แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Miarosa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-04 16:43:47

Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu di sela-sela dinding kayu panti asuhan yang mulai melapuk, membawa aroma lumpur kanal yang menguap. Dyah duduk di tepi ranjang bambunya, sebuah kotak kaleng bekas biskuit karat berada di pangkuannya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas lusuh dan segenggam uang koin sen yang nilainya tak seberapa.

​Ia menghitungnya perlahan. Sekali, dua kali, seolah berharap angka-angka itu akan bertambah secara ajaib jika dihitung berulang kali. Namun, kenyataan tetaplah pahit. Uang itu nyaris tidak cukup untuk membeli beras, apalagi protein untuk sepuluh anak yatim yang sekarang menjadi tanggung jawabnya. Mata Dyah memanas, ia menatap nanar koin-koin itu.

Raut wajahnya yang biasanya tegar sekarang tampak layu, dipenuhi oleh gurat kesedihan. Jika tiga hari lagi panti ini digusur, uang ini bahkan tidak cukup untuk menyewa gerobak guna mengangkut barang-barang mereka.

​Dyah menghela napas panjang, merapikan kebayanya yang sudah banyak jahitan tangan, lalu melilitkan selendang kusam ke bahunya. Ia melangkah keluar menuju halaman samping.

​"Kang Marjo!" panggil Dyah lirih.

​Seorang pria paruh baya dengan caping yang menutupi rambut berubannya menoleh. Ia sedang sibuk menambal atap bocor di sudut dapur luar. Marjo adalah mantan abdi dalem di keluarga Adiningrat yang memilih ikut terbuang demi menjaga Dyah.

​"Saya pergi ke pasar sebentar, Kang. Tolong jaga anak-anak! Jangan biarkan mereka keluar pagar, terutama jika ada orang asing atau mobil yang lewat," pesan Dyah dengan nada waspada.

​Kang Marjo turun dari tangga bambu, menatap Dyah dengan tatapan prihatin.

"Hati-hati, Den Ayu! Suasana di luar sedang kurang enak. Bisik-bisik soal Meneer Belanda kemarin sudah sampai ke telinga orang-orang kampung."

​Dyah hanya mengangguk getir. "Saya tahu, Kang, tapi perut anak-anak tidak bisa menunggu sampai isu itu reda."

​Dyah melangkah menyusuri jalanan tanah menuju pasar tradisional di dekat Kanal Timur. Suasana pasar pagi itu sangat riuh. Suara tawar-menawar beradu dengan teriakan kusir bendi dan aroma menyengat dari tumpukan terasi serta sayuran busuk yang terinjak-ijak di tanah becek. Dyah berjalan dengan kepala tertunduk, mencoba mengecilkan keberadaannya di antara kerumunan orang yang memakai caping dan kain lurik.

​Ia berhenti di lapak seorang penjual sayur. Dengan sangat hati-hati, ia memilih dua ikat kangkung yang sudah agak layu, karena harganya lebih murah dan beberapa butir kemiri. Setelah itu, ia bergeser ke lapak ikan. Matanya tertuju pada ikan bandeng yang segar, namun jarinya beralih pada beberapa ekor ikan teri jengki dan satu ekor ikan asin yang ukurannya kecil.

​"Hanya ini, Mbak Dyah?" tanya penjual ikan itu dengan nada yang entah mengapa terasa dingin dan tidak seramah biasanya.

​"Nggih, Pak. Matur nuwun," jawab Dyah singkat sambil menyerahkan beberapa koin terakhirnya.

​Saat Dyah sedang memasukkan bungkusan ikan itu ke dalam bakulnya, telinganya menangkap suara desas-desus dari arah lapak bumbu di belakangnya.

Sekelompok ibu-ibu dengan bakul di punggung mereka sedang berkumpul, mata mereka sesekali melirik tajam ke arah punggung Dyah.

​"Lihat itu si Dyah!" bisik seorang wanita bertubuh tambun sambil menunjuk dengan dagunya. "Mau-mauan didekati Meneer Belanda itu lagi. Memang dasar pengkhianat bangsa, tidak kapok sudah dibuang sekali, sekarang malah kegirangan didatangi mobil bagus."

​"Iya, lho," sahut yang lain dengan nada mencemooh. "Pura-pura jadi pengelola panti asuhan, padahal mungkin cuma kedok supaya bisa dekat lagi sama penjajah. Kasihan itu anak-anak yatim dikasih makan dari uang hasil jadi simpanan."

​"Dengar-dengar panti itu mau digusur, tapi lihat saja, dia pasti bakal selamat sendiri karena lobi-lobi di atas ranjang sama Meneer itu. Dasar wanita tidak punya harga diri, mencoreng martabat orang Jawa."

​Kata-kata itu menghujam jantung Dyah seperti belati yang berkarat. Pedih, panas, dan membuatnya merasa telanjang di tengah keramaian. Tangannya mencengkeram erat pegangan bakul hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin berbalik, ia ingin berteriak bahwa Willem datang untuk menghancurkan rumahnya bukan untuk mencintainya. Ia ingin menjelaskan bahwa ia adalah korban bukan kaki tangan.

​Namun, Dyah hanya terpaku. Suaranya seolah hilang di kerongkongan yang tercekat. Jika ia melawan, stigma itu akan semakin menguat. Bagi orang-orang ini, seorang wanita yang pernah memiliki hubungan dengan pria kulit putih selamanya akan dianggap sebagai "barang sisa" yang kotor. Mereka tidak peduli pada air mata Dyah di peron stasiun sepuluh tahun lalu, mereka hanya peduli pada fakta bahwa ia pernah mencintai "musuh".

​Dyah mempercepat langkahnya dan mengabaikan tawa sinis yang mengikuti punggungnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh dan jatuh membasahi kangkung layu di dalam bakulnya. Ia merasa terasing di tanah kelahirannya sendiri.

​Sesampainya di gerbang panti, Dyah berhenti sejenak untuk mengusap wajahnya dengan ujung selendang. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan anak-anak. Namun, baru saja ia hendak mendorong pintu gerbang, ia melihat sebuah mobil hitam mewah terparkir tak jauh dari sana. Sosok Willem berdiri bersandar pada badan mobil, menunggunya dengan raut wajah cemas.

​Amarah Dyah meledak. Kehadiran Willem di sini adalah alasan mengapa ia baru saja dihina habis-habisan di pasar.

​"Pergi, Willem!" teriak Dyah bahkan sebelum pria itu sempat menyapa. "Lihat apa yang kamu lakukan! Gara-gara kamu, orang-orang di pasar menyebutku pelacur! Mereka menyebutku pengkhianat! Pergilah ke Kota Atas, kembali ke kehidupan mewahmu dan biarkan aku mati dengan sisa harga diriku di sini!"

​Willem terpana, ia melihat bakul Dyah yang berisi sayuran murah dan raut wajah Dyah yang hancur. Ia ingin mendekat dan ingin memeluknya, namun ia sadar bahwa setiap inci jarak yang ia pangkas hanya akan menambah beban stigma di pundak Dyah.

​"Dyah, aku punya rencana. Aku bisa menggeser koordinat relnya secara teknis. Aku bisa meyakinkan Residen bahwa tanah di sini tidak stabil, tapi aku butuh kamu mempercayaiku sekali saja. Tolong, beri aku kesempatan untuk memperbaikinya."

​"Memperbaiki?" Dyah tertawa getir, suaranya terdengar parau.

Ia melangkah mendekati Willem hingga wajahnya yang pucat hanya berjarak beberapa senti dari Willem.

"Kamu bicara soal memperbaiki jembatan atau gedung, Willem. Kamu arsitek hebat, aku tahu itu, tapi bagaimana kau memperbaiki sepuluh tahun hinaan yang aku terima? Bagaimana kamu menghapus kata pengkhianat yang melekat di dahiku karena menunggumu di peron itu?"

​"Aku tidak pernah meninggalkanmu, Dyah! Aku dipaksa!"

​"Dan kamu membiarkan paksaan itu menang selama sepuluh tahun!" balas Dyah tajam. "Setiap kali kamu makan makanan mewah di Belanda, aku sedang mencuci pakaian orang lain demi sesuap nasi karena keluargaku membuangku! Setiap kali kamu merancang gedung megah, aku sedang membangun tembok di sekeliling hatiku agar tidak mati karena malu!"

​Willem terdiam. Kalimat Dyah menghujamnya lebih dalam dari kemarahan ayahnya. Ia melihat Dyah yang sekarang kurus, lelah, namun memiliki api di matanya yang tidak pernah ia lihat dulu.

Dyah bukan lagi gadis ningrat yang butuh dilindungi, ia adalah singa betina yang sedang melindungi anak-anaknya.

​"Aku tahu aku bersalah, karena membiarkan ayahku menang dulu," bisik Willem. "Itulah sebabnya aku di sini sekarang. Bukan sebagai perwakilan pemerintah, tapi sebagai pria yang berhutang nyawa padamu. Biarkan aku membantu panti ini."

"Bantuanmu adalah racun bagi status sosialku, Willem."

Dyah mundur satu langkah dan wajahnya kembali mengeras. "Jika kamu benar-benar ingin menolong, pergilah! Batalkan proyek ini dari kantormu, jangan di depan pintuku. Masyarakat di sini tidak melihat arsitek yang ingin menebus dosanya, mereka melihat seorang penjajah yang sedang menagih janji pada budaknya."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 107

    Sore yang tenang di pertengahan tahun 1926 menyelimuti peron Stasiun Tawang. Langit Semarang memancarkan pendar oranye keemasan dab memantul anggun pada atap pelengkung besi stasiun yang megah. Aroma uap batu bara bercampur dengan angin pesisir yang bertiup lembut membawa ingatan pada peristiwa sepuluh tahun silam.​Di peron tiga, persis di sudut tiang besi bernomor empat tempat mereka pernah berdiri penuh ketakutan sepuluh tahun lalu, Dyah dan Willem kembali berdiri bersisian.​Dyah mengenakan kebaya katun bersahaja dengan selendang batik Parang Klitik yang melingkar anggun di bahunya. Di sampingnya, Willem berdiri tegap dalam balutan kemeja katun. Pria itu menatap lurus lintasan rel kereta api dan matanya biru kelabunya memancarkan kedamaian tiada tara yang tak lagi terusik oleh kecemasan.​Dari kejauhan terdengar deru mesin lokomotif kereta malam tujuan Batavia menggelegar parau, lalu disusul jeritan peluit uap yang nyaring.​​Garis-garis besi rel bergetar halus saat gerbong-gerb

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 106

    Pagi demi pagi berganti menjadi lembaran hari yang sarat gairah. Tanah rawa Kanal Timur yang dulunya sunyi dan bersimbah ketakutan sekarang bergetar oleh irama kehidupan baru. Dentang martil memukul paku, derak gergaji memotong kayu jati, serta riuh alunan tembang Jawa dari para wanita yang memasak di dapur umum membahana sepanjang pesisir Semarang.​Ratusan warga Kampung Melayu, kuli pelabuhan Tanjung Mas, pedagang Pasar Johar, hingga para perajin kayu dari Kota Lama datang bergantian setiap hari. Mereka bekerja tanpa pamrih dan menyumbangkan tenaga dan keahlian demi tegaknya sekolah dan panti asuhan baru.​Di atas susunan perancah kayu bambu yang tinggi, Willem berdiri mengawasi pemasangan rangka atap limasan. Dengan kemeja linen tergulung dan celana katun bersahaja, ia memegang waterpas dan siku besi, memandu para tukang kayu lokal.​"Geser balok nok itu dua senti ke utara, Kang Darmo!" seru Willem lantang dari atas perancah.Ia menyapu peluh di dahinya dengan lengan baju. "Kemiri

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 105

    Willem tersenyum lembut dan mengusap tepi peti kayu itu dengan penuh kehangatan. "Ini adalah sisa tabungan pribadiku, Dyah. Hasil dari pekerjaanku sebagai arsitek muda di Delft dan sisa honorarium bersih yang kukumpulkan sebelum aku melangkah ke tanah Jawa."​Nyai Rahayu membelalakkan matanya dan menahan napas seraya merapatkan kain stagennya. "Willem, uang simpanan sebesar ini dari Eropa? Untuk apa ditunjukkan kepada kami?"​Willem mengambil seluruh lembaran wesel bank dan pundi koin emas tersebut, lalu menyodorkan semuanya ke dalam pangkuan tangan Dyah dan Nyai Rahayu.​"Ini bukan lagi milikku pribadi," tutur Willem."Seluruh simpanan ini secara resmi kuserahkan untuk pembangunan panti asuhan baru dan operasional awal sekolah gratis bagi anak-anak rawa dan buruh Tanjung Mas."​Dyah terperanjat dan jemarinya bergetar hebat saat memegang lembaran wesel tersebut. "Willem! Tidak! Ini tabungan kerja kerasmu selama bertahun-tahun di Eropa. Ini jaminan masa depanmu sendiri!"​"Masa depa

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 104

    Hendrik menahan napas, sementara Dyah menatap Willem tanpa bersuara sedikit pun. Keheningan mendadak menyergap area meja kerja. Empat puluh ribu gulden adalah angka yang sangat fantastis, sebuah kekayaan yang sanggup membuat siapa pun hidup dalam kemewahan seumur hidup di Eropa.​Willem menatap berkas emas itu sejenak. Sorot matanya sama sekali tidak menampakkan keraguan atau keserakahan. Willem mendorong kembali lembaran perkamen dan pena emas tersebut ke arah notaris van der Wal.​"Saya menolak warisan itu, Tuan Notaris," tegas Willem.​Notaris van der Wal terperanjat, matanya membelalak tak percaya. "T-Tapi Tuan van Deventer! Ini empat puluh ribu gulden. Uang ini sah dan porsi Anda yang tidak disita negara!"​"Uang itu tercemar oleh air mata dan darah rakyat!" pangkas Willem tajam, matanya menatap lurus sang Notaris. "Empat puluh ribu gulden itu lahir dari penindasan kuli pelabuhan, pemalsuan tanah rawa, dan kebohongan konsorsium. Saya tidak akan pernah menyentuh satu sen pun uan

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 103

    Willem menoleh pelan dan menatap lurus ke dalam manik mata Dyah yang berkilau diterpa pendar lampu minyak.​"Aku mengorbankan statusku di Eropa tanpa penyesalan sedikit pun, Dyah, sebab di sampingmu, di atas tanah rawa yang dihina ini aku menemukan rumah dan cinta sejati yang selama ini kucari sepanjang hidupku," bisik Willem.​Dyah tersenyum mengembang di balik gurat air matanya. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Willem dan mengecup kening pria itu dengan kehangatan dan ketulusan jiwa yang abadi.​"Dan hatiku sudah sepenuhnya milikmu sejak pertama kali kamu berdiri membentengiku di pelataran ini, Willem," pangkas Dyah jujur yang mengikis seluruh keraguan yang pernah memisahkan status dan kebangsaan mereka.​Tiga hari telah berlalu. Panas demam di tubuh Willem perlahan surut digantikan oleh kesegaran napas angin pesisir. Infeksi di bahunya mulai mengering di balik balutan kain kassa bersih yang dipasang Dyah saban pagi.​Sore itu, lembayung jingga menyelimuti langit Sema

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 102

    ​Di sudut pendopo, Hendrik yang berdiri di atas pilar batu menekan tombol tustel tebalnya. Lampu kilat menyambar terang dan mengabadikan momen saat Dyah diselimuti selendang keemasan di antara senyum hangat para tokoh masyarakat dan kepulan asap kemenyan syukuran.​Hendrik tersenyum puas seraya memutar rol film di dalam kameranya. "Ini dia halaman depan De Locomotief edisi pemulihan nama baik. Foto ini akan membungkam seluruh mulut licik pejabat Karesidenan yang pernah mencoba merendahkanmu, Dyah!"​Hendrik melangkah mendekati Willem yang menyaksikan acara tersebut dari samping tiang pendopo. Willem menatap Dyah dari kejauhan dengan sorot mata biru kelabu yang berbinar penuh rasa bangga dan cinta yang tak terukur.​"Pena pers telah menyelesaikan tugasnya memulihkan nama baik Dyah, Willem," ujar Hendrik pelan seraya menepuk bahu Willem. "Sekarang edisi pemulihan nama ini akan dikirim ke seluruh penjuru Hindia. Takkan ada lagi yang berani menyebutnya pengkhianat."​"Terima kasih, Hend

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 13

    Willem kembali menaiki tangga bambu dan menyelesaikan sedikit demi sedikit atap dapur yang bocor. Ketika malam mulai turun, Willem akhirnya turun dari atap.​Anak-anak panti sudah masuk ke kamar untuk bersiap tidur. Dyah berdiri di ambang pintu dapur, membawa selembar kain handuk kering dan segelas

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 7

    Dyah membanting pintu gerbang itu dengan kekuatan yang tersisa dan meninggalkan Willem di jalan tanah yang berdebu. Bunyi dentuman besi tua itu seolah menjadi titik penegas bahwa jarak di antara mereka bukan lagi sekadar samudera, melainkan gunjingan keji yang berakar di setiap sudut kampung. ​Di

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 5

    Willem merasakan jemarinya bergetar hebat saat memori itu berputar seperti piringan hitam yang rusak. Di dalam benaknya, ia kembali ke detik-detik paling menghancurkan di atas dek kapal SS Grotius yang perlahan menjauhi Pelabuhan Tanjung Mas malam itu. ​Suara peluit kapal yang melengking panjang t

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 4

    Setiap gerakan Willem membangkitkan memori yang menyakitkan bagi Dyah. Ia teringat bagaimana mereka dulu sering berdiskusi tentang impian Willem membangun jembatan-jembatan megah yang menghubungkan desa-desa terpencil di Jawa agar rakyat bisa berdagang dengan mudah. Impian yang dulu terdengar beg

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status