공유

Bab 4

작가: Josep
Malam itu, aku sendirian memandangi langit malam dari balkon.

Di ponselku, sedang diputar sebuah siaran langsung yang direkomendasikan sistem. Ternyata yang menjadi pembawa acaranya adalah Monika dan Yudha.

Menghadap kamera, Monika menangis sambil tersenyum dengan wajah penuh air mata.

"Kak Yudha sering ngajak aku ke sini. Katanya kalau suasana hati sedang buruk, makan sesuatu yang manis pasti akan bikin perasaan lebih baik."

Lalu dia mengubah topik pembicaraan. "Pria sebaik ini sebentar lagi akan menikah ... tapi kenapa Kak Cynthia nggak bisa menghargainya? Sedikit-sedikit bertengkar karena hal sepele, bahkan pasang muka dingin di depan teman-temannya. Kak Yudha pasti jadi serba salah berada di posisi itu."

Kamera bergeser, dan Yudha ternyata duduk tepat di sampingnya.

Dia mengambil tisu lalu dengan lembut menyeka air mata Monika.

Setelah itu, Yudha menyendok sepotong kue dan dengan santai menyuapkannya ke mulutnya.

Monika menerimanya dengan wajah memerah. Sementara itu, Yudha memandangnya dengan tatapan yang penuh kelembutan.

"Apa yang sedang kamu pikirin?"

Suaranya terdengar melalui mikrofon, sedikit samar, tetapi tetap jelas dan tepat menghujam ke dalam hatiku.

"Bahkan setelah aku nikah nanti, aku akan tetap jadi ksatriamu selamanya."

Perutku langsung terasa mual. Aku membuka kolom komentar, dan untungnya masih ada orang-orang yang berpikiran normal.

[Apa salah tunangan resminya sampai kalian berdua menjijikkan seperti ini?]

[Kasihan sekali tunangannya. Bahkan dari balik layar aku bisa mencium aroma licik wanita ini ….]

[Muak. Kalian berdua cocok bersama aja, jangan merugikan perempuan lain lagi!]

[Pria ini juga bukan orang baik. Sudah mau nikah masih bersikap begini dengan teman perempuan, ksatria katanya? Jijik.]

Tak disangka, Yudha sendiri turun tangan membalas komentar-komentar itu. Balasannya cepat dan penuh emosi.

[Jangan asal bicara omong kosong! Monika tumbuh besar bersamaku. Kami dekat, jadi wajar kalau dia peduli padaku.]

[Apa yang kalian tahu! Tunanganku setiap hari pasang wajah masam. Nggak bisa ditegur, nggak bisa dimarahi. Sedikit saja nggak sesuai dengan keinginannya, penyakit jantungnya langsung kambuh. Ringkih sekali.]

[Sebentar lagi juga menikah, tapi dia masih kekanak-kanakan. Hal sekecil apa pun selalu dipermasalahkan.]

Setiap kata menusuk tepat ke jantungku.

Rasanya seperti ada paku es yang menghantam dan menembus jantungku. Dingin, sakit, dan membuat kebas. Tiba-tiba, aku memuntahkan darah.

Bahkan setetes air mata pun tak bisa lagi keluar. Dengan tenang, aku menelepon ambulans.

Ambulans datang dengan cepat. Aku berbaring di atas tandu, merasakan hidupku perlahan-lahan mengalir keluar dari tubuhku.

Berbagai kenangan melintas di depan mataku.

Dia pernah berlutut di bawah cahaya aurora dan berjanji akan mencintaiku seumur hidup.

Dia pernah melupakan hari jadi kami, tetapi justru menemani Monika menonton konser semalaman.

Saat aku demam tinggi dan terbaring sendirian sambil diinfus hingga dini hari, dia meneleponku. Tapi kata-kata pertamanya justru keluhan karena aku lupa menyetrika kemeja putih pemberian Monika.

Saat aku dirawat di rumah sakit, dia sedang menemani Monika bermain ski di Nivara. Dari video yang dikirimnya terdengar tawa ceria Monika, "Kak Yudha, coba lihat! Salju di sini indah sekali!"

Setiap kali aku membutuhkannya, dia selalu berada di tempat lain.

Dia selalu sibuk mengurus orang lain, sementara untukku hanya tersisa sikap seadanya.

Dia selalu berkata sibuk, tetapi selalu punya waktu untuk Monika.

Setiap janji menonton film dan setiap rencana perjalanan yang pernah dia buat denganku, semuanya dengan mudah dikalahkan oleh satu telepon dari Monika.

Janji berubah menjadi kewajiban, cinta berubah menjadi beban, dan setengah jantungku berubah menjadi belenggu yang sekaligus dia banggakan dan dia benci.

Darah yang berbusa masuk ke saluran napasku. Aku batuk hebat hingga seluruh tubuh gemetar.

Aku lelah, sungguh sangat lelah.

Mereka masih terus bersiaran langsung. Monika tersenyum sambil menyuapkan sesendok kue ke mulut Yudha dengan begitu akrab.

Yudha membuka mulut dan menerimanya. Tatapan lembutnya adalah sesuatu yang sudah lama tidak kulihat.

Menjijikkan sekali.

Sebelum kegelapan sepenuhnya menelan kesadaranku, layar ponselku tiba-tiba meredup lalu mati dengan sendirinya.

Ketika terbangun beberapa hari kemudian, belasan pesan dari Yudha sudah menumpuk di ponselku.

[Cynthia, aku salah. Aku udah minta maaf. Jangan marah lagi, boleh nggak?]

[Sebentar lagi kita jadi suami istri. Bisa nggak kamu lebih dewasa? Jangan selalu bikin aku serba salah begini.]

Sepertinya dia minum terlalu banyak alkohol dan mengirim banyak pesan tidak jelas.

[Apa kamu nggak bisa ... ngerti dan maklumin aku sekali aja?]

Aku membacanya tanpa merasakan gejolak apa pun di dalam hati.

Dia memintaku untuk memahaminya. Baiklah, akan kukabulkan keinginannya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 9

    Sebulan kemudian, Yudha memperbarui media sosialnya dengan lokasi di Eswana.Dalam sebuah foto, dia berdiri sendirian di depan ombak besar di pantai pasir hitam, dengan keterangan: [Kalau memang takdir berakhir di sini, nggak apa-apa.]Reza mengernyit. "Dia udah gila! Mendaki saat cuaca ekstrem sama aja cari mati!"Jariku bergerak dan aku langsung membalas komentarnya secara terbuka. [Sekali bodoh hampir kehilangan nyawa, kedua kalinya masih sebodoh ini, berarti memang ada masalah di otaknya.] Setelah mengirimnya, aku langsung memblokirnya.Reza memelukku dari belakang, dagunya bertumpu di puncak kepalaku."Benar-benar nggak khawatir?""Kalau dia mati, itu urusannya. Kalau aku hidup, itu urusanku. Kami udah nggak ada hubungan apa-apa."Tengah malam, Yudha menelepon.Aku mengangkatnya tanpa berkata apa-apa.Suaranya terdengar terputus-putus di tengah deru angin dan ombak."Cynthia ... aku cuma mau dengar suaramu ....""Untuk terakhir kalinya, aku mohon ...."Aku memotongnya, "Udah sele

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 8

    Tujuan berikutnya adalah pemandian air panas di pegunungan bersalju Nivara.Kabut tipis mengepul di sekitar kami. Aku bersandar di bahu Reza sambil memandangi butiran salju yang jatuh tanpa suara ke permukaan kolam.Tiba-tiba ponsel Reza yang diletakkan di tepi kolam bergetar.Setelah melihatnya sekilas, dia langsung terduduk tegak.Dia membaca pesan itu berulang kali sebelum akhirnya menoleh kepadaku.Suaranya bergetar, sementara kegembiraan yang luar biasa tak mampu disembunyikan dari matanya."Cynthia, udah ditemukan! Ada donor jantung yang cocok!"Aku terpaku. Harapan yang bahkan tak pernah kuungkapkan kepadanya ternyata selama ini diam-diam selalu dia simpan dalam hati."Nggak perlu berendam lagi. Kita pulang."Dia segera berdiri, membungkus tubuhku rapat dengan handuk, gerakannya cepat dan tergesa-gesa."Operasinya harus segera dilakukan. Nggak bisa ditunda sedetik pun."...Di depan ruang operasi, dia menggenggam tanganku erat, suaranya tercekat."Jangan takut. Aku akan tetap di

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 7

    Yudha baru meneleponku pada siang keesokan harinya.Hari itu sudah tidak ada penerbangan lagi, jadi dia tidak bisa datang.Yudha bersandar pada rak buku, suaranya terdengar sangat parau."Cynthia, cuma gara-gara aku batalin pernikahan tamasya keliling dunia dan aku ubah jadi pernikahan di dalam negeri, kamu langsung nikah sama orang lain?""Terus hubungan kita selama lima tahun ini kamu buang begitu aja? Cynthia, berhenti bersikap begini."Aku mendengarkannya dan menjawab dengan tenang, "Yudha, kamu salah paham.""Aku bukan sedang marah sama kamu, juga bukan sedang buat keributan.""Aku benar-benar udah nikah."Di seberang telepon, napas Yudha seketika tertahan."Mana mungkin ... sekalipun kamu mau balas dendam sama aku, kamu nggak bisa langsung nikah sama pria asing."Aku memandang pria yang tertidur lelap di sampingku, sudut mataku melengkung membentuk senyuman."Reza bukan pria asing. Kami udah saling kenal hampir dua puluh tahun. Bukan hanya kamu yang punya sahabat masa kecil yang

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 6

    Aku melangkah perlahan menuju sang mempelai pria, Reza Lukman.Cinta pertamaku, sekaligus penyesalan terbesarku di masa muda.Saat berusia tujuh belas tahun, keluarganya mengalami perubahan besar dan dia dipaksa pergi.Aku pikir kami tidak akan pernah bertemu lagi seumur hidup.Dua tahun lalu, Yudha kembali mengecewakanku demi Monika dengan tidak datang ke pesta pertunangan kami. Setelah transplantasi jantung, aku sebenarnya tidak boleh mengalami guncangan emosi. Saat itu aku mendadak sesak napas hingga hampir terjatuh, dan Reza-lah yang menangkapku.Dalam kesadaranku yang samar-samar, ada seseorang yang menggenggam tanganku erat-erat dan memohon agar aku tidak tertidur.Setelah sadar, baru aku tahu bahwa Reza yang mengenaliku lalu dengan segala cara meminta tim dokter ahli melakukan konsul, lalu menarikku kembali dari ambang kematian.Aku mengangkat wajahku dan mendapati sepasang mata yang dipenuhi kecemasan, seperti seseorang yang baru saja mendapatkan kembali sesuatu yang nyaris hil

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 5

    H-1 sebelum hari pernikahan, Yudha akhirnya menelepon.Suaranya terdengar hati-hati dan penuh keraguan. "Cynthia, kamu masih marah? Beberapa hari ini aku sibuk di kantor, nggak bisa pulang ke rumah, lembur terus setiap hari."Aku menjawab dengan tenang, "Nggak."Dia jelas menghela napas lega, lalu nadanya menjadi lebih ringan. "Syukurlah. Oh ya, semua jadwal pernikahan udah kamu konfirmasi, 'kan?""Hmm."Aku tersenyum tipis sambil melihat koper-koper yang sudah rapi di sudut ruangan.Dia benar-benar santai kembali, bahkan terdengar seperti sedikit tersenyum. "Bagus. Tidurlah lebih awal. Besok aku akan jemput kamu."...Keesokan harinya, telepon dari Yudha kembali masuk.Nadanya terdengar sangat panik. "Cynthia, kamu pergi duluan aja ke lokasi acara! Monika sedang sakit haid parah. Aku harus antar dia ke rumah sakit dulu.""Baik."Aku menjawab datar sambil memberi isyarat kepada teman yang membantuku bahwa koper-koper sudah bisa dimasukkan ke mobil.Dia terdiam sejenak, seolah tidak men

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 4

    Malam itu, aku sendirian memandangi langit malam dari balkon.Di ponselku, sedang diputar sebuah siaran langsung yang direkomendasikan sistem. Ternyata yang menjadi pembawa acaranya adalah Monika dan Yudha.Menghadap kamera, Monika menangis sambil tersenyum dengan wajah penuh air mata."Kak Yudha sering ngajak aku ke sini. Katanya kalau suasana hati sedang buruk, makan sesuatu yang manis pasti akan bikin perasaan lebih baik."Lalu dia mengubah topik pembicaraan. "Pria sebaik ini sebentar lagi akan menikah ... tapi kenapa Kak Cynthia nggak bisa menghargainya? Sedikit-sedikit bertengkar karena hal sepele, bahkan pasang muka dingin di depan teman-temannya. Kak Yudha pasti jadi serba salah berada di posisi itu."Kamera bergeser, dan Yudha ternyata duduk tepat di sampingnya.Dia mengambil tisu lalu dengan lembut menyeka air mata Monika.Setelah itu, Yudha menyendok sepotong kue dan dengan santai menyuapkannya ke mulutnya.Monika menerimanya dengan wajah memerah. Sementara itu, Yudha memanda

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status