Se connecter"Apa yang kalian lakukan?!" Suara wanita itu begitu nyaring.
Bidan Irma berkacak pinggang di ambang pintu. Di belakangnya, berdiri Dokter Adrian, seorang dokter muda pindahan dari kota yang selama ini menjadi kekasih sekaligus kebanggaan Irma. Adrian mengenakan kemeja rapi, namun wajah tampannya langsung berkerut sinis. Dia menutup hidung sambil memandang sekeliling gubuk dengan tatapan penuh rasa jijik dan penghinaan yang kentara. "Gubuk kumuh, bau, tidak higienis. Dan sekarang kalian malah berbuat mesum di atas dipan reyot?" cibir Adrian sombong. Mendengar tuduhan kasar itu, Ayu tersentak kaget. Kesadarannya yang sempat melayang akibat puncak gairah Ilmu Gowok mendadak ditarik paksa kembali. Dengan wajah memerah padam karena malu dan panik, dia buru-buru membenahi pakaiannya lalu turun dari dipan. Namun, Sena tetap tenang. Hanya seringai tipis yang dia tunjukkan. Sepasang matanya yang turun, mengunci pandangannya tepat ke arah perut bawah Bidan Irma. Sena memperhatikan cara Irma berdiri, berat badannya bertumpu pada satu kaki, lengan kirinya diam-diam menekan bagian bawah perut, dan sesekali dahinya mengernyit seperti menahan sesuatu. Berbekal insting medis agung yang diwarisi dari kehidupan aslinya, Wicaksana langsung membaca diagnosis dalam sekali pandang. Wanita judes ini sedang tersiksa hebat oleh Dismenore, kram haid parah akibat pembekuan darah kotor yang menyumbat saluran rahimnya. "Kalian berdua, keluar dari gubukku," ucap Sena dengan suara datar dan dingin. Lalu dia melangkah turun dari dipan, berjalan mendekati Irma yang masih menahan napas menahan nyeri di perutnya. Melihat Sena melangkah maju, Adrian merasa harga dirinya tertantang. Dia langsung pasang badan, melangkah maju menghalangi jalan Sena sembari mengangkat tangannya dengan kasar. "Heh, miskin! Sadar diri sedikit! Jangan coba-coba mendekati Irma dengan tubuh baumu itu!” Sena menoleh dia tak menggubris ucapan Dokter sombong itu. “Cowok tak berguna serta impoten seperti kamu ini harusnya didepak dari desa, bikin kotor pemandangan saja!" bentak Adrian, berniat mendorong dada Sena untuk mengusirnya dari hadapan sang kekasih. Wicaksana hanya mendengus pendek di dalam hati. 'Bocah ingusan yang baru belajar ilmu potong daging ini berani mengguruiku?' Tanpa membuang tenaga berlebih pada fisiknya yang masih lemah, Wicaksana tidak membalas dengan pukulan. Tangan kanannya bergerak dengan cepat. Lalu dengan gerakan memutar yang sangat halus, dia menepis pergelangan tangan Adrian, dan saat itu juga, telunjuk Sena menekan satu titik saraf rahasia di lipatan siku bagian dalam sang dokter. Titik Chi Ze, gerbang nadi yang mengontrol aliran darah. "Argh?!" Adrian memekik kesakitan. Wajahnya seketika pias. Aliran darah di lengan kanannya mendadak berhenti total, menciptakan sensasi dingin dan mati rasa yang luar biasa menyakitkan. Kehilangan keseimbangan tubuh Adrian terhuyung mundur beberapa langkah hingga bahunya membentur pintu. Pria itu memegangi lengan kanannya yang kini terkulai lemas tanpa daya, menatap Sena dengan pandangan horor yang bercampur rasa tidak percaya. Mengabaikan Adrian yang meringis kesakitan, Wicaksana melangkah maju satu langkah lagi, dia langsung meraih pergelangan tangan Bidan Irma. "Lepas! apa yang kamu lakukan!" Irma berniat membentak, namun kalimatnya terputus saat rasa nyeri yang luar biasa tajam kembali menusuk rahimnya. Wajahnya mendadak pucat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Kondisinya berada di titik kritis, kram haidnya telah mencapai puncak penyumbatan. Melihat kekasihnya kesakitan, Adrian yang masih memegangi tangannya berteriak frustasi, "Sena, lepas! Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu!" Namun, untuk melangkah maju Adrian sudah tidak punya kekuatan karena tangannya sendiri masih mati rasa. Sena tidak memedulikan gonggongan Adrian. Dia menarik pelan tubuh Irma menuju sebuah kursi kayu di sudut ruangan. Lantaran rasa sakit di perutnya sudah semakin melilit dan tak tertahankan, keangkuhan Bidan Desa itu runtuh seketika. Irma akhirnya mengalah, duduk pasrah dengan tubuh agak membungkuk ke depan. Wicaksana langsung mengambil posisi berjongkok di hadapan Irma. Tanpa meminta izin, kedua jari kasarnya bergerak akurat, menekan dua titik meridian vital yang berada persis di atas tulang panggul sang bidan. Titik Zigong, gerbang istana rahim kewanitaan. Aliran energi panas yang padat dan murni dari Ilmu Gowok seketika meledak dari ujung jari Sena, menembus seragam putih milik Irma tanpa hambatan. Energi itu melesat lurus ke dalam rongga perutnya, menghancurkan dan mencairkan setiap gumpalan darah kotor yang membeku bertahun-tahun di dalam rahim Irma. "Ahhh-h..." Irma tersentak hebat. Kehilangan kendali penuh atas tubuhnya sendiri, sepasang mata tajam sang bidan mendadak melebar, berkabut oleh kombinasi antara rasa lega yang luar biasa dan sengatan gairah instan yang merayap di saraf pinggulnya. Kepalanya menengadah ke atas, lehernya menegang, sementara nafasnya mendadak memburu pendek. Sensasi dingin yang menyiksa di perutnya menguap dalam hitungan detik, digantikan oleh kehangatan yang mengalir deras, membuat seluruh tubuh sintalnya bergetar di bawah dominasi sentuhan jari Sena. Irma tidak pernah membayangkan bahwa sentuhan seorang pria yang dicap impoten oleh warga desa bisa memiliki daya pikat dan kekuatan penyembuh sedahsyat ini. Selesai memijat selama lima menit, Wicaksana menarik kembali kedua tangannya dengan santai. Dia berdiri tegak, menatap dingin ke arah sang bidan. Irma ambruk bersandar lemas di sandaran kursi kayu. Dadanya naik turun dengan tidak teratur, berusaha keras menetralkan detak jantungnya yang berpacu liar. Rasa sakit yang menyiksanya sejak pagi tadi hilang tanpa bekas, menyisakan tubuh yang terasa ringan dan bugar. “Sena ini sungguh luar biasa, Terima kasih.”Sena menuntaskan semua tugas medisnya di ibu kota dengan sempurna. Luruhnya penyakit kronis para pejabat VIP serta kukuhnya benteng dukungan politik dari Bu Mawar dan Bu Jasmin membuat nama Sena menjelma menjadi legenda hidup di Rumah Sakit Kepresidenan. Namun, kemewahan dan riuk-pikuk Jakarta tak pernah sanggup mengikat hatinya. Rindu pada heningnya desa dan sosok Ayu—wanita lembut yang menjadi penambat jiwanya—kian membuncah di dalam dada.Di ruang tamu rumah dinas, Bu Mawar, Bu Jasmin, dan Dokter Vera berkumpul untuk mengantar kepulangan Sena."Sena, apa kamu yakin tidak ingin menetap di Jakarta?" tanya Bu Mawar dengan nada berat melepas. "Fasilitas rumah dinas ini, posisi di rumah sakit, hingga perlindungan politik... semuanya sudah kami siapkan untukmu."Bu Jasmin ikut mengangguk pelan, menatap Sena dengan binar penuh rasa terima kasih dan keterikatan yang mendalam. "Benar, Sena. Pintu rumah kami selalu terbuka lebar untukmu. Kehadiranmu di sini sangat berarti bagi kami."Sen
Pikiran Sena berdesir pelan. De javu. Sungguh sebuah pola takdir yang sangat sempurna. Dokter Vera yang tegas namun penuh perhatian persis seperti Mbak Irma, Bu Mawar yang anggun dan berkelas seperti Nyonya Sarah, Bu Jasmin yang lembut dan penuh kehangatan seperti Nyonya Widya, serta Ina yang sigap melayani seperti Elsa. Kota besar ini ternyata menyimpan cerminan persis dari wanita-wanita yang membantunya membangun pilar kekuatan di desa.Sena menatap Bu Jasmin yang berdiri penuh harap di hadapannya."Bisa, Bu. Kalau Bu Jasmin berkenan, kita bisa lakukan terapinya sekarang di kamar terapi," tutur Sena ramah."Sekarang, Sena? Apa tidak merepotkanmu?" tanya Bu Jasmin, matanya berbinar gembira meski nada suaranya tertahan sopan."Tidak sama sekali, Bu. Lebih cepat ditangani, tidur Bu Jasmin malam ini akan jauh lebih nyenyak," sahut Sena seraya melangkah membimbingnya menuju koridor dalam.Bu Mawar tersenyum tipis, melempar pandangan penuh arti pada Bu Jasmin. "Masuklah, Jasmin. Perc
Bu Mawar melangkah mendekati ranjang terapi kayu. Dengan penuh keanggunan, wanita berpengaruh itu merebahkan tubuhnya menelungkup di atas kasur empuk. Gaun sutra mewahnya sedikit tersingkap di bagian punggung atas, menyingkapkan kulit mulus nan kencang yang memancarkan aroma cendana.Sena mengatur napasnya, memusatkan Hawa Murni dari pusat dada ke kedua telapak tangannya hingga pendar keemasan hangat memancar samar dari jemarinya."Saya mulai ya, Bu Mawar. Rileks dan bernapaslah teratur," bisik Sena halus."Baik, Sena... lakukan saja," pukas Bu Mawar dengan nada bergetar gugup bercampur harap.Sena menempelkan kedua telapak tangannya di belikat belakang Bu Mawar. Sentuhan itu seketika memicu letupan energi. Aliran Hawa Murni yang hangat dan perkasa menerobos masuk melintasi pori-pori kulit punggungnya, merayap cepat menghantam penyumbatan pembuluh darah kronis di belikat dan rongga dada."Aahhh..."Desahan halus lolos dari bibir Bu Mawar. Tubuhnya mendadak lemas seketika. Sensas
Malam kian larut di kompleks perumahan dinas Rumah Sakit Pusat Kepresidenan. Suasana di sekitar kediaman Sena tampak tenang, hanya diselingi gesekan dedaunan yang ditiup angin malam. Sena baru saja selesai membersihkan diri dan mengenakan kaos polos serta celana kain santai saat ketukan halus terdengar di pintu depan.Ina, sang ART yang selalu sigap, bergegas membukakan pintu. Tak lama kemudian, gadis itu melangkah menuju ruang tengah tempat Sena sedang duduk menikmati teh hangat."Mas Sena, ada Bu Mawar di depan. Beliau membawakan hantaran camilan untuk Mas," pukas Ina dengan nada sopan dan sigap.Belum sempat Sena menjawab, sosok wanita bertubuh jenjang berkelas itu sudah melangkah masuk. Bu Mawar tampak sangat anggun dengan gaun malam berbahan sutra yang jatuh pas di lekuk tubuhnya. Aromanya yang mewah dan tegas—perpaduan wangi mawar dan kayu cendana—langsung memenuhi ruangan, membuat Sena teringat total pada keanggunan Nyonya Sarah di desa."Malam, Sena. Maaf ya kalau Mawar me
Sena melipat kedua kakinya di atas ranjang, bersila dalam posisi meditasi sempurna. Ia memejamkan mata rapat-rapt, mencoba memusatkan pikiran untuk mengamati sirkulasi Hawa Murni di dalam meridian tubuhnya.Biasanya, arus energinya terasa tenang dan stabil—terkunci rapat sejak ia mengikat ikrar batin dengan Ayu di desa. Namun malam ini, ada getaran asing yang bergejolak hebat di pusat dadanya.Pendar keemasan merembes keluar dari pori-pori kulitnya, menerangi kamar rumah dinas yang remang. Sena dapat merasakan dengan sangat jelas bagaimana energi kehidupan milik Dokter Vera yang baru saja ia sentuh meninggalkan jejak halus, menyatu, dan membuka pilar energi baru di dalam dirinya."Kenapa bisa seperti ini...?" gumam Sena pelan. Solilokui itu bergetar di keheningan malam. "Energi yang seharusnya terkunci rapat bersama Ayu... tiba-tiba merekah kembali. Sensasi ini... persis saat pertama kali aku membantu Bidan Irma."Pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Apakah penyembuhan yang
Desahan lega yang lolos dari bibir Dokter Vera tadi bukanlah sekadar reaksi atas hilangnya rasa pening. Saat Hawa Murni hangat dari telapak tangan Sena meresap menembus pangkal tengkoraknya, sensasi itu meletup lembut, mengalir terus ke bawah melintasi tulang belakangnya.Aliran hangat itu meluncur deras menuju area bawah perutnya, memicu denyut halus yang begitu nikmat hingga membuat otot-otot tubuhnya lemas seketika. Sebuah sensasi asing namun sangat membuai, membuat dadanya berdesir hebat.Sena menarik pelan kedua tangannya, memutus pendar keemasan yang samar-samar menyelimuti jemarinya. Ia melangkah ke samping, menatap wanita di hadapannya dengan raut tenang."Bagaimana, Dokter Vera? Sudah enakan?" tanya Sena seraya menyodorkan segelas air hangat.Dokter Vera menarik napas panjang, mencoba menguasai degup jantungnya yang masih berdebar kambar. Sensasi nikmat di bawah perutnya bertahap surut, menyisakan kebugaran luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya."Sudah.







