แชร์

Jangan Ditahan...

ผู้เขียน: DewaRa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-29 21:40:47

Sena menghentikan langkahnya sejenak tepat di ambang pintu warung. Tanpa membalikkan badan, dia menolehkan kepalanya sedikit, melemparkan pandangan melirik dari sudut mata ke arah Nyonya Widya yang masih menahan denyut di pelipisnya.

"Pintu gubukku selalu terbuka, Nyonya," ucap Sena dengan santai. "Terutama saat tengah malam nanti, ketika kepala Anda rasanya seperti mau pecah berkeping-keping."

Tanpa menunggu jawaban atau makian dari janda angkuh itu, Sena melangkah pergi membelah kegelapan sore.

Sepanjang sisa hari itu, Wicaksana fokus memulihkan raga barunya. Daging ayam yang dibeli segera dimasak, dipadukan dengan susu murni untuk mengisi kekosongan nutrisi tubuh Sena.

Setelah perutnya terisi penuh oleh kalori dan protein bergizi, Wicaksana duduk bersila di atas tikar.

Dia mulai melatih teknik pernapasan kuno. Menarik napas dalam, menahannya di pusar, lalu menyalurkannya ke seluruh jaringan saraf yang layu. Perlahan namun pasti, wadah energi di dalam nadinya mulai terisi kembali, menghangat, dan menguat. Bara Ilmu Gowok yang sempat meredup kini kembali menyala, siap memotong jalur takdirnya yang kelam.

Benar saja tepat saat jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, keheningan mendadak pecah.

Brak! Brak! Brak!

Gedoran panik bertubi-tubi menghantam pintu depan gubuknya yang terbuat dari kayu lapuk. Suara ketukan itu terdengar kacau, mencerminkan keputusasaan yang luar biasa dari sang pelaku.

Sena membuka matanya dari meditasi. Seringai kemenangan terukir jelas di wajah tampannya yang mulai tampak segar.

Dia berdiri, melangkah dengan tenang, lalu menarik selot pintu kayunya secara perlahan.

Begitu pintu terbuka, sosok Nyonya Widya langsung runtuh ke depan, hampir menabrak dada Sena jika pria itu tidak menahannya. Janda kaya yang tadi siang begitu angkuh di warungnya, kini berdiri gemetaran hebat di pintu rumahnya.

Janda angkuh itu hanya mengenakan daster tipis yang melekat ketat akibat keringat dingin, mengekspos lekuk tubuh matangnya yang sintal, padat, dan menonjol di beberapa bagian.

Kedua tangan Widya mencengkeram sisi kepalanya.

Wajah cantiknya pias, matanya merah berair menahan siksaan luar biasa seolah ada ribuan jarum yang menusuk otaknya secara bersamaan.

Gengsi dan kesombongan yang tadi siang dia pamerkan di depannya telah luruh total, dibuang jauh-jauh ke dalam got desa.

"Sena... to-tolong aku..." rintih Widya dengan suara parau, bibirnya bergetar menahan tangis. "Kepalaku rasanya mau pecah... tolong..."

Wicaksana mengambil alih kendali situasi sepenuhnya. Aura dominasi seorang pria sejati memancar kuat dari tubuh kurus Sena. Tanpa banyak bicara, Sena merangkul pinggang ramping Widya, menuntun tubuh matang yang gemetaran itu masuk ke dalam gubuk, lalu mengunci pintu rapat-rapat.

"Masuk dan segera tengkurap di atas dipan," perintah Sena dengan dingin tanpa bantahan.

Widya yang sudah setengah gila akibat rasa sakit hanya bisa patuh seutuhnya. Dia membaringkan tubuh sintalnya secara pasrah di atas dipan bambu

Daster sutra tipisnya tersingkap sedikit, memperlihatkan betis putih mulus dan lekuk pinggulnya yang menggoda.

Sena tidak membuang waktu. Di naik ke atas dipan lalu menempatkan kedua lututnya menjepit erat pinggang Widya, mengunci pergerakan wanita itu di bawah tubuhnya. Posisi intim yang begitu rapat membuat Widya tersentak, namun rasa sakit di kepalanya mengalahkan rasa malunya.

Menggunakan pangkal telapak tangannya yang kini sudah dialiri hawa murni Gowok yang panas dan padat, Sena menekan keras titik saraf di tengkuk Widya, gerbang penyembuh angin kepala.

"Ahhh-h?!" Widya memekik pendek saat aliran energi panas seperti logam cair dipompakan masuk ke dalam otaknya, menghancurkan sumbatan limfa dalam sekali gilas. Rasa sakit yang menyiksanya seketika menguap, digantikan oleh gelombang kehangatan yang luar biasa nyaman.

Namun, Sena tidak berhenti di situ. Demi memberikan efek ketergantungan permanen dan "menandai" penguasa lahan ini agar tidak bisa berpaling dari pesonanya, jemari kasar Sena mulai merayap turun. Ia menggilas dan menyusuri setiap jengkal tulang punggung Widya dengan tekanan bertenaga penuh, menekan titik-titik meridian yang selama bertahun-tahun mati suri sejak menjanda.

Deg!

Letupan gairah yang sangat ekstrem dan erotis mendadak meledak di dalam tubuh Widya. Pijatan Sena memicu produksi hormon kewanitaannya hingga ke titik puncak dalam hitungan detik

”Uhhhhhh!”

Widya membelalakkan matanya yang berkabut gairah. Rasa nikmat yang luar biasa dahsyat menyerang seluruh inderanya. Nafas janda kaya itu memburu pendek-pendek, dadanya membusung seiring dengan pinggulnya yang refleks menyentak ke atas secara liar, menikmati setiap sentuhan jari Sena.

Ingat bahwa gubuk Sena berdempetan dengan rumah Ayu, Widya buru-buru menggigit bibir hingga berdarah. Dia mati-matian menahan erangan yang mendesak ingin keluar dari tenggorokannya agar tidak terdengar sampai ke luar gubuk.

“Keluarkan saja Nyonya Widya, jangan ditahan biar efeknya maksimal!”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Hangat Sekali

    Pagi harinya, Sena terbangun dengan kondisi tubuh yang jauh lebih bertenaga. Namun, getaran di dalam intinya memberi tahu satu hal pasti: energi Irma dan Elsa saja belum cukup untuk mengembalikan kekuatan jiwanya ke level puncak. ​Sena segera menghubungi Bidan Irma. "Irma, aku minta izin libur beberapa hari lagi. Biar Dokter Tirta dan tenaga medis lain yang menangani pasien biasa di puskesmas." ​"Baik, Sena. Kamu istirahat saja sampai pulih betul," sahut Irma penuh pengertian. ​Malam harinya, Sena memanggil Nyonya Sarah untuk datang ke gubugnya. Dulu, penyatuan pertamanya dengan Nyonya Sarah berhasil membuka dan membangkitkan ilmu Hawa Murni Segoro di dalam dirinya. Kali ini, Sena berharap keagungan serta kehangatan energi wanita berkharisma itu sanggup memulihkan kekuatannya hingga seratus persen. ​Pintu gubug terbuka pelan. Nyonya Sarah melangkah masuk dengan gaun malam berkatun halus yang anggun. Wajah cantiknya memancarkan rasa cemas sekaligus kerinduan yang dalam. ​"Sena..."

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Enak sekali Sena

    Irma menyunggingkan senyum hangat, menatap Sena dengan pendar kepasrahan dan ketulusan mendalam. Tanpa ragu sedikit pun, jemarinya bergerak perlahan melepas gaunnya, membiarkan pakaian itu jatuh ke lantai kayu. Ia lalu melangkah mendekati dipan dan merebahkan dirinya di sana.​"Ayo, Sena... aku sudah siap," bisik Irma lembut seraya meraih tangan Sena dan menariknya pelan.​Sena merayap naik ke atas dipan, menatap lekat paras dan lekuk tubuh wanita di bawahnya. Sorot matanya dipenuhi apresiasi yang jujur. "Tubuhmu indah sekali, Irma..."​Diiringi gemuruh petir dan deru hujan yang semakin lebat menimpa atap seng gubug, Sena merebahkan tubuhnya di atas Irma. Kehangatan kulit mereka yang bersentuhan mendadak menyalakan pusaran energi spiritual di dalam dada Sena. Inti jiwanya yang semula kosong perlahan menyerap energi kehidupan dari Irma.​Sena mengecup leher dan dada Irma dengan lembut, memicu erangan halus dari bibir bidan desa tersebut. Irma memejamkan mata, meremas bahu Sena erat-era

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Aku Butuh Tubuhmu

    Pak Imam menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan napas yang terasa luar biasa lega. Rasa sesak yang bertahun-tahun menyiksanya sirna sepenuhnya berkat energi pemurnian jiwa Sena yang disalurkan melalui uap Hawa Murni. Dengan mata berbinar penuh rasa haru dan takjub, Sang Menteri menggenggam jemari Sena erat-erat. ​"Sena, ini benar-benar keajaiban!" ujar Pak Imam dengan suara bulat bertenaga. "Rumah sakit terbaik di luar negeri pun sudah angkat tangan. Sebagai bentuk rasa terima kasih pribadi dan negara, saya akan mengucurkan dana hibah besar untuk desamu. Saya ingin puskesmas satu lantai ini segera dibangun lebih luas lagi pada tahap kedua, agar bisa menampung ribuan pasien dari seluruh penjuru negeri." ​Sena tersenyum tipis sembari mengangguk. "Terima kasih, Pak Menteri. Namun, prinsip kami sejak awal tidak berubah. Tarif pengobatan di puskesmas ini harus tetap murah dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat desa maupun warga miskin dari luar." ​Pak Imam terpana men

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Sudah Jadi

    Tiga minggu terasa bagai kilat. Bangunan tua klinik desa tempat Bidan Irma mengabdi dulu, yang semula hanyalah struktur kayu lapuk dan cat yang mengelupas, kini telah rata dengan tanah. Di atas fondasi yang sama, berdiri tegak tahap pertama Puskesmas Terpadu Taraf Nasional: sebuah bangunan modern satu lantai bernuansa hijau-putih yang memadukan teknologi medis mutakhir dengan keasrian alam.​Meski baru tahap satu dan nantinya akan disusul pembangunan lantai dua, kemegahan bangunan ini sudah cukup membuat siapa pun berdecak kagum.​Pagi ini, desa tidak lagi terlihat seperti pelosok biasa. Jalanan menuju puskesmas dijejali karangan bunga ucapan selamat dari berbagai menteri, perusahaan farmasi, hingga kepala daerah. Suasana riuh, penuh sesak oleh warga desa yang antusias, para pejabat yang berseragam necis, dan awak media nasional yang sibuk mengatur kamera.​Sena berdiri di depan panggung utama dengan kemeja putih formal yang pas di tubuhnya. Aura kepemimpinannya terasa begitu kuat, na

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Rukun

    Ayu merebahkan kepalanya agak ke belakang saat Sena menyalurkan Hawa Murni. "A-ah... Sena... hangat sekali."​"Tahan sebentar, Ayu," bisik Sena lembut sambil menekan titik meridian di bahunya.​Irma menyenggol lengan Elsa, matanya tak lepas dari dipan. "Lihat itu, Mbak. Manja sekali. Sentuhan Sena ke Ayu beda banget."​Elsa melipat tangan di dada, matanya memicing. "Bukan cuma kamu yang merasa begitu, Irma. Aku juga lihat. Sentuhannya jauh lebih lembut."​Nyonya Sarah berdehem canggung, mencoba menutupi rasa irinya. "Sudah, kalian berdua. Jangan memprovokasi suasana."​"Nah, selesai," pukas Sena sambil menarik tangannya. "Jangan tidur di sini, Ayu, nanti dingin."​Ayu berdiri merapikan baju dengan pipi merona. Ia menyentuh lengan Sena pelan. "Terima kasih banyak, Sena. Pegal di punggungku langsung hilang."​Nyonya Sarah melangkah mendekat. "Ehem... Baiklah. Kita sudah membuktikan sendiri kalau Hawa Murni milikmu murni pengobatan medis yang luar biasa."​"Iya," timpal Elsa mengibaskan

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Kagum Dengan Sena

    "Dimana-mana yang tua dulu, Bidan Irma," sahut Nyonya Sarah menaikkan dagunya.​"Baiklah Nyonya, silakan Anda dulu," balas Irma mengalah, meski matanya menatap sengit.​Nyonya Sarah berdehem pelan seraya merapikan gaun elegannya. "Sekarang, Sena," pukasnya menatap Sena lurus-lurus. "Buktikan kalau ucapanmu tadi bukan sekadar alasan untuk memegang janda itu."​"Silakan duduk membelakangi saya di atas dipan, Nyonya," ujar Sena tenang.​Nyonya Sarah melangkah anggun lalu duduk di tepi dipan bambu. Sena mendekat, mengoleskan sedikit minyak herbal beraroma terapi di telapak tangannya, lalu menempelkan kedua jemarinya tepat di pangkal leher Nyonya Sarah.​Zap...​"N-Ngh... hangat sekali," desah Nyonya Sarah tanpa sadar. Matanya terpejam rapat, sementara jemarinya meremas kain gaunnya sendiri saat rasa hangat menembus hingga ke tulang.​"Ini penekanan titik Jianjing," terang Sena lembut seraya memijat perlahan dengan dorongan Hawa Murni. "Rasa hangat ini yang melelehkan ketegangan syaraf leh

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status