分享

Bab 53

作者: Miarosa
last update publish date: 2026-07-15 15:36:57

Dokter Kepala tertegun sejenak mendengarkan aksen Belanda kelas atas Willem, namun ia segera mengeraskan rahangnya.

"Itu urusan pemerintah sipil bukan urusan medis! Keluar!"

​"Urusan medis?!"

Dyah menyela dan suaranya melengking tajam memotong perdebatan. Air matanya menetes di atas kain pembungkus Siti.

"Anak ini sekarat karena menghirup asap minyak tanah dari teror yang dikirim oleh penguasa Kota Atas kalian! Mengapa saat mengambil tanah dan uang kami kalian begitu cepat, tapi saat anak
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 61

    Tanpa menunggu komando kedua, tiga kuli pelabuhan itu berbalik arah dan menerjang kegelapan lorong belakang Puri sembari mengacungkan balok kayu dan batu.Suara benturan kayu, jeritan opas, dan caci maki seketika pecah di belakang mereka, menciptakan ruang dan waktu bagi pelarian Nyai Rahayu.​"Ayo, Den Ayu! Lewat sini!" panggil Darmo seraya menyibak semak gelagah tinggi di mulut rawa.​Dyah setengah menyeret Nyai Rahayu menuruni tanggul tanah yang licin. Air rawa setinggi lutut menyergap kaki mereka yang gemetar. Nyai Rahayu terbatuk pelan, napasnya tersengal-sengal menahan rasa perih di kedua pergelangan kakinya yang lecet.​"Dyah, tinggalkan Ibu!" bisik Nyai Rahayu parau di tengah guncangan langkah mereka. "Ibu hanya akan memperlambat kalian. Pergilah selamatkan panti!"​Dyah menatap lurus ke sepasang mata teduh wanita tua itu dan meremas jemarinya yang dingin dengan kehangatan."Tidak akan pernah, Ibu! Mas Willem tidak akan memaafkan saya jika saya pulang tanpa membawa Ibu. Kita

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 60

    Malam beringsut kian pekat menutupi seluruh sudut puri kabupaten. Di saat perhatian para pejabat dan perwira kolonial tertuju sepenuhnya pada persiapan pesta kemegahan di Societeit de Harmonie, suasana di sudut belakang puri tampak lengang dan mati. Suara musik gambang kromong dan denting gelas kristal dari arah Kota Atas tak tersampaikan hingga ke rawa belakang puri.​Di dalam selokan pembuangan air tua berlumut yang terhubung langsung dengan rawa, Dyah merayap pelan. Kebaya luriknya telah basah kuyup oleh air selokan hitam, sementara helai-helai rambutnya melekat lepek di dahi. Tepat di belakangnya, Kang Darmo dan tiga kuli pelabuhan merayap tanpa suara sambil membawa dua potong balok kayu tebal dan rantai pengikat.​"Pelan-pelan, Den Ayu," bisik Kang Darmo seraya menahan tubuh Dyah saat mereka tiba di jeruji besi pembuangan air belakang puri. "Di balik dinding batu ini ada lorong menuju sel bawah tanah."​Kang Darmo menyisipkan ujung linggisnya ke sela jeruji besi selokan yang s

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 59

    Willem menoleh cepat dan menyeka noda oli di pipinya. "Ada apa, Hendrik? Fotografermu berhasil mengabadikan traktornya?"​"Lebih dari itu!" jawab Hendrik cepat.Matanya berkilat membocorkan rahasia penting. "Jaringanku di balai kota baru saja memberi kabar telegraf darurat. Aksi sabotase traktor ini memicu kepanikan total di Kota Atas. Residen dan Adriaan tahu mereka tidak bisa menembak mati ratusan buruh di depan kamera pers tanpa memicu revolusi pelabuhan!"​Dyah mendekatkan wajahnya. "Lalu apa yang akan dilakukan Adriaan dan Soerjo?"​"Malam ini, Adriaan dan Soerjo terpaksa mengalihkan permainan ke ranah politik formal," kata Hendrik. Suaranya bertambah serius. "Mereka mengadakan pesta malam amal megah di Societeit de Harmonie untuk merayakan ulang tahun pertunangan Clarissa dan menenangkan para investor Eropa. Soerjo akan hadir di sana sepanjang malam sebagai penjamin keamanan."​Willem menyipitkan matanya. "Soerjo akan berada di Societeit sepanjang malam?"​"Ya! Dan itu art

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 58

    "Tiga orang fotografer dari De Locomotief yang bersimpati pada kita sudah kuposisikan di balik semak rawa sisi barat, Dyah," jawab Hendrik dengan nada serius sambil menepuk kamera kotak besarnya."Begitu tembakan pertama menyalak atau traktor itu mulai menghancurkan barikade, blitz kamera kami akan merekamnya. Biar besok pagi seluruh Hindia Belanda melihat bagaimana Adriaan dan Soerjo membantai rakyatnya sendiri."​Willem berjalan mendekati mereka dan napasnya memburu setelah memantapkan posisi barikade kayu dan batu karang. Ia menatap Dyah, lalu menggenggam kedua tangan wanita itu yang terasa dingin.​"Kamu seharusnya ikut mengungsi ke gudang tengah, Dyah," ujar Willem.Matanya memancarkan kekhawatiran yang mendalam. "Fajar ini akan menjadi medan perang yang sesungguhnya. Aku tidak bisa menjamin keselamatanmu jika serdadu KNIL mulai melepaskan tembakan."​Dyah menggeleng kaku dan menolak perintah itu mentah-mentah. Ia membalas genggaman tangan Willem dengan remasan yang tak kalah ku

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 57

    "Massa itu hanya perlu digertak dengan satu peleton KNIL, Baron," sahut Adriaan dingin.Ia mencoba mempertahankan keangkuhannya meski rahangnya mengetat. "Mereka tidak akan berani melawan senapan."​"Gertakanmu sudah tidak berguna! Mereka tidak menyerang, mereka hanya berdiri diam menuntut anakmu dibebaskan!"Residen menggebrak meja kerja mahoninya dengan keras. "Mantan arsitek BOW itu telah menjadi martir bagi mereka! Aku tidak mau mempertaruhkan urat nadi ekonomi Semarang hanya demi urusan tanah rawa sialan itu. Sipir! Keluarkan surat penangguhan darurat untuk Willem van Deventer sekarang juga!"​"Baron! Kamu tidak bisa melakukan ini!" potong Adriaan murka.​"Aku bisa, Adriaan! Dan aku harus melakukannya malam ini juga!" tegas Residen.Ia langsung menandatangani selembar dokumen dengan entakan kasar. "Urusan lahan pantimu harus diselesaikan di lapangan besok fajar bukan di dalam selku. Bawa Willem keluar!"​​Pintu besi sel bawah tanah Willem terbuka lebar. Dua sipir pribumi memb

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 56

    ​"Willem, saat kamu membaca surat ini, aliansi bawah tanah Kanal Timur telah bergerak. Mulai malam ini, seluruh kuli pelabuhan bawah, buruh angkut kereta logistik Stasiun Tawang, dan nelayan resmi melakukan pemogokan massal total. Tidak ada gula atau logistik Kota Atas yang akan bergerak keluar dari Semarang.​Namun, Hendrik mendapat kabar dari mata-mata BOW bahwa Adriaan tidak menunggu fajar esok untuk meruntuhkan panti. Traktor uap raksasa berdaya penghancur tinggi milik dinas pengairan telah digerakkan malam ini dari gudang Kota Atas menuju mulut jembatan Kanal Timur. Kami sedang menyusun barikade manusia dan kayu, namun kami membutuhkan keahlian arsitekturmu untuk melumpuhkan mesin monster besi itu tanpa memicu pertumpahan darah dengan KNIL yang mengawalnya. Beritahu kami kelemahannya."​Willem menarik napas panjang dan dadanya bergemuruh hebat membaca setiap aksara yang ditulis Dyah. Keberanian wanita itu dan seluruh buruh pelabuhan telah melampaui segala perhitungan logis hukum

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 13

    Willem kembali menaiki tangga bambu dan menyelesaikan sedikit demi sedikit atap dapur yang bocor. Ketika malam mulai turun, Willem akhirnya turun dari atap.​Anak-anak panti sudah masuk ke kamar untuk bersiap tidur. Dyah berdiri di ambang pintu dapur, membawa selembar kain handuk kering dan segelas

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 9

    Saat buldoser itu merangsek satu meter lebih dekat, Willem bergerak tanpa ragu. Secara refleks, tangan kirinya menarik bahu Dyah dengan cengkeraman yang erat namun protektif dan menyembunyikan tubuh wanita itu sepenuhnya di balik punggung tegapnya. Sebelum melangkah maju melewati barikade, Willem

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 7

    Dyah membanting pintu gerbang itu dengan kekuatan yang tersisa dan meninggalkan Willem di jalan tanah yang berdebu. Bunyi dentuman besi tua itu seolah menjadi titik penegas bahwa jarak di antara mereka bukan lagi sekadar samudera, melainkan gunjingan keji yang berakar di setiap sudut kampung. ​Di

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 6

    Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu di sela-sela dinding kayu panti asuhan yang mulai melapuk, membawa aroma lumpur kanal yang menguap. Dyah duduk di tepi ranjang bambunya, sebuah kotak kaleng bekas biskuit karat berada di pangkuannya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mengeluarkan beber

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status