LOGIN“Ma-maaf … aku benar-benar tidak tahu kalau kamu bukan Tuan Curtiz,” cicit Reina dengan bersusah payah. Napasnya terasa sesak karena jarak pria itu yang begitu dekat membuat pasokan udara di sekitarnya terasa menipis.
“Aku … aku sudah salah mengenali orang. Kalau aku tahu kamu bukan Tuan Curtiz, aku pasti tidak akan menidurimu,” tutur Reina, berusaha menjelaskan bahwa semua yang terjadi hanya kesalahan fatal yang tidak disengaja.
Namun, kejujurannya itu justru menjadi bumerang baginya.
Wajah Hugo tampak semakin menggelap, lalu dengan suara rendah yang berbahaya, pria itu bergumam, “Maksudmu … kemampuanku di ranjang tidak lebih baik dari si bandot tua Curtiz itu hingga kamu menyesal tidur denganku?”
“Iya,” jawab Reina tanpa berpikir panjang. Namun, sedetik kemudian, ia menyadari jawaban bodohnya itu, lalu meralatnya dengan cepat, “Tidak, bukan begitu maksudku! Tentu saja kamu yang lebih hebat! Ah, tidak … maksudku … semua ini bukan masalah siapa yang lebih ahli. Tapi—”
Ucapan Reina seketika terputus karena cubitan Hugo pada dagunya semakin kuat, membuat tulang rahangnya terasa nyeri.
“Apa kamu tahu … bayaran apa yang biasanya orang-orang terima karena telah menghinaku, Nona Wynn?” desis pria itu.
Aura mendominasi yang terpancar dari kilatan mata Hugo membuat tubuhnya bergetar hebat. Reina hanya bisa menggeleng pelan.
“Mati,” bisik Hugo dingin, tepat di depan bibir wanita itu.
Satu kata itu berhasil membuat tubuh Reina kehilangan tenaga. Jika bukan karena cubitan Hugo yang menahannya, ia pasti sudah jatuh terduduk di lantai.
“Tapi,” Hugo menyambung kalimatnya, sebuah seringai tipis yang jauh lebih mengerikan daripada tatapan datarnya kini tersungging di bibirnya. “Membunuhmu begitu saja akan sangat membosankan. Aku ingin kamu membayarnya dengan cara yang lain.”
Pria itu mengendurkan sedikit cubitannya sehingga Reina dapat sedikit bernapas lega. “Ka-Kamu mau apa?” bisik Reina dengan waswas.
Masih dengan tatapan yang mengunci pergerakan Reina, pria itu menilik wajahnya yang diselimuti ketakutan dan menjawab, “Aku mau kamu bertanggung jawab karena sudah meniduriku.”
“Bertanggung jawab?” Reina menatapnya tak percaya. “Apa kamu tidak merasa lucu? Semalam kamu juga menikmati tubuhku. Kita impas.”
“Impas?” Hugo terkekeh rendah, lalu mendongakkan wajah Reina hingga sorot mata hazel wanita itu tenggelam dalam binar gelapnya. “Apa kamu tidak tahu ada berapa banyak wanita yang ingin naik ke ranjangku, huh?”
“Sudah kubilang kalau ini semua bukan keinginanku,” sergah Reina dengan jengah.
“Bukan keinginan atau tidak, faktanya kamu sudah meniduriku, Nona Wynn,” balas Hugo dengan tegas.
Reina hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Ia tidak dapat membantah ucapannya dan akhirnya berkata, “Baiklah, aku akan bertanggung jawab. Katakan saja berapa tarifmu. Aku akan membayarmu, tapi … berikan aku waktu. Sekarang aku—”
“Membayar?” Hugo mendengus sinis, memotong ucapan Reina.
Sungguh, Hugo tidak pernah menyangka akan diperlakukan seperti pria penghibur oleh wanita di hadapannya ini.
Meskipun ia merasa terhina dengan keberanian wanita itu, tetapi ia tidak berminat untuk memperdebatkannya lebih jauh.
“Aku tidak kekurangan uang. Justru aku punya tawaran yang lebih menarik,” sahut Hugo dengan suara yang terdengar penuh siasat.
Reina menatapnya dengan penuh curiga. “Tawaran apa?”
“Aku ingin kamu melahirkan anak untukku.”
Jawaban santai yang diberikan Hugo seketika membulatkan mata Reina.
Wanita itu melongo syok. Sebelum ia sempat berkomentar, Hugo menambahkan, “Tenang saja. Kamu tidak akan dirugikan. Sebagai gantinya, aku akan mengangkatmu menjadi asisten pribadiku dengan gaji sesuai dengan keinginanmu. Bagaimana?”
Reina masih terperangah. Ia merasa tawaran itu terdengar jauh lebih gila dan menakutkan daripada ancaman kematian. Ia memang membutuhkan uang, tetapi ia tidak ingin mendapatkannya dengan cara kotor dan sehina itu!
Menjadi alat pemuas nafsu dan mesin pencetak keturunan, apa bedanya dia dengan wanita penghibur?
Jelas, pria ini hanya ingin membalas penghinaannya tadi.
Dengan segenap nyali yang tersisa, Reina mengumpulkan tenaga pada kedua tangannya, lalu mendorong dada bidang pria itu dengan kuat. Cekalan tangan Hugo pada dagunya sontak terlepas.
Hugo yang tidak menyangka akan mendapat perlawanan fisik, terhuyung mundur satu langkah. Manik matanya yang gelap telah memicing tajam, menatap Reina yang tengah memandangnya dengan sorot mata penuh amarah.
“Kalau kamu pikir uang bisa membeli tubuhku, kamu salah besar,” desis Reina dengan suara bergetar. Matanya masih memancarkan ketakutan, tetapi ia tetap berusaha berdiri tegak dengan mati-matian.
“Aku tahu kamu sangat kaya dan berkuasa. Tapi, terkadang ada beberapa hal yang tidak dinilai dengan uang dan aku salah satunya, Hugo Veldric.”
Usai mengatakan hal itu, Reina pun bergegas meninggalkan ruangan itu. Dengan debaran jantung yang masih memburu, gadis itu berjalan cepat menyusuri koridor. Penampilannya yang kusut membuat beberapa kandidat yang masih menunggu di luar menatapnya dengan penuh kebingungan.
Akan tetapi, Reina tidak peduli. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin untuk meredam ketakutan yang masih mencengkeram dadanya. Namun, langkahnya memelan saat wanita itu memegang lehernya dengan panik.
“Astaga, kalungku!” seru Reina dengan frustrasi.
Ia menoleh kembali ke belakang. Meskipun keinginannya untuk mengambil kembali kalung peninggalan ibunya, tetapi mengingat bagaimana sikap lancangnya tadi kepada Hugo, kembali ke dalam ruangan itu sama saja menyerahkan diri ke tangan iblis.
Reina meremas jemarinya dengan erat, berusaha menenangkan dirinya hingga akhirnya ia mendapatkan panggilan telepon dari tetangganya, Hana Baker.
“Ha-halo, Nyonya Baker,” sahut Reina, masih berusaha menstabilkan suaranya.
“Reina, kamu di mana?!” seru wanita di seberang teleponnya, terdengar panik.
Dahi Reina mengernyit. Firasatnya mengatakan ada sesuatu buruk yang sedang terjadi. “A-Apa terjadi sesuatu, Nyonya Baker?”
Jawaban yang diberikan tetangganya itu seketika membuat wajah Reina memucat seperti kapas. Ponsel di tangannya hampir merosot, tetapi ia masih berusaha menahannya dan bergumam, “Baiklah. Aku pulang sekarang.”
Tanpa berpikir panjang, Reina langsung melesat pergi, sepenuhnya tidak lagi peduli dengan kalungnya.
Sementara itu, Hugo Veldric masih berdiri mematung setelah ditinggalkan Reina sendirian di dalam ruangan. Ucapan wanita itu membuatnya cukup terpukul.
Hugo tidak pernah menyangka, dirinya yang selalu dipuja sekaligus ditakuti oleh banyak orang, baru saja menerima penolakan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan.
Matanya yang gelap terpaku pada kalung perak metalik yang tergeletak di lantai, tepat di bawah kakinya. Perlahan ia membungkuk, memungut benda itu.
Seulas seringai kecil yang dingin pun tersungging di bibirnya. “Benar-benar gadis kecil yang menarik. Aku mau lihat … apa harga dirimu masih berharga di saat kamu menemui jalan buntu,” gumamnya seraya mengusap ukiran nama pada permukaan belakang liontin kalung tersebut dengan jemarinya.
“Ma-maaf … aku benar-benar tidak tahu kalau kamu bukan Tuan Curtiz,” cicit Reina dengan bersusah payah. Napasnya terasa sesak karena jarak pria itu yang begitu dekat membuat pasokan udara di sekitarnya terasa menipis.“Aku … aku sudah salah mengenali orang. Kalau aku tahu kamu bukan Tuan Curtiz, aku pasti tidak akan menidurimu,” tutur Reina, berusaha menjelaskan bahwa semua yang terjadi hanya kesalahan fatal yang tidak disengaja.Namun, kejujurannya itu justru menjadi bumerang baginya.Wajah Hugo tampak semakin menggelap, lalu dengan suara rendah yang berbahaya, pria itu bergumam, “Maksudmu … kemampuanku di ranjang tidak lebih baik dari si bandot tua Curtiz itu hingga kamu menyesal tidur denganku?”“Iya,” jawab Reina tanpa berpikir panjang. Namun, sedetik kemudian, ia menyadari jawaban bodohnya itu, lalu meralatnya dengan cepat, “Tidak, bukan begitu maksudku! Tentu saja kamu yang lebih hebat! Ah, tidak … maksudku … semua ini bukan masalah siapa yang lebih ahli. Tapi—”Ucapan Reina sek
Seringai kecil tersungging di bibir Hugo Veldric. Pria itu seakan menikmati binar ketakutan di wajah Reina.Wanita itu masih berdiri mematung tanpa kata hingga akhirnya suara berat Hugo memecah keheningan yang tercipta di antara mereka. “Kenapa diam, Nona Wynn? Di mana perginya keberanianmu semalam? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?”Nada menggoda yang terkesan mengejek itu membuat wajah Reina terasa memanas. Namun, wanita itu menampik dengan cepat, “Sa-saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, Tuan.”Satu alis Hugo sontak terangkat. “Tidak mengerti?” gumamnya dengan nada mengejek.Reina memejamkan matanya dengan erat. Ia memutuskan untuk tidak mengakui perbuatannya. Bukan hanya karena merasa khawatir ia kehilangan kesempatan diterima bekerja, tetapi ia ingin mempertahankan harga dirinya yang masih tersisa.Mana mungkin ia mengaku jika dirinyalah adalah gadis penggoda nakal yang telah menantangnya, lalu menghilang setelah menidurinya? Mau ditaruh di mana mukanya?Akan tetapi,
“Aku dapat panggilan wawancara?” Reina bergumam tak percaya.Ingatan gadis itu berkelebat cepat. Beberapa hari lalu, ia memang nekat mengirim lamaran ke beberapa hotel besar di pusat kota untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik daripada pekerjaan magangnya selama ini.Reina membutuhkan sejumlah uang untuk melanjutkan kuliahnya yang terhenti karena keterbatasan dana. Sebagai satu-satunya penopang hidup, ia tidak memiliki waktu untuk bersantai.Selain harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri, ia juga harus menanggung biaya sekolah dan perawatan rutin adik laki-lakinya yang mengidap penyakit jantung.Akan tetapi, menjadi karyawan The Grand Veldric Hotel bukanlah hal yang mudah. Banyak para pelamar yang gagal diterima karena pihak manajemen hotel menetapkan standar yang sangat tinggi, baik dari segi latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, maupun etika kerja. Bahkan untuk posisi housekeeper sekalipun, seleksinya terkenal ketat dan tidak kenal kompromi.Sejak awal mengirim
Reina keluar dari hotel dengan langkah tergesa. Napasnya masih memburu saat ia naik ke atas bus. Setelah mendapat tempat duduk kosong, barulah ia bisa bernapas lega.Namun, jantungnya masih berdegup dengan sangat cepat. Wajahnya juga masih memanas. Ia mencoba memejamkan matanya untuk meredam kekacauan di dalam kepalanya, tetapi ingatan semalam justru menyerbu tanpa ampun.“Cukup, Reina. Jangan diingat lagi,” gumam gadis itu seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.Kegelisahannya itu langsung menarik perhatian penumpang di sebelahnya. Sontak, Reina tersenyum kikuk, lalu memalingkan wajahnya seraya menepuk dadanya untuk menghentikan debarannya.Akan tetapi, gerakan tangannya mendadak terhenti saat menyentuh lehernya yang kosong. Jemarinya mendadak kaku. Padahal seharusnya ada kalung rantai tipis yang biasanya melingkar di sana.Napas Reina tercekat. “Ti-tidak mungkin ….”Tangannya kembali meraba lehernya dengan lebih panik, lalu turun ke dada, berharap kalung itu terselip di pakaiannya
Esok harinya, Reina terbangun ketika matahari telah berada di puncak tertinggi gedung hotel. Kelopak matanya yang perlahan terbuka, menangkap sinar hangat yang menembus tirai tipis.Dengan satu tangannya yang terangkat, ia menghalangi cahaya menyergap matanya secara langsung. Setelah mulai terbiasa dengan pencahayaan sekitar, ia memiringkan kepalanya dengan malas. Matanya perlahan menelusuri sekelilingnya.‘Ini … ini di mana?’Dahinya lantas mengernyit, mencoba menelaah situasi yang dihadapinya. Ruangan yang ditempatinya saat ini terlihat seperti suite mewah, tetapi ranjang yang ditidurinya saat ini terlihat sangat berantakan seperti habis─Deg!Reina terkesiap. Perlahan, dengan napas tercekat, ia menunduk dan mengintip tubuhnya sendiri di balik selimut. Dalam sekejap, seluruh darah di wajahnya seperti menghilang. Jantungnya ikut mencelos.Ternyata tidak ada satu helai benang pun yang melekat di tubuhnya!“Tidak … ini … tidak mungkin …,” bisiknya lirih.Tiba-tiba kilasan bayangan perg
“Tidak ada yang menyuruhku. Aku sendiri yang mau menggodamu,” aku gadis itu dengan penuh percaya diri.Gigi-gigi pria itu telah bergemeretak. Ia mengira Reina ingin mempermainkannya. Sebelum ia menginterogasinya lebih jauh, Reina tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya pada leher kokohnya.“Singkirkan tanganmu, Gadis Nakal.”Geraman rendah yang terdengar seksi menggelitik telinga Reina. Namun, bukannya mundur, gadis itu justru menyeringai tipis, sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menurut kepada pria itu.“Berikan dulu nomor kontakmu baru aku menyingkir,” pinta Reina, lalu menambahkan dengan nada menggoda, “Kalau tidak … aku akan terus memelukmu seperti ini.”Kilatan manik mata pria itu semakin tajam. Sebelum amarahnya meledak, Reina tiba-tiba bertanya, “Tuan, bagaimana kalau kita taruhan?”Melihat kebingungan pria itu, Reina langsung menjelaskan, “Kalau kamu bisa menolak godaanku, aku tidak akan mengganggumu lagi.”Reina menaikkan dagunya sedikit, menatap pria itu dengan senyum y







