MasukSena menghentikan langkahnya sejenak tepat di ambang pintu warung. Tanpa membalikkan badan, dia menolehkan kepalanya sedikit, melemparkan pandangan melirik dari sudut mata ke arah Nyonya Widya yang masih menahan denyut di pelipisnya.
"Pintu gubukku selalu terbuka, Nyonya," ucap Sena dengan santai. "Terutama saat tengah malam nanti, ketika kepala Anda rasanya seperti mau pecah berkeping-keping." Tanpa menunggu jawaban atau makian dari janda angkuh itu, Sena melangkah pergi membelah kegelapan sore. Sepanjang sisa hari itu, Wicaksana fokus memulihkan raga barunya. Daging ayam yang dibeli segera dimasak, dipadukan dengan susu murni untuk mengisi kekosongan nutrisi tubuh Sena. Setelah perutnya terisi penuh oleh kalori dan protein bergizi, Wicaksana duduk bersila di atas tikar. Dia mulai melatih teknik pernapasan kuno. Menarik napas dalam, menahannya di pusar, lalu menyalurkannya ke seluruh jaringan saraf yang layu. Perlahan namun pasti, wadah energi di dalam nadinya mulai terisi kembali, menghangat, dan menguat. Bara Ilmu Gowok yang sempat meredup kini kembali menyala, siap memotong jalur takdirnya yang kelam. Benar saja tepat saat jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, keheningan mendadak pecah. Brak! Brak! Brak! Gedoran panik bertubi-tubi menghantam pintu depan gubuknya yang terbuat dari kayu lapuk. Suara ketukan itu terdengar kacau, mencerminkan keputusasaan yang luar biasa dari sang pelaku. Sena membuka matanya dari meditasi. Seringai kemenangan terukir jelas di wajah tampannya yang mulai tampak segar. Dia berdiri, melangkah dengan tenang, lalu menarik selot pintu kayunya secara perlahan. Begitu pintu terbuka, sosok Nyonya Widya langsung runtuh ke depan, hampir menabrak dada Sena jika pria itu tidak menahannya. Janda kaya yang tadi siang begitu angkuh di warungnya, kini berdiri gemetaran hebat di pintu rumahnya. Janda angkuh itu hanya mengenakan daster tipis yang melekat ketat akibat keringat dingin, mengekspos lekuk tubuh matangnya yang sintal, padat, dan menonjol di beberapa bagian. Kedua tangan Widya mencengkeram sisi kepalanya. Wajah cantiknya pias, matanya merah berair menahan siksaan luar biasa seolah ada ribuan jarum yang menusuk otaknya secara bersamaan. Gengsi dan kesombongan yang tadi siang dia pamerkan di depannya telah luruh total, dibuang jauh-jauh ke dalam got desa. "Sena... to-tolong aku..." rintih Widya dengan suara parau, bibirnya bergetar menahan tangis. "Kepalaku rasanya mau pecah... tolong..." Wicaksana mengambil alih kendali situasi sepenuhnya. Aura dominasi seorang pria sejati memancar kuat dari tubuh kurus Sena. Tanpa banyak bicara, Sena merangkul pinggang ramping Widya, menuntun tubuh matang yang gemetaran itu masuk ke dalam gubuk, lalu mengunci pintu rapat-rapat. "Masuk dan segera tengkurap di atas dipan," perintah Sena dengan dingin tanpa bantahan. Widya yang sudah setengah gila akibat rasa sakit hanya bisa patuh seutuhnya. Dia membaringkan tubuh sintalnya secara pasrah di atas dipan bambu Daster sutra tipisnya tersingkap sedikit, memperlihatkan betis putih mulus dan lekuk pinggulnya yang menggoda. Sena tidak membuang waktu. Di naik ke atas dipan lalu menempatkan kedua lututnya menjepit erat pinggang Widya, mengunci pergerakan wanita itu di bawah tubuhnya. Posisi intim yang begitu rapat membuat Widya tersentak, namun rasa sakit di kepalanya mengalahkan rasa malunya. Menggunakan pangkal telapak tangannya yang kini sudah dialiri hawa murni Gowok yang panas dan padat, Sena menekan keras titik saraf di tengkuk Widya, gerbang penyembuh angin kepala. "Ahhh-h?!" Widya memekik pendek saat aliran energi panas seperti logam cair dipompakan masuk ke dalam otaknya, menghancurkan sumbatan limfa dalam sekali gilas. Rasa sakit yang menyiksanya seketika menguap, digantikan oleh gelombang kehangatan yang luar biasa nyaman. Namun, Sena tidak berhenti di situ. Demi memberikan efek ketergantungan permanen dan "menandai" penguasa lahan ini agar tidak bisa berpaling dari pesonanya, jemari kasar Sena mulai merayap turun. Ia menggilas dan menyusuri setiap jengkal tulang punggung Widya dengan tekanan bertenaga penuh, menekan titik-titik meridian yang selama bertahun-tahun mati suri sejak menjanda. Deg! Letupan gairah yang sangat ekstrem dan erotis mendadak meledak di dalam tubuh Widya. Pijatan Sena memicu produksi hormon kewanitaannya hingga ke titik puncak dalam hitungan detik ”Uhhhhhh!” Widya membelalakkan matanya yang berkabut gairah. Rasa nikmat yang luar biasa dahsyat menyerang seluruh inderanya. Nafas janda kaya itu memburu pendek-pendek, dadanya membusung seiring dengan pinggulnya yang refleks menyentak ke atas secara liar, menikmati setiap sentuhan jari Sena. Ingat bahwa gubuk Sena berdempetan dengan rumah Ayu, Widya buru-buru menggigit bibir hingga berdarah. Dia mati-matian menahan erangan yang mendesak ingin keluar dari tenggorokannya agar tidak terdengar sampai ke luar gubuk. “Keluarkan saja Nyonya Widya, jangan ditahan biar efeknya maksimal!”Sena menuntaskan semua tugas medisnya di ibu kota dengan sempurna. Luruhnya penyakit kronis para pejabat VIP serta kukuhnya benteng dukungan politik dari Bu Mawar dan Bu Jasmin membuat nama Sena menjelma menjadi legenda hidup di Rumah Sakit Kepresidenan. Namun, kemewahan dan riuk-pikuk Jakarta tak pernah sanggup mengikat hatinya. Rindu pada heningnya desa dan sosok Ayu—wanita lembut yang menjadi penambat jiwanya—kian membuncah di dalam dada.Di ruang tamu rumah dinas, Bu Mawar, Bu Jasmin, dan Dokter Vera berkumpul untuk mengantar kepulangan Sena."Sena, apa kamu yakin tidak ingin menetap di Jakarta?" tanya Bu Mawar dengan nada berat melepas. "Fasilitas rumah dinas ini, posisi di rumah sakit, hingga perlindungan politik... semuanya sudah kami siapkan untukmu."Bu Jasmin ikut mengangguk pelan, menatap Sena dengan binar penuh rasa terima kasih dan keterikatan yang mendalam. "Benar, Sena. Pintu rumah kami selalu terbuka lebar untukmu. Kehadiranmu di sini sangat berarti bagi kami."Sen
Pikiran Sena berdesir pelan. De javu. Sungguh sebuah pola takdir yang sangat sempurna. Dokter Vera yang tegas namun penuh perhatian persis seperti Mbak Irma, Bu Mawar yang anggun dan berkelas seperti Nyonya Sarah, Bu Jasmin yang lembut dan penuh kehangatan seperti Nyonya Widya, serta Ina yang sigap melayani seperti Elsa. Kota besar ini ternyata menyimpan cerminan persis dari wanita-wanita yang membantunya membangun pilar kekuatan di desa.Sena menatap Bu Jasmin yang berdiri penuh harap di hadapannya."Bisa, Bu. Kalau Bu Jasmin berkenan, kita bisa lakukan terapinya sekarang di kamar terapi," tutur Sena ramah."Sekarang, Sena? Apa tidak merepotkanmu?" tanya Bu Jasmin, matanya berbinar gembira meski nada suaranya tertahan sopan."Tidak sama sekali, Bu. Lebih cepat ditangani, tidur Bu Jasmin malam ini akan jauh lebih nyenyak," sahut Sena seraya melangkah membimbingnya menuju koridor dalam.Bu Mawar tersenyum tipis, melempar pandangan penuh arti pada Bu Jasmin. "Masuklah, Jasmin. Perc
Bu Mawar melangkah mendekati ranjang terapi kayu. Dengan penuh keanggunan, wanita berpengaruh itu merebahkan tubuhnya menelungkup di atas kasur empuk. Gaun sutra mewahnya sedikit tersingkap di bagian punggung atas, menyingkapkan kulit mulus nan kencang yang memancarkan aroma cendana.Sena mengatur napasnya, memusatkan Hawa Murni dari pusat dada ke kedua telapak tangannya hingga pendar keemasan hangat memancar samar dari jemarinya."Saya mulai ya, Bu Mawar. Rileks dan bernapaslah teratur," bisik Sena halus."Baik, Sena... lakukan saja," pukas Bu Mawar dengan nada bergetar gugup bercampur harap.Sena menempelkan kedua telapak tangannya di belikat belakang Bu Mawar. Sentuhan itu seketika memicu letupan energi. Aliran Hawa Murni yang hangat dan perkasa menerobos masuk melintasi pori-pori kulit punggungnya, merayap cepat menghantam penyumbatan pembuluh darah kronis di belikat dan rongga dada."Aahhh..."Desahan halus lolos dari bibir Bu Mawar. Tubuhnya mendadak lemas seketika. Sensas
Malam kian larut di kompleks perumahan dinas Rumah Sakit Pusat Kepresidenan. Suasana di sekitar kediaman Sena tampak tenang, hanya diselingi gesekan dedaunan yang ditiup angin malam. Sena baru saja selesai membersihkan diri dan mengenakan kaos polos serta celana kain santai saat ketukan halus terdengar di pintu depan.Ina, sang ART yang selalu sigap, bergegas membukakan pintu. Tak lama kemudian, gadis itu melangkah menuju ruang tengah tempat Sena sedang duduk menikmati teh hangat."Mas Sena, ada Bu Mawar di depan. Beliau membawakan hantaran camilan untuk Mas," pukas Ina dengan nada sopan dan sigap.Belum sempat Sena menjawab, sosok wanita bertubuh jenjang berkelas itu sudah melangkah masuk. Bu Mawar tampak sangat anggun dengan gaun malam berbahan sutra yang jatuh pas di lekuk tubuhnya. Aromanya yang mewah dan tegas—perpaduan wangi mawar dan kayu cendana—langsung memenuhi ruangan, membuat Sena teringat total pada keanggunan Nyonya Sarah di desa."Malam, Sena. Maaf ya kalau Mawar me
Sena melipat kedua kakinya di atas ranjang, bersila dalam posisi meditasi sempurna. Ia memejamkan mata rapat-rapt, mencoba memusatkan pikiran untuk mengamati sirkulasi Hawa Murni di dalam meridian tubuhnya.Biasanya, arus energinya terasa tenang dan stabil—terkunci rapat sejak ia mengikat ikrar batin dengan Ayu di desa. Namun malam ini, ada getaran asing yang bergejolak hebat di pusat dadanya.Pendar keemasan merembes keluar dari pori-pori kulitnya, menerangi kamar rumah dinas yang remang. Sena dapat merasakan dengan sangat jelas bagaimana energi kehidupan milik Dokter Vera yang baru saja ia sentuh meninggalkan jejak halus, menyatu, dan membuka pilar energi baru di dalam dirinya."Kenapa bisa seperti ini...?" gumam Sena pelan. Solilokui itu bergetar di keheningan malam. "Energi yang seharusnya terkunci rapat bersama Ayu... tiba-tiba merekah kembali. Sensasi ini... persis saat pertama kali aku membantu Bidan Irma."Pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Apakah penyembuhan yang
Desahan lega yang lolos dari bibir Dokter Vera tadi bukanlah sekadar reaksi atas hilangnya rasa pening. Saat Hawa Murni hangat dari telapak tangan Sena meresap menembus pangkal tengkoraknya, sensasi itu meletup lembut, mengalir terus ke bawah melintasi tulang belakangnya.Aliran hangat itu meluncur deras menuju area bawah perutnya, memicu denyut halus yang begitu nikmat hingga membuat otot-otot tubuhnya lemas seketika. Sebuah sensasi asing namun sangat membuai, membuat dadanya berdesir hebat.Sena menarik pelan kedua tangannya, memutus pendar keemasan yang samar-samar menyelimuti jemarinya. Ia melangkah ke samping, menatap wanita di hadapannya dengan raut tenang."Bagaimana, Dokter Vera? Sudah enakan?" tanya Sena seraya menyodorkan segelas air hangat.Dokter Vera menarik napas panjang, mencoba menguasai degup jantungnya yang masih berdebar kambar. Sensasi nikmat di bawah perutnya bertahap surut, menyisakan kebugaran luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya."Sudah.







