Share

Bertekuk Lutut

Author: DewaRa
last update publish date: 2026-06-29 21:39:27

"Sena ini sungguh luar biasa... Terima kasih," bisik Bidan Irma.

Ada kilat takjub yang tidak bisa disembunyikan. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa ketagihan yang aneh terhadap sengatan hangat nan memabukkan dari jari-jari Sena barusan.

Sambil merapikan seragam putih ketatnya yang sedikit berantakan, Irma membuka tas medisnya. Dia mengambil dua lembar uang, lalu meletakkannya di atas meja.

"Besok malam, datanglah ke klinikku. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan," kata Irma, menatap Sena dalam sebelum bergegas pergi, mengabaikan Dokter Adrian yang berdiri kebingungan memegangi tangannya yang mati rasa.

Melihat kekasihnya pergi begitu saja, Adrian mendengus benci ke arah Sena, lalu buru-buru menyusul Irma dengan langkah tertatih-tatih.

Wicaksana menatap dua lembar uang seratus ribu di atas meja dengan senyum tipis.

“Dengan uang ini aku bisa membeli asupan yang dibutuhkan raga ringkih ini.” Gumam Sena.

Dirinya memerlukan asupan gizi untuk memulihkan hawa murni Ilmu Gowok yang terkuras habis setelah dua kali digunakan.

Sena berjalan ke ujung jalan, tempat warung kelontong tempat Ayu bekerja.

Warung kelontong itu cukup ramai sore ini. Saat Sena melangkah masuk, perhatiannya langsung tersita oleh sesosok wanita matang yang berdiri di dekat rak sembako. Dia adalah Nyonya Widya, seorang janda kaya sekaligus tengkulak penguasa lahan pertanian di desa ini.

Wajahnya yang tegas dan dingin tampak berkerut menahan nyeri, jari nampak terus memijat pelipisnya sendiri sambil meringis kesakitan.

'Migrain kronis akibat penyumbatan limfa di kepala,' batin Wicaksana langsung mendiagnosis dari jauh.

Sena mengabaikannya terlebih dahulu dan mengambil beberapa potong daging ayam serta susu murni. Namun, tepat saat ia sedang mengantri di meja kasir, sebuah siluet tubuh kekar mendadak menerobos masuk dari pintu depan.

Bruk!

Sebuah sengatan kasar menghantam bahu Sena dari arah samping. Rio sengaja menyenggol Sena dengan keras demi memamerkan kekuatannya di depan warga warung.

Sena terhuyung mundur beberapa langkah. Punggung kurusnya membentur tumpukan karung beras di sudut warung hingga menimbulkan suara.

"Hahaha! Jalan pakai mata, Miskin! Badan seperti triplek begitu saja belagu mengantri di depan," tawa Rio menggelegar, sengaja memprovokasi agar Sena membalasnya dengan pukulan sehingga dia punya alasan untuk meremukkan tulang pemuda itu.

Wicaksana menarik nafas dalam-dalam, menstabilkan detak jantung Sena yang sempat berpacu.

Dia berdiri tegak, merapikan kaos oblongnya. Sepasang matanya menatap Rio dengan tatapan datar, dingin tanpa emosi.

Bagi sang Tabib Kerajaan, meladeni kecoa selevel Rio saat fisiknya sedang kosong adalah pemborosan energi yang bodoh. Dia memilih menghemat tenaganya untuk hal yang lebih menguntungkan.

"Heh, Rio! Jaga kelakuanmu! Ini tempat usaha saya, bukan arena tinju!"

Brak!

Suara gebrakan meja kasir yang keras mengejutkan semua orang. Nyonya Widya berdiri dengan wajah merah padam, kemarahannya meledak karena sakit kepalanya semakin berdenyut hebat akibat suara berisik Rio. "Keluar kamu dari warungku! Bikin pusing saja!"

Rio yang tahu bahwa Widya adalah penguasa ekonomi desa yang memegang banyak hutang keluarganya, langsung menciut. Dia memberikan tatapan mengancam pada Sena sebelum akhirnya melangkah pergi sembari mengumpat kasar.

”Rasakan!”

Suasana warung kembali tenang, menyisakan deru nafas Widya yang memburu menahan sakit di kepalanya. Kini tibalah giliran Sena di depan meja kasir.

Saat menyerahkan barang belanjaannya, mata tajam Wicaksana memperhatikan dengan saksama urat biru yang menonjol tebal di sekitar pelipis janda kaya tersebut.

Aliran darah di kepala wanita ini sudah di ambang batas bahaya; jika dibiarkan, dian bisa pingsan karena stroke ringan.

Lewat nada pelan Sena berucap, "Nyonya Widya, migrain Anda tidak akan sembuh hanya dengan obat warung. Jika Anda berkenan, saya bisa memijat simpul saraf di kepala Anda untuk melancarkan aliran darahnya."

Sena tahu kekuatannya sendiri hampir habis, namun insting menaklukkan wanita berpengaruh demi membangun koneksi membuatnya melayangkan tawaran tersebut.

Widya mendongak. Begitu melihat bahwa yang menawarkan bantuan adalah Sena wajah tegasnya langsung mengeras diliputi keangkuhan.

Widya mengambil uang kembalian Sena dan melemparkannya begitu saja ke atas meja kasir dengan pandangan meremehkan.

"Tidak usah sok tahu, Sena. Urus saja dirimu sendiri yang kurus kering dan impoten itu. Aku tidak butuh bantuan dari pemuda miskin sepertimu," tolak Widya ketus dan arogan, menganggap tawaran Sena hanya modus untuk mencari uang tambahan.

Mendapat penolakan yang begitu kasar di depan umum, tidak ada raut kemarahan atau malu di wajah Sena.

Wicaksana hanya menatap lembaran uang di meja, lalu memungutnya dengan gerakan yang sangat tenang.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berjalan keluar.

Di ambang pintu, Wicaksana menyeringai tipis di dalam hati. 'Sombonglah sesukamu, Janda Kaya. Sebentar lagi, penyakit itu akan membuatmu berlutut dan memohon di bawah kakiku.'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Aah

    Sena mengambil ponsel dinas dari nampan yang disodorkan Ina, lalu menggeser layar untuk menerima panggilan. Begitu mendekatkan ponsel ke telinganya, suara lembut bergetar yang sangat ia rindukan memecah keheningan ruang tengah.​"Sena...? Ini benar kamu, Sena?" bisik Ayu dari seberang telepon. Nada suaranya sarat akan rasa cemas yang bercampur dengan kebahagiaan luar biasa.​Sena tersenyum hangat, tatapannya mendadak melunak seketika. "Iya, Ayu. Ini aku. Bagaimana kabarmu dan Ibu di desa?"​"Aku baik, Sena... Ibu juga baik," sahut Ayu seraya menghembuskan napas lega. Isak tangis haru terdengar tipis di balik sambungan telepon. "Tadi Mbak Irma dan Bidan Desa bantu menyambungkan telepon ini dari kantor puskesmas. Aku... aku rindu sekali padamu, Sena. Bagaimana keadaanmu di kota besar? Tugasmu lancar, kan?"​"Semua berjalan lancar, Yu," tutur Sena dengan nada suara yang begitu lembut dan menenangkan. "Pasien-pasien kritis sudah berhasil distabilkan hari ini. Kamu tidak perlu cemas, ya. A

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Ngobrol

    Jasmin dan Mawar yang menyadari kehadiran Dokter Vera dan Sena di teras rumah dinas mendadak menghentikan aktivitas masing-masing. Dengan langkah anggun yang serasi, kedua wanita kelas atas itu melangkah beriringan memotong rumput hijau halaman rumah, menghampiri pagar rendah yang membatasi pekarangan Sena.​"Dokter Vera, ini tabib sakti yang baru saja mendarat dari desa itu?" sapa Jasmin dengan suara halus, berwibawa, namun sangat menyejukkan. Senyum tipis mengembang di bibirnya saat ia menatap Sena.​Sena tertegun di tempatnya. Cara Jasmin memiringkan kepala dan menautkan kedua tangannya di depan gaun sungguh persis dengan pembawaan Nyonya Widya ketika pertama kali menyambut Sena di kediamannya.​"Benar, Bu Jasmin," jawab Dokter Vera seraya membungkuk sopan. "Ini Sena. Beliau baru saja menyelesaikan tindakan pemurnian di ICU VIP."​Mawar melangkah maju setengah tindak, mengibaskan rambut bergelombangnya yang terurai indah. Matanya yang tajam dan berbinar menatap Sena dari atas ke ba

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Kota

    Mobil dinas yang membawa Sena melaju membelah hiruk-pikuk lalu lintas ibu kota menuju Rumah Sakit Pusat Kepresidenan. Begitu pintu mobil dibuka, Sena tidak diberikan waktu untuk bernapas legah. Suasana lorong rumah sakit berdesing oleh sirine dan derap langkah tergesa-gesa para tenaga medis.​Sesampainya di ruang perawatan VIP yang dijaga ketat, seorang wanita muda berseragam dokter putih melangkah cepat menghampiri Sena. Garis wajahnya tegas, tatapan matanya tajam namun memiliki kehangatan yang sangat familier.​"Kamu Sena, kan? Tabib dari desa yang direkomendasikan Pak Menteri?" tanya dokter muda itu tanpa basa-basi.​Sena mengangguk tenang. "Iya, Dok. Saya Sena."​"Saya Dokter Vera, spesialis penyakit dalam yang memegang tim di sini," ujarnya seraya mengulurkan tangan sejenak sebelum berbalik membimbing Sena masuk. "Kondisi di dalam sangat kritis, Sena. Pejabat tinggi dan beberapa pasien di ruang isolasi mengalami kejang saraf misterious. Dokter-dokter senior sudah angkat tangan. D

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Harus Ke Kota

    Hari-hari berlalu dengan cepat. Hubungan Sena dan Ayu tetap berjalan manis seperti biasa—hangat, penuh perhatian, dan dibalut ikatan batin yang begitu erat tanpa terburu-buru mengikatkan diri dalam tali pernikahan. Bagi Ayu, berada di dekat Sena dan membantunya setiap hari sudah lebih dari cukup untuk membuat hatinya penuh.​Sementara itu, proyek pembangunan gedung baru puskesmas tiga lantai terus mengepulkan asap aktivitas. Suara deru alat berat dan ketukan palu para pekerja konstruksi menjadi musik harian di desa itu. Dinding-dinding kokoh calon pusat medis modern terpadu mulai berdiri megah, menjadi bukti nyata atas dedikasi dan pengaruh besar yang dimiliki Sena.​Seiring berjalannya waktu, keajaiban tangan Sena dan keagungan Hawa Murni miliknya tak lagi hanya menjadi buah bibir warga desa. Nama Sena membumbung tinggi hingga ke pelosok negeri, menembus dinding-dinding istana dan kediaman para pejabat di ibu kota.​Pagi itu, sebuah helikopter berlogo kementerian mendarat mulus di l

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Semua Untuk Ayu

    Malam harinya, suasana gubug kediaman Sena begitu tenang dan hening. Derik serangga malam mengiringi Sena yang sedang duduk bersila di atas balai-balai kayu, menyerap Hawa Murni untuk menyelaraskan energi purnamanya.​Suara ketukan pelan di pintu depan memecah keheningan. Sena membuka matanya, lalu berdiri melangkah membukakan pintu. Di balik pintu, berdiri Irma dengan gaun tipis rumahan yang membalut tubuh indahnya. Wajah cantiknya memancarkan rasa cemas sekaligus kerinduan yang mendalam.​"Sena..." panggil Irma pelan seraya melangkah masuk tanpa ragu.​"Irma? Ada apa malam-malam datang ke sini?" tanya Sena lembut.​Irma menatap Sena erat-erat, matanya menyelidik. "Aku dengar kabar dari warga desa kalau tadi siang paman Ayu datang membawa mobil berkelas dan sempat membuat keributan di rumah Ayu. Bagaimana masalahmu dengan pamannya? Apakah semua baik-baik saja?"​Sena tersenyum tipis, mengangguk tenang. "Semua sudah beres, Irma. Paman dan Ibu Ayu sudah merestui kami secara penuh."​Me

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Permohonan Maaf

    Tekanan emosional dan rasa malu yang luar biasa menghantam pembuluh darahnya. Tiba-tiba, Paman Ayu meringis kesakitan. Tangannya mencengkeram dada sebelah kiri dengan sangat erat. Cangkir kopi yang berada di meja teras tersenggol jemarinya hingga jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai.​"A-aduh... da... dadaku..." bisik Paman Ayu tercekik.​Mata pria paruh baya itu mendelik ke atas. Dalam hitungan detik, tubuh tegapnya ambruk meluruh ke lantai teras. Napasnya terengah-engah makin menyempit, sementara bibirnya perlahan membiru akibat serangan jantung akut yang dipicu oleh syok berat.​"Paman!" jerit Ayu histeris. Ia langsung berlari menghampiri pamannya yang terkulai lemah.​Ibu Ayu ikut menjerit ketakutan, panik luar biasa melihat adiknya sekarat di depan mata. "Sena! Tolong, Sena! Pamanmu kena serangan jantung!"​Pak Imam dan para nyonya terkejut, namun mereka tetap berdiri tenang karena tahu betul siapa pemuda yang berada di antara mereka.​Sena tidak panik sedikit pun. Langkah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status