjutannya gimana?"

"Cewek itu sudah suka orang lain, sampai ngejar pria pujaannya ke luar negeri. Adikku sampai depresi cukup lama gara-gara itu."

"Terus cewek itu kena masalah di luar negeri. Begitu adikku dengar, dia langsung nyusul malam itu juga. Selama beberapa tahun ini tiket pesawat bolak-baliknya sudah banyak banget ...."

"Ini semua aku juga dengar dari ibuku. Aku jadi penasaran banget cewek itu orang macam apa. Bisa bikin Theo yang dingin begitu nggak bisa lupain dia selama bertahun-tahun. Eh, hari ini akhirnya aku lihat orangnya langsung. Kamu tahu apa yang aku lihat?"

Setelah terdiam beberapa detik, Ivy baru mengeluarkan dua kata dengan susah payah. "Nggak tahu."

"Cewek itu mirip banget sama kamu! Terutama matanya, aku sampai kaget waktu pertama kali lihat. Keluargamu benar-benar nggak punya anak perempuan yang hilang atau apa, 'kan?"

Setiap kata yang masuk ke telinga Ivy seperti petir yang menggelegar, membuat telinganya berdengung.

Sebuah dugaan mulai menyebar di hatinya. Dia merasa seluruh darah di tubuhnya membeku dan anggota tubuhnya dingin sampai ke tulang.

Dia tiba-tiba teringat hari kelulusan SMA Theo, saat pria itu mabuk berat di KTV. Kelly sedang bepergian, jadi dia diminta untuk menjemputnya.

Dengan susah payah, dia membawa Theo pulang. Begitu masuk pintu, bibirnya langsung disergap. Gerakannya kuat dan kasar, membuatnya tak bisa menghindar.

Aroma alkohol dingin khas tubuh remaja itu menyelimutinya. Perlahan, dia dibuat pusing oleh bau alkohol yang memabukkan itu, hampir tak bisa berdiri.

Theo justru tertawa santai melihat gerakannya yang kaku. "Kak, belum pernah ciuman?"

Ivy seketika tersadar, mendorongnya menjauh. "Theo, buka matamu dan lihat jelas siapa aku."

Theo tak peduli, tiba-tiba mendekat sambil tersenyum. Tubuh panasnya menempel erat pada Ivy. "Aku tahu kok. Kak, kamu suka aku."

Nada yang sangat yakin.

Seperti rahasia yang terbongkar, Ivy menunduk dengan agak malu. "Mana ada ...."

"Jangan buru-buru menyangkal." Theo mengangkat dagunya dengan santai. Saat mata mereka bertemu, dia melihat bayangannya di mata hitam remaja itu, seperti bintang di langit malam.

"Kak, matamu nggak bisa bohong. Aku kasih kamu kesempatan, dorong aku ...."

Aroma alkohol yang menyelimuti sekitarnya menghantam kesadarannya yang tersisa. Entah kenapa, jantung yang tadinya berdebar kacau tiba-tiba menjadi tenang. Dia menatap mata remaja itu, tetapi tiba-tiba bibirnya terasa lembut.

Tanpa memberinya kesempatan, Theo menahan tengkuknya dan mencium bibirnya dengan lembut.

Ivy perlahan tenggelam dalam ciuman yang lembut dan penuh keterikatan itu, tak mampu melepaskan diri.

Hari itu adalah pertama kalinya baginya. Theo seolah-olah tak kenal lelah, terus bersamanya sepanjang malam yang kacau.

Saat mencapai puncak, dia menunduk mencium mata Ivy. Suaranya malas dan berat, "Buka matamu dan lihat aku. Matamu ... sangat indah."

Ternyata yang dia katakan hari itu bukan "sangat indah", melainkan "sangat mirip dia". Ternyata dia mabuk sampai tidak sadarkan diri karena cinta tak terbalasnya. Wanita yang dia cintai pergi ke luar negeri demi pria lain.

Ternyata bersamanya hanya karena pelampiasan. Bahkan kebiasaannya menatap matanya saat terbawa perasaan ... juga karena ... menganggapnya sebagai pengganti!

Air mata yang selama ini ditahan akhirnya runtuh. Ivy menahan isakan, lalu langsung menutup telepon.

Saat itu juga terdengar suara ketukan dari pintu depan. Ivy menenangkan emosinya, lalu membuka pintu.

"Kak Ivy, Kak Theo minum terlalu banyak. Aku antar dia pulang ke sini."

Ivy mengucapkan terima kasih, lalu menerima Theo. Jarang sekali Theo bersikap patuh. Pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Ivy dan menggosok pelan, lalu bergumam samar, "Jangan pergi ... Gaia."

Begitu kata-kata itu keluar, seluruh ruang tamu menjadi sunyi senyap.

"Eee ... Kak Ivy, jangan salah paham. Hari ini ada teman yang ulang tahun, Kak Theo cuma keasyikan minum, jadi nggak ingin teman-temannya pergi."

Ivy mengangguk dengan tidak acuh.

Melihat ekspresinya yang tenang, Ethan diam-diam menghela napas lega. Setelah membantu membaringkan Theo ke tempat tidur, dia segera pergi seperti melarikan diri.

Ivy duduk di tepi tempat tidur, entah kenapa melirik ponsel di meja samping. Selama empat tahun berpacaran, dia tak pernah memeriksa ponsel Theo. Sekarang dia hanya ingin memastikan satu hal, apakah yang dikatakan Kelly itu benar atau tidak.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
27 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status