Share

Bab 7

Author: Miarosa
last update publish date: 2026-05-23 12:03:14

Dyah membanting pintu gerbang itu dengan kekuatan yang tersisa dan meninggalkan Willem di jalan tanah yang berdebu. Bunyi dentuman besi tua itu seolah menjadi titik penegas bahwa jarak di antara mereka bukan lagi sekadar samudera, melainkan gunjingan keji yang berakar di setiap sudut kampung.

​Di balik gerbang, Dyah menyandarkan punggungnya pada pagar. Napasnya memburu dan air matanya mengalir tanpa bisa dicegah. Ia tidak bisa membiarkan anak-anak melihatnya menangis. Dengan gerakan cepat, ia mengusap pipinya menggunakan ujung selendang, menarik napas panjang, dan mencoba menegakkan punggungnya.

​"Ibu Dyah sudah pulang!"

​Teriakan cempreng Amin memecah kesunyian. Dalam sekejap, Dyah sudah dikerumuni oleh kaki-kaki kecil yang berlarian menyambutnya.

​"Ibu bawa apa? Bawa ikan?" tanya Siti, si bungsu yang baru berusia enam tahun sambil menarik-narik bakul Dyah dengan wajah penuh harap.

​Dyah memaksakan senyum paling manis yang ia punya.

"Ibu bawa ikan asin yang sangat enak. Nanti kita masak dengan kangkung segar, ya? Tapi sekarang, bantu Ibu petik kangkungnya dulu."

​Dyah duduk di atas amben bambu di teras belakang dikelilingi oleh anak-anak yang sibuk memetik kangkung. Siti dengan serius memisahkan batang yang keras, sementara Amin berceloteh tentang kucing liar yang masuk ke dapur tadi pagi.

Di sela-sela tawa anak-anak, Dyah sesaat melupakan beban penggusuran tiga hari lagi. Inilah dunianya sebuah benteng kecil yang ia bangun dari puing-puing kehancurannya sendiri.

​Tiba-tiba suara pagar samping berderit. Seorang wanita paruh baya dengan kain kebaya lurik yang rapi masuk membawa sebuah baki tertutup kain. Itu adalah Yu Sum, tetangga sebelah panti yang suaminya bekerja sebagai kuli di gudang garam.

​"Mbak Dyah," panggil Yu Sum dengan suara rendah, seolah takut ada mata-mata yang menguping.

​Dyah berdiri menyambutnya.

"Yu Sum, ada apa? Mari duduk!"

​Yu Sum meletakkan baki itu di atas amben. Isinya adalah nasi liwet hangat dengan sambal korek dan beberapa butir telur rebus.

"Aku dengar apa yang terjadi di pasar tadi, Mbak. Jangan didengar omongan mulut-mulut busuk itu! Mereka tidak tahu betapa Mbak Dyah sudah menyelamatkan keluargaku."

​Dyah tertegun. Ingatannya melayang pada dua tahun lalu, saat anak Yu Sum sakit demam berdarah dan mereka tidak punya uang untuk ke dokter. Dyah-lah yang menggadaikan satu-satunya perhiasan sisa keningratannya, sebuah giwang emas kecil untuk membiayai pengobatan itu dan ia sendiri yang menjaganya siang malam dengan kompres tradisional.

​"Yu, ini terlalu banyak. Kamu sendiri butuh untuk suamimu," tolak Dyah halus.

​"Sudah, terima saja," potong Yu Sum sambil menggenggam tangan Dyah.

"Suamiku bilang, kalau sampai orang-orang Belanda itu datang membawa mesin besar, suamiku dan kawan-kawan kuli pelabuhan akan berdiri di depan gerbang ini. Mbak Dyah tidak sendirian. Kami tahu siapa yang tulus dan siapa yang penjilat."

​Dyah merasa tenggorokannya tercekat. Dukungan dari Yu Sum adalah oase di tengah stigma yang membakar. Ternyata tidak semua orang termakan gosip keji itu.

Air mata yang sejak di pasar tadi ditahan sekuat tenaga, luruh juga, karena rasa haru yang menyesakkan dadanya. Dyah menggenggam balik tangan Yu Sum yang kasar karena kerja keras. Di dunia yang begitu ingin menghancurkannya ternyata masih ada tangan-tangan tulus yang bersedia merangkulnya.

​"Matur nuwun, Yu. Matur nuwun sangat," bisik Dyah parau. Ia tidak sanggup berkata-kata lagi.

Yu Sum menepuk-nepuk punggung tangan Dyah, sebuah gerakan sederhana yang menyalurkan kekuatan luar biasa.

"Sudah, Mbak. Jangan menangis di depan anak-anak!"

​Dyah mengangguk pelan, lalu menyeka sudut matanya dengan ujung kebaya. Ia menarik napas panjang berusaha menenangkan gemuruh di dadanya sebelum menoleh ke arah kerumunan kecil di amben. Siti dan Amin sejak tadi memperhatikan dari kejauhan dengan mata bulat yang penuh tanya.

​"Sini, anak-anak!" panggil Dyah dengan suara yang kembali tegar. "Lihat, Yu Sum membawakan rezeki yang luar biasa. Ayo, cuci tangan kalian!"

​Dalam sekejap, sepuluh anak panti asuhan itu sudah berebut tempat duduk melingkar. Ada Amin yang paling lincah, Siti yang bungsu dan selalu ingin dekat dengan Dyah, hingga anak-anak yang lebih besar seperti Budi dan Sari yang biasanya lebih pendiam. Mereka semua menatap baki yang dibawa Yu Sum seolah-olah itu adalah harta karun dari istana bupati.

Yu Sum tersenyum lebar melihat binar mata anak-anak itu. Ia membantu Dyah menuangkan nasi liwet yang masih mengepul di piring masing-masing, diikuti sambal korek di pinggir, dan momen yang paling ditunggu-tunggu telur rebus, karena jumlah anak ada sepuluh, Dyah dengan telaten membelah lima butir telur rebus menggunakan benang jahit agar setiap anak mendapatkan setengah bagian yang adil.

​"Wah, telur!" seru Amin girang, matanya berbinar menatap potongan telur di atas nasinya.

​"Ibu, telur Siti besar sekali," celoteh Siti sambil menunjukkan bagian telurnya yang sebenarnya sama ukurannya dengan yang lain.

Dyah tertawa kecil, sebuah tawa yang tulus meskipun hatinya masih terasa remuk.

"Makan yang banyak, ya. Terima kasihnya sama Yu Sum, dia yang membawakan ini semua untuk kalian."

​"Matur nuwun, Yu Sum!" teriak sepuluh anak itu serempak, membuat Yu Sum tertawa hingga matanya menyipit.

​"Sama-sama, Le, Nduk. Makan yang kenyang supaya kuat," jawab Yu Sum tulus.

Sambil memperhatikan sepuluh pasang tangan mungil yang menyuap nasi dengan lahap, Yu Sum mendekatkan tubuhnya ke arah Dyah. Ia berbisik pelan agar tidak merusak suasana makan anak-anak.

"Mbak Dyah lihat sendiri, kan? Kesepuluh anak ini adalah alasan kenapa Mbak harus tetap tegak. Mulut orang di pasar itu tidak memberi mereka makan, tapi Mbak Dyah yang memberi mereka makan."

Dyah mengangguk dan tenggorokannya mendadak terasa sesak lagi. Ia memandang satu per satu wajah anak-anaknya. Ada yang pipinya cemong karena sambal, ada yang sibuk berebut remahan nasi, dan ada yang saling berbagi ikan asin kecil miliknya. Inilah keluarga Dyah sekarang. Stigma pengkhianat yang disematkan masyarakat terasa begitu jauh dan tidak berarti dibandingkan dengan sepuluh nyawa yang sedang menggantungkan hidup padanya.

​"Yu," bisik Dyah kembali. "Kalau bukan karena anak-anak ini mungkin aku sudah menyerah sejak lama."

​"Gusti Allah mboten sare (Tuhan tidak tidur), Mbak," sahut Yu Sum mantap.

​Dyah menatap Yu Sum dengan haru. Tiba-tiba, Siti menyodorkan sepotong telur miliknya ke arah bibir Dyah.

"Ibu juga harus makan. Ibu kan pahlawan kami."

​Dyah tertegun, lalu menerima suapan kecil itu dengan air mata yang hampir jatuh kembali. Namun, kehangatan itu seketika sirna saat pintu depan digedor kasar. Suara deru mesin mobil militer terdengar menderu di halaman. Dari balik jendela, Dyah terbelalak melihat Kapten Veenstra berdiri membawa surat segel merah yang didampingi oleh Adipati Soerjo yang tersenyum licik. Batas waktu mereka habis hari ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 103

    Willem menoleh pelan dan menatap lurus ke dalam manik mata Dyah yang berkilau diterpa pendar lampu minyak.​"Aku mengorbankan statusku di Eropa tanpa penyesalan sedikit pun, Dyah, sebab di sampingmu, di atas tanah rawa yang dihina ini aku menemukan rumah dan cinta sejati yang selama ini kucari sepanjang hidupku," bisik Willem.​Dyah tersenyum mengembang di balik gurat air matanya. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Willem dan mengecup kening pria itu dengan kehangatan dan ketulusan jiwa yang abadi.​"Dan hatiku sudah sepenuhnya milikmu sejak pertama kali kamu berdiri membentengiku di pelataran ini, Willem," pangkas Dyah jujur yang mengikis seluruh keraguan yang pernah memisahkan status dan kebangsaan mereka.​Tiga hari telah berlalu. Panas demam di tubuh Willem perlahan surut digantikan oleh kesegaran napas angin pesisir. Infeksi di bahunya mulai mengering di balik balutan kain kassa bersih yang dipasang Dyah saban pagi.​Sore itu, lembayung jingga menyelimuti langit Sema

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 102

    ​Di sudut pendopo, Hendrik yang berdiri di atas pilar batu menekan tombol tustel tebalnya. Lampu kilat menyambar terang dan mengabadikan momen saat Dyah diselimuti selendang keemasan di antara senyum hangat para tokoh masyarakat dan kepulan asap kemenyan syukuran.​Hendrik tersenyum puas seraya memutar rol film di dalam kameranya. "Ini dia halaman depan De Locomotief edisi pemulihan nama baik. Foto ini akan membungkam seluruh mulut licik pejabat Karesidenan yang pernah mencoba merendahkanmu, Dyah!"​Hendrik melangkah mendekati Willem yang menyaksikan acara tersebut dari samping tiang pendopo. Willem menatap Dyah dari kejauhan dengan sorot mata biru kelabu yang berbinar penuh rasa bangga dan cinta yang tak terukur.​"Pena pers telah menyelesaikan tugasnya memulihkan nama baik Dyah, Willem," ujar Hendrik pelan seraya menepuk bahu Willem. "Sekarang edisi pemulihan nama ini akan dikirim ke seluruh penjuru Hindia. Takkan ada lagi yang berani menyebutnya pengkhianat."​"Terima kasih, Hend

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 101

    ​"Tuan van der Deventer, Nona Dyah," ujar Panitera utama seraya menyodorkan naskah putusan akhir untuk ditandatangani. "Dengan penancapan patok tembaga ini, seluruh hak hukum dan perlindungan militer secara mutlak berada di bawah nama Nona Dyah Ayuwangi Adiningrat."​Dyah mengambil pena bulu ayam dan menggoreskan tanda tangannya dengan jemari gemetar namun di atas naskah tersebut. Willem membubuhkan tanda tangannya di samping Dyah sebagai saksi ahli arsitektur dan pendamping hukum.​"Selesai sudah, Dyah," bisik Willem menatap ukiran nama Dyah yang bertengger di lembaran hukum tertinggi Batavia. ​Dyah mendongak dan membalas tatapan Willem yang memancarkan kedamaian."Bukan cuma padam, Willem, tapi tanah ini telah kembali pada pemilik aslinya."​Pak Sum dan Kang Darmo bersorak memeluk juru ukur, sementara Hendrik tak henti-hentinya menekan tombol tustel mengabadikan momen bersejarah penancapan patok tembaga tersebut. ***​Keesokan paginya, derap puluhan langkah kaki yang ragu merayap

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 100

    Suara benturan batu pertama itu bergema mantap dan disambut tepuk tangan dan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.​Dyah berdiri di samping Willem dan menyatukan jemarinya dengan jemari pria Eropa itu di atas batu fondasi pertama. Pendar sinar matahari sore memantul emas di paras mereka berdua.​"Willem," bisik Dyah lembut.Dyah menatap Willem di sampingnya. "Terima kasih telah bertahan dan berdiri bersamaku."​Willem mengusap punggung tangan Dyah dengan lembut. "Aku tidak pernah meragukan tanah ini, Dyah dan aku tidak pernah meragukanmu."​Suara derap langkah kuda dan roda dokar dinas yang berat mendadak memecah keheningan sore di perbatasan rawa. Dua juru ukur tanah bertopi baja bersama panitera utama Mahkamah Agung Hooge Raad Batavia melangkah turun dengan seragam dinas berselempang emas. Di tangan panitera tua itu, tergenggam map tebal berisikan lembaran perkamen resmi berkop segel lilin merah kerajaan Belanda.​Pak Sum, Kang Darmo, dan puluhan kuli pelabuhan yan

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 99

    ​Gedung pengadilan Raad van Justitie Kota Lama Semarang hari itu penuh sesak. Suara riuh manusia membahana dari luar pelataran hingga ke dalam selasar berlantai marmer dingin. Ratusan kuli pelabuhan Tanjung Mas, pedagang pasar Johar, perajin Kota Lama, hingga puluhan jurnalis pers Belanda dan Melayu berdesakan memadati kursi penonton. Di barisan paling depan, Pak Sum, Kang Darmo, dan Yu Sum duduk tegap dengan mata menyala tegas. Tiga ketukan palu kayu membahana mengheningkan seluruh ruangan.​​"Sidang terbuka Mahkamah Raad van Justitie Semarang resmi dibuka!" seru Hakim Ketua van der Linden dengan suara menggelegar dari atas meja peradilannya.​Di bangku pesakitan yang dikelilingi empat opas pengadilan, Adriaan van Deventer duduk tertunduk lesu. Bajunya yang kusam tak lagi memancarkan keangkuhan seorang calon bangsawan BOW. Tangannya gemetar hebat dan wajahnya pucat pasi ditatap ratusan pasang mata yang menuntut keadilan.​"Persidangan hari ini memanggil saksi-saksi kunci!" lanjut H

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 98

    ​"Tapi dia calon ayah mertuaku, Papa. Rencana pernikahan dan nama besar keluarga kita terseret!" tangis Clarissa lagi. ​"Mulai hari ini rencana pernikahanmu batal!" pangkas Jenderal van Berg dengan nada keputusan mutlak yang tak dapat diganggu gugat. "Aku telah mengirim surat resmi ke Buitenzorg dan markas besar militer dan menyatakan bahwa keluarga Van Berg melepas seluruh hubungan kekeluargaan, besanan, bisnis, dan pertunangan dengan keluarga Van Deventer." ​Clarissa terduduk lemas di atas kursi kayu dan menatap ayahnya dengan mata membelalak tak percaya. "Papa membatalkan pertunanganku?" ​"Aku menyelamatkanmu dari pesakitan yang menghancurkan masa depanmu dan nama baikku," tegas Jenderal van Berg dingin seraya memanggil pengawal. "Siapkan dokumen kepulangan! Pekan depan, kamu akan naik kapal uap pertama kembali ke Belanda. Kamu tidak akan pernah menginjakkan kaki di tanah Hindia ini lagi!" ​Jenderal van Berg berbalik dan membelakangi putrinya yang terisak-isak dalam kepasrah

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 27

    Malam semakin melarut di sepanjang tepian Kanal Timur, membawa serta hawa lembap yang menusuk tulang. Di teras panti asuhan yang remang-remang, Dyah duduk menyendiri di atas amben bambu. Sepuluh anak panti telah lama terlelap, menyisakan kesunyian yang mencekam. ​Tiba-tiba ada derap langkah kaki y

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 13

    Willem kembali menaiki tangga bambu dan menyelesaikan sedikit demi sedikit atap dapur yang bocor. Ketika malam mulai turun, Willem akhirnya turun dari atap.​Anak-anak panti sudah masuk ke kamar untuk bersiap tidur. Dyah berdiri di ambang pintu dapur, membawa selembar kain handuk kering dan segelas

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 9

    Saat buldoser itu merangsek satu meter lebih dekat, Willem bergerak tanpa ragu. Secara refleks, tangan kirinya menarik bahu Dyah dengan cengkeraman yang erat namun protektif dan menyembunyikan tubuh wanita itu sepenuhnya di balik punggung tegapnya. Sebelum melangkah maju melewati barikade, Willem

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 6

    Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu di sela-sela dinding kayu panti asuhan yang mulai melapuk, membawa aroma lumpur kanal yang menguap. Dyah duduk di tepi ranjang bambunya, sebuah kotak kaleng bekas biskuit karat berada di pangkuannya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mengeluarkan beber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status