แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Josep
Yudha mengira aku sedang mendiamkannya karena marah, jadi dia membiarkanku selama dua hari.

Namun setelah menyadari aku terlalu diam, untuk pertama kalinya dia makan malam di rumah dan berpura-pura mengobrol santai, "Oh ya, soal pernikahan itu ... aku udah lihat beberapa pilihan hotel, semuanya cukup megah."

Aku mengambil sepotong sayur dan tidak menanggapi.

Dia tampak sedikit canggung lalu berdeham, "Ahem, maksudku, kalau pernikahannya diadain di dalam negeri aja, sebenarnya akan lebih mudah, 'kan?"

Aku meletakkan alat makan. "Sebenarnya kamu mau bilang apa?"

Dia terdiam sejenak dan menjawab dengan canggung, "Nggak ada, cuma ngobrol aja."

Suasana menjadi hening dan canggung. Tiba-tiba aku berkata, "Yudha, masih ingat daftar perlengkapan yang dulu kita buat untuk perjalanan ke Eswana? Waktu cepat sekali berlalu. Sebentar lagi semuanya akan terpakai."

Tatapannya bergetar sesaat, lalu dia buru-buru memaksakan sebuah senyum.

"Kenapa tiba-tiba bahas itu?"

"Cynthia, tempat-tempat itu terlalu jauh. Dengan kondisi tubuhmu, gimana kamu bisa tahan jalani perjalanan seperti itu?"

"Bagaimana kalau kita adakan pernikahan di hotel terbaik di kota ini aja? Lebih santai dan tetap megah."

Dia buru-buru mengeluarkan ponselnya. "Lihat, ini rancangan yang dibuat Monika. Ada langit-langit bertema bintang, bunga segar di mana-mana …. "

Aku melirik sekilas. Gaya mewah dan berlebihan seperti itu sama sekali bukan seleraku.

Aku memotong ucapannya, "Baiklah, kalian aja yang tentukan. Aku nggak punya pendapat."

Dia tercengang, seolah tidak terbiasa melihatku menurut begitu saja, tetapi segera rasa senangnya mengalahkan keheranannya.

"Akhirnya kamu sadar juga!"

Suasana hatinya jelas membaik, bahkan dia berinisiatif menemaniku mencoba gaun pengantin.

Di butik gaun pengantin, baru saja aku mengenakan gaun model bahu terbuka, tirai ruang ganti langsung disibak.

Monika masuk sambil membawa tablet dan dengan antusias menghampiri Yudha.

"Kak Yudha, gaun utama yang kita revisi udah datang! Kak Cynthia pasti suka!"

Dia mengangkat sebuah mahkota yang mewah hingga terkesan berlebihan. "Lihat yang ini! Aku dan Kak Yudha langsung jatuh hati begitu lihat ini. Cocok banget sama aura anggun Kak Cynthia."

Yudha bahkan tidak merasa ada yang aneh. "Selera Monika memang bagus."

Monika lalu mengeluarkan sebuah kalung bertatahkan batu permata dan menyerahkannya kepadanya.

"Kak Yudha, cepat pakaikan untuk Kak Cynthia! Itu 'kan hadiah yang khusus kamu pilih sendiri!"

Dia menerimanya dan dengan agak kikuk mencoba memakaikannya di leherku.

Kalung itu baru minggu lalu kulihat di unggahan media sosial Monika, terpasang di lehernya.

Konsultan gaun mengingatkan dengan canggung, "Kalung itu sebenarnya cocok dipadukan dengan gaun model V-neck yang dalam. Sedangkan gaun yang dipilih Nyonya Cynthia ini model bahu terbuka, jadi mungkin .... "

"Ganti aja." Dia langsung melambaikan tangan. "Ikuti aja saran Monika."

Konsultan gaun itu memandangku dengan serba salah.

Baru kemudian Yudha teringat untuk bertanya, "Apa kamu suka?"

"Nggak perlu."

Ketiganya langsung tertegun.

Aku menatap Yudha dan berkata dengan nada datar, "Kamu lupa? Aku alergi sama logam campuran seperti ini."

"Dua tahun lalu saat ulang tahunku, kamu pernah kasih aku kalung yang mirip. Aku pakai selama tiga hari dan leherku sampai mengalami iritasi parah."

"Kamu juga yang waktu itu segera menyadari dan bawa aku ke rumah sakit."

Pandanganku beralih kepada Monika. Wajahnya langsung pucat pasi.

"Sepertinya kamu nggak pernah kasih tahu itu."

Yudha masih memegang kalung itu dengan kaku. Wajahnya terlihat tidak senang.

Mata Monika langsung memerah dan dia menarik lengan baju pria itu.

"Kak Yudha, aku nggak sengaja .... "

Yudha segera melindunginya lalu memarahiku, "Bisa nggak kamu berhenti nyindir begitu? Monika udah sibuk bantuin ke sana kemari, bukankah semuanya demi kamu?"

"Hanya sebuah kalung. Kalau nggak suka ya udah. Untuk apa pakai bilang hal-hal yang merusak suasana seperti itu?"

"Memangnya nggak bisa kamu sedikit lebih dewasa?"

Melihat betapa bersemangatnya dia membela wanita lain, aku merasa semuanya begitu menggelikan.

"Yudha, saat kamu mau aku mengalah, tuntutanmu memang selalu banyak."

Seolah ucapanku tepat mengenai titik lemahnya, dia langsung mengibaskan tangannya dengan kesal.

"Benar! Aku memang nggak tahan lihat kamu begini!"

Monika memeluk lengannya dan berbisik sambil mendekat, "Kak Yudha, jangan lanjutin lagi .... "

Yudha mencibir dan suaranya tiba-tiba meninggi. "Jangan ikut campur! Aku udah muak!"

"Kamu selalu ributin hal-hal kecil, curigaan terus, dan suka besar-besarin masalah. Nggak heran jantungmu jadi selemah itu. Sekarang kalau sedikit-sedikit merasa nggak enak badan, memangnya itu salah siapa?"

"Apa pun yang terjadi, kamu selalu punya alasan! Bukankah semua ini hanya karena kamu merasa aku berutang setengah nyawa sama kamu?"

Udara di dalam butik langsung membeku. Konsultan itu menundukkan kepala dan berpura-pura sibuk di tempat lain.

Hatiku rasanya seperti jatuh ke dalam jurang es.

Jadi di dalam hatinya, pengorbananku yang sampai mempertaruhkan nyawa ....

Hanyalah alat untuk membuat keributan dan mencari belas kasihan.

Sungguh menyedihkan, aku bahkan pernah berharap dia masih mengingat janjinya tentang pernikahan tamasya keliling dunia.

Aku menatap wajahnya yang telah berubah karena amarah.

Tiba-tiba aku juga teringat pada masa-masa setelah operasi transplantasi jantungku selesai.

Pada malam hari dia bahkan tidak berani tidur terlalu lelap. Dia selalu mengulurkan tangan untuk memastikan aku masih bernapas.

Saat itu tangannya gemetar dan matanya penuh ketakutan.

Ternyata, antara rasa takut kehilangan dan rasa muak hanya dipisahkan oleh satu garis tipis.

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya menatap mereka dengan tenang, lalu berbalik pergi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 9

    Sebulan kemudian, Yudha memperbarui media sosialnya dengan lokasi di Eswana.Dalam sebuah foto, dia berdiri sendirian di depan ombak besar di pantai pasir hitam, dengan keterangan: [Kalau memang takdir berakhir di sini, nggak apa-apa.]Reza mengernyit. "Dia udah gila! Mendaki saat cuaca ekstrem sama aja cari mati!"Jariku bergerak dan aku langsung membalas komentarnya secara terbuka. [Sekali bodoh hampir kehilangan nyawa, kedua kalinya masih sebodoh ini, berarti memang ada masalah di otaknya.] Setelah mengirimnya, aku langsung memblokirnya.Reza memelukku dari belakang, dagunya bertumpu di puncak kepalaku."Benar-benar nggak khawatir?""Kalau dia mati, itu urusannya. Kalau aku hidup, itu urusanku. Kami udah nggak ada hubungan apa-apa."Tengah malam, Yudha menelepon.Aku mengangkatnya tanpa berkata apa-apa.Suaranya terdengar terputus-putus di tengah deru angin dan ombak."Cynthia ... aku cuma mau dengar suaramu ....""Untuk terakhir kalinya, aku mohon ...."Aku memotongnya, "Udah sele

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 8

    Tujuan berikutnya adalah pemandian air panas di pegunungan bersalju Nivara.Kabut tipis mengepul di sekitar kami. Aku bersandar di bahu Reza sambil memandangi butiran salju yang jatuh tanpa suara ke permukaan kolam.Tiba-tiba ponsel Reza yang diletakkan di tepi kolam bergetar.Setelah melihatnya sekilas, dia langsung terduduk tegak.Dia membaca pesan itu berulang kali sebelum akhirnya menoleh kepadaku.Suaranya bergetar, sementara kegembiraan yang luar biasa tak mampu disembunyikan dari matanya."Cynthia, udah ditemukan! Ada donor jantung yang cocok!"Aku terpaku. Harapan yang bahkan tak pernah kuungkapkan kepadanya ternyata selama ini diam-diam selalu dia simpan dalam hati."Nggak perlu berendam lagi. Kita pulang."Dia segera berdiri, membungkus tubuhku rapat dengan handuk, gerakannya cepat dan tergesa-gesa."Operasinya harus segera dilakukan. Nggak bisa ditunda sedetik pun."...Di depan ruang operasi, dia menggenggam tanganku erat, suaranya tercekat."Jangan takut. Aku akan tetap di

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 7

    Yudha baru meneleponku pada siang keesokan harinya.Hari itu sudah tidak ada penerbangan lagi, jadi dia tidak bisa datang.Yudha bersandar pada rak buku, suaranya terdengar sangat parau."Cynthia, cuma gara-gara aku batalin pernikahan tamasya keliling dunia dan aku ubah jadi pernikahan di dalam negeri, kamu langsung nikah sama orang lain?""Terus hubungan kita selama lima tahun ini kamu buang begitu aja? Cynthia, berhenti bersikap begini."Aku mendengarkannya dan menjawab dengan tenang, "Yudha, kamu salah paham.""Aku bukan sedang marah sama kamu, juga bukan sedang buat keributan.""Aku benar-benar udah nikah."Di seberang telepon, napas Yudha seketika tertahan."Mana mungkin ... sekalipun kamu mau balas dendam sama aku, kamu nggak bisa langsung nikah sama pria asing."Aku memandang pria yang tertidur lelap di sampingku, sudut mataku melengkung membentuk senyuman."Reza bukan pria asing. Kami udah saling kenal hampir dua puluh tahun. Bukan hanya kamu yang punya sahabat masa kecil yang

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 6

    Aku melangkah perlahan menuju sang mempelai pria, Reza Lukman.Cinta pertamaku, sekaligus penyesalan terbesarku di masa muda.Saat berusia tujuh belas tahun, keluarganya mengalami perubahan besar dan dia dipaksa pergi.Aku pikir kami tidak akan pernah bertemu lagi seumur hidup.Dua tahun lalu, Yudha kembali mengecewakanku demi Monika dengan tidak datang ke pesta pertunangan kami. Setelah transplantasi jantung, aku sebenarnya tidak boleh mengalami guncangan emosi. Saat itu aku mendadak sesak napas hingga hampir terjatuh, dan Reza-lah yang menangkapku.Dalam kesadaranku yang samar-samar, ada seseorang yang menggenggam tanganku erat-erat dan memohon agar aku tidak tertidur.Setelah sadar, baru aku tahu bahwa Reza yang mengenaliku lalu dengan segala cara meminta tim dokter ahli melakukan konsul, lalu menarikku kembali dari ambang kematian.Aku mengangkat wajahku dan mendapati sepasang mata yang dipenuhi kecemasan, seperti seseorang yang baru saja mendapatkan kembali sesuatu yang nyaris hil

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 5

    H-1 sebelum hari pernikahan, Yudha akhirnya menelepon.Suaranya terdengar hati-hati dan penuh keraguan. "Cynthia, kamu masih marah? Beberapa hari ini aku sibuk di kantor, nggak bisa pulang ke rumah, lembur terus setiap hari."Aku menjawab dengan tenang, "Nggak."Dia jelas menghela napas lega, lalu nadanya menjadi lebih ringan. "Syukurlah. Oh ya, semua jadwal pernikahan udah kamu konfirmasi, 'kan?""Hmm."Aku tersenyum tipis sambil melihat koper-koper yang sudah rapi di sudut ruangan.Dia benar-benar santai kembali, bahkan terdengar seperti sedikit tersenyum. "Bagus. Tidurlah lebih awal. Besok aku akan jemput kamu."...Keesokan harinya, telepon dari Yudha kembali masuk.Nadanya terdengar sangat panik. "Cynthia, kamu pergi duluan aja ke lokasi acara! Monika sedang sakit haid parah. Aku harus antar dia ke rumah sakit dulu.""Baik."Aku menjawab datar sambil memberi isyarat kepada teman yang membantuku bahwa koper-koper sudah bisa dimasukkan ke mobil.Dia terdiam sejenak, seolah tidak men

  • Kepatuhanku Dianggap Sepele   Bab 4

    Malam itu, aku sendirian memandangi langit malam dari balkon.Di ponselku, sedang diputar sebuah siaran langsung yang direkomendasikan sistem. Ternyata yang menjadi pembawa acaranya adalah Monika dan Yudha.Menghadap kamera, Monika menangis sambil tersenyum dengan wajah penuh air mata."Kak Yudha sering ngajak aku ke sini. Katanya kalau suasana hati sedang buruk, makan sesuatu yang manis pasti akan bikin perasaan lebih baik."Lalu dia mengubah topik pembicaraan. "Pria sebaik ini sebentar lagi akan menikah ... tapi kenapa Kak Cynthia nggak bisa menghargainya? Sedikit-sedikit bertengkar karena hal sepele, bahkan pasang muka dingin di depan teman-temannya. Kak Yudha pasti jadi serba salah berada di posisi itu."Kamera bergeser, dan Yudha ternyata duduk tepat di sampingnya.Dia mengambil tisu lalu dengan lembut menyeka air mata Monika.Setelah itu, Yudha menyendok sepotong kue dan dengan santai menyuapkannya ke mulutnya.Monika menerimanya dengan wajah memerah. Sementara itu, Yudha memanda

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status