LOGINSeringai kecil tersungging di bibir Hugo Veldric. Pria itu seakan menikmati binar ketakutan di wajah Reina.
Wanita itu masih berdiri mematung tanpa kata hingga akhirnya suara berat Hugo memecah keheningan yang tercipta di antara mereka. “Kenapa diam, Nona Wynn? Di mana perginya keberanianmu semalam? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?”
Nada menggoda yang terkesan mengejek itu membuat wajah Reina terasa memanas. Namun, wanita itu menampik dengan cepat, “Sa-saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, Tuan.”
Satu alis Hugo sontak terangkat. “Tidak mengerti?” gumamnya dengan nada mengejek.
Reina memejamkan matanya dengan erat. Ia memutuskan untuk tidak mengakui perbuatannya. Bukan hanya karena merasa khawatir ia kehilangan kesempatan diterima bekerja, tetapi ia ingin mempertahankan harga dirinya yang masih tersisa.
Mana mungkin ia mengaku jika dirinyalah adalah gadis penggoda nakal yang telah menantangnya, lalu menghilang setelah menidurinya? Mau ditaruh di mana mukanya?
Akan tetapi, pria itu jelas bukan tipe yang mudah dibodohi.
Mendengar ketukan sepatu yang beradu dengan lantai granit, mata Reina pun kembali terbuka. Pria itu ternyata telah meninggalkan kursinya dan melangkah ke arahnya.
Jantung Reina berpacu semakin cepat. Instingnya telah memperingatkannya untuk segera meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, kakinya masih terasa tidak bertenaga.
Reina hanya bisa bergerak mundur seiring dengan langkah kaki Hugo ke arahnya hingga ia tidak memiliki jalan untuk mundur lagi karena punggungnya telah membentur dinding ruangan yang dingin.
Hugo telah berhenti tepat di depannya, mengunci pergerakan Reina dengan kedua tangannya di sisi kepala wanita itu. Kini, Reina benar-benar terjebak.
Kepala Hugo perlahan tertunduk, sedikit demi sedikit memangkas jarak hingga Reina bisa merasakan embusan napas hangat pria itu menyapu keningnya.
Aroma parfum maskulin yang familiar kembali menyerbu indera penciuman Reina, memicu kembali ingatan panas yang tengah berkelebat cepat di dalam kepalanya.
“Kamu pikir kamu bisa menipuku dan kabur lagi, hm?” desis pria itu, tepat di telinganya, membuyarkan lamunan wanita itu.
Bulu kuduk Reina meremang, tetapi ia berusaha untuk tetap terlihat tenang. Perlahan ia mendongak, lalu bergumam, “Si-siapa yang mau kabur? Saya benar-benar tidak mengerti apa yang Anda bicarakan dari tadi. Tolong jaga sikap Anda. Saya datang ke sini untuk wawancara, Tuan!”
Manik mata Hugo berkilat tajam. “Kamu … yakin tidak mengenalku?”
Desisan dingin pria itu terdengar berbahaya, tetapi Reina tetap bersikeras dengan kebohongannya dan berkata, “Tentu saja. Anda sendiri tidak memperkenalkan diri, bagaimana saya bisa tahu? Tolong jangan─”
Kalimat Reina terputus seketika saat matanya menangkap kilauan logam yang tiba-tiba menjuntai di depan matanya.
“Kalungku!” Reina spontan berseru. Tangannya juga bergerak secara refleks, hendak meraih benda itu.
Akan tetapi, Hugo bergerak lebih cepat. Ia mengangkat tangan lebih tinggi, menjauhkan kalung itu dari jangkauan Reina.
“K-Kau─!” Reina sontak mendelik tajam, tetapi nyalinya menciut dalam sekejap saat menyadari bahwa ia baru saja mengonfirmasi kebohongannya.
Seulas senyuman penuh kemenangan telah melengkung di bibir pria itu, membuat Reina tidak memiliki pilihan selain mengakui perbuatannya.
“Baiklah! Aku memang wanita itu, tapi semua itu karena aku terlalu mabuk,” tukas Reina dengan suara bergetar. Tidak ada lagi sikap formal yang ia tunjukkan seperti sebelumnya. “Jadi … jadi, tolong lupakan semuanya, Tuan Curtiz.”
Hugo menyipitkan mata. “Kamu panggil aku apa tadi?”
“Tuan Curtiz,” jawab Reina dengan penuh percaya diri, lalu ia mendesah pelan dan melanjutkan, “Semalam aku tidak bisa terima dikhianati keponakanmu. Jadi … aku pikir kalau aku menggoda pamannya, aku─”
“Apa yang kamu bicarakan?” potong Hugo dengan tajam. “Keponakanku yang mana yang kamu maksud, Nona Wynn?”
Reina mengerutkan dahinya. “Kelvin Rowen … bukankah dia keponakanmu?”
Hugo terperangah. Keheningan sesaat menyelimuti ruangan sebelum suara tawa rendah yang terdengar sinis meluncur dari bibirnya. “Jadi kamu menyamakanku dengan bandot tua Curtiz itu, huh?”
“A-apa?” Reina mengerjapkan matanya dengan bingung. Jantungnya mencelos. Tiba-tiba ia merasa telah melakukan suatu kesalahan fatal yang tidak ia sadari.
Sebelum ia sempat mencerna situasi, Hugo telah mencubit dagunya dengan kasar, memaksanya untuk menatap langsung manik mata gelapnya yang telah berkilat penuh amarah.
“Dengarkan baik-baik, Gadis Bodoh,” desis Hugo dengan suara dingin penuh penekanan. “Pria yang sudah kamu tiduri ini bukan Hugo Curtiz, tapi … Hugo Veldric.”
‘Apa?’ Darah Reina seakan berhenti berdesir. Tubuhnya mematung.
Nama Hugo Veldric bukanlah nama yang umum dan Reina seketika menyadari siapa sosok pria di hadapannya ini. Dia adalah pemilik The Grand Veldric, hotel mewah tempatnya melakukan wawancara saat ini.
Bukan hanya itu, ingatan Reina berputar pada rumor yang pernah menggemparkan publik. Tiga tahun lalu keluarga Veldric baru saja menobatkan pewaris baru setelah kepala keluarga sebelumnya mengalami kecelakaan tragis yang berakhir koma.
Pewaris baru itu bukan orang biasa. Dia bukan hanya seorang mantan jenderal bertangan besi yang terkenal akan kekejamannya di dunia militer, tetapi juga pemimpin organisasi bawah tanah yang mengendalikan seluruh pasar gelap di dalam negeri.
Konon, ia juga tidak segan melenyapkan nyawa siapa pun yang berani melawan aturannya. Karena kekejamannya itulah, ia dijuluki sebagai ‘Raja Iblis’ oleh para musuhnya.
‘Jadi aku bukan cuma salah orang? Tapi, aku … aku meniduri si ‘Raja Iblis’?!
Reina pun menyadari jika ia baru saja menggali liang kuburnya sendiri.
Hugo menghentikan langkahnya seketika. Ia berbalik perlahan, menatap Reina dengan tatapan tak percaya. Tawa rendahnya pun pecah dan menggema di dalam kamar itu.“Housekeeping?” ulangnya, seakan kata itu adalah lelucon paling konyol yang pernah didengarnya.Reina mengangguk dengan penuh keyakinan. “Kamu masih ingat kan kalau aku memang mengajukan lamaran itu?”Hugo mengembuskan napas pelan, lalu mengangguk malas. "Tapi, apa otakmu tidak bermasalah? Kamu lebih memilih menjadi housekeeping daripada menjadi asisten pribadiku? Apa kamu tidak tahu ada berapa banyak orang yang menginginkan posisi ini, hm?”Reina berdecih pelan di dalam hati, ‘Justru karena otakku masih waras, makanya aku memilih ini. Memangnya kamu pikir bisa membodohiku?’ batinnya.Namun, detik berikutnya, Reina memaksakan diri untuk tersenyum dan menjawab, “Aku bukan lulusan sarjana dan juga tidak punya pengalaman menjadi seorang asisten. Bagaimana kalau nanti aku malah mempermalukanmu dan mengacaukan pekerjaanmu?”Hugo te
“Kalau aku tidak mau mematuhi semua aturan ini, apa yang akan kamu lakukan?” desis Reina dengan tatapan tajam yang berkilat penuh perlawanan.Hugo tidak langsung menjawab. Ia justru sedikit merunduk, memperkikis jarak hingga Reina bisa merasakan hembusan napasnya yang dingin di permukaan kulit wajahnya. Seringai berbahaya kembali muncul di bibir pria itu.“Sederhana saja,” bisik Hugo dengan suara bariton yang rendah dan mengintimidasi. “Kembalikan setiap sen yang sudah aku keluarkan untukmu. Tunai. Sekarang juga. Dan pastinya ….”Hugo sengaja menjeda kalimatnya. Jemarinya bergerak menyusuri rahang gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut, tetapi bagi Reina, sentuhan itu terasa duri yang menusuknya perlahan-lahan, menciptakan rasa takut yang menyiksa.“… kamu harus bersiap mencari rumah sakit yang bersedia menampung adikmu,” lanjut pria itu dengan suara tenang, tetapi penuh otoritas mutlak yang tak terbantahkan.Ucapannya jelas menyiratkan bahwa Axel tidak akan bisa mendapatkan pera
“Percuma saja kamu bersembunyi di balik tanganmu. Memangnya bisa mengubah fakta kalau kamu sangat menikmati permainan panas kita tadi, Gadis Nakal?”Sindiran pedas yang meluncur dari bibir Hugo lamgsung mengalihkan pikiran Reina. Perlahan gadis itu menurunkan kedua telapak tangan dari wajahnya. Panas di pipinya kini merambat hingga ke telinganya saat melihat senyum mengejek di wajah Hugo.Namun, Reina tidak membalas. Ia tidak ingin menambah kepuasan pria itu dalam mencemoohnya. Ia pun menyambar dokumen di atas seprai dengan gerakan kasar untuk menutupi rasa malunya yang membuncah.“Dokumen apa ini?” gumam Reina saat matanya mulai menyapu deretan tulisan yang tercetak di atas lembaran dokumen yang ada di tangannya.Hugo tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi ranjang, lalu perlahan mendekati Reina dan mengunci gadis itu dengan menumpukan satu tangannya pada kepala ranjang, tepat di samping bahu gadis itu.“Ini adalah rincian aturan yang harus kamu patuhi selama menjadi istriku,” tera
Satu jam kemudian, ranjang king size di dalam suite mewah itu tampak berantakan seperti habis diterpa badai hebat. Selimut sutra yang semula licin dan rapi kini teronggok tak berdaya di lantai marmer, berserakan di antara helai-helai pakaian yang dilemparkan secara serampangan.Tanpa sehelai busana yang melekat di tubuhnya, Reina menggeliat kecil di atas seprai yang kusut. Ia mencoba bangkit, tetapi seluruh sendi tubuhnya terasa kaku. Sekujur tubuhnya terasa remuk redam setelah pergumulan panas yang menguras seluruh tenaga dan emosinya.Di sudut ruangan, suara gemericik air dari kamar mandi berhenti seketika, menyisakan kesunyian yang mencekam.Manik mata hazel Reina terpaku pada siluet Hugo yang terpatri di balik kaca buram kamar mandi. “Dia benar-benar iblis,” geramnya pelan, disertai suara lenguhan kecil yang menahan perih.Sembari meregangkan punggungnya yang terasa pegal, ia menatap nanar jejak-jejak kemerahan yang menghiasi kulit putihnya.Bayangan ingatan saat Hugo menorehkan ta
"Aku tidak pernah bilang tidak suka," bisik Hugo. Suaranya kini terdengar diselimuti gairah yang terasa berbahaya.Embusan napasnya yang panas terasa membakar tengkuk leher Reina. Gadis itu memejamkan matanya dengan erat, berusaha menekan gejolak liar yang mulai membuncah di dalam dadanya. "Tapi, aku penasaran … apa kamu selalu mempraktikkannya dengan semua laki-laki yang kamu temui, Reina Wynn?” desis pria itu. Nada mencemoohnya terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga diri Reina.Bola mata hazel gadis itu telah membelalak besar, mendelik Hugo dengan tajam dan penuh amarah. Namun, pria itu tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun.Sebaliknya, Hugo justru mengulas senyuman puas seolah sengaja memancing sisi emosional yang berusaha Reina sembunyikan di balik kepolosan yang ia tunjukkan.“Cukup, Hugo Veldric! Berhenti menghinaku!” hardik Reina dengan penuh emosi.Amarah yang sedari tadi terpendam akhirnya meledak tanpa bisa gadis itu hentikan. Ia tidak lagi peduli apabila uca
“Masuk,” titah Hugo seraya membuka lebar pintu kamar hotel setelah menempelkan sidik jarinya pada panel pemindai di samping pintu.Namun, Reina masih berdiri di depan kamar itu. Kakinya seakan terpaku di atas karpet mewah koridor hotel, enggan melangkah masuk ke dalam ruangan yang pernah menjadi saksi bisu pergumulan panasnya bersama pria itu dua hari lalu.Menyadari gadis itu tidak beranjak dari tempatnya, Hugo memutar tubuhnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap gadis itu dengan sorot mata penuh intimidasi.“Kenapa diam? Kamu tiba-tiba lupa cara berjalan, atau sedang menunggu aku menggendongmu masuk?" sindir Hugo sembari menyandarkan punggungnya pada daun pintu.Reina mencebikkan bibirnya dengan jengah. Tidak ingin memperpanjang perdebatan, ia pun memaksakan kakinya untuk melangkah masuk.Melihat kepatuhan penuh keterpaksaan itu, Hugo mendengus dingin, lalu menutup pintu kamar dan berjalan melewati gadis itu.“Aku tahu kamar ini membangkitkan kenangan malam pa







